Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.
Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.
"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.
(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)
Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah yang Tertinggal di Liang Usia
Dulu, jarak antara dunianya dan duniku hanya dipisahkan oleh beberapa petak ubin teras dan jalan setapak berpasir halus di depan rumah. Rumah kami begitu dekat, bahkan suara decitan pintu kayu di rumahnya bisa terdengar jelas dari kamar tidurku saat sore hari menjelang magrib.
Kami adalah dua anak kecil yang belum mengenal apa itu lelah; hari-hari kami dihabiskan dengan berlari-lari mengejar bayangan sendiri, berebut mainan plastik murah di halaman, atau duduk berdampingan sambil menikmati jajanan pasar yang dibelikan ibu kami.
Bagi anak seusia kami, dunia ini sangatlah sederhana. Teman adalah segalanya. Dan dia—namanya kadang terselip di balik kabut ingatan masa kecil yang mulai menguning, namun wajahnya tetap terekam jelas di sudut hati—adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki.
Aku menempatkannya di posisi paling berharga dalam hidupku yang masih belia. Kalau ada satu hal yang bisa aku bagi, entah itu permen karet manis atau sepotong biskuit cokelat, dia selalu mendapat bagian pertama.
Aku bahkan rela memberikan mainan kesayanganku tanpa berpikir dua kali, karena bagiku, melihatnya tertawa lepas adalah bentuk kebahagiaan paling murni yang bisa kurasakan saat itu.
Kami melakukan segalanya bersama. Mulai dari belajar mengeja huruf abjad pertama kali di atas meja kayu yang sudah goyang, berjalan beriringan menuju sekolah taman kanak-kanak dengan tas ransel bergambar karakter kartun yang kebesaran di punggung kecil kami, hingga menangis bersama hanya karena lutut kami lecet terjatuh dari sepeda roda tiga.
Tidak ada hari tanpa kehadirannya. Kehadirannya sudah menjadi bagian dari rutinitas napasku sehari-hari. Aku menganggapnya sebagai bagian dari diriku sendiri.
Namun, hidup terkadang berjalan dengan cara yang paling kejam dan di luar nalar kekanak-kanakan kami.
Sesuatu yang buruk datang tanpa diundang, menyelinap masuk ke dalam celah-celah kehangatan sore hari. Tanpa peringatan, tanpa aba-aba, dia harus pergi. Orang-orang dewasa di sekitarku berbisik-bisik dengan nada suara yang sengaja dilembutkan, mencoba menyembunyikan kepanikan dan kesedihan di balik senyum palsu yang terlihat rapuh.
Mereka bilang dia pindah ke rumah baru. Rumah yang jauh lebih indah, di mana di sana tidak ada lagi rasa sakit, dan banyak sekali orang yang menyayanginya.
Sebagai anak yang baru berusia empat atau lima tahun, pikiranku yang masih polos menelan mentah-mentah cerita itu. Aku membayangkan sebuah rumah megah dengan taman bunga yang luas dan mainan yang tak terhitung jumlahnya.
Pikirku, betapa menyenangkannya punya rumah baru seperti itu. Aku bahkan sempat merasa sedikit iri, bertanya-tanya kapan aku bisa ikut bermain di rumah barunya yang megah.
Hari pemakaman itu terekam dalam ingatanku bagaikan potongan film bisu berwarna kelabu. Aku berdiri di antara kerumunan orang dewasa yang mengenakan pakaian serba gelap.
Mataku yang masih jernih menatap ke sekeliling, mencoba mencari sosoknya yang biasa berlari ke sana kemari membawa tawa renyah. Tapi yang kutemukan hanya derai air mata di wajah ibuku, isak tangis tertahan dari bibir ayahnya, dan sekumpulan orang yang menunduk khidmat.
Aku ingat betul momen ketika sebuah kotak kecil perlahan-lahan dimasukkan ke dalam liang lahat. Orang-orang menyebutnya sebagai "rumah barunya".
