Di balik gemerlap kariernya sebagai aktor papan atas, Ethan Voss menyimpan rahasia besar: pernikahan tanpa cinta bersama Mia Taylor. Pernikahan yang lahir dari utang budi itu terikat perjanjian ketat—dirahasiakan dari publik, tanpa keterikatan emosional, dan wajib berakhir dalam empat tahun.
Selama empat tahun, Mia bertahan hidup bagai bayangan. Ia menelan dinginnya sikap Ethan dan rasa sakit saat melihat pria itu memamerkan kemesraan bersama kekasihnya di media. Saat masa perjanjian usai, Mia pergi dengan tenang, meninggalkan Ethan yang mengira dirinya telah bebas.
Namun, kepergian Mia justru menyisakan kehampaan mendalam. Setelah menemukan rahasia pengorbanan tulus sang mantan istri, Ethan sadar ia telah membuang cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Ketenangan Dan Bayangan Masa Lalu
Matahari menunduk rendah di ufuk barat Pasifik, melingkupi seluruh garis pantai California dengan selimut cahaya keemasan yang hangat dan pekat. Angin laut bertiup lembut membawa aroma garam yang khas, berpadu dengan kesegaran angin sore yang mengikis sisa-sisa terik matahari sepanjang siang.
Mia memutar kunci pada pintu kaca toko perhiasan hingga terdengar bunyi klik yang mantap. Ia membalikkan papan gantung di balik pintu menjadi tulisan Closed, lalu menghela napas lega. Jam kerjanya untuk hari ini akhirnya resmi berakhir.
Saat ia sedang merapikan tas bahunya, sebuah motor listrik berwarna mint berhenti tepat di tepi trotoar di depannya. Pengendaranya melepaskan helm half-face dan memamerkan cengiran lebarnya.
“Mia! Butuh tumpangan?” sapa Ivy dengan ceria.
“Ayo naik! Rumah kita searah, cuma beda dua blok saja. Hari ini aku akan mengantarmu pulang dengan selamat.”
Mia tersenyum tipis, menghargai kehangatan rekan kerjanya itu. “Terimakasih banyak atas tawarannya, Ivy. Tapi sore ini aku jalan kaki saja,” tolaknya halus.
Ivy menaikkan alisnya, menatap Mia dengan raut sedikit khawatir. “Kamu yakin? Kamu kelihatan lelah sekali dari tadi siang.”
“Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," jawab Mia halus, memberikan anggukan menenangkan.
“Aku cuma ingin menghirup udara segar sebentar sambil cuci mata. Pemandangan sore ini sangat indah. Sayang kalau dilewatkan.”
Melihat kesungguhan di mata Mia, Ivy akhirnya mengangguk paham. “Ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya. Sampai ketemu besok.”
“Hati-hati juga, Ivy,” balas Mia seraya melambaikan tangan saat Ivy mulai melaju membelah jalanan kota yang tenang.
Sepeninggal Ivy, Mia melangkahkan kakinya perlahan menyusuri trotoar. Angin sore mengusap lembut pipinya, membawa kesegaran yang perlahan mengikis rasa lelah setelah seharian berdiri di dalam toko.
Ia menarik napas panjang, menikmati tiap jengkal langkahnya. Jalan kaki di bawah langit senja seperti ini memberinya ruang untuk bernapas.
Menghadapi Ethan pagi tadi memang cukup menguras energinya, namun saat ia melihat keindahan langit sore ini, ia tahu bahwa keputusannya untuk melangkah pergi di masa lalu adalah hal yang paling benar. Di sini, di jalanan yang tenang ini, ia bukan lagi bayang-bayang seorang bintang ternama. Ia hanyalah Mia, seorang wanita yang akhirnya menemukan ketenangannya sendiri.
“Semangat, Mia. Kamu memang pantas menikmati hidupmu dengan tenang,” gumam Mia pada diri sendiri.
Sementara di seberang, tanpa sepengetahuan Mia.
Suara derum halus dari mesin V8 meraung rendah, membelah kesunyian sore di sepanjang jalanan pesisir. Mobil sport berwarna hitam itu melaju lambat di balik bayang-bayang pohon palem, menjaga jarak yang aman agar kehadirannya tak disadari.
Di balik kemudi mobil itu, jemari Ethan mencengkeram erat lingkar kemudi berkulit hitam. Matanya fokus menatap sosok wanita yang sedang berjalan santai di trotoar beberapa meter di depannya. Rambut Mia yang diterpa angin sore terpancar emas terkena sisa cahaya matahari, persis seperti kenangan yang terus mengejarnya setiap kali ia memejamkan mata.
Ethan menurunkan kaca mobilnya sedikit. Membiarkan angin laut yang dingin menusuk masuk dan mendinginkan dadanya yang sesak. Pertemuan mereka pagi tadi masih membekas jelas di ingatannya. Ia bisa melihat betapa dinginnya tatapan Mia, betapa tegasnya batas yang kini wanita itu bangun di antara mereka.
