NovelToon NovelToon
Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Salah Loker, Malah Jadi Nyonya Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Duda
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rosella Nona

Melisa Monaco memalsukan tahun lahirnya demi mendaftar pekerjaan dengan gaji lebih tinggi, tapi tidak sepenuhnya membaca kontrak. Ternyata isi kontrak adalah persetujuan pernikahan. Ia terpaksa tetap menjalaninya sebab jika mundur sepihak maka harus membayar denda yang jumlahnya sangat besar.

Sejak pernikahan digelar, hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia yang muak direndahkan, nekat berusaha merebut hati Dharma Panjalu dan membuktikan pada seluruh keluarga bahwa ia bukan perempuan yang layak direndahkan.

Dalam perjalanan membuktikan diri, ia mengalami banyak kejadian buruk. Tanpa disangka kejadian buruk yang dialaminya justru membantu keluarga itu menguak penyebab kematian istri Dharma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosella Nona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sendirian

Melisa ditinggalkan sendirian dalam ruangan tadi. Ia juga tidak berminat pergi ke mana-mana untuk mengejar siapapun.Ini memang salahnya sendiri, jadi ia tidak berusaha melakukan pembelaan apapun.

Ia baru ingat juga, harusnya kemarin begitu mengetahui akan dinikahkan ia bisa pakai alasan usia itu untuk pembatalan. Mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Mari kita tambahkan toping-toping pedas dan gurih di atasnya agar tetap bisa dinikmati.

Pintu ruangan terbuka.

“Dasar kampungan, nyusahin. Diajak pulang sama Pak Dharma. Pake dukun mana sih kamu? Masih oke Nona Sheila juga ke mana-mana.” Rosa menjemputnya dengan kalimat-kalimat yang tidak ramah, tapi itu masih lebih baik daripada ia ditinggalkan sendirian oleh semua orang.

…

Melisa pulang Bersama Dharma. Sepanjang perjalanan pria itu hanya diam. Melisa sendiri juga tidak tahu harus bagaimana memulai pembicaraan, ia khawatir malah salah bicara.

Kalimat Bu Inggit sebelum meninggalkan Melisa sendirian dalam ruangan itu semalan selalu terngiang dalam benaknya. “Kalau saja kamu jujur sejak awal, tentu kontrak itu otomatis tidak perlu dilanjutkan karena kamu tidak sesuai kriteria. Saat ini, janji sakral dalam pernikahan sudah diucapkan dan itu semua diliput media, mau tidak mau kamu harus tetap menjalani kehidupan ini selama lima tahun ke depan dan ingat, artinya denda itu tetap berlaku, Melisa. Jujur saya benar-benar kecewa sama kamu.”

Melisa tidak punya siapa pun untuk bersandar. Ia terbiasa memendam semua permasalahan dalam hidupnya sendirian, bahkan saat ibunya masih ada. Namun, kali ini ia seperti menyimpan beban yang terlalu berat sendirian.

…

Sudah sangat malam saat mereka sampai di rumah. Melisa lapar, sepanjang acara tadi ia belum sempat memakan apapun.

“Masih ada yang bisa dimakan engga ya di dapur?” Melisa coba menuju ke dapur setelah selesai membersihkan riasannya.

Sukurlah ia menemukan sereal dalam kulkas, tinggal ditambah air hangat sudah bisa dimakan. Ia duduk di meja sendirian menikmati sereal itu.

Dharma datang membawa gelas kotor sisa kopi. Ia meletakkannya di wastafel, lalu berbalik begitu saja. Seperti tidak melihat siapa-siapa di sana. Melisa memberanikan diri memanggil lebih dulu.

“Pak Dharma.”

Untungnya pria itu berhenti dan menoleh pada Melisa.

“Malam ini saya tidur di mana?”

Tidak seperti malam pertama pada pasangan pengantin lain seperti biasanya, mereka seolah hanya baru menyelesaikan pertunjukan teater di gedung mewah itu tadi.

“Terserah kamu saja.”

Nah, kan. Sejak awal memang ini hanya pernikahan yang sama-sama terpaksa di jalani oleh kedua pihak. Melisa memaklumi itu. Mendengar jawaban Dharma ia jadi mengangguk saja. Ia menyadari betul posisinya di rumah besar yang baru ia tinggali ini. Tidak masalah.

Ia habiskan makanan itu lalu segera pergi tidur, di kamar tamu. Tetap sendirian seperti malam-malam sebelumnya.

