Keira Azzalea datang ke Jakarta hanya demi satu hal: melunasi utang keluarga.
Menjadi pengasuh Mika di kediaman mewah keluarga Mahardika terasa bagai angin segar selain gajinya besar, tempatnya juga nyaman.
Masalahnya, rumah itu juga dihuni oleh Ian Xavier Mahardika.
Ian, putra sulung Nathaniel yang dingin dan skeptis, terang-terangan membenci Keira.
Bagi Ian, Keira hanyalah wanita parasit pemburu harta yang memanfaatkan kebaikan ayahnya. Hinaan pedas dan tatapan sinis jadi makanan Keira sehari-hari.
Namun, tinggal di bawah satu atap membuat benturan tak terelakkan.
Seiring berjalannya waktu, benci yang membakar perlahan berubah menjadi perhatian yang membingungkan.
Akankah permusuhan mereka luluh, atau justru tumbuh menjadi obsesi yang berbahaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Sambal Terasi
Begitu pintu vila tertutup, suara hujan deras di luar terdengar lebih teredam. Dentumannya masih terdengar, tetapi justru terasa menenangkan.
Udara dingin langsung menyambut mereka. Namun, aroma kayu pinus dan sisa pembakaran dari perapian membuat ruangan luas itu terasa hangat.
"Aduh, Mas Ian, Mbak Keira... basah semua bajunya! Ayo, buruan masuk. Nanti pada masuk angin!"
Bik Ani, penjaga vila bertubuh agak gempal dengan senyum ramah, langsung menghampiri mereka sambil membawa tiga handuk kering.
Ian mengibaskan bahunya yang basah, lalu menurunkan Mika dari gendongannya. Dia mengambil satu handuk untuk mengusap kepala adiknya yang hanya terkena sedikit cipratan air.
"Nih, usap mukanya. Nanti kamu pilek."
Setelah itu, Ian menyodorkan handuk lainnya kepada Keira.
Keira mendongak dan menerimanya. Tangannya sedikit gemetar karena kedinginan saat mengusap pipi dan rambutnya yang mulai lepek.
Aduh, ini cowok sebenarnya perhatian atau cuma gengsi, sih?
Keira melirik bahu Ian yang basah.
"Ngg... terima kasih, ya, Mas Ian. Maaf baju Mas jadi ikutan basah kuyup gara-gara mayungi saya sama Mika."
Ian hanya berdengus sambil merapikan kausnya yang sedikit menempel di tubuh.
Ngapain juga minta maaf? Harusnya dia mikirin badannya sendiri yang makin kurus itu, gerutunya dalam hati.
Meski begitu, ujung telinganya yang memerah bukan semata-mata karena udara dingin Puncak.
"Bi, Pak Ujang mana?" tanyanya sambil melepas jaket.
"Pak Ujang lagi di garasi belakang, Mas. Benerin talang air yang mampet gara-gara daun kering," jawab Bik Ani. "Mbak Keira sama Non Mika ganti baju dulu di kamar atas, ya. Baju-bajunya sudah ditaruh di atas kasur sama Pak Ujang tadi."
"Iya, Bik. Permisi, ya."
Keira kemudian menunduk ke arah Mika.
"Ayo, Mika. Kita ganti baju dulu di atas."
Mika yang masih sedikit takut karena suara petir langsung menggenggam tangan Keira erat-erat.
"Mbak Keira, nanti tidur sama Mika, ya? Di kamar atas kasurnya gede banget!"
Keira tersenyum dan mengangguk.
"Iya, nanti kita tidur bareng."
Dia kemudian menuntun Mika menaiki tangga kayu melingkar menuju lantai dua.
Tanpa sadar, Ian memperhatikan keduanya dari belakang. Tatapannya mengikuti Keira yang sabar menuntun adiknya sampai mereka menghilang di belokan koridor.
---
Sekitar pukul tujuh malam, hujan belum juga reda. Angin bertiup kencang hingga jendela-jendela vila sesekali berderit.
Namun, suasana ruang makan lantai dasar justru terasa hangat.
Meja panjang sudah dipenuhi masakan rumahan buatan Bik Ani dengan bantuan Pak Ujang. Ada gurame goreng krispi, sayur asem yang masih mengepul, tahu tempe bacem, dan satu cobek besar berisi sambal terasi.
Bik Ani dan Pak Ujang berdiri di dekat dapur, sementara Keira sibuk mendampingi Mika di meja makan. Dia mengambilkan piring kecil dan memotong tahu bacem agar mudah dimakan anak itu.
"Mbak Keira, mau saya ambilkan piring sekalian?" tawar Bik Ani sambil mendekat.
"Eh, ndak usah, Bik Ani. Nanti saya ambil sendiri saja."
Ingat posisi, Kei. Lu di sini dibayar buat mengasuh Mika, bukan buat berlagak kayak putri raja, bisik hati kecilnya mengingatkan.
"Halah, Mbak Keira ini... duduk aja bareng di sini. Gak usah canggung," celetuk Pak Ujang dari sudut ruangan.
