NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Ketua OSIS

Menikah Dengan Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Teen / Ketos
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: DM🌚

Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.

Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.

Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.

Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 09

Sabtu malam tiba dengan langit kota yang muram, diselimuti gemuruh pelan yang menandakan hujan akan turun kapan saja.

Di dalam kamar di lantai dua, Kirana berdiri di depan cermin tinggi dengan gaun kasual berwarna krem pucat. Tangannya sibuk merapikan rambutnya yang terurai, namun tatapannya kosong menatap pantulan dirinya sendiri. Hatinya sama sekali tidak merayakan malam minggu ini. Ada perasaan mengganjal yang sangat berat, seolah-olah keputusan menerima ajakan Rendy adalah kesalahan besar yang dibuatnya hanya demi meluapkan emosi nya.

Ponselnya di atas tempat tidur bergetar. Sebuah pesan singkat dari Rendy masuk: “Kir, gue udah sampai di depan gang dekat minimarket ya. Gue tunggu di sini.”

Kirana menghela napas panjang, mengaitkan tas selempangnya, lalu melangkah keluar kamar. Saat menuruni anak tangga, matanya tak sengaja menatap ke arah ruang tengah.

Kenan duduk di atas sofa dengan laptop terbuka di pangkuannya. Cowok itu mengenakan kaos hitam polos dan kacamata berbingkai tipis mode santai rumah yang biasa membuat dada Kirana berdesir. Namun malam ini, raut wajah Kenan benar-benar seperti benteng batu yang tak tersentuh. Ia memandangi layar laptopnya dengan jemari yang menari di atas keyboard, secara total mengabaikan suara langkah kaki Kirana yang sengaja dibuat agak keras.

Kirana berhenti di dekat pintu depan, memegang gagang pintu dengan jemari yang bergetar. “Satu kata aja, Kenan... Cuma butuh satu kata melarang dari lo, dan gue bakal batalkan janji ini” batin Kirana menjerit penuh harapan.

Namun Kenan tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Hanya suara ketukan keyboard yang mengisi keheningan ruangan.

"Gue pergi dulu," pamit Kirana dengan suara terdengar seperti bisikan.

Jemari Kenan di atas keyboard sempat terhenti sepersekian detik. Namun ia tidak menoleh, hanya menjawab pendek dengan nada sangat dingin, "Hati-hati. Jangan lupa kunci pagar dari luar."

Jawaban remeh itu membakar sisa-sisa harapan Kirana. Dengan hati yang retak, Kirana membuka pintu, melangkah keluar, dan membanting pintu rumah rapat-rapat.

Di dalam rumah yang kembali sepi, Kenan perlahan menurunkan layar laptopnya. Kacamata yang mengenakan pangkal hidungnya ia lepas dan dilempar asal ke atas meja kaca. Kenan menyandarkan kepalanya ke belakang sofa, memejamkan mata rapat-rapat sambil meremas jarinya sendiri. 

Rahangnya mengetat keras. Rasa panas yang membakar dadanya sejak tadi sore kini meledak menjadi pusaran cemburu yang tak lagi mampu ia redam.

....

Sementara di minimarket ujung kompleks, mobil merah milik Rendy terparkir rapi. Rendy yang mengenakan kemeja kasual tersenyum lebar begitu melihat Kirana mendekat dengan payung kuningnya.

"Malam, Kir! Cantik banget malam ini," puji Rendy tulus sambil membukakan pintu mobil untuk Kirana.

"Makasih, Ren" balas Kirana berusaha mengumbar senyum terbaiknya, walau terasa sangat kaku di bibirnya.

Mobil itu melaju membelah jalanan kota menuju sebuah kafe bernuansa terbuka  yang sedang populer di kawasan alun-alun. Di sepanjang perjalanan, Rendy berusaha mencairkan suasana dengan menceritakan lelucon anak-anak tim basket dan rencana pertandingan bulan depan. 

Namun Kirana hanya merespons dengan anggukan singkat atau tawa kecil yang dipaksakan. Pikiran cewek itu sepenuhnya tertinggal di sofa rumah bersama cowok berkaos hitam yang mengabaikannya.

Sesampainya di kafe, gerimis kecil mulai menetes membasahi meja-meja kayu di area taman. Rendy dengan sigap mengajak Kirana pindah ke area teras yang terlindung atap.

"Lo mau pesan apa, Kir? Disini mie goreng spesial sama coklat hangatnya enak banget," tawar Rendy ramah.

"Sama kayak lo aja deh," jawab Kirana singkat.

Rendy melangkah ke kasir untuk memesan. Kirana menopang dagunya, memandangi rintik hujan yang jatuh dari atap teras kafe. 

“Kenan sudah makan malam belum ya? Apa dia cuma minum kopi hangat lagi kayak tadi pagi” Kirana menggelengkan kepalanya keras-keras, merutuki pikirannya sendiri. Ngapain sih gue masih mikirin si Es Batu itu. Dia aja gak peduli gue pergi sama siapa.

