NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:996
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35. Jejak Aroma yang Terbagi

Sementara itu, subjek utama dalam pembicaraan Ethan dan Emma—gadis bernama White—saat ini tengah tertahan di dalam ruangan basuh akademi yang mulai sunyi.

Sebenarnya, beberapa menit yang lalu, kaki White sudah hampir melangkah melewati gerbang besi kastil akademi. Namun, ia mendadak mengurungkan niatnya dan bersembunyi di balik pilar batu besar saat menangkap sosok pria menyebalkan yang kini menjadi pengajar ketangkasan fisiknya masih berdiri tegak di sana.

White memutuskan untuk menunggu hingga pria itu pergi, tapi dugaannya keliru. Pria berambut biru itu justru tampak betah bersandar di depan gerbang dengan tatapan mata merahnya yang terus menyelidik tajam.

"Ini benar-benar menyebalkan! Kenapa dunia ini terasa sempit sekali? Dan kenapa harus dia yang menjadi pengajar di akademi ini?" gerutu White dengan suara tertahan.

Napasnya memburu, menunjukkan kekesalan yang memuncak.

Ia menyandarkan punggungnya pada pintu kayu ruangan basuh yang dingin, lalu bergumam pada bayangannya sendiri di atas cawan air. "Jika bukan dia yang memberikan hadiah kuda pacu ras murni dan pelana emas itu, mungkin aku akan berusaha mati-matian untuk menjadi yang pertama menyelesaikan putaran lapangan. Kuda itu bisa kujual untuk menambah koin emas Ayah, agar bisa digunakan untuk membeli obat-obatan herbal ramuan Ibu. Tapi sayang... aku tidak sudi jika harus mendapat imbalan dari pria pamer harta itu!"

White merogoh tas kulitnya. Dengan jemari yang sedikit gemetar karena dongkol, ia memperbaiki tatanan rambutnya. Memang benar, keluarganya sangat membutuhkan koin emas itu, tapi harga dirinya jauh lebih tinggi.

White tahu ia mampu melesat lebih cepat dari ras Immortal mana pun di lapangan tadi jika ia mengerahkan sihir esnya, namun ia memilih menahan diri. Ia sama sekali tidak menyesali keputusannya untuk kalah demi menghindari budi pada pria bernama Ethan itu.

Setelah merasa rapi, White mengeluarkan sebuah jubah tebal bertudung longgar milik pemburu dari dalam tas kulitnya. Ia segera mengenakannya untuk menyempurnakan penyamaran. Tidak mungkin ia terus bersembunyi di ruangan basuh perempuan sampai malam tiba. Ia teringat bahwa Ethan pernah melihatnya dalam mode penyamaran pemuda sebelumnya saat di dekat rumah Lucas, sehingga ia harus ekstra hati-hati.

Tudung jubah itu ditariknya rendah hingga menutupi sebagian wajahnya, sementara kerah jubahnya dinaikkan tinggi.

Sebelum benar-benar keluar, White menempelkan telinganya ke pintu kayu, mendengarkan suara langkah kaki di luar. Ia kemudian mengintip melalui celah kecil pintu. Meski sebagian besar murid dan pengajar sudah pulang menuju kediaman masing-masing, tetap saja ada risiko jika seorang siswi atau pengajar wanita memergokinya keluar dengan penampilan yang kini menyerupai seorang pemuda desa.

"Bagus! Aman," bisiknya lega saat mendapati suasana sepi. "Aku harus cepat-cepat pergi dari sini!"

White pun keluar dari ruangan basuh dan langsung berlari secepat kilat, langkahnya seringan bulu namun penuh tenaga menuju gerbang akademi. Di sana, ia kembali melihat Ethan yang masih setia berdiri layaknya ksatria penjaga, matanya terus menyisir satu per satu murid yang tersisa.

White menduga kuat bahwa pria itu memang sedang mencarinya. Apalagi tadi, saat jam latihan ketangkasan berlangsung, Ethan terus-menerus melemparkan senyuman aneh yang membuatnya merinding dan merasa sangat tidak nyaman.

