Alya adalah perawat muda paling berdedikasi di rumah sakit terbesar di negeri ini, RS Prawira Husada. Namun diam-diam pemilik sekaligus dokter Rumah Sakit tersebut, dr. Raze, telah mengawasi setiap langkahnya selama dua tahun terakhir. Promosi yang ia dapatkan secara tiba-tiba, apartemen "murah" yang kebetulan aman, bahkan tunangannya sendiri, semua sudah diatur, disingkirkan, atau dipertahankan sesuai kehendak Raze. Saat pertunangan Alya diumumkan, topeng dr. Raze runtuh. Dalam semalam, Alya "hilang" dari hidupnya sendiri. Dikurung di rumah yang megah, dipaksa menikah, dan dipaksa mengerti bahwa cinta pria ini tak pernah tahu batas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nvlin888, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kartu Pos dari Orang yang Dianggap Hilang
Alya baru tidur dua jam ketika alarm ponselnya berbunyi, dan begitu membuka mata, dia mendapati Raze sudah berdiri di ambang pintu kamar tamu dengan secangkir teh jahe di tangan, kemejanya sudah rapi seolah semalam tidak pernah ada kotak arsip dan air mata di lantai ruang tengah.
"Kamu nggak tidur sama sekali," Alya berkata, suaranya serak, menyibak selimut.
"Aku tidur satu jam di sofa, dan itu cukup." Raze duduk di tepi kasur, menyodorkan cangkir itu, dan menunggu sampai Alya meminum seteguk sebelum melanjutkan dengan nada yang sudah sangat Alya kenal, rendah dan datar dan tidak menyisakan ruang untuk tawar-menawar. "Hari ini kamu masuk shift siang, bukan pagi. Aku sudah menghubungi Ratna."
"Raze, kamu nggak bisa seenaknya ngatur jadwalku."
"Aku tidak mengatur," katanya, lalu menyentuh pipinya dengan punggung jari, pelan, seolah memeriksa suhu. "Aku memastikan kamu tidur satu jam lagi. Kantung matamu hampir sama gelapnya dengan milikku. Jangan membantahku pagi ini, Alya. Kumohon."
Kata terakhir itu yang membuat Alya menyerah. Dia jarang mendengar Raze memakai kata kumohon, dan setiap kali itu terjadi, nada memerintahnya selalu retak sedikit di ujung, memperlihatkan seseorang yang sebenarnya hanya takut kehilangan. Alya meraih tangannya, menariknya ke bawah selimut, dan Raze, setelah ragu sedetik, berbaring di sampingnya dengan sepatu masih terpasang, satu lengannya melingkar di bahu Alya, dagunya bertumpu di puncak kepalanya.
"Satu jam," Alya bergumam di dadanya. "Terus kamu ikut ke rumah sakit."
"Aku memang ke sana," Raze berbisik, dan Alya merasakan senyum kecilnya di rambutnya. "Aku punya pasien jam sebelas. Dan aku punya seorang suster senior yang perlu kuajak bicara."
Lorong lantai tiga siang itu masih berbau antiseptik dan sup hangat dari troli makan, dan Alya baru saja menyapa Pak Handoko yang kontrol rutin, ketika bel pasien di kamar 306 berbunyi. Dia menghitung tanpa sadar, satu, dua, tiga, dan baru sampai hitungan kelima ketika Tia sudah menyambar lebih dulu, berlari kecil sambil menggerutu soal sepatunya yang berdecit.
"Tujuh detik, tujuh detik," Tia bergumam sambil melesat melewatinya. "Aku masih trauma sama aturan itu, Kak."
"Itu aturan nggak tertulis, Ti. Nggak ada yang bakal nyalahin kamu," Alya tertawa.
"Katanya yang bikin aturan itu sekarang calon suami Kakak," Tia menyahut, menoleh sambil mengedip jahil. "Jadi aku harus ekstra waspada. Siapa tau Kakak bisikin laporan."
Alya melempar gumpalan kapas ke arahnya, dan di tengah tawa ringan itu, dia melihat Suster Ratna keluar dari ruang obat dengan map di dada, wajahnya lebih serius dari biasanya. Tatapan mereka bertemu, dan Ratna hanya mengangguk kecil, isyarat yang sudah Alya pahami: nanti, di tempat sepi.
