Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENYUSUN DAFTAR TILANG NYAWA
Jari-jari Vania bergetar hebat saat ia memutar kunci kuningan di pintu kayu solid itu. Klik. Suara logam yang beradu terdengar sangat memuaskan di tengah kepanikan yang merayap di dadanya. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu, menutup matanya sejenak, dan menarik napas panjang. Napasnya memburu, tapi ia memaksa otot-otot wajahnya untuk rileks. Deadpan. Tidak boleh panik. Panik adalah musuh utama logika, dan logika adalah satu-satunya senjata yang ia miliki saat ini.
Tiba-tiba, Vania membuka mata dan menatap lurus ke arah sudut kanan atas kamarnya. Tepat di sana, di antara ukiran kayu jati dan lampu gantung kristal, terdapat sebuah titik fokus imajiner yang hanya bisa ia lihat. Sebuah lensa kamera transparan yang melayang di udara, merekam setiap detil kepanikannya.
Vania berjalan mendekati "kamera" itu, menatap lurus ke dalam lensa imajiner tersebut, dan mengangkat satu alisnya.
"Oke, quick announcement buat kalian yang baru join nonton di episode ini, atau yang mungkin bingung kenapa aku tiba-tiba ngomong ke udara kosong," ucap Vania datar, suaranya bergema pelan di kamar yang luas. "Dengar baik-baik. Gadis bernama Nadia yang hobi makan nasi padang dan pesan GoFood sudah mati. Dia tidak akan kembali. Yang ada di dalam tubuh ini sekarang adalah Vania. Antagonis wanita Bunga Ditepi Jurang. Jadi tolong, berhenti nungguin Nadia balik dan mulai adjust ekspektasi kalian. Kita punya 148 episode lagi buat survive, dan aku nggak mau mati konyol cuma karena salah langkah. Cut."
Vania menatap "kamera" itu beberapa detik lagi, memastikan pesannya tersampaikan, sebelum akhirnya menghela napas dan melangkah menjauh. Menjadi sadar akan fourth wall memang aneh, tapi setidaknya ini memberinya sedikit rasa kontrol di tengah situasi yang gila ini. Ia bukan lagi Nadia. Ia adalah Vania, dan Vania harus bertahan hidup.
Ia meluncur turun, duduk bersila di atas karpet merah marun yang tebalnya tidak masuk akal. Di sebelahnya, terdapat meja rias dengan laci yang sedikit terbuka. Vania menarik laci itu dan mengeluarkan sebuah buku catatan bersampul kulit hitam dan sebuah pulpen emas.
"Oke, Vania. Mari kita bedah situasinya," gumamnya pada diri sendiri. Ia membuka buku itu, menatap halaman putih yang masih bersih, dan mulai menulis dengan tinta hitam yang mengalir lancar.
ATURAN HIDUP VANIA
JANGAN GANGGU LARASATI.
Vania menatap tulisan itu. Larasati adalah Female Lead. Dia adalah pusat semesta sinetron ini. Mengganggunya berarti memicu kemarahan semesta, yang biasanya berujung pada kecelakaan tragis, penyakit misterius, atau jatuh dari tebing. Larasati harus bahagia. Kalau Larasati bahagia, plot akan berjalan normal, dan nyawanya aman.
JANGAN REBUT RAKA.
Raka adalah Male Lead. Dia adalah properti pribadi Larasati. Menyentuh Raka, apalagi mencoba merebutnya, adalah tiket satu arah menuju episode 150. Vania menggarisbawahi kalimat ini dua kali. Dia tidak butuh pria yang wajahnya selalu terlihat bingung dan pakaiannya selalu berwarna putih krem.
JAUHI KEVIN.
Vania menulis nama ini dengan huruf kapital yang besar dan tebal. Kevin adalah Villain. Dia adalah bom berjalan. Dia adalah alasan utama kenapa Vania asli mati. Mendekati Kevin berarti mendekati api. Dan Vania, dengan segala kepraktisannya, tahu betul bahwa api itu tidak bisa diajak kompromi.
