Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketabahan Hati Julian
Hujan di luar mulai mereda, menyisakan gemericik air yang menetes dari teritisan atap klinik. Suasana di dalam ruangan yang tadinya memanas akibat amarah Radhit kini berubah menjadi keheningan yang serba canggung dan menekan.
Vivian terduduk di kursi kayu ruang tunggu. Kedua tangannya meremas gaunnya sendiri, menunduk menatap lantai marmer yang masih basah oleh jejak langkah Radhit. Wajahnya pucat pasi, sementara matanya sembap dipenuhi bekas air mata yang belum mengering sempurna.
Di sudut ruangan, dr. Julian baru saja selesai menenangkan Bumi dan memintanya melanjutkan mewarnai di ruang dalam agar balita itu tak merasakan ketegangan orang tuanya.
Julian melangkah pelan mendekati Vivian. Pria itu menarik sebuah kursi, lalu duduk di hadapan Vivian dengan jarak yang amat menjaga. Ia menyodorkan segelas air hangat yang asapnya masih mengepul tipis.
"Minum dulu, Vivian," ucap Julian, suaranya mengalir begitu lembut dan tenang, bagaikan oase di tengah badai yang baru saja berlalu.
Vivian mendongak perlahan. Tangannya yang masih bergetar meraih cangkir itu, mengisap aroma hangatnya sebelum meminumnya seteguk. "Dokter... aku... aku minta maaf atas nama Mas Radhit," lirih Vivian, suaranya parau dan terbata-bata. "Dia sudah sangat keterlaluan. Tuduhan itu... sungguh tidak masuk akal."
Julian tersenyum tipis—sebuah senyuman legowo yang tidak menyimpan dendam sedikit pun. Ia menggeleng pelan.
"Kamu tidak perlu minta maaf atas tindakan orang lain, Vivian," ujar Julian seraya menatap mata wanita di hadapannya dengan penuh kehangatan. "Saya Juga paham Kok vi, Seorang pria yang berada dalam puncak penyesalan mudah terancam oleh siapa pun yang berdiri di dekat wanita dan anak yang pernah disia-siakannya."
Vivian terpaku. Jawaban Julian yang begitu dewasa justru membuat dadanya makin terasa sesak oleh rasa bersalah.
"Tapi dia tidak berhak melabrak Dokter seperti tadi! Dokter itu orang yang menyelamatkan hidupku dan Bumi. Tanpa Dokter, kami mungkin sudah mati di puskesmas kecil waktu itu..." Air mata Vivian kembali menggenang di pelupuk matanya.
Julian menarik napas dalam-dalam, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Vivian. Ada kesungguhan dan ketulusan murni yang terpancar dari tatapan pria berjas putih itu.
"Vivian," panggil Julian lembut. "Boleh aku bertanya satu hal jujur padamu?"
Vivian menelan ludah, mengangguk pelan. "Apa, Dok?"
"Kejadian tadi... apakah emosimu meluap pura-pura marah karena membela diriku, atau karena kamu sedih melihat Pak Radhit yang makin tenggelam dalam kebodohan dan rasa bersalahnya?"
JLEB.
Pertanyaan itu memukul ulu hati Vivian begitu dalam. Bibir Vivian terkatung, tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Jemarinya kian erat mencengkeram cangkir di tangannya.
Julian menatap respons ketakutan dan kebingungan di wajah Vivian dengan rasa iba yang amat mendalam. Ia menjangkau jemari Vivian, menepuknya pelan seraya meneruskan kalimatnya dengan sangat bijaksana.
"Selama dua tahun kita bersama di desa pesisir ini, aku selalu berusaha berada di sisimu, Vi," tutur Julian halus. "Aku menyayangimu, dan aku mencintai Bumi seperti darah dagingku sendiri. Tapi aku tahu... di dalam sudut hatimu yang paling dalam, ada sebuah ruang yang belum sepenuhnya selesai dengan masa lalumu."
"Dokter... tidak, aku sudah tidak punya rasa apa-apa lagi sama Mas Radhit," potong Vivian cepat, seolah panik menolak kenyataan itu. "Aku benci dia. Aku takut sama dia."
