NovelToon NovelToon
Kaisar Naga Bela Diri

Kaisar Naga Bela Diri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?

Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 7

BOOM!

Gua Akar Naga bergetar hebat. Hujan debu dan serpihan batu runtuh dari langit-langit, menimpa bahu Qin Mu yang gemetar. Di mulut gua, akar-akar purba yang saling menganyam itu mengerang seperti makhluk hidup yang sedang disiksa. Formasi cahaya emas yang menyelimutinya berkedip redup, perlahan dipenuhi retakan halus yang menyebar seperti jaring laba-laba.

"Kau pikir seonggok kayu mati bisa menyelamatkanmu?!"

Suara tawa Mo Tu dari luar terdengar semakin jelas. Bau busuk darah mulai merembes masuk melalui celah akar yang retak, membuat udara di dalam gua terasa lengket dan menyesakkan.

Qin Mu bersandar pada altar batu, terengah-engah. Lengan kirinya hangus, melepuh, dan kehilangan rasa akibat memaksakan energi liar mengalir ke dalam formasi sebelumnya. Ia menoleh menatap Gu Shanyin yang terbaring kaku di sudut gua. Dada lelaki tua itu nyaris tidak bergerak.

Waktu mereka sudah habis. Perisai ini tidak akan bertahan hingga fajar.

Jika kau ingin menelan Surga, hancurkan dagingmu, rebus sumsummu, dan tempa ulang tulangmu dengan api penderitaan.

Kalimat dari Sutra Penempaan Tulang Kehampaan itu kembali terngiang di kepalanya. Qin Mu menatap gulungan bambu kuno yang kini tergeletak di samping kakinya, lalu menatap Cincin Giok Retak yang tergenggam erat di tangan kanannya. Cincin itu masih menyimpan sisa-sisa esensi Serigala Bayangan, meskipun kini suhunya mulai mendingin.

"Kek," gumam Qin Mu, suaranya parau namun tidak lagi mengandung kepanikan. "Kau bilang padaku, sebelum belajar membunuh, belajarlah agar tidak mati."

Ia menggertakkan giginya, memaksa dirinya duduk bersila di depan altar dengan susah payah. Lengan kirinya dibiarkan terkulai di pangkuan. "Tapi di dunia ini... rupanya cara terbaik untuk tidak mati adalah dengan membunuh mereka yang ingin mencabut nyawamu."

Qin Mu memejamkan mata. Ia meletakkan Cincin Giok Retak tepat di atas ulu hatinya.

Ia tidak tahu cara bernapas yang benar untuk seorang kultivator. Ia tidak memiliki guru yang membimbing meridiannya. Namun, ia memiliki tekad dari seseorang yang tidak memiliki apa-apa lagi untuk hilang.

Ia mengingat kembali baris pertama dari metode latihan di gulungan itu: Tarik energi dari luar, biarkan ia mengamuk, dan gunakan tekanan dari langit dan bumi sebagai martil untuk menempa dagingmu.

"Bawakan aku apinya," desis Qin Mu.

Ia menekan cincin itu kuat-kuat ke dadanya. Merespons keinginannya, Cincin Giok Retak itu kembali berpendar hijau. Sisa energi liar binatang buas yang disimpannya menyembur keluar, langsung menerobos masuk ke dalam dada Qin Mu.

AAAARGH!

Qin Mu menjerit tertahan. Rasanya seperti menelan bara api. Energi itu tidak mengalir rapi melalui meridian seperti kultivator sekte pada umumnya; energi liar itu menabrak otot, merobek pembuluh darah di sekujur tubuhnya, dan menghantam tulang-tulangnya. Tubuhnya menolak energi asing itu.

Tepat pada saat itu, sebuah ledakan yang jauh lebih dahsyat menghantam pintu gua.

CRASH!

Gelombang kejut dari serangan Mo Tu menembus akar naga dan menghantam tubuh Qin Mu. Jika pada keadaan normal gelombang itu akan membuat organ dalamnya terluka, kali ini gelombang itu bertindak persis seperti yang dijelaskan dalam Sutra Penempaan Tulang Kehampaan.

Gelombang kejut dari luar bertindak sebagai martil tak kasat mata, menekan energi liar di dalam tubuh Qin Mu, memaksanya menyatu dengan otot dan tulangnya yang sedang terkoyak!

"Lagi!" geram Qin Mu dengan mata terpejam rapat, darah mulai mengalir dari sudut bibir dan hidungnya.

Di luar, Mo Tu yang tidak menyadari apa yang terjadi di dalam gua, terus melancarkan serangan membabi buta dengan aura darahnya.

BOOM!

Martil pertama. Otot-otot di dada Qin Mu robek dan seketika dipaksa pulih oleh energi Cincin Giok, menjadi lebih padat dan ulet.

BOOM!

