Pout for Me, Little Mouse.
Keylana Reinhardt, Putri seorang raja perbankan lokal Jerman, diatur ke dalam pertunangan dengan Julian Donnersmarck -- Seorang Miliarder muda dari Berlin yang arogan, pragmatis dan bergaul dengan bebas.
Setelah disatukan, mereka tinggal bersama di Berlin, Kota kelahiran Julian. Tidak ada satu hari pun tanpa perdebatan. Julian tidak meninggalkan kebiasaan moral yang buruk sedangkan Keylana tak kalah nakal, memanggil Julian dengan nama depannya.
Ini tentang Rasionalitas yang terus dipertanyakan dan Perasaan yang dianggap tidak penting.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubble🫧, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyitaan Bukti Gangguan Kronis
Julian menarik Lana dengan langkah cepat begitu mobilnya terlihat.
Julian membuka pintu penumpang belakang saat mencapai mobil, melemparkan lana ke kursi lalu menahannya dengan tubuhnya. Mulai menciumnya dengan agresif.
Satu tangan Julian menahan kedua tangan lana di atas kepalanya, wajahnya merah karena kesal dan cemburu.
"Julian—"
Lana berjuang melepaskan diri ketika pria itu seolah tidak mau melepaskan kontak, Nafasnya tersengal.
Julian memberikan jeda sedikit lalu menciumnya lagi, Lidahnya menyusup masuk sambil menggigit bibir Lana sesekali untuk menghilangkan rasa frustasinya setelah melihat tunangannya hendak di ambil oleh Leon.
"Seseorang... Seseorang bisa melihat."
Lana berusaha menyingkirkannya, Julian terasa sangat berat. Mereka akan mudah ketahuan karena mobil telah disiapkan berada di tepi jalan.
Walau jalan sedang sepi tidak mustahil seseorang akan lewat karena meninggalkan pesta lebih awal. Lagipula, kaki panjang Julian menjuntai sampai keluar dimana pintu terbuka.
Julian melepaskan lana, matanya seperti ingin melahap Lana jika memungkinkan. Wajah Julian yang biasanya arogan terlihat memerah dengan mata yang berkilauan karena marah dan Frustasi.
"Ada apa denganmu?! Seseorang akan melihat kita."
"Biarkan mereka melihat, aku akan menyuruh mereka meletakkannya di headline berita jika perlu."
"Gila! minggir... kau berat sekali."
Julian perlahan menegakkan tubuh dan berdiri melihat Lana bangkit.
"Apa yang Gruber Katakan padamu?!" Julian mengusap Tuksedo nya yang sedikit kusut.
"Yah, yang dikatakan sama persis seperti reputasinya."
"Katakan dengan jelas! Apa yang dia katakan sehingga kau menyuruhnya pergi ke neraka?!"
Julian memegang kedua lengan Lana sambil mengguncangkannya.
"Hei! Pria itu persis sepertimu, jadi mengapa kau tidak bertanya pada dirimu sendiri?!" Lana menepisnya dengan kesal.
Julian terdiam lalu berpikir sambil memegang rahang dengan satu tangan dengan senyum seolah menuduh.
"Mengapa kau melihatku seperti itu?!" lana meliriknya.
"Tidak ada." Senyuman Julian tertutup tangannya. "Jadi kau mengatasi Leon bajingan itu karena terbiasa melawanku?" Gumamnya.
Julian mengangguk seolah bangga dengan dirinya sendiri dan lana lalu mendorong punggung lana ke arah kursi penumpang depan tanpa menunggu jawaban.
"A–Apa ini?" Lana tidak mengerti senyum aneh pria itu.
Julian membuka pintu dan mendorong lana yang bingung melihat tingkahnya.
Julian berdehem. "Ini artinya kau harus berterimakasih karena aku menyelamatkanmu dari Leon."
"Menyelamatkan?! kau bahkan hampir melakukan adu tinju dengan pria itu jika bukan karena aku."
"Mana mungkin," Julian memasang sabuk pengaman lana dan menutup pintu lalu beralih ke kursi kemudi.
Julian duduk dan mencondongkan tubuh ke arah lana dengan wajah serius setelah wajah konyolnya hilang.
"Dengar, Apapun yang terjadi jangan dekat-dekat dengan Leon."
Julian duduk tegak kembali menatap ke depan untuk mengenakan sabuk pengamannya dan mulai menyalakan mesin.
"Leon Gruber itu terlalu berbahaya untuk gadis sepertimu."
"Gadis sepertiku? lalu aku seharusnya tidak berencana menikahimu." Lana memutar matanya sambil menyilangkan tangan.
"Aku bilang menjauh maka kamu harus menjauh. Aku memang... yah sepertinya. tapi aku ini menjagamu. dia tidak." Julian menunjuk-nunjuk dahi Lana.
"Mengerti?"
"Tidak!"
Julian melepaskankan sabuk pengamannya dengan cepat untuk kembali menyerang bibirnya ke bibir Lana.
"Iya! aku mengerti!" lana menutupi kepalanya.
"Bagus."
Julian tersenyum tipis sambil kembali duduk mengenakan sabuk pengamannya.
Julian mulai membawa mobil menjauh dari tepi jalan. Lana sedang melepaskan sepasang sepatu hal tingginya.
"Kamu terlihat sangat lelah."
Mata Julian berkedip sebentar ke kaca spion memeriksa tanda-tanda mobil Leon mengikuti di belakang mereka.
