Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.
Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.
Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Berlari Menembus Malam
Di dalam kamar yang kacau balau, Permaisuri Lin Yue memasukkan pakaian dan perhiasan penting ke dalam peti dengan tangan yang gemetar. Lin Xue berdiri di sudut ruangan, memeluk lututnya dengan wajah pucat pasi.
Lin Chen berdiri diam di tengah ruangan. Tangan kirinya masuk ke dalam saku jubahnya. Di dalam sana, surat palsu dari Akademi Pertapaan Bintang rencana brilian yang disusun Xie Yan diremas perlahan. Hawa Kekacauan dalam skala kecil melumat kertas perkamen itu hingga menjadi debu halus yang tak tersisa.
"Chen'er," Lin Yue berbalik, memeluk putranya dengan erat. Wajah cantik sang Permaisuri dibasahi air mata ketakutan. "Pasukan pengawal kerajaan sedang menyiapkan kereta. Malam ini juga, kita akan dievakuasi ke Kadipaten Selatan. Ayahmu dan para jenderal akan menyusul ke Utara untuk mencari kakakmu."
Lin Chen membalas pelukan ibunya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Lin Yue, memasang wajah seorang pangeran kecil yang penurut. "Chen'er mengerti, Ibu. Chen'er akan menjaga Ibu dan Kak Xue di perjalanan."
Namun, di balik wajah lugu yang tersembunyi di bahu sang Permaisuri, sepasang mata keemasan Lin Chen memancarkan kedinginan yang bisa membekukan Sungai Takdir.
Ia tidak akan lari ke Selatan. Ia akan pergi ke Utara, mematahkan leher setiap makhluk yang berani melukai kakaknya.
Tengah malam tiba. Ibukota Kerajaan Chen diselimuti oleh kepanikan yang tertahan. Konvoi kereta evakuasi untuk keluarga kerajaan telah berbaris di gerbang selatan.
Di dalam kamarnya yang gelap gulita, Lin Chen tidak mengemasi satu pun pakaian. Ia berdiri membelakangi jendela, mengenakan jubah hitam legam yang ujungnya menyatu dengan bayang-bayang ruangan.
WUSSSH...
Empat bayangan melesat menembus ventilasi dan jendela tanpa menimbulkan suara sekecil apa pun. Mo Yuan, Zi Lanying, Shen Lu, dan Xie Yan mendarat serentak di lantai kamar sang Pangeran Ketiga. Mereka berempat langsung berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepala dalam-dalam.
Udara di dalam ruangan itu terasa sangat berat.
Keempat remaja penguasa dunia bawah itu merasakan Niat Membunuh yang sangat pekat, purba, dan absolut memancar dari tubuh mungil di depan mereka. Ini bukanlah 'Kakak Pertama' yang sesekali tersenyum saat mengajari mereka. Sosok yang berdiri di depan mereka saat ini adalah seorang Tiran sejati, dewa kematian yang kehilangan kesabarannya.
"Xie Yan. Zi Lanying," suara Lin Chen terdengar pelan, namun beresonansi langsung di dalam gendang telinga mereka.
"Hadir, Ketua," jawab keduanya serempak, suara Lanying sedikit bergetar.
"Kerahkan seluruh elit Paviliun Strategi dan Paviliun Mawar malam ini juga. Kalian akan menjadi bayangan yang mengawal konvoi Ibunda dan Kakakku ke Selatan," Lin Chen berbalik, menatap mereka dengan mata keemasannya yang menyala dalam gelap. "Jika terjadi sesuatu pada konvoi itu... jika sehelai saja rambut Ibunda atau Kakakku rontok... kalian berdua tahu apa yang akan aku lakukan pada lautan jiwa kalian."
Xie Yan menelan ludah yang terasa sebesar batu. Ia menundukkan kepalanya hingga menyentuh lantai. "Bahkan jika langit runtuh, nyawa hamba akan menjadi tameng bagi Permaisuri dan Tuan Putri."
"Bagus. Pergilah," usir Lin Chen dingin.
Xie Yan dan Lanying tidak berani membuang waktu satu detik pun. Mereka langsung melesat keluar dari jendela, menghilang untuk menjalankan misi pertahanan mereka.
Kini, tersisa Mo Yuan dan Shen Lu di dalam ruangan.
Lin Chen melangkah maju. Ia berjalan melewati mereka berdua, membuka pintu balkon kamarnya yang menghadap ke arah utara ke arah kegelapan yang menelan kakaknya.
"Shen Lu. Mo Yuan. Cabut pedang dan belati kalian," perintah Lin Chen. "Kita berangkat ke Utara. Malam ini, aku ingin melihat lautan darah dari monster-monster yang berani menyentuh keluargaku."
Mo Yuan menyeringai buas, insting serigalanya tersulut. "Sesuai perintahmu, Kakak Pertama!"
