Impian Amara untuk bersatu dengan kakak angkatnya akhirnya terwujud juga. Keduanya terikat dalam sebuah pernikahan yang disatukan oleh Abi mereka sendiri.
Sayangnya, Apa yang Amara bayangkan tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Dalam pernikahan ini, Hanya Amara yang menginginkannya. Tapi tidak dengan Fadli Adiputra. Dia tidak pernah menginginkan pernikahan ini sama sekali.
Sikap perhatian yang selalu Fadli berikan berubah menjadi sikap dingin tanpa alasan.
Amara sadar, Bahwa dia bukan pilihan pria itu..
Hingga pada akhirnya, Amara mundur dalam pernikahannya.
Apakah Fadli bahagia atas kemunduran Amara? Atau justru terkurung dalam penyesalan?
•••••
"Kalau pernikahan ini tidak bertahan atas pilihan Abi.. Nanti, Aku akan pertahankan pernikahan ku atas pilihanku sendiri..." Amara Alfhatunnisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sagara Mahendra Andriano
"Ka.. Kamu?
Amara langsung mundur beberapa langkah. Mobil yang tak sengaja ia tabrak adalah mobil milik Pria yang sangat tidak asing baginya.
Bagaimana tidak? Ia mengenal siapa pria ini. Dan tentu saja Amara tidak akan pernah lupa. Pria ini adalah..
Sagara Mahendra Andriano. Pria yang biasa disapa Saga atau Tuan Muda Saga itu adalah putra kedua dari keluarga Andriano. Pria dengan wajah blasteran China Indonesia itu adalah putra bungsu dari pasangan Okta Andriano dan Grace Mei Lin. Ayahnya asli dari negara lokal sendiri sementara ibunya masih mempunyai marga keluarga China.
Sagara atau yang biasa dipanggil Saga, Pria itu punya seorang kakak perempuan yang bernama Citra Andelina Andriano. Citra pernah tinggal dipesantren milik keluarga Amara dulunya.
Wanita yang bernama Citra itu tinggal dipesantren sejak usia remaja. Namun sekarang, Citra telah menikah dan mempunyai seorang putra.
Walaupun sudah keluar dari pesantren tersebut, Citra sering datang untuk berkunjung atau bertemu dengan pengasuh pondok pesantren tersebut. Saga pun pernah ikut kakaknya kepesantren itu.
Dan dari sana lah Saga mengenal Amara. Beberapa kali pertemuan tanpa disengaja itu membuat Saga tertarik pada cucu Kyai besar yang namanya telah tersebar luas itu.
Tak disangka juga, Tuan Okta adalah salah satu rekan kerja Abi Rafa yang terkenal dengan sangat baik. Umma Zakia pun juga mengenal Nyonya Grace, Karena Grace mempunyai usaha toko hijab dan Umma Zakia lah salah satu pelanggan setianya.
Saga dan keluarganya pernah datang dikediaman Abi Rafa dengan tujuan melamar Amara. Sayangnya, Pada saat itu Amara menolak dengan alasan belum siap.
Sebenarnya bukan belum siap, Hanya saja Amara masih menaruh harapan terhadap Fadli. Setelah harapan itu tiba, Pada kenyataannya semua tidaklah sesuai dengan apa yang inginkan Amara selama ini.
Dengan terpaksa, Saga beserta keluarganya pulang. Mereka tidak kecewa, Yang namanya lamar melamar bagi mereka hal seperti itu sudah biasa.
"Kalau kamu sudah siap, Kapanpun itu akan aku tunggu..." Ucap Saga pada saat itu. Amara hanya mengangguk saja..
"Kamu gapapa?"
"Hah??" Amara tercengang. Saat ia tengah ketakutan akan insiden ini, Saga justru bertanya apakah Amara baik-baik saja atau tidak. Coba kalau orang lain yang Amara tabrak, Jangankan ditanya apakah baik-baik saja. Yang ada dia sudah kena marah duluan.