'Ck, ternyata pria aneh itu masih ada di sana. Untungnya aku memakai tudung jubah pemburu ini, jadi dia tidak akan mengenaliku,' batin White sembari mengatur langkah kakinya agar terlihat santai dan percaya diri saat melewati gerbang besi. Ia sedikit menundukkan wajah, membiarkan bayangan tudung menghalangi kontak mata langsung.

Begitu kakinya menginjak jalan setapak berbatu di luar area akademi dan menjauh beberapa puluh meter, White mengembuskan napas panjang.

"Akhirnya... aku bisa keluar dengan selamat!" ucapnya sembari mengelus dadanya yang berdegup kencang.

Perasaan lega seketika menyelimuti hatinya setelah berhasil lolos dari radar sang penguasa klan serigala itu.

Dengan langkah cepat dan tegas, White berjalan menuju tempat pemberhentian kereta kuda umum terdekat. Ia tidak merasa takut akan tersesat di kota kekaisaran yang masih asing ini. Ia merogoh saku jubahnya, memastikan peta perkamen wilayah Vespera yang menjadi pemandunya masih tersimpan aman.

Di dunia luar yang luas ini, peta terperinci di genggamannya sudah lebih dari cukup untuk menuntunnya menemukan jalan yang benar menuju rumah kakek buyutnya. Ia terus melangkah, meninggalkan bayang-bayang akademi dan pria yang sangat ingin ia hindari itu di belakangnya.

****

Ethan masih berdiri mematung di samping pilar batu gerbang, matanya menyisir sisa-sisa murid yang melintas. Namun, tepat saat seorang pemuda berjubah hitam tegap dan bertudung rendah berjalan melewatinya dengan langkah terburu-buru, udara di sekitar Ethan seolah bergetar.

'Bau itu!'

Batin Ethan tersentak hebat. Pupil mata merahnya melebar, dan indra penciumannya yang tajam mencium partikel aroma yang sangat ia kenali di udara. Perpaduan manisnya bunga mawar dan kesegaran sitrus yang tajam—aroma yang sama persis dengan Mate yang baru saja ia temukan di barisan kelas pagi tadi.

Namun, ia merasa heran. Di depannya tidak ada gadis berambut putih panjang yang sedang ia tunggu-tunggu. Yang tertangkap oleh matanya hanyalah punggung seorang pemuda jubah pemburu yang tampak biasa saja. Pikirannya langsung melesat kembali ke kejadian beberapa waktu yang lalu, saat ia sempat mengendus aroma itu di sekitar perbatasan ladang Arcania.

'Mungkinkah pemuda misterius yang waktu itu?' pikirnya sangsi.

Seketika, Ethan mengepalkan tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras, menciptakan garis tegas yang tampak menakutkan di wajah tampannya. Ia menatap tajam ke arah sosok bertudung yang kini sudah semakin menjauh dan mulai menaiki kereta kuda kayu umum yang baru saja menepi di pinggir jalan.

Keraguan, kecemasan, dan rasa curiga yang besar mulai berkecamuk di dalam hatinya. Bagaimana mungkin aroma yang begitu sakral bagi seorang Werewolf—aroma belahan jiwa—bisa dimiliki oleh dua sosok berwujud berbeda? Kecuali jika...

"Apakah dia sedang menyamar?" gumam Ethan dengan suara rendah yang bergetar. "Apakah pemuda itu dan gadis berambut putih itu adalah orang yang sama?"

Hatinya bergejolak. Jika benar pemuda itu adalah Mate-nya yang sedang menyamar, maka White bukan sekadar gadis biasa. Ia memiliki rahasia sihir atau identitas yang cukup besar untuk disembunyikan. Ethan terus memperhatikan kereta kuda yang mulai bergerak meninggalkan tempat tersebut. Rasa penasarannya kini berubah menjadi obsesi klan yang membara.

"Kamu tidak bisa lari dariku, siapa pun kamu sebenarnya," desis Ethan sembari memperhatikan debu jalanan yang mengepul dari roda kereta kuda yang menghilang di tikungan jalan batu.

Emma, yang masih berdiri tak jauh dari sana, hanya bisa memperhatikan kakaknya dengan bingung. Ia melihat perubahan drastis pada aura Ethan—dari yang semula gelisah menjadi penuh dengan kemarahan Alpha yang tertahan.

