NovelToon NovelToon
Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Kali Ini Aku Mau Pilih Pangeran Kulkas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: PhepipoOrevi

"Aku telah mati karena cinta, kali ini aku ingin hidup untuk diriku sendiri" atau begitulah yang diucapkan Evelyn awalnya sebelum dia mengenal kepribadian Matthew si Pangeran Kulkas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PhepipoOrevi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Kelas Praktikum dan Meja Laboratorium Nomor 7

Evelyn menepuk-nepuk bahu Chloe yang masih menatapnya dengan pandangan curiga sekaligus syok berat.

"Nanti aku ceritain di kantin, Chloe. Sumpah, nggak ada rahasia yang aneh-aneh kok," ujar Evelyn berusaha menenangkan sahabatnya yang kini sibuk mengipasi wajahnya sendiri dengan modul perkuliahan.

"Awas aja ya kalau kamu nggak cerita!" ancam Chloe sambil menunjuk wajah Evelyn dengan telunjuknya. "Seorang Matthew Pendragon, dengan julukan Pangeran Kulkas yang biasanya cuma bicara dua kata sebulan—'ya' dan 'tidak'—tiba-tiba ngingetin kamu soal modul?! Unbelievable!"

Evelyn hanya terkekeh, meski dalam hatinya badai pertanyaan masih berkecamuk. Tatapan mata keemasan Matthew tadi terus terngiang. Ada kehangatan samar yang terasa terlalu familiar, persis seperti rasa aman saat jemari pria itu menopang punggungnya yang bersimbah darah di kehidupan lalu.

Jam menunjukkan pukul dua siang tepat. Suasana Laboratorium Anatomi FK terasa dingin dan berbau khas larutan formaldehida. Deretan meja stainless steel berkilau di bawah temaram lampu neon. Mahasiswa berjas laboratorium putih sibuk bersiap, sibuk mencari kelompok praktikum masing-masing.

"Evelyn! Di sini!" panggil Chloe melambaikan tangan dari Meja Nomor 7.

Evelyn melangkah menghampiri Chloe, merapikan jas lab yang terpasang di tubuhnya. Namun, tepat ketika ia hendak duduk di bangku sebelah Chloe, sebuah bayangan tegap berhenti di sisi mejanya.

Matthew Pendragon.

Pria itu mengenakan jas laboratorium putih yang sangat rapi di atas kemeja hitamnya. Lengan jasnya tergulung sedikit, memperlihatkan jam tangan peraknya. Di tangannya, ia membawa buku catatan tebal dan pena berukir elegan.

"Kosong?" tanya Matthew singkat, menunjuk bangku kosong di sebelah Evelyn.

Chloe yang baru saja mau menyedot minumannya mendadak tersedak lagi untuk yang kesekian kalinya hari ini. Matanya terbelalak tidak percaya menatap Matthew, lalu beralih menatap Evelyn seolah meminta penjelasan.

"Kosong kok, Kak," sahut Evelyn santai, menarik sedikit kursi tersebut. "Duduk aja."

Matthew menarik kursi tanpa ragu, lalu duduk tepat di samping Evelyn. Jarak mereka yang begitu dekat membuat aroma wangi kayu bersatu dengan aroma kopi samar dari tubuh pria itu kembali menguar, mengalahkan bau antiseptik laboratorium yang menyengat.

Dokter Aris—dosen pembimbing praktikum yang terkenal killer—masuk ke dalam ruangan dengan langkah tegas. "Baik semuanya, buka modul bab sistem saraf pusat. Hari ini kita akan identifikasi struktur otak secara langsung. Pastikan pasangan praktikum kalian bisa bekerja sama dengan baik!"

Evelyn segera membuka modul tebal di depannya. Saat ia hendak mencari halaman bab sistem saraf, sebuah tangan panjang dengan jemari yang bersih menggeser buku catatannya ke tengah-tengah meja, membaginya dengan Evelyn.

"Pakai punyaku saja. Halamannya sudah kuberi tanda," gumam Matthew pelan tanpa menoleh, fokus menatap ke depan mendengarkan penjelasan Dokter Aris.

Evelyn melirik buku catatan Matthew. Di sana, pembatas halaman berwarna biru terselip rapi, lengkap dengan coretan garis bawah dan catatan kecil.

"Makasih, Kak," bisik Evelyn pelan.

Matthew menyunggingkan senyum tipis yang hampir tak terlihat. "Sama-sama. Jangan melamun terus, Eve. Nanti disuruh Dokter Aris jawab pertanyaan di depan."

"Iya iya, nggak bakal," desis Evelyn cemberut kecil, meski dalam hati ada rasa hangat yang diam-diam menyelimuti dadanya.

Dari seberang meja, Chloe menatap interaksi kecil di antara keduanya dengan mata melotot lebar dan mulut setengah terbuka, benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja disaksikannya. Pangeran Kulkas yang terkenal paling anti berinteraksi dengan siapa pun, kini duduk dengan tenang membagi modulnya dan berbisik santai di sebelah Evelyn.

Evelyn menarik napas panjang, menatap bayangan dirinya dan Matthew yang pantulannya samar-samar terlihat di meja stainless steel. Di kehidupan keduanya ini, takdir seolah mulai memutar kemudi ke arah yang sama sekali baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!