Sebelum pertemuan itu, Raze menarik Alya ke ruang kerjanya di lantai dua puluh dua dengan alasan "ada berkas yang harus ditandatangani", dan begitu pintu tertutup, dia mengunci dari dalam, lalu berbalik dengan wajah yang sudah jauh berbeda dari wajah dr. Raze di lorong tadi.
"Duduk," katanya, menunjuk sofa kecil di sudut ruangan. "Lepas sepatumu."
"Raze, aku masih harus—"
"Lepas." Dia berlutut di depannya, melepas sepatu putih itu sendiri, lalu memijat telapak kakinya dengan kedua ibu jari, pelan tapi pasti, persis seperti cara dia memeriksa pasien pascaoperasi. Alya tersentak kecil, setengah tertawa, setengah mengerang lega. "Empat belas jam kamu berdiri kemarin. Aku menghitungnya. Jangan bilang kamu nggak capek."
"Kamu nggak boleh ngitungin jam kerjaku," Alya protes lemah, tapi kepalanya sudah bersandar ke sandaran sofa, matanya terpejam.
"Aku akan menghitung semua hal tentangmu," katanya, tanpa nada bercanda, "dan kau tidak akan pernah berhasil menghentikanku. Itu bagian dari paket." Dia mencium lututnya sekilas, lalu punggung kakinya, lalu mendongak, matanya gelap dan terlalu serius untuk seseorang yang sedang memijat kaki. "Makan siangmu ada di meja. Habiskan semuanya. Aku tidak akan membiarkanmu pingsan di depan Ratna."
Alya membuka mata, menatap kotak makan yang tertata rapi dengan sendok dan serbet terlipat, lalu menatap pria yang berlutut di depannya itu, dokter bedah paling ditakuti di rumah sakitnya sendiri, yang diam-diam menghafal berapa jam dia berdiri. Dia menunduk, mencium dahinya lama, dan Raze memejamkan mata menerima ciuman itu seperti sesuatu yang tidak pernah dia anggap berhak dia terima.
"Kamu posesif," Alya berbisik di kulit keningnya.
"Sangat," Raze mengakui. "Tapi kau sudah tahu itu sejak malam di mobil, dan kau tetap di sini."
"Aku tetap di sini," Alya membenarkan, dan menariknya naik ke sofa di sampingnya, membiarkannya merebahkan kepala di bahunya selama sepuluh menit yang tidak mereka sebutkan kepada siapa pun.
Mereka bertemu di gudang farmasi, tempat yang sama seperti dulu, dan kali ini Raze sudah berdiri di sana, bersandar di rak obat dengan jas dokternya, tangan di saku. Ratna menutup pintu di belakang mereka dengan pelan, menatap keduanya bergantian, lalu menghela napas panjang yang terdengar seperti pintu tua yang akhirnya dibuka.
"Dokter sudah cerita ke Ibu lewat telepon tadi pagi," katanya. "Soal surat pengunduran diri Sarah yang dipalsukan."
"Saya perlu tahu apa pun yang Ibu ingat," Raze berkata, dan Alya menyadari dia memakai nada yang berbeda dari biasa, tanpa gelar, tanpa perintah, hanya permohonan yang disamarkan sebagai pertanyaan. "Sepuluh tahun saya menyalahkan diri saya karena dia pergi. Saya baru tahu semalam dia mungkin tidak pernah pergi dengan kemauannya sendiri."
Ratna tidak menjawab langsung. Dia meraba saku seragamnya, mengeluarkan sebuah dompet kecil lusuh, dan dari lipatan paling dalam, selembar kartu pos tua yang sudutnya sudah melengkung dan tintanya memudar jadi cokelat.
"Delapan tahun lalu," katanya pelan, "Ibu terima ini. Nggak ada nama pengirim. Cuma gambar sawah bertingkat di depannya. Ibu nggak pernah cerita ke siapa pun, bahkan ke Dokter, karena di baliknya Sarah nulis sesuatu yang bikin Ibu takut."
Alya menerima kartu itu dengan dua tangan, karena Raze tidak bergerak, matanya terpaku pada tulisan tangan di sisi belakang, tulisan miring yang rapi dengan huruf terakhir selalu ditutup lingkaran kecil.