Vania menatap daftar itu. Tiga aturan sederhana. Tiga pilar penyangga kelangsungan hidupnya. Dia menutup buku itu, menepuk sampulnya pelan, dan meletakkannya di atas meja rias.
"Selesai. Sekarang, aku harus belajar akting," bisiknya.
Ia berdiri dan berjalan menuju cermin besar berbingkai emas di sudut kamar. Jika dia terjebak di sini, dia harus bisa memainkan peran ini. Dia tidak bisa terus-terusan terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu. Dia harus terlihat seperti... wanita baik. Wanita yang tidak berbahaya.
Vania menatap bayangannya. Ia mencoba melunakkan tatapan matanya yang secara alami terlihat tajam dan merendahkan. Ia mencoba mengangkat sudut bibirnya, membentuk senyum manis ala Larasati.
Hasilnya?
Bayangan di cermin menatap balik dengan senyum yang kaku, matanya menyipit aneh, dan ekspresinya secara keseluruhan terlihat sangat mengerikan. Vania terlihat persis seperti seorang wanita yang sedang merencanakan penipuan asuransi besar-besaran, atau setidaknya sedang memikirkan cara paling efisien untuk menyingkirkan mayat di bagasi mobil.
"Ah, sial," Vania mengumpat pelan, meratakan kembali wajahnya. "Ini muka penjahat. Nggak bisa dipaksa jadi muka heroine."
Ia mencoba lagi. Kali ini dengan ekspresi polos. Matanya dibulatkan, kepalanya sedikit dimiringkan.
Bayangan di cermin kini terlihat seperti orang yang sedang menghitung berapa banyak orang yang bisa ia bunuh dengan satu botol racun tikus sebelum ketahuan.
"Tuhan, tolong," Vania memijat pelipisnya. "Aku menyerah. Aku akan jadi antagonis yang dingin. Setidaknya itu branding yang sudah terbangun."
Tepat saat ia memutuskan untuk menerima nasibnya sebagai wanita dengan wajah resting bitch face, sebuah suara logam terdengar dari pintu di belakangnya.
Click.
Vania membeku. Matanya terbelalak menatap pantulan pintu di cermin.
Gagang pintu kuningan itu berputar. Perlahan. Pasti.
Wait. Aku sudah menguncinya.
Pintu itu terbuka, mendorong punggung Vania pelan hingga ia terpaksa melangkah maju. Dan bersamaan dengan terbukanya pintu, sebuah fenomena alam yang sangat tidak masuk akal terjadi di dalam kamar yang jendela dan AC-nya tertutup rapat.
Angin kencang berhembus.
Angin itu menerjang masuk, mengacak-acak rambut bob Vania yang tadi sudah disisir rapi, dan membuat gorden beludru di jendela berkibar dramatis. Suara dengungan angin itu berdengung rendah, persis seperti efek suara yang biasa dipakai di sinetron untuk menandai kedatangan karakter yang sangat berkuasa dan berbahaya.
Vania menatap ke arah pintu dengan tatapan datar, rambutnya masih berkibar tertiup angin indoor yang tidak logis itu.
Di ambang pintu, berdiri Kevin.
Pria itu mengenakan jas hitam yang pas di tubuhnya, dasinya terikat sempurna, dan tatapannya tajam seperti elang yang baru saja menemukan mangsanya. Dia menatap Vania, lalu menatap kunci pintu yang masih dalam posisi terkunci dari dalam, sebelum akhirnya kembali menatap wajah Vania.
"Kau mengunci pintunya," ucap Kevin, suaranya rendah dan berat, mengalahkan suara dengungan angin misterius di dalam kamar. "Tapi kau lupa satu hal, Vania."
Kevin melangkah masuk. Angin di dalam kamar seolah mengikuti gerakannya, berhembus lebih kencang saat dia berjalan mendekati Vania.
"Aku punya kunci cadangan untuk setiap pintu di rumah ini."
Kevin berhenti tepat di depan Vania. Jarak mereka hanya satu jengkal. Pria itu menunduk, menatap lurus ke dalam mata Vania, dan sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sama sekali tidak mencapai matanya.
"Dan sekarang, kita perlu bicara tentang kenapa kau mencoba menghindari aku."
BERSAMBUNG...