Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 8. Aciddent!
Pagi harinya, sinar matahari perlahan menembus celah tirai kamar. Alessia membuka mata dengan perasaan aneh. Namun begitu menyadari posisi tubuhnya, matanya langsung membesar.
Ia mendapati dirinya tidur di dalam pelukan Vellano.
"AAAA!"
Alessia sontak bangkit dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Wajahnya memerah karena malu sekaligus marah.
"Kenapa aku bisa tidur di sini?!"
Vellano yang baru terbangun hanya menghela napas panjang. Ia berusaha menjelaskan bahwa tidak terjadi apa-apa.
"Tenang. Tidak terjadi apa-apa."
Alessia menatapnya curiga.
"Jelaskan!"
Vellano kemudian menceritakan kejadian semalam—tentang demam Alessia, suara petir yang membuatnya ketakutan, hingga bagaimana Alessia sendiri yang tanpa sadar mencari kehangatan dan memeluknya.
Mendengar penjelasan itu, wajah Alessia semakin memerah.
"Aku... aku tidak ingat."
Dengan gugup, Alessia segera menyentuh dahinya sendiri dan memastikan suhu tubuhnya sudah kembali normal.
"Demamku sudah turun."
"Sudah merasa lebih baik?" tanya Vellano singkat.
Alessia mengangguk cepat.
"Aku baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkan ku."
Vellano hanya diam. Ia tidak tahu apakah Alessia masih marah atau justru malu.
Tanpa memperpanjang pembicaraan, Vellano beranjak dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian, ia sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian kerja.
Ia mengambil jasnya dan bersiap pergi ke kantor.
Alessia hanya memandang punggungnya dalam diam.
Entah mengapa, sikap Vellano yang begitu tenang pagi itu justru membuat hatinya sedikit gelisah.
................
Sesampainya di kantor utama Vellano Group—Luxury Conglomerate , Vellano langsung menuju ruang rapat untuk menghadiri pertemuan bersama jajaran dewan direksi.
Rapat berjalan seperti biasa.Laporan keuangan, perkembangan proyek,hingga beberapa keputusan penting perusahaan dibahas satu per satu.Namun kali ini,Vellano tidak sepenuhnya berada di sana.
Pikirannya justru terus kembali pada kejadian semalam.
Entah mengapa, ia masih mengingat dengan jelas saat tangannya tidak sengaja menyentuh tangan Alessia ketika mereka sedang makan mie bersama. Sentuhan singkat itu terasa sederhana, tetapi meninggalkan getaran aneh yang sampai sekarang belum bisa ia pahami.
Vellano mengernyitkan dahi.
"Kenapa aku memikirkan ini terus?"
Ia mencoba kembali fokus pada pembicaraan, tetapi bayangan wajah Alessia kembali muncul dalam pikirannya.
Apa mungkin dirinya mulai jatuh cinta?
Vellano hampir tertawa sendiri memikirkan pertanyaan itu.
"Secepat ini?"
Pernikahan mereka bahkan bermula dari sebuah kontrak. Selama ini ia tidak pernah memikirkan Alessia dengan cara seperti itu.
Namun perasaan yang muncul semakin sulit diabaikan.
Akhirnya, karena konsentrasinya benar-benar buyar, Vellano menghentikan rapat.
"Kita lanjutkan besok. Aku ingin meninjau kembali beberapa laporan ini."
Para anggota dewan pun meninggalkan ruangan.
Maxime yang sejak tadi mengamati bosnya hanya berdiri diam.
Ada yang aneh dengan Vellano hari ini.
Dan sebagai asistennya, Maxime tahu... sesuatu pasti sedang terjadi.
..........
Di ruang kerjanya di kantor utama Vellano Group—Luxury Conglomerate, Vellano duduk sendirian di balik meja. Setelah rapat dewan direksi yang berantakan karena pikirannya terus terganggu oleh kejadian semalam, ia memejamkan mata, berusaha menenangkan pikirannya.
Namun ketenangan itu hanya bertahan beberapa saat.
Tok... tok... tok...
Pintu ruangannya diketuk.
"Masuk."
Maxime muncul dari balik pintu.
"Tuan Vellano, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda."
Vellano membuka mata.
"Siapa?"
"Ansley Flavia."
Nama itu seketika membuat ekspresi Vellano berubah.
"Dia ada di mana?"
"Dia ingin bertemu Anda di sebuah restoran."
Vellano terdiam beberapa saat sebelum mengangguk.
"Atur pertemuan. Jangan sampai ada yang tahu."