"Kak? Ada apa? Kenapa wajahmu jadi menyeramkan begitu?" tanya Emma sembari mendekat, namun Ethan sama sekali tidak bergeming.

Matanya masih tertuju pada jalanan kosong, seolah aroma mawar sitrus itu masih tertinggal dan menuntun langkahnya untuk segera melakukan pengejaran.

Ethan terdiam sejenak, membiarkan kereta kuda yang membawa White menghilang sepenuhnya dari pandangan. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantung serigalanya yang liar akibat perpaduan antara kemarahan dan rasa penasaran yang menggebu.

Ia memalingkan wajah ke arah Emma yang masih berdiri menatapnya dengan raut bingung. Ethan melangkah mendekat, lalu mencengkeram lembut kedua bahu adiknya, menatap tepat ke dalam manik mata Emma dengan intensitas seorang calon pemimpin klan.

"Emma, aku butuh bantuanmu. Ini sangat penting," ucap Ethan dengan suara rendah yang berat, nyaris seperti geraman serigala yang tertahan.

Emma sedikit terkejut, ia jarang melihat kakaknya seserius ini. "Bantuan apa, Kak? Apa ini ada hubungannya dengan Mate-mu?"

Ethan mengangguk pelan, matanya kembali melirik ke arah kelokan jalan yang kini kosong. "Besok di akademi, aku ingin kamu mencari tahu segala hal tentang murid baru bernama White Emerson itu. Jangan biarkan satu detail pun terlewat. Cari tahu di mana dia tinggal, siapa keluarga asuhnya, dan yang paling penting... cari tahu apakah dia menyembunyikan sesuatu di balik penampilannya."

Emma menaikkan sebelah alisnya, tampak ragu. "Maksud Kakak? Dia kan teman sebangkuku, kelihatannya dia gadis manusia yang baik dan... yah, sangat cantik. Apa yang mungkin dia sembunyikan?"

Ethan melepaskan cengkeramannya dan mengepalkan tangan di samping tubuh. "Aku mencium aroma yang sama pada pemuda berjubah pemburu yang baru saja naik kereta kuda tadi. Aroma yang identik dengan White. Aku curiga dia sedang memainkan peran ganda atau memiliki rahasia magis besar yang tidak kita ketahui."

Ethan menjeda kalimatnya, rahangnya kembali mengeras saat ingatan tentang aroma serupa di bukit Arcania melintas kembali.

"Aku tidak bisa menyelidikinya secara langsung di akademi tanpa membuat dia curiga atau menggunakan kekuatannya untuk melarikan diri. Tapi kamu... kamu adalah teman sekelasnya. Dekati dia, jadilah temannya, dan perhatikan setiap gerak-geriknya. Jika dia benar-benar Mate-ku, aku harus tahu siapa dia sebenarnya sebelum aku membawanya masuk ke Pack House."

Emma terdiam sejenak, mencerna permintaan kakaknya. Ia membayangkan wajah canggung White saat perkenalan di depan kelas pualam tadi.

"Baiklah, Kak. Aku akan melakukannya. Aku akan mengawasi setiap langkahnya besok di kelas. Tapi Kakak harus janji, jangan bertindak gegabah sampai aku mendapatkan informasi yang akurat dari menara asrama."

Ethan mengangguk setuju, meskipun insting Wolf-nya terus mendesak untuk segera melompati pagar dan mengejar kereta kuda tersebut. "Aku janji. Sekarang, kembalilah ke menara asramamu. Aku akan mencari cara lain untuk memantau situasi dari luar tembok akademi."

Emma pun mengangguk, lalu berbalik menuju arah asrama menara barat dengan pikiran yang berkecamuk. Sementara itu, Ethan tetap berdiri di sana, menatap jalanan batu yang sepi. Di dalam benaknya, ia sudah menyusun rencana. Jika Emma gagal mendapatkan informasi, ia sendiri yang akan turun tangan untuk menyingkap topeng gadis berambut putih itu—dengan cara apa pun yang klan serigala bisa lakukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!