NovelToon NovelToon
PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

PRAJURIT SENGKLEK DAN CEO CANTIK GALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Action
Popularitas:719
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dika Pratama, penjaga baru yang mulutnya nggak pernah diam dan kelakuannya selalu nyeleneh, ditugaskan menjaga kantor milik Vanesha Aurelia — CEO termuda, tercantik, dan paling ditakuti seantero kota. Cantiknya kayak lukisan, tapi kalau ngomel bisa bikin orang langsung kicep sampai lupa napas.

Satu terlalu santai dan sok asik, satu lagi perfeksionis dan gampang meledak. Setiap hari pasti ada aja alasan buat berantem — dari sepatu yang bunyi, senyum yang terlalu lebar, sampai tatapan yang katanya "terlalu lama natap bos".

Tapi di balik omelan dan tatapan tajam itu, perlahan tumbuh rasa yang nggak bisa dijelasin pakai kata. Siapa sangka hati bos yang galak itu akhirnya luluh sama senyum kuda seorang penjaga yang nggak pernah nyerah

"Diamlah, Nona Bos. Ngomel terus nanti kerut lho."
"Kamu... siapa yang kasih izin ngomong gitu sama saya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9:Malam yang Gelisah dan Janji Tetap Tegak

Pagi itu matahari bersinar terang banget, tapi di dalam kantor suasananya berat. Berita bohong yang disebar Raka makin menyebar — bukan cuma di media sosial, tapi sampai ke telinga klien dan rekan bisnis. Telepon di meja resepsionis berdering terus, dan tiap kali berdering, Dika bisa merasakan suasana di lobi makin tegang.

Dika berdiri tegak di posnya, senyum tetap dipasang walau hatinya geram. Dia tahu Raka sedang mainkan permainan kotor — bikin orang ragu, bikin panik, sampai akhirnya mereka sendiri bubar. Tapi Dika berjanji dalam hati: nggak akan biarkan itu terjadi.

Jam sepuluh pagi, Vanesha keluar dari ruang kerjanya. Dia berjalan tenang ke lobi, pakaian rapi, wajah tegas — seakan nggak ada apa-apa. Tapi saat mata mereka bertemu, Dika bisa melihat lelah tipis di balik tatapan itu.

"Pagi, Nona Bos!" ucap Dika semangat, memberi hormat kecil.

"Pagi, Dika," ucap Vanesha lembut, berhenti tepat di depannya. "Sudah ramai beritanya ya?"

"Ramai banget. Tapi jangan khawatir — orang pintar nggak gampang percaya omongan tanpa bukti," ucap Dika mantap. "Dan yang penting — kita nggak panik. Panik itu awal kalah."

Vanesha tersenyum tipis. "Kamu tenang sekali. Padahal banyak yang mulai ragu," ucap Vanesha pelan.

"Karena saya lihat langsung Nona Bos kerja. Saya lihat perusahaan ini jalan. Saya tahu mana yang benar dan mana yang bohong," ucap Dika tulus. "Dan kalau perlu — saya jelaskan satu per satu ke siapa pun yang tanya!"

Belum sempat Vanesha menjawab, ponsel di tangan Dika berdering. Itu pesan dari nomor yang nggak dikenal. Dia membuka, dan wajahnya langsung berubah.

"Ada apa?" tanya Vanesha cepat melihat perubahan wajah Dika.

"Ini... pesan ancaman. Bilang kalau Nona Bos nggak setuju pertunangan dalam tiga hari, berita buruk makin banyak dan perusahaan bakal hancur sepenuhnya," ucap Dika pelan tapi matanya tajam. "Tanda tangannya — Raka."

Vanesha membaca pesan itu, tangannya sedikit gemetar. Dia menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. "Dia benar-benar tidak menyerah," ucap Vanesha dingin.

"Nona Bos jangan pikirkan! Ini cuma cara dia bikin takut!" ucap Dika tegas. "Kita lapor polisi sekarang! Ini bukti!"

Vanesha menggeleng pelan. "Pesan dari nomor tak dikenal. Dia bisa bilang itu bukan dia. Bukti belum cukup kuat," ucap Vanesha pelan. Dia menatap ke luar jendela kaca, lalu berbalik menatap Dika dengan mata berbinar tekad. "Tapi kamu benar. Kita nggak boleh takut. Kalau kita mundur selangkah, dia maju sepuluh langkah."