"Kok kamu diam aja? Ada yang luka? Atau ada yang sakit?" Amara menggelengkan kepalanya. Saga terdiam menatap Amara yang seakan lingkung. Sepertinya wanita itu masih syok, Pikirnya. Pria itu masuk kedalam mobil lalu kembali dengan membawa botol air mineral yang masih tersegel.
"Duduk dulu..." Saga meminta Amara untuk duduk dibatu besar yang terletak di pinggir jalan. Pria itu juga menyerahkan air botol tersebut.
"Diminum dulu.." Amara medongak, Tatapan matanya langsung bertemu dengan mata Sagara. Sejenak Amara menggelengkan kepalanya, Ia membaca istighfar dalam hatinya.
"Terimakasih..." Saga mengangguk. Pria itu ikut duduk menemani Amara yang masih kaget. Wanita itu meminum air pemberian Saga tersebut hingga habis setengah.
"Eum.. Maaf ya? Tadi aku buru-buru banget.. Makanya gak sengaja.." Ucap Amara dengan kepala menunduk. Gara-gara Fadli, Dia jadi tidak fokus. Gara-gara pria itu juga Amara harus mengalami insiden ini. Dan yang pasti dia akan ganti rugi setelah ini..
"Gapapa.. Tapi herannya, Apa yang wanita secantik kamu pikirkan sehingga sampai menabrak mobilku.." Amara menelan salivanya sedikit susah payah. Apakah setelah dibaik-baiki ia akan dimarahi?
"E..Aku.. Aku.. Tidak, Tidak!. Begini.. Mobilmu rusak.. Aku rasa aku harus segera menelfon bengkel. Berapapun biaya nya, Biar aku yang bayar.. " Amara harus segera menyelesaikan urusan ini. Dia tidak mau berlama-lama berada disini. Karena dia yang menabrak, Maka dia yang harus tanggung jawab, Bukan?
"Ee.. Aku...
Ddrrttt...
Amara langsung merogoh tasnya. Wanita itu mengambil benda pipihnya kemudian mengangkat panggilan dari kepala sekolah tempat dimana ia mengajar.
"Halo... Assalamualaikum..
"Waalaikum salam.. Bunda Amara sekarang ada dimana?
"Maaf bu, Saya lagi ada kendala dijalan. Mungkin agak telat.."
"Ohya, Gapapa.. Soalnya anak-anak insya Allah pulang agak pagi, Bun.. Saya ada rapat soalnya"
"Ohya, Saya akan segera sampai, Assalamualaikum.."
"Waalaikum salam.....
Amara langsung mematikan panggilan teleponnya. Dia menoleh kesana kemari mencari taksi. Saga yang menyadari akan hal itu langsung menghubungi seseorang.
"Mau kemana?
"Aku, Aku ada acara ngajar di sekolah TK. Cuma karena gak ada kendaraan kayaknya aku pesan taksi online aja deh. Tapi kamu tenang aja, Aku akan segera menghubungi bengkel. Tapi untuk sekarang, Aku buru-buru." Amara hendak memesan taksi, Namun..
"Tidak perlu, Aku sudah menghubungi orangku... Tunggu sebentar lagi.." Amara hendak protes, Namun kemudian ia mengangguk. Jujur, Ia masih rada canggung dengan pria ini, Mungkin karena penolakannya dulu. Dan setelah pertemuannya itu, Amara tidak bertemu lagi dengan Saga. kabarnya, Pria itu melanjutkan studinya keluar negeri.
"Eum, Kalau begitu biar aku hubungi pihak bengkel sekarang saja ya..
"Biar aku yang hubungi.. Kau tunggu saja disini.." Amara kembali mengangguk. Ia menarik nafas panjang demi bisa terlihat tenang.
Tak lama, Mobil yang dihubungi oleh Saga telah sampai. Seorang pria yang merupakan supir turun dan menghadap Saga.
"Tuan..
"Antar wanita cantik ini..
"Baik.." Supir tersebut langsung membukakan pintu.
"Silahkan Nona..." Amara mengangguk, Baru saja hendak masuk, Amara menoleh..
"Sekali lagi terima kasih.."
"Iya, Hati-hati..."
Amara masuk kedalam, Begitu mobil melaju, Saga segera menghubungi bengkel kepercayaannya agar membawa dua mobil rusak itu.
