NovelToon NovelToon
LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

LULA, SI PUTRI KECIL KESAYANGAN EMPAT CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:19.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Dewa melompat keluar dengan seringai mengerikan di wajah remajanya.

"Sudah lama aku tidak olahraga melemaskan otot," kata Dewa sambil membunyikan buku-buku jarinya.

Adrian dan Cakra ikut melompat keluar dari pintu kanan secara bersamaan.

Bastian memilih tetap di dalam untuk menjaga ayah, ibu, dan adiknya.

"Habisi anak-anak sombong ini tanpa sisa!" teriak pemimpin preman itu memberi perintah.

Tiga orang preman langsung berlari menerjang Dewa dengan mengayunkan tongkat besi.

Dewa menunduk menghindari ayunan tongkat itu lalu meninju perut salah satu preman dengan kekuatan penuh.

Bugh.

Preman itu langsung muntah darah dan jatuh berlutut memegangi perutnya.

Dewa merebut tongkat besinya lalu memukul tengkuk dua preman lainnya dengan gerakan yang sangat cepat dan brutal.

Di sisi lain, Cakra menghindari sabetan pisau dengan kelenturan tubuh seorang atlet basket.

Dia menendang dada preman itu lalu menginjak pergelangan tangannya sampai pisaunya terlepas.

"Kau pikir pisau dapurmu itu menakutkan hah?" ejek Cakra sambil memukul tengkuk preman itu.

Adrian menghadapi pemimpin preman yang berbadan paling besar dan membawa palu godam.

Pemimpin itu mengayunkan palu beratnya ke arah kepala Adrian dengan buas.

Adrian dengan tenang mundur selangkah lalu menendang lutut pemimpin itu dengan ujung sepatu pantofelnya yang keras.

Krek.

Terdengar suara tulang bergeser dan pemimpin preman itu berteriak kesakitan luar biasa.

Adrian mencengkeram kerah baju pemimpin itu lalu memukul wajahnya bertubi-tubi tanpa ampun.

Lula mengintip dari balik jendela mobil yang mulai retak.

Dia melihat ketiga kakaknya berkelahi dengan sangat menakutkan namun juga terlihat sangat hebat.

Kabut hitam yang tadi menyelimuti mobil perlahan menipis melihat kekuatan buas dari ketiga pemuda itu.

Namun tiba-tiba, Lula melihat ada satu preman yang menyelinap dari arah belakang mobil tanpa ketahuan.

Preman itu memegang sebuah pistol rakitan dan mengarahkannya tepat ke punggung Dewa yang sedang sibuk berkelahi.

"Kak Dewa awas! Di belakang ada pistol!" teriak Lula dari dalam mobil dengan suara melengking panik.

Dewa tidak sempat menoleh karena dia sedang menahan serangan dua orang dari arah depan. Dor.

Suara tembakan pistol memecah keheningan jalanan yang sepi itu.

Lula menjerit dan memejamkan matanya rapat-rapat karena tidak sanggup melihat darah.

"Tidaaaak!" teriak Arini histeris di dalam mobil sambil memeluk Lula.

Namun anehnya, bukan Dewa yang jatuh ke aspal.

Preman yang memegang pistol itu jatuh tersungkur dengan lubang tembakan di pundaknya sendiri.

Dari ujung jalan, puluhan mobil polisi dan mobil pengawal Grup Lentera datang mengepung tempat itu.

Beberapa pengawal menodongkan senjata laras panjang mereka ke arah para preman yang tersisa.

Dewa menoleh ke belakang dan melihat preman bersenjata itu sudah dilumpuhkan oleh tim penembak jitu polisi.

Dewa membuang tongkat besinya ke jalan dan mendecih pelan.

"Padahal aku baru mau pemanasan, polisinya datang terlalu cepat merusak suasana," gerutu Dewa sok jagoan.

Adrian merapikan jasnya yang sedikit kusut lalu berjalan kembali ke arah mobil van.

Dia membuka pintu mobil dan menatap Lula yang masih menangis ketakutan di pelukan Bastian.

"Lula, jangan menangis lagi, orang jahatnya sudah ditangkap polisi," bujuk Adrian dengan nada yang sangat lembut.