Tidak ada lagi kehangatan Mia yang dulu selalu menyambutnya di balik gemerlap dunia panggung yang bising.
Ia melihat Mia berhenti sejenak di dekat pembatas jalan, mendongak menatap rona jingga yang melukis langit Pasifik. Wajah Mia terlihat begitu tenang. Ketenangan yang tak pernah bisa Ethan berikan selama mereka bersama.
Di dalam kabin mobil yang mewah dan sunyi itu, Ethan menghela napas berat. Kehadirannya kini tak ubahnya hantu dari masa lalu yang terus membayangi.
Namun, alih-alih menancap gas dan menyamai langkah wanita itu, Ethan memilih untuk tetap bertahan di belakang demi menjaga, mengawasi, dan meratapi satu-satunya hal berharga yang telah lepas dari genggamannya.
Derum halus mesin V8 itu akhirnya meredup dan mati total saat Ethan menepi di bawah rindangnya pohon asam di ujung jalan. Dari balik kaca mobilnya yang gelap, ia memperhatikan Mia yang sedang memasukkan kunci ke pintu rumah kontrakan sederhananya, sebuah bangunan bergaya minimalis dengan cat putih yang mulai memudar dan pekarangan kecil yang asri.
“Jadi ini tempat tinggalmu sekarang?” gumam Ethan seraya memperhatikan lingkungan sekitar.
Mia sempat menoleh sejenak ke arah jalanan, membuat jantung Ethan berhenti berdetak selama beberapa detik.
Jemarinya yang masih mencengkeram kemudi mendadak dingin. Namun, Mia hanya merapikan rambutnya yang tertiup angin lalu melangkah masuk dan menutup pintu kayu itu rapat-rapat.
“Hampir saja.” Ethan menghela napas lega, tapi lega itu hanya bertahan singkat.
Kehadiran mobil sport mewahnya yang diparkir sembarangan di lingkungan perumahan warga lokal yang tenang itu mulai memicu keanehan.
Seorang bapak yang sedang menyiram tanaman di seberang jalan mulai menghentikan aktivitasnya, menatap curiga ke arah kaca mobil Ethan yang gelap.
Tak jauh dari situ, dua wanita paruh baya yang sedang berjalan santai ikut berhenti. Mereka saling berbisik sambil menunjuk-nunjuk mobil mewahnya.
Keringat dingin pun mulai membasahi dahi Ethan. Lingkungan ini terlalu sepi dan intim untuk mobil mencolok seperti miliknya. Jika warga sekitar merasa terganggu dan menghampirinya, atau yang lebih buruk lagi jika menegurnya dengan keras, Mia pasti akan keluar dan menemukan keberadaannya.
Dua wanita paruh baya itu tampak saling menatap ragu sebelum akhirnya mereka melangkah mantap mendekati pintu rumah bercat putih pudar tersebut. Salah satu dari mereka, seorang wanita berambut keriting dengan celemek yang masih membelit pinggangnya, mengetuk pintu beberapa kali.
Di dalam rumah, Mia yang baru saja meletakkan tas bahunya di atas meja makan terkejut pelan. Ia melangkah menuju pintu depan dan membukanya dengan sedikit heran.
“Selamat sore, Nyonya Miller, Nyonya Sterling,” sapa Mia ramah, langsung mengenali tetangga sekitar kompleksnya.
“Ada yang bisa saya bantu?”
Nyonya Miller menatap Mia dengan raut wajah penuh kekhawatiran, lalu sedikit memiringkan kepalanya menunjuk ke arah ujung jalan.
“Mia, maaf mengganggu sore-sore begini. Tapi... apa kamu tahu ada mobil mencolok yang parkir di dekat pohon asam itu dari tadi?”
Mia mengerutkan dahi, ikut mengalihkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Nyonya Miller. Di sana, di bawah bayang-bayang pohon asam, sebuah mobil sport hitam mengkilat mulai meluncur pelan. Kaca mobilnya yang sangat gelap membuat siapa pun tidak bisa melihat sosok di dalamnya. Tetapi Mia tahu siapa pemiliknya meski hanya melihat bagian belakang mobil itu.
“Mobil itu mengikutimu dari arah jalan utama tadi,” timpal Nyonya Sterling dengan nada suara pelan namun panik.
Mia terpaku. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Ethan? Untuk apa pria itu mengikutinya diam-diam?
“Mia, sebaiknya kamu telfon polisi saja sekarang,” saran Nyonya Sterling tegas.
“Biar petugas datang dan memeriksa siapa orang di dalam sana. Kalau dia punya niat jahat, biarkan petugas yang menanganinya.”
“Terima kasih banyak sudah memberitahu saya, Nyonya Miller, Nyonya Sterling. Tapi saya rasa itu tidak perlu karena mobilnya sekarang sudah tidak ada.”
Mia menunjuk ke arah pohon asam. Mobil sport itu sudah tidak ada lagi.
–tbc–