Aku berdiri mematung di tepi gundukan tanah basah itu. Tidak ada suara langkah kaki berdecit di teras lagi. Tidak ada lagi ocehan riang atau aroma wangi sabun mandi anak-anak yang biasa melekat di bajunya setiap kali kami selesai bermain di bawah terik matahari.
Yang tertinggal hanyalah sebuah papan nisan kayu sederhana dengan nama yang terukir di atasnya.
Saat itu, aku terlalu kecil untuk mengerti arti kematian. Aku hanya mengira dia sedang tidur sangat pulas di dalam rumah barunya itu, dan suatu hari nanti, jika aku menunggu cukup lama, dia akan bangun, mengetuk pintu rumahku, dan mengajakku bermain lagi seperti biasa.
Aku mengira ini hanyalah sebuah mimpi buruk yang panjang, mimpi di mana aku bisa segera membuka mata dan mendapatinya duduk di sampingku sambil tersenyum lebar.
Tetapi waktu terus berjalan, dan kenyataan menghantamku dengan kejam.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tahun-tahun berlalu membawa serta kepolosan masa kecilku. Rumah di sebelah itu kini dihuni oleh orang lain, atau terkadang dibiarkan sepi, sementara "rumah baru" di tempat pemakaman umum sana tetap sunyi dengan taburan kelopak bunga yang perlahan mengering.
Mendengarkan alunan lagu yang baru-baru ini sering berputar di kepalaku seakan merobek kembali luka lama yang sengaja kutimbun rapat-rapat di dasar hati.
Lirik-lirik itu terasa begitu menohok, menyuarakan apa yang selama ini terpendam dalam dada:
"Sesi potret yang selalu ku benci
Aneh rasanya kau tak di sini
Susunan barisannya tak sama lagi..."
Lagu itu menguak kembali kenangan tentang betapa canggungnya dunia ini tanpa kehadirannya. Susunan barisan hidupku memang tidak pernah sama lagi sejak kepergiannya.
Kehilangan di usia yang begitu dini meninggalkan rongga kosong yang tidak pernah bisa diisi oleh siapapun. Gengsi sempat menyelimutiku saat beranjak dewasa, mencoba menepis rasa sedih dengan dalih bahwa aku harus tegar, bahwa aku harus melupakan masa lalu. Namun, jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, manusia ini tetaplah seorang anak kecil yang merindukan sahabatnya.
Soal ikhlas? Ah, ternyata aku masih amatir. Masih sangat amatir. Mengucapkan kata "ikhlas" semudah membalikkan telapak tangan, tetapi merasakannya dalam sepi adalah perkara lain.
Ada sesal yang tertinggal di sudut hati, sesal karena saat itu aku terlalu bodoh untuk memahami keadaannya, terlalu kecil untuk menggenggam tangannya lebih erat dan membisikkan kata-kata ajaib di telinganya sebelum ia benar-benar pergi jauh.
Kini, bertahun-tahun kemudian, ketika aku melewati jalan setapak di depan rumah masa kecil kami, bayangan tentangnya, tentang tawa kami, dan tentang rumah beberapa langkah itu kembali hidup.
Dia telah pergi, namun jejaknya abadi di dalam nadi dan ingatanku. Dan di sinilah aku, belajar merangkul ketidaksempurnaan rasa ikhlas, membawa kenangannya ke mana pun langkahku membimbing.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pesan Ku Untuk Aku Yang Masih Kecil ,Yah Walaupun Terlambat Beberapa Tahun:
Hai sayang.
aku tau kamu lagi sedih banget ya. Teman main kamu nggak ada lagi. Rasanya bingung, sepi, dan pengen nangis terus. Nggak apa-apa kalau kamu mau nangis.
Teman kamu itu nggak marah sama kamu. Dia nggak ninggalin kamu karena nakal. Badan dia sudah sakit dan capek sekali, jadi sekarang dia harus tidur yang lama sekali dan nggak bangun lagi. Di surga.
Tapi cintanya sama kamu nggak hilang. Ingat nggak waktu kalian main kejar-kejaran? Waktu ketawa bareng? Itu semua masih ada di dalam hati kamu. Jadi walaupun dia nggak kelihatan lagi, dia tetap jadi teman kamu di dalam hati.