NovelToon NovelToon
Cegil Berhenti Terobsesi

Cegil Berhenti Terobsesi

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."

Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.

Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.

Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menjijikan 09.

Hentakan tangan Elsa tidak main-main. Sentakan itu begitu tiba-tiba hingga membuat dekapan tangannya pada dua buku tebal di dada terlepas.

Brak!

Dua buku literatur bahasa ber-cover tebal itu jatuh menghantam ubin koridor, menimbulkan suara dentuman yang menggema di sepanjang lorong sepi. Beberapa lembar kertas catatan selipan di dalamnya bahkan terhambur keluar, bergerak malas ditiup angin sore.

Firdaus tersentak. Alih-alih mundur karena penolakan mentah-mentah itu, instingnya justru bergerak cepat. Dia langsung berlutut satu kaki, mencoba memungut buku-buku yang berserakan di lantai.

Dalam otaknya, ini adalah kesempatan. Cowok itu berpikir, dengan membantu Elsa, setidaknya dia bisa menahan gadis itu barang satu atau dua menit lebih lama.

"Gue ambilin, Sa," ujar Firdaus cepat, suaranya agak serak.

Tangannya bergerak mengumpulkan kertas-kertas catatan yang berserakan. Firdaus bisa melihat tulisan tangan Elsa yang rapi di sana.

Tulisan yang dulu sering menghiasi buku tulisnya saat Elsa dengan sukarela merangkumkan materi pelajaran untuknya. Dulu, Firdaus menganggap semua perhatian itu mengganggu. Sekarang? Melihat tulisan itu saja membuat dadanya terasa sesak luar biasa.

Elsa berdiri mematung di tempatnya. Dia tidak ikut berlutut. Dia hanya menatap ubun-ubun Firdaus dari atas dengan tatapan yang sulit diartikan.

Ada kilasan lelah yang amat sangat di matanya. Elsa hanya ingin pulang, mandi, lalu tidur.

Mengapa menghadapi Firdaus sekarang rasanya lebih menguras energi daripada ujian nasional?

"Nggak usah, Kak. Gue bisa sendiri," kata Elsa, suaranya tetap sedatar air di dalam baskom.

Namun, Firdaus tidak mendengarkan. Ego cowok itu yang sedang terluka parah membuatnya bebal. Dia buru-buru menyusun kembali kertas-kertas tersebut dan menumpuknya di atas buku tebal yang paling besar.

"Gue tahu lu capek. Gue tahu lu marah, Sa. Tapi tolong, dengerin gue sekali aja," ucap Firdaus sambil menengadah, menatap Elsa dari posisinya yang masih berlutut. Matanya menyiratkan permohonan yang teramat sangat. Seorang Firdaus, ketua osis yang biasanya dipuja-puja satu sekolah, kini berlutut di lantai koridor yang kotor hanya demi mendapatkan perhatian dari seorang gadis yang dulu dia campakkan.

Elsa menghela napas panjang. Dia tidak tega melihat manusia merendahkan diri seperti itu, tapi di sisi lain, hatinya sudah terlalu bebal untuk peduli. "Gue nggak marah, Kak Firdaus. Marah itu butuh energi. Dan energi gue udah habis buat hal-hal yang nggak berguna."

Kalimat itu telak menghantam ulu hati Firdaus. Hal-hal yang nggak berguna.

Jadi, selama ini, semua memori tentangnya sudah dikategorikan Elsa sebagai sesuatu yang tidak berguna?

Firdaus menelan ludah, menahan rasa perih yang menjalar di tenggorokannya. Dia meraih buku terakhir yang posisinya paling dekat dengan kaki Elsa.

Di saat yang sama, Elsa yang sudah tidak sabar akhirnya memutuskan untuk membungkuk dan meraih buku yang sama. Dia ingin percakapan absurd ini cepat selesai.

Gerakan mereka yang simultan membuat jarak di antara keduanya terkikis dalam hitungan detik.