"Terus apa rencananya?" tanya Dika, siap dengar apa pun perintahnya.

Vanesha diam sejenak, lalu senyum tipis tapi kuat muncul di bibirnya. Dia berjalan mendekat, menatap Dika lekat-lekat. "Kita lawan dengan cara yang berbeda. Raka main diam-diam, menyebarkan berita gelap. Kita main terang — tunjukkan pada semua orang apa perusahaan ini sebenarnya," ucap Vanesha tegas.

"Maksudnya?" tanya Dika bingung sedikit.

"Kita adakan pertemuan terbuka. Undang semua klien, rekan bisnis, dan pemegang saham. Aku akan bicara langsung — jujur, terbuka, tanpa sembunyi apa pun. Biar mereka lihat siapa aku, siapa yang kerja keras, dan siapa yang cuma mau ambil untung," ucap Vanesha mantap.

Dika melongo sebentar, lalu senyum lebar melebar di wajahnya. "Wah! Itu keren banget! Langkah berani! Langkah yang nggak bisa dibantah!" ucap Dika semangat. "Saya bantu! Saya siap apa saja — pasang undangan, antar surat, jaga ruangan, apa saja!"

Vanesha tertawa kecil melihat semangat Dika yang langsung naik. "Terima kasih, Dika. Aku tahu aku bisa andalkan kamu," ucap Vanesha lembut. "Tapi hati-hati ya. Raka mungkin berbuat apa saja saat pertemuan itu. Dia nggak akan diam melihat kita melawannya secara terbuka."

"Biarkan dia datang! Selama saya berdiri di sana, dia nggak boleh sentuh Nona Bos sedikit pun!" ucap Dika tegas sambil menepuk dada. "Biar dia lihat — kita nggak lari! Kita hadapi depan mata!"

Vanesha tersenyum hangat, lalu menyentuh lengan Dika pelan. "Dengan kamu di samping, aku merasa bisa hadapi apa saja," ucap Vanesha pelan.

Hari itu mereka sibuk menyiapkan semuanya — dari daftar tamu, tempat, sampai materi yang akan disampaikan Vanesha. Dika bergerak ke sana kemari, kadang jadi kurir, kadang pembawa dokumen, kadang cuma berdiri di samping Vanesha saat dia bicara di telepon — memberi kekuatan lewat kehadirannya saja.

Sore harinya, saat kantor mulai sepi, Vanesha berjalan keluar dari ruangannya dengan wajah sedikit lebih lega. Dia berhenti di depan Dika. "Semua undangan sudah dikirim. Pertemuan lusa," ucap Vanesha pelan.

"Siap! Saya pastikan semuanya aman! Nggak ada yang masuk tanpa izin, nggak ada yang bikin keributan!" ucap Dika mantap.

Vanesha menatapnya lama, lalu perlahan meraih tangan Dika dan menggenggamnya erat di lobi yang sepi itu. "Terima kasih, Dika. Kamu bukan sekadar penjaga bagiku. Kamu... kekuatan yang bikin aku berani melangkah," ucap Vanesha lembut.

Wajah Dika memerah pelan, tapi dia menggenggam balik tangan itu — lembut dan pasti. "Sama-sama. Dan ingat — kita hadapi bareng-bareng. Nggak sendirian," ucap Dika tulus.

Di luar sana Raka mungkin sedang tersenyum licik, merasa sudah menang. Tapi di lobi kantor itu, dua hati berdiri tegak — dan tekad mereka jauh lebih kuat dari segala ancaman di dunia.

Matahari sudah sepenuhnya tenggelam, langit berubah jadi kelabu gelap bertabur bintang remang. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, dan kantor perlahan sunyi — tinggal Dika yang berjalan keliling memastikan pintu terkunci rapat, lampu mati, dan nggak ada siapa pun yang tertinggal di dalam.

Saat dia berjalan kembali ke lobi, pintu lift terbuka dan Vanesha keluar — tas di tangan, wajahnya terlihat lelah tapi matanya tetap tegas. Langkahnya pelan, seakan beban di pundaknya makin berat seiring berjalannya waktu.