Tak berapa lama, Rendy kembali membawa dua cangkir coklat hangat dan cemilan. Mereka berbincang lumayan lama. Rendy adalah sosok yang sangat perhatian dan hangat, tipe cowok idaman hampir semua siswi di SMA Garuda. Namun anehnya, semakin Rendy bersikap manis, entah kenapa ia malah merindukan sosok Kenan yang dingin, ketus, namun selalu ada di saat-saat paling krisis dalam hidupnya.

"Kir," panggil Rendy tiba-tiba, menatap Kirana lurus-lurus dengan nada suara yang berubah serius.

"Ya Ren, ada apa?” 

"Sebenarnya... gue udah lama mau ngomong ini sama lo," Rendy mengusap tengkuknya dengan raut wajah sedikit canggung. "Sejak pertama kali gue ngeliat lo di ruang OSIS waktu itu, gue udah tertarik sama lo. Lo beda dari cewek-cewek lain di sekolah."

Jantung Kirana tersentak. Rasa panik seketika menjalar ke seluruh tubuhnya.

"R-rendy… Maksud Lo?"

"Gue tahu lo mungkin kaget," potong Rendy cepat, mencoba meraih jemari Kirana yang berada di atas meja. "Tapi gue serius, Kir. Gue pengen kita nggak cuma sekadar junior dan senior lagi. Gue mau..."

Brak!

Suara dentuman keras dari cangkir yang diletakkan kasar di meja sebelah memotong kalimat Rendy.

Kirana dan Rendy secara refleks menoleh ke arah sumber suara. Di sana, berdiri seorang cowok dengan jaket hitam tebal dan celana jeans gelap. Air hujan menetes dari helai rambut hitamnya yang berantakan, sementara tatapan matanya yang tajam bak elang menghujam tepat pada genggaman tangan Rendy yang hampir menyentuh jari Kirana.

"Kenan?!" jerit Kirana tertahan, matanya membelalak tak percaya.

Rendy terperanjat berdiri, mengernyitkan dahi penuh keheranan. "Kenan? Lo ngapain di sini?"

Kenan tidak menjawab pertanyaan Rendy. Ia melangkah maju dengan aura intimidasi yang sangat pekat, mengabaikan tatapan pengunjung kafe lain yang mulai memperhatikan mereka. Kenan berdiri tepat di samping meja mereka, menatap Kirana yang membeku di tempatnya.

"Pulang," kata Kenan singkat, suaranya rendah dan sarat akan perintah yang tak tertahankan.

"Tunggu dulu, Nan!" sela Rendy, memasang badan di depan Kirana. "Lo apa-apaan sih datang-datang main menyuruh Kirana pulang? Kita lagi ngobrol!"

Kenan memalingkan pandangannya pada Rendy, menatap sang ketua tim basket itu dengan dingin. "Urusan lo sama dia udah selesai. Hujan makin deras dan dia harus pulang sekarang."

"Gue yang ajak dia keluar, jadi gue yang bakal mengantar dia pulang dengan selamat!" tegas Rendy tak mau kalah, menantang tatapan Kenan. "Lo gak punya hak ngatur Kirana kayak gini, Nan! Lo bukan siapa-siapanya dia!"

Kata-kata "bukan siapa-siapanya" seolah menjadi pemicu yang menyulut ledakan emosi di dalam dada Kenan. Rahang Kenan mengeras ekstrim. Tanpa memperdulikan peringatan dan batas kesabaran yang selama ini ia tahan demi menjaga rahasia mereka, Kenan mencengkram pergelangan tangan Kirana dengan erat, namun tidak sampai menyakiti dan menarik cewek itu berdiri dari kursinya.

"Gue punya hak penuh atas dia," ujar Kenan dengan kalimat penuh penekanan yang dingin dan membekukan ruangan.

"Kenan! Lepasin! Lo gila ya?!" jerit Kirana panik melihat ketegangan yang makin memuncak.

"Ikut gue sekarang, Kirana!" panggil Kenan tanpa memberi celah untuk berdebat lagi.

Kenan menarik Kirana keluar dari teras kafe, menembus derasnya hujan yang mengguyur pelataran parkir. Rendy mencoba mengejar, namun Kenan menatapnya balik dengan sorot mata begitu tajam dan berbahaya hingga langkah Rendy terhenti kaku di bawah naungan atap.

"Kenan! Sakit! Lepasin tangan gue!" amuk Kirana sambil berusaha melepaskan cengkraman Kenan di tengah terpaan air hujan.

Kenan membawa Kirana menuju mobil SUV hitam milik orang tuanya yang terparkir di pojok area parkir. Ia membukakan pintu penumpang depan, mendorong Kirana masuk dengan hati-hati, lalu membanting pintu rapat-rapat. Kenan dengan cepat memutar ke pintu kemudi, masuk ke dalam mobil, dan mengunci seluruh pintu secara otomatis.

Klek!

Suara kunci otomatis bergema di dalam kabin mobil yang hangat dan tertutup rapat. Suara hujan yang deras menghantam kaca mobil dari luar menciptakan atmosfer yang teramat tegang.