Dan di sanalah hal itu terjadi.

Di atas permukaan cover buku yang kasar, kulit punggung tangan Firdaus bersentuhan langsung dengan telapak tangan Elsa.

Hanya sebuah sentuhan tipis. Tidak sampai satu detik.

Namun, reaksi Elsa di luar dugaan.

Set!

Elsa menarik tangannya kembali dengan sentakan yang begitu ekstrem, seolah-olah dia baru saja menyentuh bara api yang menyala, atau mungkin... sesuatu yang sangat menjijikkan.

Gadis itu melangkah mundur satu tapak dengan napas yang tiba-tiba memburu. Matanya yang tadinya kosong kini melebar, memancarkan rasa tidak nyaman yang amat sangat jelas.

Dia tidak hanya sekadar menjauh. Elsa menatap tangannya sendiri yang baru saja bersentuhan dengan Firdaus, lalu tanpa sadar menggosokkan telapak tangan itu ke rok abu-abunya berulang kali. Gerakan refleks yang sangat jujur.

Gerakan yang menunjukkan bahwa kulit cowok itu adalah sesuatu yang polusi bagi dirinya.

Firdaus membeku di posisinya. Buku di tangannya terlepas kembali ke lantai.

Dia melihat seluruh gestur itu. Firdaus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Elsa membersihkan bekas sentuhannya pada sepotong kain rok sekolah, seolah tangan Firdaus dilapisi racun atau kotoran yang menjijikkan.

Rasa sakit yang menghantam Firdaus kali ini berbeda. Ini bukan lagi sekadar patah hati atau ego yang terluka. Ini adalah penghinaan paling sunyi yang pernah dia rasakan sepanjang hidupnya. Dadanya seperti dihantam batu besar hingga retak berkeping-keping.

"Sa..." Suara Firdaus nyaris tidak keluar. Dia berdiri perlahan, kakinya terasa lemas seperti jeli. "Segitu menjijikkannya gue di mata lu sekarang?"

Elsa menghentikan kegiatannya menggosok rok. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang sempat berantakan karena refleks tubuhnya sendiri. Dia menatap Firdaus langsung pada manik matanya. Kali ini, tidak ada lagi tatapan kosong. Yang ada hanya ketegasan yang mutlak.

"Iya," jawab Elsa pendek, jujur, dan tanpa sensor.

Satu kata itu bergema di koridor sepi.

"Kenapa, Sa? Kenapa bisa secepat ini?" Firdaus melangkah maju satu langkah, tapi Elsa langsung mengambil langkah mundur yang sama lebarnya, menjaga jarak aman. Firdaus meringis melihatnya. "Gue tahu gue berengsek waktu itu udah sia-siakan ketulusan lo. Tapi, Sa... setelah gue jalanin, perasaan gue ke lu itu nyata. Gue nggak main-main di akhir!"

Elsa tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang terasa lebih menyakitkan daripada makian. "Nyata kata lu, Kak? Bagian mananya yang nyata?"

"Gue peduli sama lu! Gue cemas kalau lu nggak bales chat gue! Itu nyata, Elsa!" Firdaus mulai frustrasi. Air mata yang sejak tadi dia tahan kini mulai menggenang di sudut matanya. Dia tidak peduli lagi jika ada orang lain yang melihatnya menangis.

"Lu peduli karena lu mulai ngerasa bersalah, bukan karena lu tulus," sahut Elsa, suaranya tenang tapi setiap katanya seperti pisau bedah yang membedah kemunafikan Firdaus. "Lu tahu apa yang paling bikin gue jijik, Kak? Bukan fakta kalau gue dijadikan bahan olokan satu sekolah dan di cap cegil"

Elsa menjeda kalimatnya. Dia menatap Firdaus dengan tatapan kasihan—tatapan yang paling tidak ingin Firdaus terima dari siapa pun.

