NovelToon NovelToon
Luluh Ditangan Gadis Malam

Luluh Ditangan Gadis Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: daisysy

Pertemuan tak sengaja di sebuah klub malam antara seorang konglomerat dingin dan gadis malang yang terikat kontrak terlarang, memicu badai asmara, rahasia tersembunyi, serta ujian restu keluarga yang mengancam hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daisysy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Kamar Hotel

Sinar matahari pagi yang menembus celah-celah tirai blackout beludru tebal di kamar tidur suite eksklusif lantai atas Thorne Grand Hotel perlahan-lahan mengusik ketenangan ruang yang sejak semalam diselimuti aroma parfum maskulin bercampur sisa-sisa amarah dan gairah. Udara di dalam ruangan terasa sejuk, diatur oleh pendingin ruangan otomatis yang berdengung pelan, menciptakan kontras yang tajam dengan gejolak emosi yang siap meledak di dalam kepala Freya Zivanka.

Freya mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa berat. Bulu matanya yang lentik bergetar pelan saat ia mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya redup ruangan. Sensasi pertama yang menyergap tubuhnya bukanlah kenyamanan tempat tidur king-size berseprai sutra Mesir yang ia tempati, melainkan rasa sakit dan nyeri yang merata di sekujur persendiannya. Setiap kali ia mencoba menggeser sedikit saja posisi kakinya, gelombang linu langsung menghantam otot-otot panggul dan punggung bawahnya, membuatnya spontan mendesis pelan.

Di mana aku? batin Freya panik, matanya langsung terbuka lebar secara sempurna.

Memori semalam berkelebat cepat layaknya film slow-motion di dalam benaknya. Suasana Club Noir yang bising, lampu laser yang memusingkan, kepalanya yang berputar hebat akibat tegukan minuman beralkohol, tubuhnya yang tak sengaja menabrak seorang pria berbadan kekar, dekapannya yang erat pada dada bidang seseorang, hingga keputusan nekat pria itu membawanya keluar dari klub malam menuju tempat antah berantah. Dan puncaknya—potongan-potongan memori panas, liar, serta intim yang terjadi di atas ranjang ini bersama sosok pria asing yang memiliki tatapan mata setajam elang.

Freya buru-buru menundukkan pandangannya ke bawah selimut. Jantungnya langsung mencelos seketika. Ia mendapati dirinya tidak mengenakan sehelai benang pun di balik selimut tebal itu, sementara gaun pesta malam sebelumnya tampak berserakan mengenaskan di lantai dekat sofa kamar mandi.

Panik, rasa bersalah, dan ketakutan mendadak bercampur aduk menghantam dada Freya hingga ia nyaris kesulitan bernapas. Ia adalah gadis yang selama ini menjaga kehormatan dan hidup dalam kesederhanaan, berjuang setengah mati kuliah sambil memikirkan biaya rumah sakit ibunya. Dan sekarang? Ia baru saja menghabiskan malam pertamanya—bukan dengan kekasih masa depannya, melainkan dengan seorang pria asing misterius di kamar hotel mewah yang bahkan ia tidak tahu siapa namanya.

Dengan tangan yang bergetar hebat, Freya merapatkan selimut putih itu hingga menutupi dagunya. Ia menolehkan kepalanya ke sisi tempat tidur, berharap menemukan petunjuk atau sosok pria tersebut.

Namun, sisi tempat tidur di sebelah kirinya sudah kosong. Dingin. Menandakan bahwa pemilik sisi ranjang itu sudah bangun sejak beberapa jam lalu.

Sebelum Freya sempat merangkai rencana untuk kabur atau mencari bajunya, suara deruman pintu kamar mandi yang terbuka secara perlahan menghentikan detak jantungnya.

Dari balik pintu uap air yang masih mengepul tipis, muncullah sesosok pria dengan postur tubuh atletis sempurna yang membuat siapa pun yang melihatnya akan menahan napas. Victor Thorne. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk putih tebal yang melingkar sempurna di pinggang rampingnya, sementara handuk kecil lainnya tampak digunakannya untuk mengeringkan helaian rambut hitam pendeknya yang basah.

