Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 — “JANGAN CERAMAHI AKU”
Jarum jam digital di dasbor mobil city car milik Aurel menunjukkan pukul 23.40 WIB.
Di luar, jalan raya arteri yang menghubungkan pusat kota Arunika dengan kawasan Arunika Timur membentang lengang. Sisa-sisa air hujan malam menyantap ubin aspal, memantulkan pendar lampu jalan berwarna kuning suram.
Di dalam mobil, musik pop indie mengalun rendah dari pengeras suara, namun tak cukup mampu menenangkan detak jantung Aurel yang gelisah.
Semuanya bermula dari perayaan kecil kelulusan ujian seminar proposal milik Dito sore tadi. Berawal dari niat mengobrol sebentar di kafe biasa, acara berlanjut ke makan malam bersama anak-anak himpunan mahasiswa. Aurel yang merindukan atmosfer kebebasan kehidupan kampusnya larut dalam gelak tawa, sampai-sampai ia tidak menyadari ponselnya kehabisan daya sejak pukul delapan malam.
Baru ketika ia menyalakan ponselnya kembali di dalam mobil dengan pengisi daya darurat, rentetan notifikasi masuk bertubi-tubi.
Tiga panggilan tak terjawab dari Maya, lima dari Salma, dan dua belas panggilan tak terjawab dari satu nama: Rasyid.
Sebuah pesan singkat dari Rasyid masuk pada pukul 21.30 WIB:
Aurel, kamu di mana? Posisi di jalan atau masih di kampus? Tolong kabari kalau sudah mau pulang.
Dan pesan terakhir pada pukul 23.00 WIB:
Ponselmu tidak aktif. Saya tunggu di rumah.
Aurel menggigit bibir bawahnya erat-erat seraya mencengkeram lingkar kemudi. Rasa bersalah sempat mengelus dadanya, namun seketika berganti dengan benteng pertahanan diri yang meninggi.
“Aku kan bukan anak kecil lagi. Aku cuma nongkrong sama temen-temen kampusku,” batin Aurel membenarkan diri, berusaha keras menutupi rasa cemasnya sendiri.
Gerbang besi Pesantren Al-Faruqi telah terkunci rapat saat mobil Aurel tiba. Pak Slamet, penjaga malam pesantren yang sudah sepuh, terburu-buru keluar dari pos ronda dengan senter di tangan untuk membukakan gembok gerbang.
"Nyuwun sewu, Mbak Aurel... Mas Rasyid dari tadi nungguin di teras depan," ujar Pak Slamet dengan intonasi sopan seraya menunduk pelan ketika mobil Aurel lewat.
Aurel hanya mengangguk kaku seraya memarkirkan mobilnya di halaman samping rumah keluarga Faruqi.
Kawasan pesantren sudah benar-benar lelap dalam kesunyian malam. Suara jangkrik dari arah kebun kelapa sawit berdengung nyaring, berpadu dengan hembusan angin malam yang menusuk tulang.
Aurel melangkah menuju pintu samping rumah. Rumah utama sudah gelap gulita, hanya lampu jalan taman dan lampu temaram di lorong lantai dua yang menyala.
Aurel memutar gagang pintu pelan-pelan, berusaha tidak menimbulkan suara seretan kayu yang bising. Namun tepat saat ia melangkah masuk ke ruang keluarga lantai dasar, sebuah bayangan tegap duduk di atas kursi kayu dekat meja sudut.
Lampu meja dinyalakan dengan satu klikan lembut.
Pendar cahaya kuning menerangi sosok Muhammad Rasyid Al-Faruqi.
Pria itu mengenakan baju koko bahan katun warna abu-abu gelap tanpa peci. Rambut hitamnya sedikit berantakan, dan wajah tegasnya tampak pucat. Di bawah matanya yang jernih, ada lingkaran hitam tipis menandakan rasa lelah yang menguras energi. Di atas meja di depannya, tergeletak sebuah mushaf Al-Qur'an kecil yang baru saja ditutup dan sebuah cangkir teh yang sudah mendingin.
Rasyid mendongak. Matanya menatap Aurel yang berdiri kaku di dekat pintu.
