Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".
Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
What? Bapak Dosen tampan itu menelponku??? Pak Rhaegar nelpon aku pakai nomor pribadi???
Handuk di kepala Kila benar-benar merosot kali ini. Jatuh ke lantai dengan bunyi buk yang pelan. Rambutnya yang masih basah kuyup menetes-netes ke kaos oblong kebesarannya, membasahi bahunya.
"H-hallo? Kila? Masih di sana? Halo?" Suara berat di seberang sana terdengar bingung, memanggil namanya dua kali.
Kila panik setengah mati. Dia jongkok, memunguti handuknya yang jatuh, lalu berdiri lagi dengan rambut berantakan, lalu jongkok lagi karena kakinya lemas. Bingung harus ngapain, harus duduk atau berdiri. Ponsel di tangannya terasa panas seperti bara api, seperti mau meledak.
"I-iya Pak! Saya... saya di sini Pak! Maaf Pak! Maaf banget Pak!" jawab Kila dengan suara satu oktaf lebih tinggi dari biasanya, cempreng. Suara kagetnya yang super norak itu pasti terdengar jelas sampai rumah sebelah.
Hening dua detik di seberang. Lalu suara itu terdengar lagi, sedikit tertahan, seperti menahan sesuatu.
"Kamu habis keramas ya?"
Kila membeku total di tepi kasur. Matanya melotot.
Gimana dia tahu??? Kok bisa tahu? Ada CCTV di kamar aku?
"Eh? Kok Bapak tahu Pak? Kok Bapak bisa tahu saya habis keramas?" Kila bertanya balik dengan bodohnya.
"Suara handuk jatuh. Dan kamu ngos-ngosan kayak habis lari maraton," jawab Pak Rhaegar datar, logis, sangat detektif.
Ya Tuhan. Bahkan lewat telepon pun Bapak Dosen ini sedetail itu, seobservan itu. Kila ingin mengubur dirinya di dalam handuk yang baru saja dia pungut dan tidak pernah keluar lagi.
"Anu.. iya Pak. Tadi habis pulang dari fotokopian, jadi... gerah Pak, banyak debu, jadi keramas," Kila mencoba terdengar normal dan profesional, padahal tangannya gemetar hebat sampai harus duduk di tepi kasur biar tidak jatuh.
"Oke. Saya telpon cuma mau bilang, kuesionernya nggak usah diambil jam sembilan. Ambil jam sepuluh saja. Toko fotokopinya baru buka jam sepuluh besok. Saya barusan lewat, ada tulisan tutupnya," kata Pak Rhaegar, to the point.
Kila mengerjap. Otaknya yang tadi sudah mikir macam-macam langsung nge-blank.
Hanya untuk itu? Hanya untuk bilang toko fotokopi buka jam sepuluh? Bapak Dosen nelpon pakai nomor pribadi cuma buat bilang info sepele itu? Yang bisa di-WA?
"Oh.. oh iya Pak. Siap Pak. Jam sepuluh ya Pak. Siap," jawab Kila, sedikit kecewa, sedikit lega. Kirain ada hal penting yang salah dari kuesionernya.
"Terus," Pak Rhaegar melanjutkan, belum selesai, "jangan lupa bawa ke ruang saya jam sepuluh lewat sepuluh. Jangan telat."
"Iya Pak, siap Pak, sepuluh lewat sepuluh," Kila mengangguk-angguk cepat seperti Pak Rhaegar bisa melihatnya dari seberang telepon, mencatat di udara.
Hening lagi selama tiga detik. Kila kira teleponnya sudah selesai, sudah mau ditutup. Dia sudah mau bilang "kalau gitu saya tutup ya Pak, makasih Pak" ketika suara berat itu terdengar lagi, lebih pelan, lebih rendah, tidak sedatar tadi.
"Kila."
"Iya Pak?" Kila langsung siaga.
"Tadi kamu lari ya di koridor? Habis dari ruang saya tadi sore?"
DEG. Jantung Kila jatuh ke perut.