Tetesan air sisa mandi tampak mengalir menuruni garis rahangnya yang tegas, melewati leher jenjang, turun ke dada bidangnya yang putih bersih dan dipenuhi otot-otot perut six-pack yang terpahat indah. Aura dominan, dingin, sekaligus sangat berbahaya langsung menguasai seluruh penjuru kamar begitu Victor melangkah keluar.

Freya merasa tenggorokannya tercekat. Ia buru-buru menarik selimutnya semakin tinggi, matanya melebar menatap pria yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur, memancarkan pesona maskulin yang luar biasa pekat namun di saat yang sama membuat nyali Freya ciut seketika.

Victor menghentikan langkahnya saat menyadari sepasang mata bulat milik Freya sedang menatapnya dengan penuh ketakutan bercampur syok. Alis tebal pria itu terangkat sebelah. Tidak ada ekspresi terkejut di wajah Victor; sebaliknya, tatapannya justru menyiratkan ketenangan mutlak seorang predator yang sedang mengamati mangsanya di dalam kandang.

"Sudah bangun?" suara bariton Victor yang berat, serak khas bangun tidur, dan berwibawa menggelegar pelan di dalam kamar yang sunyi itu. Suara itu terasa begitu dekat dan menusuk langsung ke gendang telinga Freya.

Freya menelan ludahnya susah payah. Suaranya seolah tertahan di tenggorokan, membuatnya hanya bisa mengangguk kaku sambil meremas erat tepian selimut putih di dadanya. "A... aku..." cicit Freya nyaris tak terdengar, lidahnya terasa kelu.

Victor tidak langsung mendekat. Ia berjalan ke arah sebuah meja konsol di dekat jendela kaca besar, mengambil secangkir air mineral yang sudah disiapkan oleh pelayan hotel sebelumnya, lalu meneguknya perlahan sambil matanya terus mengunci pergerakan Freya di atas ranjang. Gerakan pria itu begitu santai, elegan, dan penuh percaya diri—khas seorang konglomerat kelas atas yang terbiasa memegang kendali atas segala hal di dunia ini.

"Jangan tegang begitu," ujar Victor dengan nada datar namun menyiratkan dominasi yang kuat. Ia meletakkan kembali gelas kosong itu ke atas meja, lalu mulai melangkah mendekati tempat tidur dengan perlahan. "Aku tidak punya kebiasaan memakan wanita yang sudah memberiku malam terbaik dalam hidupku."

Mendengar kata-kata "malam terbaik" itu, pipi Freya langsung merona merah padam hingga menjalar ke lehernya. Rasa malu dan kesal bergemuruh di dadanya. Bagaimana bisa pria ini berbicara santai dan blak-blakan sementara dirinya sedang mengalami krisis eksistensial terbesar dalam hidupnya?!

"A... apa yang kamu lakukan padaku semalam?!" seru Freya akhirnya berhasil menemukan suaranya, meski nada bicaranya terdengar bergetar hebat antara marah dan ketakutan. "Kamu... kita... kita semalam..." Freya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya karena rasa malu yang teramat sangat.

Victor berhenti tepat di sisi tempat tidur. Ia menundukkan sedikit tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata Freya dengan jarak yang sangat dekat, membuat Freya bisa mencium aroma sabun mandi mint bercampur maskulin yang menguar dari tubuh pria itu.

"Kita melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh dua orang dewasa yang sama-sama tersulut gairah di tempat yang salah pada waktu yang tepat," jawab Victor tenang, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang terlihat sangat mematikan. "Atau kamu lupa kejadian semalam? Mau kubantu *flashback* bagaimana kamu memelukku erat dan memohon agar aku tidak melepaskanmu di klub?"

Wajah Freya semakin panas terbakar. Sialnya, memori samar-samar tentang bagaimana ia menempelkan diri pada tubuh Victor semalam memang kembali terlintas di kepalanya. Jadi... benar dirinya yang menyerang duluan? Tuhan, ingin rasanya Freya menghilang saat itu juga dari muka bumi.

