Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Kebenaran yang Tersembunyi
Deru mesin SUV hitam milik Dante membelah keheningan malam yang masih dibasahi sisa hujan. Di dalam kabin penumpang belakang, keheningan yang tercipta terasa begitu pekat dan intens. Aria menyandarkan kepalanya pada sandaran jok kulit, berusaha mengatur napasnya yang masih memburu. Wajahnya merona hangat, dan bibirnya terasa panas akibat ciuman impulsif Dante beberapa saat lalu.
Dante duduk di sampingnya, mengawasi setiap perubahan ekspresi di wajah Aria dengan mata abu-abunya yang tajam. Gairah liar yang tadinya meluap perlahan surut, berganti dengan tatapan penuh perhatian yang asing bagi seorang pemimpin mafia yang dikenal tak berbelas kasihan.
"Kau membenciku, tetapi tubuhmu tidak bisa berbohong, Aria," ujar Dante pelan, menembus keheningan kabin. Tangannya yang besar dan hangat terangkat, mengusap lembut sudut bibir Aria yang sedikit bengkak dengan ibu jarinya.
Aria menepis tangan Dante secara perlahan, namun tidak dengan kemarahan meluap seperti sebelumnya. Ia menatap Dante dengan pandangan rumit—campuran antara rasa cemas, kebingungan, dan getaran aneh yang tak lagi bisa ia pungkiri.
"Kau bertindak seolah kau bisa memiliki segalanya hanya dengan paksaan, Dante," bisik Aria, suaranya terdengar lelah. "Kau menyabotase proyek Adrian, mengepung mobilku di jalan tol, dan membawaku secara paksa. Apakah ini caramu memperlakukan seseorang yang kau klaim sebagai bagian dari takdirmu?"
Dante menghela napas panjang—sebuah helaan napas berat yang jarang sekali terdengar dari bibir sang Raja Mafia. Ia menyandarkan punggungnya, menatap ke luar jendela yang dipenuhi bintik-bintik air hujan.
"Di duniaku, jika kau tidak mengambil apa yang kau inginkan dengan cepat, musuhmu akan menggunakannya untuk menghancurkanmu," tutur Dante, nada suaranya berubah menjadi lebih dalam dan serius. "Adrian Mahardika bukan pria suci seperti yang kau bayangkan, Aria. Dia dibesarkan untuk menjadi penguasa yang memoles tangannya yang berdarah dengan setelan jas mahal dan senyuman media."
"Dia melindungiku!" sahut Aria membela.
Dante terkekeh dingin, menggelengkan kepalanya. "Dia melindungimu karena dia tahu kau adalah kelemahannya yang bisa aku manfaatkan, atau mungkin... karena dia ingin menebus dosa masa lalu keluarganya padaku lewat dirimu."
Pernyataan itu menancap tepat di dada Aria, mengingat dokumen akuisisi berlabel merah yang sempat ia baca di ruang kerja Adrian tadi pagi. Dokumentasi kotor tentang bangkrutnya keluarga Vance yang didalangi oleh keluarga Mahardika.
Sebelum Aria sempat membalas, SUV hitam itu berhenti perlahan di depan gerbang komplek apartemen pribadi Aria. Pengawal Dante membukakan pintu dari luar.
"Pulanglah, Aria. Basuh dirimu dan istirahatlah," kata Dante pelan tanpa memandangnya. "Tapi ingat satu hal: jangan pernah percaya sepenuhnya pada pria yang memberimu sangkar emas."
Aria melangkah keluar dari SUV tanpa mengucap sepatah kata pun. Ia berjalan memasuki lobby apartemen dengan perasaan yang kian berkecamuk.
Keesokan harinya, pkl 10.00 pagi.
Aria duduk di sebuah restoran fine dining bernuansa privat di kawasan Senopati. Adrian telah menunggunya di sana dengan meja yang sudah dipesan khusus. Sang CEO tampak sedikit lelah dengan lingkaran hitam tipis di bawah matanya akibat mengurus insiden penyegelan tapak konstruksi semalam, tetapi penampilannya tetap sangat rapi dan berkelas.
Saat Aria mendekati meja, Adrian langsung berdiri, menyambutnya dengan senyuman hangat yang jarang ia perlihatkan pada orang lain. Pria itu menarikkan kursi untuk Aria dengan sikap yang amat santun.
"Maafkan aku atas kejadian semalam, Aria," ujar Adrian lembut seraya menggenggam erat kedua tangan Aria di atas meja. "Aku terpaksa meninggalkanmu karena masalah sabotase di lokasi proyek. Pengawalku melaporkan mobilmu sempat tertahan di jalan tol, apakah kau baik-baik saja?"
Aria menatap mata cokelat gelap Adrian. Tatapan pria itu memancarkan kelembutan dan rasa cemas yang begitu tulus, sangat bertolak belakang dengan gambaran penjahat dingin yang dituduhkan oleh Dante.
"Saya baik-baik saja, Adrian. Hanya sedikit terhambat hujan deras," jawab Aria lirih, memutuskan untuk menyembunyikan insiden penyergapan Dante demi mencegah pertumpahan darah yang lebih besar.
Adrian menghela napas lega. Ia mengelus jemari Aria dengan penuh kasih. "Aku sudah menyelesaikan masalah di lokasi konstruksi. Sabotase itu berhasil diredam. Mulai hari ini, aku akan memperketat pengamanan di sekitarmu."
Adrian meraih sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua dari dalam saku jasnya dan membukanya di hadapan Aria. Di dalamnya terbaring sebuah kalung platina dengan liontin berlian berbentuk tetesan air yang sangat indah dan memukau.
"Adrian, ini... ini terlalu berlebihan," kata Aria terkejut.
"Ini bukan sekadar perhiasan, Aria," bisik Adrian, menatap lurus ke dalam manik mata Aria dengan intensitas emosional yang mendalam. "Ini adalah lambang komitmenku. Di tengah semua kegilaan persaingan bisnis dan ancaman dari Dante, kau adalah satu-satunya hal yang membuatku ingin menjadi pria yang lebih baik. Aku ingin memberimu kehidupan yang aman, tenang, dan bahagia di sisiku."
Sikap lembut dan pengakuan jujur dari Adrian membuat dada Aria berdesir hangat. Di hadapan pria ini, ia merasa dihargai, dilindungi, dan ditarik menuju kehidupan yang normal serta penuh kestabilan.
"Terima kasih, Adrian..." ujar Aria pelan, memberikan senyuman tulus pertamanya setelah sekian hari dipenuhi ketegangan.
Adrian tersenyum legah. Ia berdiri, melangkah ke belakang kursi Aria untuk memasangkan kalung berlian itu di leher jenjang Aria. Jemarinya yang hangat menyentuh kulit leher Aria, memberikan rasa aman yang menenangkan.
Namun, di tengah momen yang begitu romantis dan hangat itu—
PRANG!
Suara ledakan nyaring yang memekakkan telinga mendadak memecahkan kaca jendela restoran yang tebal!
Sensasi pecahnya kaca berhamburan ke segala arah bersamaan dengan gema suara tembakan senapan jarak jauh (sniper) yang memotong udara.
"Aria, awas!" teriak Adrian histeris.
Sebelum peluru kedua menyambar, Adrian dengan refleks kilat melempar tubuhnya ke depan, memeluk Aria erat-erat dan membawa wanita itu berguling ke lantai marmer di balik meja kayu solid—menjadikan tubuhnya sendiri sebagai perisai hidup untuk melindungi Aria dari hujan peluru maut.