"Lo gila ya, Kenan?!" sembur Kirana berapi-api, bajunya basah kuyup oleh air hujan. "Lo mempermalukan Rendy! Lo mempermalukan gue di depan umum! Maksud lo apa sih datang ke sana?!"

Kenan memegang kemudi mobil erat-erat, napasnya terengah-engah. Air dari rambutnya menetes menyusuri pelipis dan rahang tegasnya. Ia tidak langsung menjawab, hanya menatap lurus ke depan dengan dada yang naik turun menahan amarah yang membuncah.

"Jawab gue, Kenan!" teriak Kirana emosi, memukul lengan tegap Kenan. "Kemarin lo bilang lo gak bakal campuri urusan pribadi gue lagi! Lo bilang gue bebas jalan sama siapa aja! Tapi kenapa lo malah datang dan merusak semuanya?!"

Kenan menoleh secara mendadak. Manik matanya yang biasanya sedingin es kini menyala terang oleh emosi, kekecewaan, dan rasa cemburu yang terlupakan.

"KARENA GUE NGGAK BISA, KIRANA!" teriak Kenan akhirnya meluapkan seluruh emosinya yang terpendam selama ini. 

Suara teriakan Kenan bergema memenuhi seluruh kabin mobil.

Kirana membeku di tempatnya. Ini adalah pertama kalinya selama ia mengenal Kenan, cowok itu benar-benar berteriak dan kehilangan kendali atas emosinya sendiri.

"Gue pikir... gue bisa," lanjut Kenan, suaranya perlahan memelan, berubah menjadi sangat parau dan bergetar. Ia menatap Kirana dengan sorot mata yang begitu terluka. "Gue pikir gue bisa diam aja melihat lo tersenyum sama cowok lain. Gue pikir gue bisa bersikap profesional kayak yang selalu gue lakukan di sekolah."

Kenan mendekatkan tubuhnya ke arah Kirana, menangkup kedua pipi cewek itu dengan jemarinya yang masih agak dingin oleh air hujan. Ibu jarinya mengusap lembut sisa tetesan air di pipi Kirana.

"Tapi pas gue duduk di rumah sendirian... bayangan lo jalan sama Rendy bikin kepala gue mau pecah," aku Kenan jujur, menyuarakan seluruh rasa sakit di hatinya tanpa ada tembok gengsi yang tersisa sedikitpun. 

"Gue gak tahan, Kirana. Gue gak sanggup kalau harus kehilangan lo."

Napas Kirana tercekat. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes membasahi jemari Kenan yang menangkup pipinya.

"Tapi... tapi lo selalu jahat sama gue di sekolah," bisik Kirana lirih dengan suara gemetar. "Lo selalu acuh, lo selalu marah-marah..."

"Gue takut," sela Kenan pelan, dahi mereka kini bersentuhan di dalam remangnya kabin mobil. "Gue takut kalau orang-orang tahu status kita, lo bakal dalam bahaya. Gue takut Clarissa atau orang lain ngerjain lo... Gue cuma berusaha melindungi lo dengan cara gue yang bodoh ini."

Kirana menatap dalam-dalam manik mata Kenan. Tidak ada lagi Ketua OSIS yang arogan di depannya. Yang ada hanyalah seorang cowok remaja biasa yang dalam cemburu, dan tenggelam dalam rasa sayangnya yang terlalu besar namun tak tahu cara menyampaikannya dengan benar.

"Jangan pernah kencan sama Rendy lagi... atau cowok manapun," bisik Kenan memohon, napas hangatnya menyapu bibir Kirana. "Tolong... jangan bikin gue gila."

Dada Kirana bergemuruh hebat. Seluruh rasa benci, kekesalan, dan dendam atas hukuman-hukuman sekolah seketika menguap tak berbekas, digantikan oleh gelombang rasa hangat yang memenuhi seluruh rongga dadanya. Kirana perlahan menyentuh punggung tangan Kenan yang berada di pipinya, menggenggamnya erat.

"Dasar Es Batu bodoh..." lirih Kirana sambil tersenyum dibalik tangisnya. "Kenapa gak bilang dari awal sih?" Sungut nya mulai kesal.

Kenan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyandarkan kepalanya di ceruk leher Kirana, menghirup aroma wangi rambut cewek itu sambil memeluk tubuh kecil Kirana erat-erat di dalam mobil yang dikepung hujan deras.

Malam minggu yang berawal dari dendam dan benteng gengsi itu akhirnya runtuh sepenuhnya. Namun, ketika satu masalah di antara mereka terselesaikan, ancaman baru telah menanti di balik kegelapan malam.

Sedangkan masih di teras kafe yang basah, Rendy berdiri memandangi mobil SUV hitam milik Kenan yang melaju menjauh. Jarinya meremas ponselnya erat-erat, sementara matanya menyipit tajam menyimpan kecurigaan yang sangat besar.

"Gue tahu ada yang gak beres antara lo berdua, Kenan," gumam Rendy dingin. "Dan gue bakal cari tahu rahasia apa yang lo sembunyiin "

Bersambung…

1
Reni Anjarwani
lanjut thor
Reni Anjarwani
lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!