"Yang bikin gue jijik adalah... setiap kali gue inget gimana gue malem-malem bikin bekal buat lu, gimana gue kehujanan demi nunggu lo selesai rapat osis, dan gimana gue nangis pas lu abaikan gue... di saat yang sama, lu dan temen-temen lu lagi ketawa di grup chat, ngetawain seberapa bodohnya seorang Elsa."

Napas Elsa mulai agak bergetar, tapi dia menahannya dengan kuat. Dia menolak menangis di depan cowok ini.

"Setiap kali tangan kita bersentuhan, yang ada di otak gue cuma ingatan pas lu INJAK HARGA DIRI gue di hari ulang tahun lo. Jadi, iya... sentuhan lu bikin gue merinding karena jijik. Tubuh gue nolak lu secara alami, Kak Firdaus."

Firdaus terkesiap. Dia mundur selangkah, seolah kata-kata Elsa memiliki fisik yang bisa mendorongnya. Semua pembelaan diri yang sudah dia susun di otaknya mendadak runtuh. Logikanya tidak bisa membantah. Apa yang Elsa katakan adalah kebenaran yang mutlak. Dia memang seberengsek itu dulu.

"Gue... gue mau tebus semuanya, Sa. Kasih gue cara. Apa aja. Gue bakal lakuin," bisik Firdaus, air matanya akhirnya luruh melewati pipinya. "Tolong jangan kayak gini. Jangan anggap gue kayak sampah..."

Elsa memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. Kesedihan di matanya sudah menguap, digantikan oleh kepasrahan yang dingin. Dia berjongkok, memungut sendiri buku-buku dan kertasnya yang tersisa dengan gerakan cepat, tidak peduli lagi apakah susunannya rapi atau tidak.

Setelah selesai, dia berdiri dan memeluk kembali buku-buku itu erat-erat.

"Cara terbaik buat nebus kesalahan lu adalah dengan menjauh dari hidup gue, Kak. Jangan pernah muncul lagi di depan gue, jangan pernah panggil nama gue, dan jangan pernah sentuh gue lagi." Elsa menatap Firdaus untuk terakhir kalinya. "Permisi."

Elsa memutar tubuhnya dan berjalan pergi. Langkah kakinya kali ini lebih cepat, lebih tegas, meninggalkan Firdaus yang terpaku sendirian di tengah koridor yang kian menggelap. Cahaya jingga sore itu perlahan meredup, menyisakan bayangan abu-abu yang dingin.

......................

...****************...

Tbc,

1
Clara
Damn kata”nya elsa nyelekit mampus lu daus
falea sezi
🤣🤣 lagii kurang q kirim sebanyak-banyaknya bunga🤭 buat Elsa gk menye
falea sezi
kurang kejam thor buat donk cegil di sukai cogan lain🤣
Queen Aisyah
/Drool//Drool/
falea sezi
🤣🤣 kasian di cuekin
Rofiwan: cegil ini lebih kejam dari pada Livy
total 1 replies
falea sezi
lanjut q krim hadiah
falea sezi
lanjut q kirim hadiah
falea sezi
btw author nya cwek apa cowok🤭
falea sezi
🤣 suka deh jangan jd cegil ngenes ya move on🤣
falea sezi
jangan ngemis ke cowok ya girl jd cwek mahal👍
Luna
US,,,US sadar woy , jangan dipaksa nanti malah kabur 🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
jujur penasaran dengan author nya umur berapa yh? tema cerita novel nya semua kebanyakan sekolah,,,GK apa apa sih malah lebih enak gitu GK terlalu berbobot lebih ceritanya ( mafia, pelakor,drama warisan,) ,jadi bisa mengenang masa putih abu-abu dulu,🤭🤭🤭🤭
Luna: jujur yh semua novel mu yg aku baca keren keren,GK terlalu ribet dan drama anak sekolah itu keren,,,sudah sering baca novel sejenis ini tapi yg bener bener sesuai dengan kehidupan anak sekolah yh novel mu ini,,, semangat Thor ,,,saya tunggu kelanjutannya💪
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!