…

Pagi harinya, Dharma dan Dayu sudah selesai sarapan saat Melisa baru tiba di meja makan. Tidak ada yang menyapanya. Ia mengambil makanan sendiri lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi yang diduduki Dharma.

Karena sudah selesai, Dharma dan Dayu pergi duluan. Dayu Bersiap berangkat sekolah, Dharma juga akan segera berangkat ke kantor.

Melihat interaksi pengantin baru yang anomali ini, para pelayan jadi saling berbisik. Melisa tahu apa yang mereka bicarakan. Ia tidak peduli, itu diurus nanti saja. Sekarang yang paling penting makan dulu.

“Cuci sendiri piringmu,” ucap salah satu pelayan padanya.

Dharma kebetulan lewat dan mendengar itu. Sebenarnya ia kasihan pada Melisa, perempuan yang belum ia kenal dan tidak tahu apa-apa tentang keluarga ini tiba-tiba harus masuk menjadi bagian di sini. Tidak ada teman atau siapapun yang mungkin membantunya. Hanya Dharma yang punya tanggung jawab padanya. Jadi, ia coba inisiatif sedikit menyelamatkannya.

“Melisa, jam tangan saya ketinggalan. Tolong kamu ambilkan!” Dharma pikir itu akan membuat Melisa harus segera pergi dari sana dan tidak perlu mencuci sendiri piring bekas makannya.

Ternyata ia salah, salah seorang pelayan yang ada di dapur mengira Melisa diperlakukan sama seperti pelayan lainnya di sini, bebas disuruh ini itu.

…

“Nyonya Melisa yang terhormat, bagaimana main putri-putriannya? Apakah sudah cukup?” Tiga orang itu tertawa.

Saat para majikan berangka bekerja dan semua pekerjaan sudah diselesaikan, mereka tinggal bersantai. Menyenangkan sekali jadi ART di rumah orang kaya, andai saja kemarin Melisa benar-benar dijadikan pembantu, pasti ia bergabung Bersama mereka dan sedang bersenang-senang sekarang, bukan malah menjadi sasaran bully begini.

“Kalian tidak ada pekerjaan?”

“Pekerjaan kami sudah selesai. Tapi kamu, apa yang bisa kamu lakukan di sini? Seperti sampah, tidak ada yang peduli,” ucap teman Rosa.

“Pak Dharma saja membiarkannya tidur semalaman di kamar tamu. Pengantin macam apa itu.”

Mereka tertawa.

“Sepertinya Pak Dharma terpaksa dengan pernikahan ini, lihat saja berapa lama kamu bisa bertahan di sini sebelum dibuang.”

Melisa tidak mau meladeni mereka terlalu lama. Ia pergi ke kamar.

Tidak ada telepon dari Maya atau perintah apapun dari Bu Inggit. ia jadi seperti anak ayam yang kehilangan induknya, tidak tahu harus melakukan apa. Ia merapikan ulang pakaian-pakaian yang dibawanya dalam koper.

Selama ia di sini, semua pakaian itu tetap berada dalam koper seperti itu. Melisa pikir agar mudah saat suatu hari nanti Pak Dharma memintanya pindah ke kamar utama yang entah kapan itu akan terjadi.

…

Di kantor, Dharma selesai membaca berkas-berkas pengajuan beberapa karyawan baru. Ia hendak pergi ke Gudang supplier, tapi urung. Ia mengingat Melisa di rumah. Bagaimanapun perempuan itu sekarang sudah resmi menjadi istrinya. Dharma berpikir untuk mengajak Melisa terlibat dalam urusan bisnisnya.

“Sebenarnya apa yang dipikirkan perempuan itu saat negosiasi kesepakatan pernikahan dengan Mama kemarin?”

Dharma tidak habis pikir bagaimana bisa di jaman yang sudah secanggih ini ada perempuan yang setuju menikah dengan orang asing yang sama sekali belum dikenal.

“Dia sepertinya perempuan baik-baik, tapi apa memang tidak ada yang bisa diharapkan dari isi kepalanya?”

Tidak, tidak. Dharma menggelengkan kepalanya, tidak mungkin mamanya sembarangan membawa orang baru sebagai anggota keluarga. Pasti sudah seselektif sebelum-sebelumnya.

Dharma jadi sibuk dengan pemikirannya sendiri.

1
yuqana
karyanya bagus rekomend buat dibaca karya pertama semoga sukses yaa kak ditunggu up yaa🥰🥰😍😍😘😘
Anonim: Makasih banyak untuk dukungannya kak.
iya nih, baru karya pertama. semoga kakak juga sukses yaa 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!