Hubungan Vellano dan Ansley memang telah dirahasiakan selama tiga tahun. Ansley adalah seorang penyanyi yang sedang berada di puncak karier. Jika hubungan mereka diketahui publik, skandal tersebut bisa menghancurkan citra dan karier musiknya.
Vellano kemudian mengatur pertemuan secara diam-diam.
Beberapa jam kemudian, mereka bertemu di sebuah restoran mewah. Sebuah ruangan VIP telah disiapkan agar tidak ada orang yang mengenali Ansley ataupun melihat kebersamaan mereka.
Begitu pintu tertutup, Ansley langsung menghela napas panjang.
"Aku lelah, Vellano."
Vellano menatapnya.
"Apa yang terjadi?"
Ansley duduk di hadapannya, wajahnya terlihat murung.
"Aku merasa seperti perempuan simpanan."
Vellano terdiam.
Ansley melanjutkan dengan suara bergetar.
"Selama tiga tahun aku harus bersembunyi. Tidak boleh terlihat bersamamu. Tidak boleh ada foto kita. Tidak boleh ada yang tahu bahwa aku kekasihmu."
Ia menunduk sebentar sebelum kembali menatap Vellano.
"Sementara Alessia?"
Nada suaranya terdengar getir.
"Dia bisa berada di sampingmu kapan pun. Bisa datang ke acara bersamamu. Bisa muncul di mansionmu. Bahkan media sekarang bisa menyebutnya sebagai istrimu tanpa ada yang perlu disembunyikan."
Vellano menarik napas panjang.
"Ansley, kau tahu kenapa aku melakukan ini."
"Aku tahu," jawabnya cepat. "Tapi mengetahui alasannya tidak membuat semuanya terasa lebih mudah."
Vellano meraih tangan Ansley di atas meja.
"Pernikahanku dengan Alessia hanyalah pernikahan bisnis."
Ansley menatapnya tanpa berkata-kata.
"Aku tidak mencintai Alessia."
Kalimat itu keluar dengan yakin.
"Hubungan kami tidak lebih dari sebuah kesepakatan. Jangan membandingkan dirimu dengannya."
Ansley terdiam, tetapi sorot matanya masih menyimpan keraguan.
Vellano tersenyum tipis untuk menenangkannya.
"Kau adalah orang yang kupilih selama ini. Tiga tahun bukan waktu yang singkat."
Namun jauh di dalam pikirannya, tanpa ia sadari, bayangan Alessia kembali muncul.
Senyumnya saat membuat mie.
Tatapannya ketika menantangnya di Capital Harbour.
Dan wajah pucatnya ketika demam malam tadi.
Vellano terdiam sesaat.
Ia bahkan tidak menyadari bahwa ketika sedang berusaha meyakinkan Ansley bahwa dirinya tidak memiliki perasaan terhadap Alessia, justru pikirannya terus membawa nama wanita itu kembali.Setelah makan siang dan berbincang selama hampir dua jam, Vellano akhirnya berpamitan kepada Ansley. Sebelum meninggalkan restoran, Ansley sempat menahannya.
"Malam ini jangan lupa. Kita makan malam bersama."
Vellano mengangguk.
"Aku akan datang."
Ansley tersenyum lega. Setelah tiga tahun harus menjalani hubungan mereka secara diam-diam, waktu bersama seperti itu sangat berarti baginya.
Vellano kemudian kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya. Namun sepanjang perjalanan, pikirannya kembali dipenuhi oleh kejadian beberapa hari terakhir—Alessia, Capital Harbour, malam ketika Alessia demam, dan perasaan aneh yang mulai muncul setiap kali ia memikirkan istrinya.
Ia sendiri belum memahami apa yang sedang terjadi.
..........
Malam harinya, Vellano seharusnya sudah berada di sebuah restoran bersama Ansley.
Namun sebuah panggilan dari Maxime mengubah semuanya.
"Tuan Vellano!"
Suara Maxime terdengar panik dari seberang telepon.
"Ada apa?"
"Alessia mengalami kecelakaan."
Vellano langsung berdiri dari kursinya.
"Apa?"
"Di sirkuit balap."
Darah Vellano terasa seperti berhenti mengalir.
"Seberapa parah?"
Maxime menarik napas.
"Motornya hancur. Tubuhnya terpental cukup jauh. Dia mengalami luka dan darah cukup banyak."
Vellano tidak menunggu penjelasan berikutnya.
"Di mana kalian sekarang?"
Maxime menyebutkan lokasi sirkuit.
Beberapa menit kemudian, Vellano langsung menuju tempat tersebut.