"Ada beda yang sangat besar antara benci karena sudah tidak peduli, dengan benci karena hatimu masih terluka hebat oleh orang yang pernah sangat kamu harapkan, Vivian," balas Julian tenang, tanpa ada nada cemburu atau amarah.
Julian menarik tangannya kembali, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Pak Radhit memang pernah menjadi iblis dalam hidupmu. Tapi apa yang dia lakukan belakangan ini berlutut meminta maaf, mengalihkan harta demi kamu dan Bumi, bahkan mempertaruhkan nyawanya menembus kobaran api demi menyelamatkan Bumi... itu adalah tindakan seorang pria yang benar-benar telah menghancurkan egonya sendiri."
Vivian memalingkan wajahnya ke samping, tak sanggup menahan kebenaran dari kata-kata Julian. Lelehan air mata kembali jatuh membasahi pipinya. Bayangan Radhit yang bersimbah darah mendekap Bumi di tengah api puskesmas kembali berputar hebat di ingatan Vivian.
"Aku tidak memintamu memaafkan dia seketika, Vivian," lanjut Julian dengan senyum ketulusan yang luar biasa. "Dan aku juga tidak akan pernah meninggalkanmu atau Bumi. Tapi aku ingin kamu jujur pada dirimu sendiri. Jangan melangkah denganku hanya karena rasa utang budi atau rasa aman, sementara jiwamu masih terikat pada proses penebusan dosa pria itu."
"Dokter Julian..." bisik Vivian terharu, tak menyangka ada pria sekeren dan se-legowo Julian yang mau mengedepankan kedamaian batinnya dibanding perasaan pribadi.
"Istirahatlah," puji Julian seraya berdiri. "Aku yang akan mengantar kamu dan Bumi pulang malam ini. Apapun keputusan hatimu di masa depan, aku akan selalu menjadi tempat bersandar yang aman untukmu dan Bumi."
Vivian menatap punggung Julian yang berjalan pelan menuju ruang dalam untuk memanggil Bumi. Hatinya diliputi rasa haru yang membuncah, namun di saat yang sama... ada ketegangan batin baru yang merayap di jiwanya.
Satu jam kemudian, mobil Julian mengantar Vivian dan Bumi sampai di depan halaman rumah panggung mereka.
Saat Vivian melangkah keluar dari mobil sambil menggendong Bumi yang tertidur pulas, matanya tak sengaja menatap ke arah rumah kayu kecil di seberang jalan rumah kontrakan sementara yang disewa Radhit.
Lampu teras rumah kayu itu padam. Namun di bawah kegelapan malam dan rintik hujan yang belum mereda, sosok Radhit tampak duduk sendirian di atas tangga kayu tanpa payung. Tubuhnya yang basah kuyup memeluk kedua lututnya, kepalanya tertunduk dalam-dalam dengan bahu yang berguncang pelan.
Pria kaya raya yang dulu menguasai gedung-gedung bertingkat itu... kini seperti gelandangan yang kehilangan arah hidup, membiarkan dirinya kedinginan demi menjaga wanita dan anaknya dari jauh.
DEG.
Dada Vivian mendadak berdenyut nyeri melihat pemandangan itu. Saat ia hendak melangkah masuk ke rumahnya, ponsel di dalam tas Vivian bergetar pendek. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor Radhit:
"Maafkan saya untuk kekacauan di klinik tadi, Vivian. Saya tidak akan mengganggu kamu lagi. Besok pagi saya akan kembali ke kota untuk menyelesaikan sidang ibu tiri saya dan memastikan hak kamu serta Bumi aman. Jaga diri kamu baik-baik..."
Vivian menghentikan langkahnya di ambang pintu, menatap layar ponsel dan sosok Radhit di seberang jalan bergantian. Apakah ini akhir dari pengejaran Radhit, ataukah justru awal dari bahaya baru yang menunggunya di persidangan kota?
Bagaimana yaa sidangnyaa apakah Radhit dijebloskan ke penjara Atas tuduhan sekertarisnyaa?
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian