Latifah, seorang guru di pondok pesantren, menjalani kehidupan sederhana dengan mengabdikan dirinya untuk mendidik para santri.
Setahun lalu, seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Kahiyang Ayudia datang dan menetap di pesantren tersebut. Kahiyang adalah putri seorang Mayor TNI bernama Abimanyu Wicaksono yang sedang bertugas di Lebanon.
Atas perintah sang ayah, Kahiyang dititipkan kepada Neneknya agar tumbuh menjadi anak yang mandiri dan berakhlak mulia.
Seiring berjalannya waktu, Latifah semakin menyayangi Kahiyang dan menganggapnya seperti anak sendiri. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika kedua orang tuanya berniat menjodohkannya dengan seorang duda beranak satu. Latifah tentu saja menolak karena belum siap menjadi seorang istri sekaligus ibu sambung.
Tanpa sepengetahuannya, pria yang dijodohkan dengannya ternyata adalah Abimanyu, ayah dari Kahiyang, anak yang begitu disayanginya.
Akankah Latifah menerima takdir tersebut dan membuka hatinya untuk sang Mayor?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Komandan yang mulai jatuh cinta
Pagi itu, Mayor Abimanyu Wicaksono telah berada di ruangannya di Mabesad, Jakarta Pusat. Dengan seragam dinas yang rapi, ia duduk di kursi kebesarannya, sementara beberapa berkas pekerjaan tersusun di atas meja.
Namun, sejak tadi, konsentrasi pria itu seolah menghilang entah ke mana.
Alih-alih membaca laporan, Bima justru melamun mengingat kejadian semalam dan pagi tadi.
Bayangan Latifah yang tanpa sadar memeluknya seperti guling kembali terlintas di benaknya. Belum lagi ekspresi gugup sang istri ketika menyadari perbuatannya, ditambah kejadian di dapur saat ia mengusap busa sabun di pipi Latifah.
Tanpa sadar, Bima tersenyum seorang diri.
“Kenapa aku suka sekali menggodanya, ya?” gumamnya pelan.
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Bu Latifah… kamu sangat menggemaskan!”
Bima bahkan sempat terkekeh kecil, mengingat bagaimana Latifah selalu kehilangan kata-kata setiap kali dirinya melontarkan candaan.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan pintu terdengar.
Namun, Bima sama sekali tidak merespons.
Tok. Tok. Tok.
Sekali lagi, ketukan itu terdengar.
Karena tidak mendapatkan jawaban, seseorang akhirnya membuka pintu dan masuk begitu saja.
yakni Kapten Rian Pratama.
Pria itu awalnya hendak menyampaikan beberapa urusan pekerjaan. Namun, begitu melihat komandannya tersenyum sendirian di balik meja, langkahnya langsung terhenti.
Ia mengamati Bima beberapa detik, kemudian senyum jahil muncul di wajahnya.
“Wah, sepertinya pengantin baru ada yang happy nih!”
Bima sontak tersadar dari lamunannya. Senyum di wajahnya langsung lenyap seketika, ada rasa dongkol yang terselip di hatinya karena Rian dianggap sebagai pengganggu.
“Kapten Rian!”
Rian berjalan mendekat sambil berusaha menahan tawa.
“Siap, Komandan!”
Bima menatapnya tajam.
“Kenapa Anda masuk ke ruangan saya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?”
Rian langsung memasang wajah polos.
“Maaf, Komandan. Saya sudah dari tadi mengetuk pintu, tetapi sepertinya Komandan tidak mendengarnya.”
Bima terdiam. Ada rasa malu yang perlahan menjalar di wajahnya.
"Jangan-jangan karena aku terlalu sibuk memikirkan kejadian semalam dan tadi pagi sampai tidak mendengar Rian mengetuk pintu?" batinnya
Ia segera berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya.
“Kapan kamu mengetuk pintu, Rian?”
Rian menggigit bibir, menahan tawanya.
“Dari tadi, Komandan. Bahkan saya sempat berpikir jangan-jangan Komandan sedang tertidur.”
Bima mengernyitkan keningnya.
“Kalau sudah tahu saya tidak menjawab, kenapa kamu masuk begitu saja?”
“Karena ada urusan pekerjaan, Komandan.”
“Kalau begitu, sampaikan urusanmu!”
“Siap!”
Namun, sebelum membicarakan pekerjaan, Rian malah mencondongkan tubuhnya sedikit sambil menyanyikan sepotong lirik lagu dengan nada menggoda.
“Jatuh cinta, sejuta rasanya…”
Bima langsung mendongak.
Rian melanjutkan dengan wajah jahil.
“Komandan kalau lagi jatuh cinta lucu sekali!”
“Kapten Rian!” suara Bima meninggi.
“Siap, Komandan!”
“Hentikan! Kau cari mati dengan saya!”
Rian hampir meledak tertawa melihat ekspresi komandannya.