Bu Ratna, aku baik-baik saja. Jangan cari aku, dan kalau ada yang tanya, bilang kamu nggak pernah dengar kabar apa pun. Mereka membuka surat-surat. Aku menulis ini dari tempat yang tidak punya nama di peta. Titip salam untuk dr. R., bilang aku tidak pernah marah. — S.
Di bawahnya, dengan tinta yang lebih tipis, seolah ditambahkan terburu-buru, Klinik di kaki bukit. Aku merawat orang-orang yang tidak boleh punya nama.
Alya membaca kalimat itu dua kali, dan baru ketika matanya naik, dia sadar tangan Raze sudah menutup mulutnya sendiri, bahunya bergetar tanpa suara. Ratna melangkah mendekat, menyentuh lengannya dengan canggung yang tulus, tangan seorang ibu yang tidak terbiasa menghibur seorang dokter paling berkuasa di gedung itu.
"Dia nulis soal Dokter," Ratna berkata lirih. "Dia bilang nggak marah. Ibu simpan karena itu, Nak. Ibu pikir suatu hari Dokter bakal butuh denger kalimat itu."
Raze tidak sanggup menjawab. Alya menarik pergelangan tangannya, memutarnya menghadap dirinya, lalu tanpa memedulikan Ratna yang ada di ruangan, memeluknya erat, kedua tangan di punggungnya, wajahnya menempel di dadanya. Dia merasakan Raze akhirnya roboh pelan ke dalam pelukan itu, dagunya jatuh di bahunya, napasnya patah-patah di lehernya, dan Alya mengusap rambut belakangnya dengan gerakan yang sama seperti semalam, lambat, berulang, tidak menuntut apa pun.
"Dia hidup," Raze berbisik akhirnya, suaranya pecah. "Delapan tahun lalu, dia masih hidup."
"Dan dia nggak marah," Alya menjawab, hanya untuk telinganya. "Kamu bukan alasan dia pergi, Raze."
Ratna berpura-pura sibuk menghitung stok paracetamol di rak paling jauh, memberi mereka ruang, meski bahunya sendiri juga naik-turun diam-diam.
Sepulang shift, Damar sudah menunggu di lobi dengan tablet di tangan, dan begitu mereka bertiga masuk ke mobil, dia langsung membentangkan peta di layar, titik merah berkedip di sebuah wilayah pegunungan yang namanya hampir tidak ada di peta digital mana pun.
"Sawah bertingkat di kartu pos itu cocok dengan satu kecamatan di lereng barat," Damar melaporkan. "Ada satu klinik kecil di sana, terdaftar atas yayasan sosial tanpa nama dokter. Saya sudah coba menghubungi lewat dua jalur, tapi ada kejanggalan."
"Apa?" Raze bertanya tajam.
"Dua minggu lalu, ada kunjungan dari tiga orang yang menyebut diri dari dinas kesehatan provinsi. Warga bilang mereka tidak membawa surat tugas, hanya bertanya soal dokter perempuan yang sudah lama tinggal di sana." Damar menurunkan suaranya. "Dua minggu lalu, Pak. Persis waktu yang sama saat anak Pak Hartono melihat orang bertanya-tanya soal keluarga Rani."
Alya merasakan dingin menjalari tengkuknya. Seseorang bergerak di dua tempat berbeda dalam waktu yang sama, mencari dua orang yang sama-sama dulu "hilang" dari jalan cerita keluarga mereka. Raze menggenggam tangannya di atas jok, erat, jemarinya dingin.
"Kita berangkat Sabtu," katanya. "Kau ikut, Alya. Aku tidak akan membiarkanmu di sini sementara aku mengejar Sarah ke gunung."
"Aku memang nggak berniat ketinggalan," Alya menjawab, dan dia menyandarkan kepala di bahunya, memejamkan mata, mendengarkan detak jantung yang akhirnya terdengar sedikit lebih tenang.
Malam itu di apartemen Rani, aroma bawang putih tumis memenuhi dapur, dan Rani menyambut mereka dengan sendok kayu di tangan, celemek bergambar ikan di pinggang. Dia berhenti mengaduk begitu melihat kartu pos yang dibawa Alya, membaca bagian belakangnya dengan alis berkerut, lalu menyerahkannya balik tanpa komentar selama hampir semenit penuh.
