Maya cuma cewek biasa yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kehidupan Reza, bos mafia paling ditakuti di kota. Awalnya, Maya cuma cari aman. Tapi lama-lama, pesona Reza yang dingin tapi protektif bikin Maya luluh. Masalah utamanya? Reza sudah punya istri sah, Sora—wanita berkelas dari keluarga terpandang yang rela melakukan apa saja demi mempertahankan posisinya.
Di mata orang luar dan lingkaran mafia, Maya digelari sebagai pelakor yang merusak kedamaian. Tapi bagi Maya, ini bukan sekadar cinta terlarang. ini soal bertahan hidup di dunia gelap yang penuh pengkhianatan.
Ketika rahasia besar Reza dan Sora terkuak, Maya harus memilih: tetap bertahan di samping pria paling berbahaya walau dicap perusak rumah tangga, atau kabur sebelum nyawanya sendiri yang melayang.
Cinta terlarang, perebutan kekuasaan, dan intrik berdarah. akankah Maya mendapatkan hati Sang Mafia, atau justru jadi korban berikutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Pintu kamar terdorong terbuka secara kasar. Reza melangkah masuk dengan napas memburu dan rahang mengeras.
Pengawal Sora di lorong tak sanggup menahannya. Mata hitam sang bos mafia langsung mengunci sosok Sora yang masih berdiri anggun di samping Maya.
"Sora! Berani-beraninya kamu menginjakkan kaki di tempat ini!" bentak Reza dengan suara berat yang menggelegar, penuh ancaman mematikan.
Sora hanya mengulurkan jemarinya, merapikan sedikit lipatan mantel kasmirnya tanpa kepanikan sedikit pun. Ia menoleh menatap Reza dengan senyuman tipis yang sangat dingin.
"Aku cuma berkunjung sebentar, Reza. Menengok cewek kesayanganmu yang makin hari makin pudar warnanya," sahut Sora santai. Ia melangkah melewati Reza yang menatapnya murka.
"Pikirkan penawaranku tadi, Maya. Waktumu tidak banyak."
Tanpa menunggu balasan dari Reza, Sora berjalan pergi menyusuri lorong bersama pengawalnya, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam kamar.
Setelah Sora pergi, suasana kamar menjadi sangat tegang. Maya berdiri kaku, menatap lantai dengan pandangan kosong.
Kalimat terakhir Sora terus berdengung di dalam kepalanya bagaikan vonis mati: Pergilah malam ini... atau kamu menyaksikan aku menghancurkan Reza sampai tidak tersisa apa-apa lagi.
"Maya..." panggil Reza pelan, melangkah mendekat. Pria itu menyentuh lembut bahu Maya.
"Apa yang dikatakan Sora sama kamu? Jangan dengarkan sepatah kata pun dari mulut wanita itu."
Maya menarik bahunya pelan, menjauhkan diri dari sentuhan Reza. Tangannya meremas kain bajunya erat-erat. "Dia tidak bilang apa-apa yang salah, Reza..."
"Maya—"
"Aku mau istirahat," potong Maya kaku tanpa berani menatap mata Reza. "Tolong tinggalkan aku sendirian."
Reza menatap Maya dengan raut wajah cemas dan frustrasi, namun melihat kondisi psikologis Maya yang sangat rapuh, ia akhirnya mengalah. Pria itu menghela napas berat lalu melangkah keluar, menutup pintu kamar secara perlahan.
Tengah malam tiba. Suara angin gunung berhembus kencang menghempas jendela kaca vila. Seluruh penghuni vila sudah terlelap, kecuali Maya.
Di dalam kamar yang temaram, Maya selesai mengemas pakaian seadanya ke dalam tas ransel lusuh yang dulu dibawanya dari kamar kos. Air matanya terus menetes tanpa suara.
Keputusannya sudah bulat. Ia harus kabur malam ini juga. Ia tidak boleh membiarkan dirinya menjadi alasan kehancuran Reza. Ia hanyalah cewek biasa, pelayan restoran yang tak punya arti, sementara Reza adalah pria berkuasa yang punya masa depan besar.
Dengan langkah sepelan mungkin dan tanpa mengalas kaki, Maya menyelinap keluar dari kamar. Ia menyusuri lorong lantai dua yang gelap, berniat menggunakan pintu belakang menuju area hutan pinus.
Namun, baru saja langkah kakinya menyentuh anak tangga pertama menuju lantai dasar, sesosok bayangan tinggi besar mendadak berdiri di ujung tangga.
Lampu remang lorong menyala. Reza berdiri di sana dengan kemeja hitam yang lengannya digulung. Wajahnya pucat, tapi matanya menyala penuh emosi menatap tas ransel yang digendong Maya.