Shen Lu, sang jenius pedang yang biasanya pendiam, perlahan menghunus pedang besinya. Matanya memancarkan keganasan yang jarang terlihat. "Pedangku sudah haus, Kakak Pertama."
Ketiga sosok itu melompat dari balkon istana.
Begitu kaki mereka menyentuh atap perumahan warga, Mo Yuan dan Shen Lu langsung memacu Qi di dalam Dantian mereka. Menggunakan Teknik Langkah Bayangan tingkat lanjut, kedua remaja itu melesat membelah angin malam layaknya dua anak panah hitam. Kecepatan mereka berada di puncak kemampuan dunia fana.
Namun, di belakang mereka, Lin Chen tidak menggunakan Qi.
Cadangan Qi Kondensasinya terlalu sedikit untuk digunakan bergerak jarak jauh menuju perbatasan Utara. Sebagai gantinya, ia memutuskan untuk menggunakan hal yang paling menakutkan dari tubuh barunya: Kepadatan Otot Dewa.
Lin Chen berhenti sejenak di atas sebuah bukit berbatu di luar tembok ibukota. Ia menekuk kedua lutut kecilnya. Otot-otot di betisnya, yang merupakan rajutan dari Esensi Phoenix Abadi dan Darah Naga Primordial, mengeras hingga melampaui kepadatan baja spiritual.
BAM!
Batu bukit di bawah kaki Lin Chen hancur berantakan menjadi kawah sedalam satu tombak!
Tidak ada Qi yang bocor, hanya murni tenaga fisik. Tubuh Lin Chen meluncur ke udara bagaikan tembakan meriam.
BZZZ WUUUSSH!
Sebuah ledakan pecah di udara malam. Lin Chen melesat melewati Mo Yuan dan Shen Lu dalam sekejap mata, meninggalkan jejak angin puting beliung yang membuat kedua bawahannya terhuyung di atas atap.
Mo Yuan membelalakkan matanya yang berwarna abu-abu, menatap ngeri pada siluet Lin Chen yang sudah berada beberapa mil di depan mereka hanya dalam satu lompatan.
"Demi leluhur... tenaga fisik macam apa itu?!" seru Mo Yuan, napasnya terengah-engah. "Kakak Pertama bahkan tidak memakai Qi!"
Shen Lu mengencangkan genggamannya pada gagang pedang, memacu kecepatannya hingga batas maksimal hanya agar tidak tertinggal terlalu jauh. "Jangan banyak bicara! Jika kita terlalu lambat, Kakak Pertama tidak akan menyisakan satu monster pun untuk kita potong!"
Malam itu, di dataran Kerajaan Chen, sebuah meteor hitam berlari menentang hukum alam, membelah daratan dengan kecepatan yang membakar rumput di bawah telapak kakinya. Lin Chen tidak peduli jika kakinya berdarah atau otot fana-nya menjerit. Ia hanya memiliki satu tujuan: Benteng Utara.
Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika Lin Chen mendarat di atas tebing yang menghadap ke Benteng Kematian Utara. Hantaman pendaratannya meremukkan ujung tebing tersebut.
Asap tebal berbau belerang dan darah busuk menguar dari lembah di bawahnya.
Benteng kebanggaan Kerajaan Chen itu telah rata dengan tanah. Mayat ribuan prajurit berserakan, dicabik-cabik oleh makhluk yang seharusnya tidak ada di dunia ini. Di tengah puing-puing benteng yang terbakar, ribuan monster berbentuk anjing bayangan dengan mata merah menyala mengepung satu titik terakhir yang masih bertahan.
Di atas tumpukan mayat monster, Pangeran Pertama Lin Feng berdiri dengan napas tersengal. Zirah peraknya hancur, lengannya berlumuran darah, dan pedangnya telah tumpul. Ia dikelilingi oleh belasan prajurit setianya yang tersisa, bersiap menyambut kematian dengan kehormatan.
Namun, yang membuat mata keemasan Lin Chen menyipit hingga menyerupai jarum pembunuh bukanlah ribuan monster bayangan itu.
Di depan Lin Feng, memimpin gerombolan monster tersebut, berdirilah sesosok makhluk humanoid yang luar biasa ganjil. Makhluk itu memancarkan aura Golden Core (Inti Emas). Wajahnya tidak memiliki mata, hidung, atau mulut. Benar-benar polos layaknya cermin.
Dan di tubuh makhluk menjijikkan itu, melekat sisa-sisa kain robek berwarna perak dengan ukiran kuno... jubah resmi dari Kuil Wajah Kosong!
"Kalian anjing-anjing cacat dari Sektor Langit rupanya belum sepenuhnya mati," desis Lin Chen dari atas tebing. Senyum iblis yang sangat kelam terukir di wajah mungilnya. "Bagus. Aku butuh pelampiasan."
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