Tak lama kemudian, Ian turun dari lantai atas dengan pakaian yang sudah berganti. Dia mengernyit melihat Bik Ani dan Pak Ujang masih berdiri di kejauhan.
"Ngapain pada berdiri di situ?" tanyanya sambil menarik kursi di ujung meja. "Bik Ani, Pak Ujang, duduk saja. Makan bareng. Meja segini besar gak bakal sempit."
Keduanya sempat ragu, tetapi akhirnya menurut dan mengambil tempat duduk di sisi meja yang agak jauh.
Keira tersenyum tipis. Setidaknya, suasana makan malam kali ini tidak terlalu canggung.
Namun, perhatiannya segera tertuju pada cobek sambal terasi di tengah meja.
Ya Tuhan, wanginya! Di kampung, makan pakai sambal begini ditambah kerupuk saja sudah nikmat tiada tara.
Mika yang sedang mengunyah tahu bacem tiba-tiba mendongak.
"Mas Ian, Mbak Keira dari tadi ngelihatin sambal terus, tuh! Kayaknya Mbak Keira suka pedes."
Wajah Keira langsung memerah.
"E-eh, nggak kok, Mika."
Ian ikut melirik cobek sambal tersebut.
Sejujurnya, dia bukan tipe orang yang tahan makanan pedas. Perutnya sudah terbiasa dengan makanan yang tidak menggunakan banyak cabai.
Namun, melihat Keira begitu tertarik pada sambal itu, muncul pikiran sederhana di kepalanya.
Masa gua yang cowok kalah sama pengasuh adik gua? Lagian cuma sambal terasi. Paling gak begitu pedes.
Tidak mau terlihat lemah di depan Keira dan orang-orang rumah, Ian mengambil sendok sambal dengan gaya santai.
"Halah, begitu doang. Saya biasa makan yang lebih pedas."
Sok formalnya langsung keluar.
Tanpa berpikir panjang, dia mengambil dua sendok penuh sambal terasi dan mencampurkannya ke nasi.
Bik Ani dan Pak Ujang langsung saling pandang.
"Bukannya Mas Ian gak bisa makan pedas, ya, Bik?" bisik Pak Ujang.
"Iya, setahu saya juga begitu, Pak. Waduh, nekat banget itu Mas Ian."
Keira yang melihat aksi tersebut hanya menggigit bibir bawahnya, menahan tawa.
Ian mulai menyuapkan nasi bercampur sambal ke mulutnya dengan ekspresi sok tenang.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Wajah tampannya langsung berubah merah padam.
Matanya membelalak, bahkan mulai berkaca-kaca karena rasa pedas yang membakar lidah dan tenggorokannya.
Gila! Ini lidah gua rasanya kayak ketempelan arang panas! Kok bisa sambal rasanya membakar begini?!
Napas Ian mulai tersendat. Dia berusaha menelan nasi itu sambil mempertahankan ekspresi tenangnya.
"A-anu... Mas Ian tidak apa-apa?" tanya Keira ragu melihat perubahan wajah pria itu.
Ian berdeham kaku. Keringat dingin mulai muncul di pelipis dan lehernya.
"B-biasa saja," jawabnya dengan suara serak dan sedikit sengau. "Tidak... tidak pedas sama sekali. Lidah saya memang kuat."
Sayangnya, tubuhnya tidak bisa diajak bekerja sama.
Tangan Ian langsung menyambar gelas air putih di samping piring. Dia menenggaknya sampai habis dalam sekali minum.
Melihat Ian yang mulai megap-megap tetapi masih mempertahankan gengsinya, Keira segera menyodorkan mangkuk sayur asem.
"Ini... coba diminum kuah sayurnya pelan-pelan, Mas Ian. Biar lidahnya agak mendingan."
Ian menerima mangkuk itu dengan jemari sedikit gemetar. Tanpa banyak bicara, dia langsung meminum kuahnya.
Dalam hati, dia merutuki kebodohannya sendiri. Gara-gara gengsi di depan pengasuh adiknya, sekarang lidahnya harus menanggung akibat.
Namun, anehnya, rasa pedas yang membakar mulutnya terasa sedikit terbayar saat dia melirik senyum tulus Keira.
"Aduh, Mas Ian..." Pak Ujang terkekeh sambil menggelengkan kepala. "Mbak Keira mah anak kampung, sudah biasa makan cabai rawit bujel. Gak bisa dilawan!"
"Saya cuma mau mencicipi rasa terasinya saja kok, Pak Ujang," bela Ian cepat.
Suaranya masih sengau, tetapi dia tetap bersikeras tidak mau mengakui kekalahannya.
Keira menunduk, pura-pura sibuk mengurus makanan Mika. Padahal, sejak tadi dia mati-matian menahan tawa melihat tingkah direktur yang satu ini.
Sepertinya, malam ini Ian baru saja mendapatkan pelajaran penting.
Jangan pernah meremehkan sambal terasi.
semangat Kak 💪💪