"Jadi perempuan ini yang bikin dokter kita nangis di gudang obat," katanya akhirnya, blak-blakan, dan Raze mengangkat satu alis tanpa membantah.
"Dari mana kamu tahu soal itu?" Alya bertanya.
"Tia kirim pesan ke aku jam tiga sore. Gosip rumah sakit cepet banget, Dek." Rani menyesap kuah di sendoknya, lalu menunjuk Raze dengan sendok yang sama. "Aku ikut Sabtu."
"Tidak," Raze menjawab seketika.
"Kamu nggak ngerti, ya," Rani meletakkan sendoknya, melipat tangan di depan dada. "Dua minggu lalu orang nanyain aku di pelabuhan. Aku nggak mau ditinggal sendirian di apartemen sementara kalian naik gunung ngejar orang yang nyimpen rahasia yang sama kayak rahasia kita. Itu cerita aku juga."
"Itu terlalu berbahaya—"
"Raze," Alya menyela pelan, menyentuh lengannya. "Mbak Rani bener. Kalau kita tinggalin dia, dia lebih nggak aman. Dan kita udah janji nggak ada keputusan sepihak, inget?"
Raze menatap Alya lama, lalu Rani, lalu menghela napas kalah. "Kau tahu kenapa aku memang tidak pernah menang melawan kalian berdua," katanya datar. "Kalian punya cara berdebat yang sama persis. Dengan satu syarat: Damar dan dua orangnya ikut, dan kalian berdua tidak boleh berjalan lebih dari lima meter dariku."
"Lima meter," Rani mengulang, nyengir. "Dia bahkan nawar kayak orang jualan, Dek."
"Itu cara dia bilang sayang," Alya menjawab sambil tertawa, dan untuk beberapa menit dapur itu dipenuhi tawa dua kembar yang saling menyenggol siku, sementara Raze berdiri di antara mereka dengan wajah yang berusaha tetap datar, dan gagal.
Menjelang pamit, di depan pintu apartemen yang separuh terbuka, Raze menahan tangan Alya sebentar. Rani sudah kembali sibuk di dapur, bersenandung pelan, dan lorong itu hanya diterangi lampu kuning yang membuat bayangan mereka menyatu di dinding.
"Terima kasih sudah menarikku dari gudang tadi," Raze berkata rendah, ibu jarinya menelusuri cincin di jari manis Alya. "Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau kau tidak ada di sana."
"Kamu bakal nangis sendirian di balik rak obat," Alya menjawab, tersenyum kecil, lalu berjinjit dan mengecup sudut bibirnya, singkat dan hangat. "Dan Bu Ratna bakal pura-pura nggak liat, sambil nangis juga."
Raze tertawa, benar-benar tertawa, suara pendek yang jarang sekali Alya dengar, dan dia menarik Alya ke dalam pelukan erat di lorong sempit itu, wajahnya terbenam di rambutnya sebentar. "Sabtu," bisiknya. "Setelah Sabtu, apa pun yang kita temukan, aku ingin kau tahu bahwa aku tidak akan menyuruhmu berhenti lagi."
Menjelang tengah malam, buku bersampul kulit hitam itu terbuka, tulisannya miring dan tergesa, tidak serapi biasanya.
Delapan tahun lalu, dia masih hidup. Dia menulis bahwa dia tidak pernah marah. Aku menyimpan kalimat itu di dada seperti seseorang menyimpan air di tengah gurun yang sudah terlalu lama.
Seseorang mencari Sarah di gunung, dan seseorang mencari Rani di pelabuhan, pada minggu yang sama. Itu bukan kebetulan. Itu orang yang sabar, yang membuka satu pintu demi satu pintu, dan menunggu kami datang ke pintu terakhirnya.
Aku pernah mengancam keluarga Bayu demi menyingkirkan penghalang. Malam ini aku sadar, ada orang yang melakukan hal yang sama padaku, dengan kesabaran yang jauh lebih tenang. Aku tidak suka rasanya berada di sisi itu. Mungkin itu pelajaran yang harus kupelajari, dengan harga yang terlalu mahal.
❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜❤︎ꔛ❜