NovelToon NovelToon
Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Teen / Penyelamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ulva k

Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.

Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.

"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."


Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.

Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.

Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?

Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Langit Kuala Pembuang sudah gelap lagi. Bukan karena mau maghrib. Tapi Karena hujan turun lagi. Lebih deras dari jam 2 siang tadi.

Gundukan tanah merah baru di depan ku sudah rata kena hujan. Nisan kayu yang Bapak tulis pakai spidol hitam tadi sudah luntur. Namanya jadi bayangan hitam.

Itu makam ibu ku. Bukan Alia. Bukan Laila santriwati yang diusir dipondok itu

Bu Siti narik tangan ku lagi. Lebih kencang.

"Laila, ayo pulang. Laki-laki sudah pada balik ke surau. Perempuan tidak boleh lama-lama di makam pas maghrib. Pamali."

Aku tidak gerak. Lutut ku sudah tenggelam setengah di tanah becek. Gamis putih setrikaan ibu yang ujungnya kena lumpur merah tadi, sekarang lumpurnya sudah naik sampai ke paha. Berat. Dingin.

Mami Asih yang masih payungin aku pakai payung hitam bekas keranda, jongkok di samping ku.

Dia tidak bilang apa-apa. Dia cuma buka daster coklatnya, dia lap lumpur di ujung gamis putih ku pakai ujung dasternya. Tapi lumpurnya tidak hilang. Malah nyebar.

"Nah, bagus," Mami bisik, pelan banget biar cuma aku yang denger. "Biarin nyebar. Besok pas tahlilan, semua ibu-ibu di surau kayu itu lihat. Lihat gamis putih bersih yang ibu kamu setrika jam 3 subuh sebelum dia meninggal , sekarang berlumpur kuburan ibu kamu sendiri. Biar mereka lihat, kamu itu Laila, bukan Alia yang seburuk apa mereka gosipin

Aku angguk. Air hujan masuk ke mata ku, kecampur air mata.

Di belakang, Bapak masih berdiri di pinggir makam. Tidak pakai payung. Bapak biarin hujan kena peci hitamnya. Bapak lihat aku.

"Laila..." suara Bapak parau. Habis nangis di liang lahat tadi.

Aku berdiri. Susah. Kaki ku licin. Bu Siti sama Mami Asih yang angkat badan ku.

Aku jalan pelan, balik ke rumah lagi. Setiap langkah, gamis putih ku yang berat karena lumpur merah itu nyeret tanah. ninggalin jejak putih coklat merah di tanah yang becek. Kayak kain kafan yang tadi turun ke liang.

Sampai di rumah,surau kayu di sebelah rumah sudah nyala lampunya. Kuning temaram. Suara bapak bapak baca Yasin pelan kedengeran dari pengeras suara yang kresek-kresek.

Rumah ku sepi. Tikar pandan tempat jenazah ibu tadi masih digelar di tengah. Masih ada bekas basah tempat memandikan.

Ibu-ibu sudah pulang. Tinggal piring-piring bekas tahlilan kecil tadi siang yang belum dicuci.

Bapak masuk. Bapak sudah mandi dan ganti baju. Karna tadi bapak habis diliang.

Bapak duduk di tikar pandan itu. Tepat di tempat ibu dimandiin tadi.

"Laila, sini," Bapak manggil.

Aku duduk di depan Bapak. Jarak satu meter. Gamis putih ku yang berlumpur masih aku pakai. Aku tidak mau ganti.

Bapak lihat flesdisk merah yang nongol dikit dari saku gamis ku yang kena lumpur. Bapak lihat lampu merah kecil di kerah kerudung ku yang masih kedip tiap 5 detik. Di rumah yang remang-remang ini, kedipnya kelihatan jelas.

"Itu apa, Laila?" Bapak nanya.

Aku kaget. Tangan ku langsung nutup saku.

Mami Asih yang berdiri di pintu dapur, jawab cepat.

"Pak Haji, itu punya Mami. Titipan. Nanti Mami ambil lagi. Laila cuma bawain."

Bapak diam. Bapak percaya. Bapak memang selalu percaya omongan orang lain daripada omongan aku.

Bapak nunduk. Lihat tikar pandan kosong.

"Bu tadi di liang, Bapak bilang" Bapak mulai ngomong lagi, tapi bukan ke aku. Ke tikar kosong itu. Seolah ibu masih ada di situ.

Bapak nangis lagi. Kali ini tidak keras kayak di liang tadi. Pelan. Bahunya naik turun.

"Terus ibu kamu yang maksa. Tiap malam ibu kamu bilang, jemput Laila, Pak. Laila itu anak kita satu-satunya. Ibu kamu yang setrika gamis putih itu jam 3 subuh tadi malam. Katanya, besok Laila pulang, biar Laila pakai gamis putih ini pas ngaji di surau. Ibu kamu jatuh pas wudhu jam 4 subuh... karena semalaman tidak tidur nunggu kamu."

Aku tidak bisa napas. Bukan di makam tadi. Tapi di tikar pandan kosong ini.

Gamis putih yang aku pakai, yang bau setrikaan ibu masih ada, yang kertas kecilnya masih di saku: Laila, kalau kamu pulang, pakai ini. Ibu kangen sama kamu. itu disetrika ibu jam 3 subuh, 1 jam sebelum ibu jatuh dan meninggal.

Berarti mimpi ku jam 4 subuh tadi yang ada mukena putih robek itu bukan mimpi.

Aku merinding. Flashdisk merah di saku ku yang kena lumpur kuburan itu tiba-tiba panas. Dingin-panas.

Mami Asih dari pintu dapur lihat aku merinding. Mami ngerti.

"Laila," Mami manggil. "Mandi. Ganti baju. Tapi gamis putihnya jangan dicuci. Lipat aja, taruh di atas sajadah ibu kamu. Besok pakai lagi pas tahlilan hari pertama. Biar Bapak lihat terus lumpur kuburan itu."

Aku berdiri. Kaki ku gemetar.

Aku masuk ke kamar kecil ku. Pintu kayu yang tadi aku intip pemakaman dari jauh.

Di kamar, di dinding triplek, ada cermin kecil retak.

Aku lihat diri ku.

Gamis putih setrikaan ibu, ujungnya merah coklat kena lumpur kuburan ibu ku sendiri. Kerudung putih lebar. Di kerah dalam, CCTV kancing masih kedip merah. Di saku dalam, flashdisk merah penuh lumpur. Di saku luar, kertas kecil tulisan ibu: Laila, kalau kamu pulang, pakai ini.

Aku bukan Alia. Tadi di makam aku sudah teriak IBU. Satu kampung sudah dengar aku Laila.

Tapi besok di surau kayu pas tahlilan, aku harus jadi Alia lagi. Karena 4 nama di dinding kos pink pudar Sampit itu belum aku kubur. Dan flashdisk merah berlumpur ini belum aku colok.

Jam 19.00. Azan Isya dari surau kayu. Hujan masih deras.

Di luar, Bapak masih duduk di tikar pandan bekas memandikan ibu, nangis pelan.

Di dalam kamar, aku peluk gamis putih berlumpur itu. Tidak aku lepas.

Besok tahlilan hari pertama.

Malam ini ibu ku tidur di tanah merah becek.

Dan aku tidur di kamar kecil ini, pakai gamis putih berlumpur kuburan ibu ku, dengan flashdisk merah yang isinya bisa kubur 4 nama sekaligus.

1
Garrel
semngat laila💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!