Martil kedua. Pori-pori kulit Qin Mu mulai mengeluarkan cairan hitam kental berbau busuk kotoran fana yang bersarang di tubuhnya sejak lahir.

BOOM!

Martil ketiga. Lengan kiri Qin Mu yang melepuh mulai berkedut keras. Sel-sel kulit yang mati mengelupas dengan sendirinya, digantikan oleh kulit baru yang sedikit lebih pucat namun memancarkan ketangguhan yang aneh.

Rasa sakitnya berada di luar batas kewarasan manusia. Pikiran Qin Mu nyaris hancur. Ia merasa tubuhnya dimasukkan ke dalam tungku pandai besi, dipukul, dilebur, lalu dipukul lagi. Namun bayangan Paman Li yang kehilangan lengan, desa yang terbakar, dan Gu Shanyin yang sekarat menjadi jangkar yang menahan kesadarannya agar tidak runtuh.

Aku tidak akan bersembunyi lagi... Aku tidak akan lari lagi!

Di dalam kegelapan kesadarannya, Qin Mu merasakan seutas batasan tipis di dalam tubuhnya mendadak putus. Suara retakan pelan terdengar dari tulang punggungnya, diikuti oleh suara aliran air yang deras di dalam pembuluh darahnya.

Itu bukan air. Itu adalah Qi.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tubuh fana Qin Mu telah resmi menyeberangi ambang batas manusia biasa. Ia telah memasuki tahap awal Penempaan Tubuh (Body Tempering). Seluruh rasa sakit yang menyiksanya lenyap seketika, digantikan oleh sensasi kekuatan brutal yang membuat otot-ototnya terasa mampu menghancurkan batu karang.

Tepat saat Qin Mu membuka matanya yang kini memancarkan kilatan tajam seperti pedang yang baru diasah, suara retakan keras memekakkan telinga terdengar dari arah pintu masuk.

KRAAAAK!

Formasi emas pelindung Gua Akar Naga hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya. Akar-akar raksasa yang menahan pintu masuk meledak ke dalam, terbakar oleh kabut darah merah pekat.

Angin malam yang dingin dan bau anyir langsung menyapu interior gua. Asap darah bergulung masuk, dan dari tengah-tengah asap itu, sosok Mo Tu melangkah pelan. Mata merah pria tua kurus itu memancarkan kekejaman.

"Cangkang kura-kuramu sudah hancur, Gu Tua," kekeh Mo Tu. Pandangannya menyapu ke sudut gua, menemukan tubuh Gu Shanyin yang tak sadarkan diri. Tawanya semakin keras dan melengking. "Ah... malang sekali. Sang Pedang Hantu bahkan tidak memiliki kekuatan untuk tetap membuka matanya untuk melihat kematiannya sendir—"

Kata-katanya terhenti.

Mo Tu menyipitkan mata, menatap ke arah altar di tengah gua. Perhatiannya tidak tertuju pada kerangka emas kuno di sana, melainkan pada sesosok pemuda yang baru saja berdiri dari posisi bersila.

Qin Mu berdiri tegak. Lengan kirinya tidak lagi melepuh merah, melainkan kembali utuh sempurna dengan otot yang lebih padat. Pakaian raminya dipenuhi noda darah dan cairan kotoran hitam, namun tubuhnya memancarkan aura yang sama sekali berbeda dari anak desa yang bersembunyi ketakutan di Ngarai Angin Patah beberapa jam lalu.

Cincin Giok Retak di dadanya telah kembali sedingin es, tersembunyi di balik bajunya. Namun tangan kanan Qin Mu dengan santai mengangkat pisau burunya, ujungnya diarahkan lurus ke tanah.

Mata hitam pemuda berusia empat belas tahun itu menatap lurus ke arah Mo Tu. Tidak ada rasa takut di sana. Hanya ada kedinginan murni, dinginnya seorang pemburu yang sedang menilai letak urat nadi mangsanya.

"Bocah," Mo Tu mendengus remeh, meski hatinya sedikit heran merasakan fluktuasi Qi yang samar dari pemuda itu. "Kau pikir dengan belajar menyerap seutas Qi, kau bisa menghalangiku? Aku akan merobek kulitmu hidup-hidup sebelum memenggal kakekmu."

Qin Mu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meludah darah kotor ke lantai gua, menguatkan kuda-kudanya, dan mempererat cengkeramannya pada gagang pisau.

1
Liang Hou
pake Sreettt aja tor kalo ranting, sring! lebih cocok suara besi 🙏
Sang_Imajinasi: siap terimakasih sarannya
total 1 replies
Am Mi
up
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
Asta Hariadi
bagus, ceritanya menarik
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
Sang_Imajinasi: oke lanjut 4 bab
total 4 replies
Budi Wahyono
biasanya tokoh jahat ketika mau mati,ada aja yg nyelametin...
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Begin Bae
/Determined/
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
ibarumbung
keren 👍👍👍👍👍
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!