“Lho, saya kan cuma menyampaikan pengamatan, Komandan. Biasanya kalau saya masuk, wajah Komandan seperti sedang memeriksa laporan pelanggaran. Sekarang malah senyum-senyum sendiri.”
Bima meraih sebuah bolpoin di atas meja.
“Rian!”
“Siap!”
Bima melemparkan bolpoin itu ke arah Rian. Untungnya, benda tersebut hanya melesat melewati sisi tubuh sang kapten dan jatuh di dekat pintu.
Rian spontan mundur.
“Ampun, Komandan!”
Tanpa menunggu jawaban, ia buru-buru meninggalkan ruangan.
Begitu berada di balik pintu, Rian langsung tertawa sambil memegang perutnya.
“Ya ampun! Komandan kalau sedang marah seperti singa yang mengamuk. Kalau saya masih di dalam, bisa habis dicabik-cabik. Untung saja bolpoin tadi tidak mengenai kepala saya!”
Ia menggeleng-geleng sambil berjalan menjauh.
“Pengantin baru memang luar biasa!”
Sementara itu, Bima masih berdiri di dekat meja kerjanya.
Ia menatap bolpoin yang tergeletak di lantai, kemudian menghembuskan napas panjang.
“Kapten Rian benar-benar keterlaluan.”
Bima memungut bolpoin itu dan meletakkannya kembali di meja.
Namun, beberapa saat kemudian, ucapan Rian kembali terngiang di telinganya.
Jatuh cinta, sejuta rasanya.
Senyum yang tadi berusaha ia tahan kembali muncul, meskipun hanya sebentar.
Bima berjalan menuju jendela ruangannya. Dari sana, ia bisa melihat kesibukan di halaman kantor.
Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dinas.
“Jatuh cinta?” gumamnya.
Ia terdiam cukup lama.
“Apakah aku sudah jatuh cinta kepada Bu Latifah?”
Pertanyaan itu membuatnya sendiri merasa aneh.
Selama ini, ia menganggap pernikahan mereka sebagai sebuah keputusan yang diambil dengan pertimbangan matang. Ia ingin membangun keluarga yang baik, menjaga Kaning, sekaligus memberikan kesempatan kepada Latifah untuk menjadi bagian dari hidupnya.
Ia bahkan belum berani mengatakan bahwa dirinya benar-benar mengenal perempuan itu.
Namun, mengapa sekarang ia selalu teringat kepadanya?
Mengapa senyum Latifah mudah sekali terbayang?
Dan mengapa candaan kecil di dapur tadi pagi terasa begitu menyenangkan?
Bima mengusap tengkuknya.
“Ini tidak mungkin… aku tidak mungkin secepat itu mencintainya.”
Ia menggelengkan kepala, berusaha menyangkal sesuatu yang bahkan belum berani ia akui.
“Sudahlah, Abimanyu. Fokus bekerja.”
Bima kembali menuju meja kerjanya, kemudian duduk dan membuka berkas laporan.
Akan tetapi, baru beberapa detik membaca, pandangannya justru berhenti pada layar ponsel di samping berkas.
Nama Latifah tersimpan di sana.
Jarinya sempat bergerak, seolah ingin mengirim pesan.
Sudah sarapan lagi belum, Bu?
Bima menatap kalimat yang baru diketiknya, lalu menghapusnya kembali.
“Kenapa cuma mau mengirim pesan saja harus berpikir sepanjang ini?”
Ia menghela napas, kemudian akhirnya mengetik pesan singkat.
Bima: Bu Latifah, jangan lupa makan siang. Kalau ada keperluan, kabari saya.
Setelah mengirim pesan itu, Bima meletakkan ponselnya.
Ia mencoba kembali bekerja.
Namun, jauh di dalam hatinya, ia mulai memahami bahwa ada sesuatu yang perlahan tumbuh.
Sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan.
Dan untuk pertama kalinya, seorang Mayor yang terbiasa mengendalikan keadaan justru dibuat kebingungan oleh perasaannya sendiri.
*
*
Siang itu, suasana rumah Bima terasa cukup tenang. Latifah sedang duduk di sofa ruang keluarga bersama Kaning yang asyik menggambar di atas buku sketsanya.
Sesekali, Latifah menemani bocah kecil itu memilih warna pensil. Namun, entah mengapa, pikirannya justru melayang ke kejadian pagi tadi.
Bayangan Bima yang mengusap busa sabun di pipinya kembali terlintas. Belum lagi perkataan suaminya yang terang-terangan menggodanya tentang kejadian semalam.
Latifah menghembuskan napas pelan.
"Kenapa tadi Pak Bima berbicara seperti itu? Dia seperti sedang menggodaku? Aih… Latifah, apa yang kau pikirkan!" batinnya
Ia segera menggelengkan kepala, seolah ingin mengusir bayangan tersebut.
Tiba-tiba, ponsel yang tergeletak di atas meja kecil berbunyi.
Ting!