Malam itu hujan turun sangat deras. Sirkuit yang sebelumnya digunakan untuk balapan legal dan resmi kini berubah menjadi tempat yang penuh kekacauan. Permukaan lintasan menjadi sangat licin akibat hujan deras.
Kecelakaan Alessia terjadi ketika motornya kehilangan kendali di salah satu tikungan.
Motor balapnya menghantam pembatas dengan keras sebelum tubuh Alessia terpental ke lintasan.
Saat Vellano tiba, ia melihat motor Alessia dalam kondisi mengenaskan.
Hatinya langsung mencelos.
Namun di tengah kekacauan itu, Alessia masih berusaha duduk.
"Alessia!"
Vellano berlari menghampirinya.
"Aku baik-baik saja."
"Baik-baik saja dari mana?!"
Darah terlihat mengalir dari beberapa luka di tubuhnya. Pakaian balapnya kotor dan basah akibat hujan.
Salah satu petugas medis mencoba mendekatinya.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit."
Alessia langsung menolak.
"Tidak."
Vellano menatapnya tidak percaya.
"Alessia."
"Aku tidak mau ke rumah sakit."
"Ini bukan waktunya keras kepala."
"Aku bilang tidak!"
Alessia menahan rasa sakit sambil mencoba berdiri.
"Aku tidak bisa berada di rumah sakit."
Vellano menatapnya tajam.
"Kenapa?"
Alessia menundukkan kepala.
"Karena kalau ada yang mengambil foto atau video, semuanya akan menjadi berita."
Ia menatap Vellano dengan serius.
"Balapan ini memang legal dan memiliki izin. Tapi kalau fotoku dalam keadaan seperti ini tersebar, media akan membuat cerita sendiri."
Alessia kemudian menyebut sesuatu yang membuat Vellano terdiam.
"Reputasi Zorzi Capital Group bisa terkena dampaknya. Begitu juga Vellano Group—Luxury Conglomerate."
Ia menghela napas menahan sakit.
"Aku tidak mau kedua keluarga kita menjadi bahan pemberitaan hanya karena kecelakaan ini."
Vellano mengepalkan tangannya.
Ia memahami kekhawatiran Alessia.
Namun melihat istrinya terluka separah itu membuatnya tidak bisa berpikir jernih.
"Kau bahkan hampir tidak bisa berdiri."
"Aku masih bisa."
"Alessia."
Nada suara Vellano berubah tegas.
"Kali ini kau dengarkan aku."
Alessia hendak membantah, tetapi rasa sakit membuat tubuhnya kembali limbung.
Vellano langsung menangkapnya.
Untuk sesaat, Alessia hanya bersandar pada tubuhnya.
"Jangan keras kepala."
Setelah perdebatan panjang, akhirnya Vellano mengambil keputusan.
"Kalau kau tidak mau rumah sakit, aku akan merawatmu di mansion."
Alessia menatapnya.
"Di mansion?"
"Ya."
Vellano kemudian menoleh kepada Maxime.
"Hubungi dokter pribadi kita. Aku ingin dia datang ke mansion."
"Baik, Tuan."
"Dan siapkan satu kamar menjadi ruang perawatan."
Maxime mengangguk.
"Seperti bangsal?"
"Ya. Sterilkan seluruh ruangan. Pastikan semua peralatan yang dibutuhkan tersedia."
Maxime segera menjalankan perintah tersebut.
Malam itu, Vellano membawa Alessia pulang ke mansion.
Sementara itu, di tempat lain, Ansley masih menunggu.
Makan malam yang telah mereka rencanakan akhirnya tidak pernah terjadi.
Ponsel Vellano beberapa kali bergetar dengan pesan dari Ansley.
Namun Vellano tidak segera membalasnya.
Pikirannya hanya tertuju pada satu orang.
Alessia.
Ia bahkan tidak menyadari bahwa untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, sebuah janji kepada kekasihnya ia abaikan demi istrinya.
Dan tanpa ia sadari, pilihan sederhana itu mungkin menjadi awal dari sesuatu yang akan mengubah seluruh hubungan mereka.
Beralih di seberang jauh sana,ada wanita yang menggebu-gebu menahan amarah kenapa Vellano tidak jadi datang untuk makan malam bersamanya.
Hingga ia nekat untuk mendatangi mansion Vellano seorang diri!
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Tebak apa yang akan terjadi kedepannya?.Ribut nggak ya?si Alessia marah nggak kalo si Ansley dateng ke rumah mereka?
Yuk ikutin terus kisah mereka,buat yang sudah mampir jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Terimakasih,salam damai🥰