Lula membuka matanya dan langsung melompat memeluk leher Adrian.

"Kak Adrian tidak luka? Kak Dewa sama Kak Cakra aman?" tanya Lula sambil sesenggukan.

Adrian menepuk punggung adiknya perlahan untuk menenangkannya.

"Kami semua aman, tidak ada yang terluka sedikitpun berkat peringatanmu," jawab Adrian menenangkan.

Cakra dan Dewa ikut melongok dari luar pintu mobil dengan nafas sedikit terengah namun tersenyum.

"Tentu saja aman, Kakakmu ini kan jagoan neon yang tidak bisa dikalahkan preman," sombong Cakra sambil tertawa lebar.

Dewa hanya tersenyum tipis melihat adiknya yang menangis karena mengkhawatirkan mereka.

"Terima kasih sudah mengingatkanku soal pistol tadi cerewet," ucap Dewa pelan tapi tulus.

Baskoro dan Arini akhirnya bisa bernafas lega melihat ketiga putra mereka kembali ke dalam mobil dengan selamat.

Polisi segera meringkus semua pembunuh bayaran itu dan memasukkan mereka ke dalam mobil tahanan.

Komandan polisi berjalan menghampiri Baskoro dan memberi hormat militer.

"Kami sudah mendapat info bahwa Surya akan kabur lewat jalur laut, tim kami sedang menyergapnya di pelabuhan Tuan," lapor komandan polisi.

Baskoro mengangguk tegas dengan rahang yang masih mengeras.

"Pastikan dia membusuk di penjara selamanya, aku tidak mau melihat wajahnya lagi," perintah Baskoro.

Ancaman dari Perusahaan Matahari dan Surya akhirnya benar-benar berakhir hari ini.

Surya berhasil ditangkap saat mencoba naik ke kapal barang selundupan di pelabuhan tanpa perlawanan.

Semua aset perusahaannya disita oleh negara untuk membayar hutang dan kerugian.

Keluarga Ayodhya menang telak dalam perang bisnis maupun perang fisik ini.

Sopir van kembali menghidupkan mesin mobil setelah polisi membersihkan blokade jalan.

"Kita lanjut ke villa Tuan?" tanya sopir itu masih sedikit gemetar. Baskoro tersenyum dan mengangguk.

"Tentu saja, liburan kita baru saja akan dimulai hari ini," jawab Baskoro santai.

Lula kini sudah kembali tenang dan memilih duduk nyaman di pangkuan Adrian.

Dia menatap jalanan yang kembali damai tanpa ada asap hitam sedikitpun.

"Kak Adrian tangannya kotor kena debu preman," ucap Lula sambil mengambil tisu basah dari tasnya.

Lula mengelap punggung tangan Adrian dengan sangat teliti dan hati-hati.

Adrian hanya diam memperhatikan tingkah adiknya dengan tatapan yang luar biasa hangat.

Hari itu, ikatan batin antara Lula dan keempat kakaknya menjadi tidak terkalahkan oleh apapun.

Mereka telah melewati bahaya maut bersama-sama tanpa ragu sedikitpun.

Lula melindungi mereka dengan peringatan gaibnya dari dalam mobil.

Dan mereka melindungi Lula dengan mengorbankan otot dan darah mereka di luar sana.

Mulai besok, kehidupan Lula di keluarga Ayodhya akan dipenuhi dengan momen lucu, kasih sayang, dan kebahagiaan.

1
Adelina Lin
thor, buat keluarganya si manda jatuh miskin, biar dia merasakan gimana jadi gembel
kiyoe: siap kak di tunggu aja bab selanjutnya hehe
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni sehat selalu 🙏
total 1 replies
beybi T.Halim
cerita yang bagus sejauh ini.,ternyata gak semua orang kaya dan anak orang kaya terdidik dgn baik.
kiyoe: terimakasih kak atas support nya
total 1 replies
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt Thor
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangattt Thor 😍💪
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: terimakasih kak Heni support nya🙏
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak heni🙏
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Heni Setiyaningsih
terus sehat dan semangat Thor 😍💪
kiyoe: kemana aja kak Heni
total 1 replies
kiyoe
terimakasih kak kemna aja kak kok baru kelihatan 🤭
Astiana 💕
mampir Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!