Kila menelan ludah keras sampai bunyi. Jadi ketahuan semua.
"Emm.. enggak Pak! Saya jalan kok Pak! Jalan cepat! Jalan sehat Pak!" Kila ngeles, bohong dengan sangat tidak meyakinkan.
"Jalan cepat sambil hampir nabrak pot bunga di depan ruang TU? Sambil senyam-senyum sendiri? Saya lihat dari jendela ruangan saya. Jendela saya kan menghadap koridor," kata Pak Rhaegar, detailnya sangat akurat, tidak bisa dibantah.
MATI AJA SEKARANG. KUBUR AJA AKU DI SINI. PINDAH PLANET AJA.
Kila memejamkan mata rapat-rapat, menahan malu yang luar biasa sampai ingin nangis. Jadi selama ini Pak Rhaegar melihatnya lari-lari norak sambil senyam-senyum nggak jelas seperti orang jatuh cinta gara-gara dibilang "hati-hati"? Semua ke-gaje-an nya ketahuan?
"Maaf Pak.. saya... saya buru-buru Pak.. takut tokonya tutup," kata Kila lirih, alasan paling bodoh abad ini.
Di seberang sana, untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup Kila sebagai mahasiswi Pak Rhaegar, Kila mendengar sesuatu yang sangat langka, yang belum pernah didengar mahasiswi lain.
Pak Rhaegar terkekeh pelan. Sangat pelan, hampir tidak terdengar, tapi jelas di telepon yang sepi itu. Hah.
Bukan tawa mengejek yang dingin. Tawa yang... gemas? Tawa yang tertahan?
Kila menahan napas.
"Besok jangan lari-lari di koridor. Licin. Jatuh nanti. Pelan-pelan aja," kata Pak Rhaegar, kata itu lagi. Perhatian lagi, dengan suara yang lebih lembut dari biasanya. Seperti menasehati.
"I-iya Pak," Kila menggigit bibir bawahnya kuat menahan senyum yang sudah tidak bisa ditahan lagi, yang merekah sampai ke telinga. Pipinya kembali merah padam, padahal tadi sudah hilang habis keramas air dingin. Sekarang panas lagi.
"Oke, itu aja. Matikan teleponnya. Selamat malam," kata Pak Rhaegar, kembali ke mode dingin tapi... ada selamat malamnya.
Klik.
Telepon mati. Tut... tut... tut...
Kila masih memegang ponselnya di telinga selama lima detik, masih dalam posisi telepon, sebelum akhirnya menjatuhkan diri ke kasur empuknya dengan handuk masih di pangkuan, rambut basah berantakan.
Dia menatap langit-langit kamarnya yang putih, lampu gantung.
Lalu menjerit pelan ke dalam bantal dengan suara tertahan, mengguling-gulingkan tubuhnya.
"AAAAA PAK RHAEGAR NELPON AKU PAKE NOMOR PRIBADI!!! DIA LIAT AKU LARI-LARI KAYAK ORANG GILA DI KORIDOR!!! DIA TAU AKU SENYAM-SENYUM!!! MALU BANGET YA TUHAN!!! TAPI DIA BILANG JANGAN LARI-LARI NANTI JATUH!!!"
Di sisi lain, di sebuah ruangan kerja yang masih terang di lantai dua, di rumah yang rapi dan minimalis, seorang Bapak Dosen masih menatap ponselnya yang layarnya baru mati. Di layar masih tertera nama kontak baru yang baru saja dia simpan dengan jarinya sendiri malam ini: Kila - Mahasiswi Ceroboh.
Dia menggeleng pelan, melepas kacamata bacanya. Tapi sudut bibirnya tertarik naik sedikit, lama. Senyum tipis yang tidak ditahan lagi.
"Mahasiswi ini... ceroboh sekali, tapi..."
Dia tidak melanjutkan kalimatnya. Dia hanya menyimpan ponselnya dan kembali menatap layar laptop di mejanya, dengan perasaan yang sedikit berbeda dari biasanya.
ayok ada dibaca🤭