Maya membeku. Jantungnya serasa melompat keluar dari dada.
"Kamu mau ke mana, Maya?" suara Reza terdengar sangat rendah, bergetar menahan amarah dan rasa sakit yang dalam.
Maya menelan ludah dengan susah payah, mencengkeram tali ranselnya kuat-kuat. "Reza... biarkan aku pergi. Aku mohon..."
Reza melangkah naik menyusuri anak tangga dengan cepat, memangkas jarak di antara mereka. Pria itu langsung meraih kedua lengan Maya, mencengkeramnya erat namun tidak menyakiti.
"Kamu mau kabur?" bisik Reza di depan wajah Maya, suaranya parau menahan emosi.
"Kamu mau tinggalkan saya setelah semua yang terjadi?!"
"Aku harus pergi, Reza!" jerit Maya pelan dengan air mata yang mulai berjatuhan.
"Aku ini racun dalam hidup kamu! Sora benar... gara-gara aku, nama baik kamu hancur, klan kamu pecah, dan aku jadi buronan! Kalau aku tetap di sini, kamu akan kehilangan segalanya!"
"Saya tidak peduli!" bentak Reza keras, emosinya akhirnya meledak di tengah malam yang hening.
"Saya tidak peduli kalau harus kehilangan klan, kekuasaan, atau seluruh harta saya, Maya!"
Maya menggelengkan kepala histeris. "Tapi aku peduli! Aku tidak tega melihat kamu hancur cuma demi cewek biasa sepertiku!"
"Dengar saya, Maya!" seru Reza seraya menarik tubuh Maya rapat ke dadanya. Pria itu menangkup kedua pipi Maya dengan jemarinya yang hangat, memaksa gadis itu untuk menatap lurus ke dalam matanya yang penuh keputusasaan dan ketulusan mendalam.
"Kamu bukan sekadar cewek biasa buat saya," bisik Reza dengan nada suara yang begitu lembut, dalam, dan memabukkan.
"Selama delapan tahun hidup di dunia bawah yang dingin dan penuh darah ini, saya tidak pernah merasakan apa artinya hidup sebagai manusia... sampai saya bertemu kamu."
Maya tertegun, napasnya tertahan mendengar pengakuan jujur itu.
"Jangan pergi..." permohonan itu lolos dari bibir sang bos mafia yang biasanya tak pernah tunduk pada siapa pun.
"Tinggallah di samping saya. Saya janji... saya akan selesaikan semua masalah ini. Saya akan ceraikan Sora secara resmi, saya akan bersihkan nama kamu dari tuduhan buronan itu, dan saya akan bawa kamu keluar dari dunia gelap ini."
Maya menatap mata hitam Reza yang berkaca-kaca. Janji manis itu terasa begitu indah, memabukkan, dan menghangatkan sudut hatinya yang paling dingin. Tapi di saat yang sama, janji itu terasa sangat berbahaya.
"Reza... itu mustahil... Keluarga Sora tidak akan tinggal diam..." bisik Maya lemah, benteng pertahanannya mulai runtuh dalam dekapan Reza.
"Tidak ada yang mustahil kalau kamu tetap di samping saya," balas Reza mantap, mendekatkan keningnya ke kening Maya.
"Percaya sama saya, Maya. Sekali ini saja... berikan saya kesempatan untuk membahagiakan kamu."
Maya terpejam, air matanya menetes membasahi jemari Reza. Sentuhan hangat, hembusan napas mendesak, dan janji manis pria berkuasa ini benar-benar melumpuhkan seluruh niatnya untuk melarikan diri. Di dalam lubuk hatinya, Maya sadar... ia sudah terlanjur jatuh cinta pada pria yang salah.
"Reza..." desah Maya lirih, pasrah dalam pelukan erat Reza.
Reza mengecup kening Maya dengan lembut dan lama, merengkuh tubuh gadis itu seolah takut kehilangan jiwanya sendiri.
Namun, di tengah momen emosional yang memabukkan itu, suara lolongan sirine mobil polisi dan deru belasan kendaraan berat mendadak mengepung area luar vila dari balik hutan pinus.
Lampu-lampu sorot berdaya tinggi ditembakkan dari luar, menembus kaca-kaca jendela vila dan menerangi interior remang tempat mereka berdiri.
Dari pengeras suara di luar, suara petugas kepolisian bergema nyaring memecah keheningan malam:
"Gedung ini sudah dikepung! Tuan Reza dan buronan atas nama Maya, keluar dan serahkan diri kalian sekarang juga!"
Bersambung......