Latifah mengambilnya. Begitu melihat nama pengirim pesan, kedua alisnya terangkat.
Abimanyu Wicaksono. Pesan dari suaminya.
Bima: Bu Latifah, jangan lupa makan siang. Kalau ada keperluan, kabari saya.
Latifah membaca pesan itu dua kali.
“Masyaallah…” gumamnya lirih.
Senyum tipis tanpa sadar muncul di bibirnya.
Namun, beberapa detik kemudian, ia malah kembali teringat kejadian pagi tadi.
"Kenapa tiba-tiba Pak Bima mengirim pesan seperti ini? Biasanya beliau terlihat serius sekali. Sekarang malah mengingatkanku makan."
Latifah kembali melamun. Tanpa sadar, ia menggelengkan kepala sekali lagi.
Kaning yang duduk di sebelahnya langsung menghentikan aktivitas menggambarnya. Bocah itu memiringkan kepala, memperhatikan wajah bundanya.
“Bunda Latifah, kenapa?”
Latifah tersentak.
“Eh?”
Kaning mendekat sedikit.
“Dari tadi Bunda senyum-senyum, terus geleng-geleng kepala. Bunda sakit?”
Latifah langsung gugup.
“Bunda tidak apa-apa, Sayang.”
Ia mengusap kepala Kaning dengan lembut, meskipun pikirannya masih dipenuhi perasaan campur aduk.
“Bunda cuma sedang memikirkan sesuatu.”
“Memikirkan apa?”
Latifah terdiam sebentar.
“Memikirkan… gambar Kaning.”
Kaning langsung mengangkat buku gambarnya dengan bangga.
“Ini? Kaning sedang menggambar Papah, Bunda, sama Kaning!”
Latifah tersenyum.
“Wah, boleh Bunda lihat?”
Kaning menyodorkan bukunya. Di atas kertas itu terlihat gambar tiga orang berdiri di bawah matahari besar. Sosok pria digambarkan memakai seragam, perempuan memakai hijab, dan anak kecil berdiri di tengah-tengah mereka.
Di bagian atasnya, Kaning menuliskan dengan huruf yang masih sedikit berantakan:
KELUARGAKU.
Latifah mendadak terdiam. Ada kehangatan yang menyusup ke dalam hatinya.
“Cantik sekali, Sayang.”
“Bunda suka?”
“Suka sekali.”
Kaning tersenyum lebar, lalu memeluk lengan Latifah.
“Nanti kalau Papah pulang, Kaning mau kasih lihat. Biar Papah tahu keluarga kita paling bagus!”
Latifah mengusap punggung kecil itu.
“Iya, nanti kita tunjukkan sama Papah.”
Sesaat kemudian, pandangan Latifah kembali jatuh pada ponselnya.
Pesan Bima masih terpampang di layar.
Ia menggigit bibir sebentar, lalu mulai mengetik balasan.
Latifah: Iya, Pak. Terima kasih sudah mengingatkan. Bapak juga jangan lupa makan siang.
Latifah menatap pesan itu sejenak sebelum akhirnya menekan tombol kirim.
Tak sampai semenit, ia sudah meletakkan ponselnya kembali di meja. Namun, sudut bibirnya kembali terangkat.
Kaning yang memperhatikan tingkah bundanya langsung bertanya polos.
“Bunda, tadi Papah yang kirim pesan, ya?”
Latifah membulatkan matanya.
“Kok Kaning tahu?”
“Soalnya Bunda senyum lagi.”
Latifah terkesiap, kemudian tertawa kecil.
“Anak Bunda ini pintar sekali, sih.”
Kaning mengangguk bangga.
“Kaning memang pintar!”
Mereka pun tertawa bersama.
Akan tetapi, setelah Kaning kembali sibuk menggambar, Latifah perlahan menyandarkan punggungnya pada sofa.
Ia menatap langit-langit ruang keluarga. Ada sesuatu yang terasa berbeda sejak pagi tadi.
Perhatian kecil Bima membuatnya merasa diperhatikan, sementara candaan pria itu justru membuatnya salah tingkah.
Latifah masih belum tahu apa yang sebenarnya sedang tumbuh di antara mereka.
Ia pun belum berani memberi nama pada perasaan aneh yang mulai muncul setiap kali mengingat suaminya.
“Ya Allah…” bisiknya pelan. “Semoga aku bisa menjalani semuanya dengan baik.”
Di sampingnya, Kaning kembali menyodorkan pensil warna.
“Bunda, bantu Kaning warnai bunga ini, dong!”
Latifah segera tersenyum dan menerima pensil tersebut.
“Baiklah, Sayang. Kita warnai sama-sama.”
Siang itu, di ruang keluarga yang sederhana, Latifah kembali menemani Kaning menggambar. Namun, jauh di sudut hatinya, sebuah pesan singkat dari sang suami masih meninggalkan kehangatan yang sulit dijelaskan.
Bersambung…
atau baru bab 33