Sementara tatapan matanya tak lepas dari mobil yang membawa Amara tadi.
"Dia masih sama, Cantiknya tidak berkurang sama sekali...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Begitu dua mobil itu dibawa ke bengkel. Saga juga ikut, Dia juga ingin tahu penjelasan dari kepala kerja dari para montir bahwa apa saja yang rusak dan harus diganti.
"Kondisinya cukup parah Mas..
"Hm, Separah apapun aku percayakan semuanya pada mu dan tim.. Tangani mobil ini dengan sebaik dan secepat mungkin. Dan aku ingin semuanya kembali mulus seperti semula. Berapa pun biayanya, Katakan padaku.." Seorang pria yang merupakan kepala kerja dibengkel itupun mengangguk.
Bengkel ini adalah bengkel paling besar dikota ini. Dan bengkel ini juga banyak dipercaya oleh orang-orang termasuk Saga sendiri.
"Kira-kira berapa biayanya?
"Kalau soal biaya, Kami belum tahu Mas.. Karena keduanya memang rusaknya agak parah, Mungkin biayanya akan lebih besar.." Saga mengangguk mengerti. Ia meraih benda pipihnya kemudian mentransfer biaya DP nya lebih dulu.
"Aku membayar DP nya dulu.. Sisanya nanti. Kau bisa kabari aku langsung kalau sudah selesai. "
"Baik, Mas Saga.. Terimakasih..." Ucap pria itu. Inilah yang ia suka dari Saga. Pria itu selalu mengerti, Tanpa diminta pun DP langsung masuk. Terlebih, Saga tidak terlalu banyak protes.
Terkadang ada orang yang suka banyak protes, Namun dalam pembayaran cukup lelet.
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu.." Saga berbalik badan, Pria itu memakai kacamata hitamnya lalu masuk kedalam mobil.
"Tugasmu sudah selesai?" Tanya Saga pada supir yang mengantar Amara tadi.
"Sudah, Saya mengantar Nona itu sampai ditujuannya.." Jelasnya.
"Hm, Bagus...
"Tuan..
"Kenapa?
" Mobil Nona itu.. Anda juga yang bayar?" Tanya supir pada Saga. Pria itu hanya mengangkat salah satu sudut bibirnya..
"Memangnya kenapa kalau aku yang bayar? Masalah?" Supir itu menggelengkan kepalanya cepat.
"Tidak, Saya hanya bertanya saja. Bukankah Nona itu yang menabrak mobil Tuan lebih dulu.. Seharusnya??" Saga menurunkan kacamata hitamnya dihidung. Matanya menatap tajam supir tersebut lewat kaca spion depan.
Supirnya langsung diam. Supir tersebut mengerti akan tatapan yang menurutnya mematikan itu.
"Tugasmu hanya menyetir dan mengantar majikanmu kemanapun majikanmu pergi.. Kau dibayar bukan untuk banyak ikut campur, Paham?" Supir itu mengangguk..
"Pa.. Paham, Tuan..
Mobil terus melaju, Saga meraih benda pipihnya lalu menulis pesan pada seseorang.
"Bagaimana...
"Masih saya selidiki, Tuan...Tapi Tuan tenang saja, Saya akan berikan informasi yang selalu menarik...." Saga tersenyum sinis..
"Lalukan yang terbaik buatku.. Aku tidak ingin orang yang aku cinta menderita terlalu lama hanya Gara-gara mereka...
•
•
•
TBC
aduuuh siap2 deh km tinggal di hotel prodeo ,, selain tuntutan Amara ,, sekaligus tuntutan dr pihak hotel ,,
tuh liat fadliu wanita pilihan mu ,, sungguh luar binasa 🤣😁
heh jalang, siap-siap kamu dan keluarga kamu masuk penjara dan jadi gembel 🤣🤣🤭🤭
hayo tamatlah riwayatmu Lidya
dan kamu Fadli siap siap datang kepengadilan untuk pembatalan pernikahan. 🤣🤣🤣🤣🤣🤣 senangnya hatiku melihat mereka berdua terpojok