"Nona Bos belum pulang?" tanya Dika kaget, melangkah cepat mendekat.

"Masih menyelesaikan beberapa dokumen. Biar besok semua rapi," ucap Vanesha pelan, lalu tersenyum tipis melihat Dika. "Kamu masih di sini? Sudah larut, Dika."

"Belum pulang kalau Nona Bos belum keluar. Itu aturan sendiri yang saya buat," ucap Dika mantap. "Dan sekarang antar Nona Bos pulang — aman sampai depan pintu, seperti biasa."

Vanesha tertawa kecil pelan. "Kamu ini... nggak pernah berubah ya?" ucap Vanesha lembut.

Mereka berjalan keluar menuju halaman parkir. Udara malam sejuk menyapa wajah, tapi Dika merasakan Vanesha berjalan agak pelan di sampingnya — seakan ada sesuatu yang mengganjal di hati. Saat sudah berdiri di samping mobil, Vanesha berhenti dan menatap ke arah jalan raya yang sepi.

"Dika... kau pikir mereka akan percaya aku besok?" tanya Vanesha tiba-tiba, suaranya pelan dan ragu — jauh dari sikap tegas biasanya. "Kalau mereka tetap ragu... kalau mereka pergi... apa yang harus aku lakukan?"

Dika langsung berdiri di depannya, menatap lurus ke mata Vanesha. "Dengar ya — mereka akan percaya. Bukan karena kata-kata indah, tapi karena kebenaran itu nggak bisa ditutup selamanya," ucap Dika tegas dan lembut sekaligus. "Dan kalau pun — sekadar kalau — ada yang pergi, itu bukan berarti Nona Bos salah. Itu berarti mereka belum cukup kuat untuk berdiri di sisi yang benar."

Vanesha menatapnya lama, lalu perlahan matanya berkaca. "Kau selalu begitu... selalu tahu kata yang tepat," ucap Vanesha pelan. Dia menarik napas panjang, lalu mengusap wajahnya pelan dan kembali tegak. "Terima kasih. Aku rasa aku cuma butuh dengar itu."

"Kapan saja. Dan besok — saya ada di dekat panggung, di pinggir ruangan, di mana pun Nona Bos butuh. Tatap saya kalau gugup — saya angguk, dan Nona Bos tahu — semuanya akan baik-baik saja," ucap Dika tulus.

Vanesha tersenyum lembut, lalu membuka pintu mobil. "Janji ya? Tatap kamu kalau gugup," ucap Vanesha pelan.

"Janji," ucap Dika mantap. "Dan sekarang — pulang, istirahat. Besok butuh tenaga penuh. Jangan pikirkan Raka, jangan pikirkan berita — tidur nyenyak, bangun pagi cantik dan tegas seperti biasa."

Vanesha tertawa kecil sambil masuk ke dalam mobil. "Siap, Pak Penjaga," ucap Vanesha lembut.

Pintu tertutup. Dika mundur selangkah, berdiri tegak sambil menatap mobil itu menyala dan melaju perlahan keluar halaman. Baru saat mobil itu menghilang di tikungan, dia berbalik — langkah kaki pulang terasa ringan, walau hatinya tahu besok pertarungan sebenarnya baru dimulai.

Sesampainya di kontrakan kecilnya, Dika tidak langsung tidur. Dia duduk di tepi kasur, menatap langit-langit kamar dalam kegelapan. Raka pasti nggak akan diam saja — besok di pertemuan itu, dia mungkin datang, mungkin bikin keributan, mungkin melakukan apa saja untuk menjatuhkan Vanesha.

"Tapi nggak akan saya biarkan," ucap Dika pelan ke ruangan kosong itu. "Selama saya ada di sana — Nona Bos aman. Titik."

Dia berbaring perlahan, meremas bantal erat seakan menyimpan tekad itu di dalam dada. Malam itu gelap dan panjang, tapi di hati Dika ada satu cahaya yang nggak pernah padam — kepercayaan bahwa kebenaran dan kebersamaan selalu menang. Dan besok, dia akan berdiri tegak di samping Vanesha — apa pun yang terjadi

1
Davide David
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!