"Aku... aku mabuk semalam!" bela Freya dengan suara setengah berbisik, matanya berkaca-kaca menahan tangis frustrasi. "Aku tidak sadar! Aku tidak biasa pergi ke tempat seperti itu! Kalau aku tahu ini akan terjadi, aku tidak akan pernah—"

"Tapi nyatanya kamu ada di sini. Di tempat tidorku. Di bawah dekapanku semalam," potong Victor cepat dengan suara yang tiba-tiba berubah lebih tegas, menghentikan kalimat protes Freya. Pria itu menegakkan tubuhnya kembali, melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya yang bidang, menatap Freya dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Di dunia bisnis, tidak ada kata 'andai-kata' atau 'tidak sengaja'. Yang ada hanyalah konsekuensi. Dan sekarang, kamu harus menghadapi konsekuensi dari kehadiranmu di klub malam itu."

Freya mengerutkan keningnya, rasa cemas kembali mencengkeram dadanya. Apa maksud ucapan pria ini? Apakah pria ini akan melaporkannya? Atau memerasnya? Mengingat penampilan dan kemewahan kamar hotel ini, pria di hadapannya ini pastilah bukan orang sembarangan. Bisa jadi ia adalah seorang direktur kaya raya atau pengusaha kejam yang tidak punya hati.

"Apa maksudmu?" tanya Freya lirih, suaranya gemetar. "Apa yang kamu inginkan dariku? Uang? Aku tidak punya uang untuk membayar semua kemewahan ini! Kalau kamu mau mengganti rugi, aku bisa bekerja paruh waktu atau—"

"Uang?" Victor mendengus pelan, suara tawanya terdengar rendah namun bernada meremehkan. Pria itu menatap penampilan Freya yang masih meringkuk di balik selimut. "Kamu pikir aku kekurangan uang sampai harus meminta ganti rugi dari gadis yang bahkan untuk membayar tiket masuk klub saja harus meminjam uang temannya?"

Skakmat! Freya tertegun. Bagaimana pria ini tahu soal kondisi keuangannya? Apakah pria itu sudah menyelidiki latar belakangnya sejak semalam?

Victor melihat perubahan ekspresi di wajah Freya. Pria itu menghela napas pendek, lalu duduk di tepi tempat tidur secara perlahan. Beban tubuh Victor membuat sisi ranjang itu sedikit ambles ke bawah, membuat Freya secara refleks menggeser tubuhnya menjauh karena merasa terancam sekaligus terpesona oleh aura dominan yang dipancarkan pria itu.

"Dengar," kata Victor dengan nada suara yang sedikit melunak, meski ketegasannya tidak luntur sedikit pun. Ia menatap lurus manik mata Freya. "Semalem, sebelum aku membawamu ke sini, aku sempat melihat tas tanganmu yang terjatuh di lantai mobil. Aku melihat dompetmu, kartu identitasmu, dan... beberapa surat pemberitahuan tunggakan pembayaran rumah sakit atas nama ibumu, serta surat peringatan drop out dari kampus adik laki-lakimu."

Jantung Freya seolah berhenti berdetak. Seketika itu juga, air mata yang dari tadi ditahannya akhirnya tumpah juga menuruni pipi putih mulusnya. Rasa malu, hancur, dan privasinya yang dilanggar bercampur menjadi satu dalam tangisan bisu yang menyayat hati. Rahasia terbesar dan keterpurukan keluarganya yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat dari orang lain kini justru diketahui oleh pria asing yang baru ia kenal semalam lewat cara yang paling memalukan.

"Jangan... jangan mengasihaniku..." bisik Freya parau, ia menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, bahunya bergetar hebat saat isak tangisnya mulai pecah di balik selimut. "Ambil saja apa yang kamu mau dariku... hancurkan aku kalau itu maumu... tapi tolong, jangan jadikan keluargaku bahan lelucon..."

Melihat air mata Freya yang tumpah, ada sesuatu di dalam dada Victor yang mendadak bergeming. Pria dingin dan arogan itu mendapati dirinya tidak menyukai pemandangan air mata di wajah manis gadis di hadapannya. Sisi protektif yang selama ini tersembunyi rapat di balik tembok es kekuasaannya tiba-tiba terpancing keluar.

Victor bergerak cepat. Dengan tangan kokohnya, ia meraih pergelangan tangan Freya dan menariknya pelan agar menjauh dari wajahnya, memaksa gadis itu untuk menatapnya kembali.

"Hei. Lihat aku," perintah Victor lembut namun mutlak.

Freya mendongak dengan mata yang basah oleh air mata, hidungnya memerah, dan bibirnya bergetar hebat. Pemandangan itu justru membuat Freya terlihat semakin rapuh dan memikat di mata Victor.