"Aku lebih suka menghabiskan hidupku mengenakan kaos daripada gaun bodoh ini." Lana melucuti tatanan rambutnya.
"Tidak perlu menghancurkannya," kata Julian datar, sambil melaju dengan mulus ke jalan yang sepi.
"Kecuali jika kau berencana membakarnya bersamaan dengan Leon" Katanya menyeringai jahat.
Lana membuka ponselnya untuk memeriksa pesan baru, bersandar dengan nyaman setelah rambutnya terurai.
Julian melirik sedikit ke samping melihat perhatian Lana yang kini terfokus pada layar ponselnya. Wajahnya kembali kesal sambil mencengkram setir.
"Apa yang begitu penting? SMS darurat dari teman kecilmu?"
Wajah lana terfokus pada ponsel yang menerangi wajahnya. mengetik sesuatu pada seseorang.
Kesabaran Julian habis. Dengan gerakan cepat, dia menyambar ponsel Lana tanpa melihat lalu melemparkannya sembarangan ke dalam laci.
"Cukup!"
"Ehhh?!"
Julian menahan pundak lana agar tidak mengambil sambil fokus pada lalu lintas.
"Bagian dari 'cukup' mana yang tidak kamu pahami? Ponselmu bisa menunggu sampai kita tiba di rumah."
"Tidak ada 'tapi'." Selanya saat Lana membuka mulut hendak membantah.
Lana cemberut, menyilangkan tangan di depan dadanya.
Cengkeraman Julian pada kemudi mengendur saat dia melihat ekspresi kesal Lana di kaca spion. Ia tersenyum tipis melihatnya merajuk. Memperhatikan lengan Lana yang disilangkan, pipinya menggembung dengan wajah berkerut memandang keluar jendela.
Julian menghela nafas wajahnya menjadi lembut hanya sebentar.
"Baiklah," dia memberi izin dengan keengganan yang berlebihan.
"Tapi ini hanya karena kamu terlihat menggemaskan saat cemberut."
Dia merogoh laci sarung tangan dan mengambil ponselnya tanpa melihat, menyerahkannya kembali padanya.
"Senang sekarang?"
"Sangat senang..." Lana segera merebut nya, Julian kembali ke fokus penuh mengemudi.
Interior mobil diisi dengan cahaya sangat redup dengan suara keyboard lana yang sedang mengetik.
"Hanya sementara," Julian memperingatkan sambil bercanda.
"Satu lagi SMS tentang malam ini dan aku akan menyita benda itu secara permanen."
Lana terbelalak di tengah mengetik dan segera menyembunyikan ponselnya di belakang punggungnya secepat kilat dengan kedua tangannya.
"Lucu," Julian tersenyum tipis dengan nada mengejek.
"Tapi sama sekali tidak efektif."
Julian tiba-tiba mengulurkan tangan ke seberang konsol tanpa mengalihkan pandangan dari jalan, jari-jarinya yang panjang dengan mudah menemukan ponsel tersembunyi yang terselip di belakang punggung Lana bahkan sebelum dia sempat bereaksi sepenuhnya.
"Nah."
Dia mengangkatnya dengan penuh kemenangan di udara di antara mereka.
Lana mencoba meraihnya. Tangan Julian lebih cepat walau sambil menyetir.
"Tidak," Julian menjauhkan ponsel dari jangkauan Lana.
"Ahh, tidak"
"Sama sekali tidak," Julian menyahut dengan tegas sambil menyelipkan ponselnya ke dalam saku bagian dalam jasnya.
"Anggap saja ini bukti dalam kasus gangguan gangguan kronis."
Mobil berhenti mulus di jalan masuk berkerikil, lampu depannya menembus kegelapan untuk menerangi fasad megah vila tempat Reinhardt menginap.
Julian mematikan mesin, membuat hening dituasi yang tadinya berisik.
"Oh, lihat bibirmu, itu mencapai beberapa kilometer sepertinya" Ejeknya.
Dia melepaskan sabuk pengamannya dan mendekat dan melihat Lana lebih jelas di dalam mobil mewah itu.
"Jika kau sungguh ingin benda ini kembali, apa yang bisa kau tawarkan padaku?"
Julian mengetuk bagian sakunya yang keras berisi ponsel Lana. Gadis itu tetap memasang wajah merajuk, tidak ingin melihat wajah Julian.
"Jadi, sebaiknya aku buang saja ponsel ini. pemiliknya tidak mau bernegosiasi."
"Aku tidak akan menciummu lagi jika kamu menyuruhku menjawab."
Lana sedikit menjauh dengan kesal tapi tak berniat pergi karena ponselnya ada disana.
"Kau melakukan pemerasan sekarang? Benarkah?" Julian memasang wajah tercengang yang pura-pura.
Tatapan Julian tertuju pada bibir Lana, Rasanya ingin mencium dan mencekik gadis itu dalam waktu bersamaan.
"Mungkin...kamu lebih suka kita masuk ke dalam agar negosiasi ini lebih..." Nadanya rendah dengan maksud tersirat.
"Aku akan masuk ke dalam dan mengadu pada ayah bahwa kamu tukang sita!"
Mata Julian menyipit sambil bercanda, sebuah tantangan muncul di kedalaman matanya.
"Apakah begitu? Kamu pikir kamu bisa menolak bernegosiasi denganku, gadis kecil?"