"Aku tidak sedang menertawakanmu, Freya Zivanka," ucap Victor menyebut nama lengkap Freya dengan jelas, membuat Freya semakin tertegun. "Dan aku tidak berniat menjadikan keluargamu bahan lelucon."

Victor melepaskan pegangannya dari tangan Freya, lalu merogoh saku celana kainnya yang tergantung rapi di kursi dekat meja. Ia mengeluarkan sebuah kartu nama berwarna hitam pekat beraksen emas timbul, lalu meletakkannya dengan tenang di atas nakas sebelah tempat tidur.

Freya melirik sekilas ke arah kartu nama tersebut. Di atas kartu elegan itu terukir sebuah nama dengan tinta emas berkilau: VICTOR THORNE - CEO Thorne Group Amsterdam.

Seketika itu juga, nama tersebut berputar kencang di kepala Freya. Victor Thorne? CEO Thorne Group?! Pria paling berpengaruh, konglomerat terbesar, dan orang paling ditakuti serta disegani di seluruh penjuru kota Amsterdam kini sedang duduk di tepi tempat tidurnya, mengenakan handuk hotel, setelah menghabiskan malam panas bersamanya?!

Freya merasa dunianya seolah runtuh untuk kedua kalinya. Pria di hadapannya bukan orang sembarangan. Pria ini adalah salah satu raja bisnis di Eropa! Bagaimana mungkin ia bisa begitu ceroboh sampai tidur dengan seorang Victor Thorne?!

"Sekarang kamu tahu siapa aku," lanjut Victor dengan suara tenang, melipat kedua tangannya kembali sambil mengamati reaksi syok di wajah Freya. "Dan kamu juga tahu apa kapasitas yang aku miliki. Aku tahu semua masalah keuangan keluargamu. Ibuku yang sakit parah di rumah sakit kota, dan adikmu Steven yang terancam putus kuliah karena tunggakan biaya."

Freya menahan napasnya. "Apa... apa yang akan kamu lakukan?" tanya Freya dengan suara tercekat, takut mendengar vonis apa yang akan dijatuhkan oleh sang konglomerat.

Victor tersenyum tipis—senyuman misterius yang memancarkan aura seorang penguasa sejati. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh lembut helaian rambut hitam kecoklatan Freya yang berantakan di bantal, menyisipkannya pelan ke belakang telinga gadis itu dengan sentuhan yang jauh lebih lembut dari perkiraan Freya sebelumnya.

"Aku tidak akan menghancurkanmu, Freya. Sebaliknya... aku memberimu sebuah penawaran yang tidak akan bisa kamu tolak," bisik Victor tepat di depan telinga Freya, suaranya terdengar sangat seksi dan mengikat.

Freya mengerjap bingung, air matanya masih menggenang di pelupuk mata. "Penawaran... apa maksudmu?"

"Aku akan melunasi seluruh biaya rumah sakit ibumu, melunasi biaya kuliah adikmu sampai tuntas, dan memberikan kehidupan yang layak untuk kalian bertiga," ucap Victor tanpa ragu sedikit pun. "Sebagai gantinya... kamu harus ikut denganku. Kamu akan tinggal di tempat rahasia milikku, menjadi milikku sepenuhnya setiap kali aku menginginkanmu, dan menuruti setiap aturan yang akan kubuat nanti."

Mendengar kata-kata itu, Freya tertegun di tempatnya. Penawaran itu terdengar seperti angin surga bagi kelangsungan hidup keluarganya, namun di sisi lain, itu terdengar seperti sebuah vonis perbudakan modern atau kontrak penjualan diri di neraka.

Ia akan menjadi milik Victor Thorne sepenuhnya. Terisolasi dari dunia luar. Terikat dalam perjanjian tubuh dan jiwa.

Kamar suite hotel itu mendadak terasa begitu senyap. Di luar sana, hiruk-pikuk kota Amsterdam mulai berdenyut menyambut pagi yang sibuk, sementara di dalam kamar ini, dua jiwa yang berasal dari dua dunia yang sangat berbeda baru saja menandatangani sebuah awal dari badai asmara dan intrik terlarang yang akan mengubah takdir hidup mereka selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!