Keheningan melayang berat di udara malam selama beberapa detik yang menyiksa.
"Jam berapa sekarang, Aurel?" tanya Rasyid. Suaranya tidak tinggi, tidak ada nada bentakan, namun intonasinya begitu dingin, dalam, dan berbobot—sebuah nada yang belum pernah Aurel dengar sebelumnya dari pria itu.
Aurel membetulkan letak tas cangklongnya, mencoba bersikap santai meski dadanya berdegup kencang. "Jam sepuluh lewat dikit... eh, jam sebelas lewat."
"Hampir jam dua belas malam," koreksi Rasyid pelan. Ia berdiri dari kursinya, melangkah dua tindak mendekati Aurel. "Ponselmu mati sejak jam delapan. Kamu tidak memberi kabar sama sekali."
"Baterai ponselku habis, Rasyid!" sahut Aurel defensif. "Lagian aku kan cuma makan malam sama Dito, Maya, dan temen-temen himpunan lain! Kita merayain proposalnya Dito yang acc!"
Rasyid menatap Aurel lurus-lurus. Sorot matanya memancarkan kekecewaan yang sangat dalam, bukan amarah yang meledak-ledak.
"Baterai ponsel habis bukan alasan untuk menghilang selama empat jam tanpa berita, Aurel," tegas Rasyid. "Di jalan tadi banyak teman-temanmu yang bisa kamu pinjam ponselnya hanya untuk mengirim satu baris pesan singkat: 'Rasyid, aku pulang agak malam.' Apa itu sangat sulit?"
"Aku lupa, oke?!" Aurel memotong kencang, suaranya meninggi di ruang tengah yang sepi. amarah yang ia tumpuk sejak di jalan kini meletup keluar. "Kenapa sih kamu harus sebesar ini mempermasalahkan jam pulangku?! Aku udah biasa pulang jam segini kalau ada acara kampus! Jangan samain aku sama santri-santrimu di sini yang jam delapan malam udah dikunci di dalam kamar!"
Rasyid terdiam sejenak. Pria itu memejamkan matanya, menghela napas panjang seraya memijat pangkal hidungnya untuk mengendalikan emosi yang mulai membumbung di dadanya.
Ketika Rasyid membuka matanya kembali, pandangannya terkunci rapat pada Aurel.
"Ini bukan soal santri, dan bukan soal aturan pesantren, Aurel," kata Rasyid dengan nada yang teramat tenang namun tajam menembus dada. "Ini soal rasa cemas."
Aurel tertahan.
"Saya menunggumu di sini sejak jam sembilan malam," lanjut Rasyid, suaranya bergetar tipis oleh emosi yang tertahan rapat. "Jalanan kota ke pesantren ini sepi dan rawan di malam hari. Ponselmu tidak bisa dihubungi. Saya menghubungi Maya, dia bilang kamu sudah jalan pulang sejak jam sepuluh. Satu jam saya berdiri di teras depan, membayangkan hal-hal buruk apa yang mungkin terjadi pada istri saya di jalan raya!"
Kata istri saya diucapkan Rasyid dengan penekanan yang begitu nyata.
Aurel tertegun. Benteng amarahnya mendadak terguncang oleh kenyataan di depan matanya. Pria di depannya ini tidak sedang marah karena otoritasnya dilanggar. Pria ini cemas half mati karena mengkhawatirkan keselamatannya.
Namun rasa gengsi dan luka masa lalu Aurel terhadap figur otoritas pria—terutama ayahnya—membuatnya menolak untuk mengalah begitu saja.
"Kamu nggak usah berlebihan!" sergah Aurel, suaranya agak bergetar. "Aku udah dewasa, Rasyid! Aku bisa jaga diriku sendiri! Kamu nggak usah sok mengatur hidupku dan ceramahi aku kayak Ayah! Kita kan udah janji di Bab kemarin... kamu nggak akan ikut campur berlebihan sama kehidupan sosialku!"
Rasyid menatap Aurel dengan pandangan yang membuat Aurel merasa begitu kecil.
"Kesepakatan kita di kamar pekan lalu," ujar Rasyid pelan, "adalah kamu bebas berkegiatan dan bertemu teman-temanmu, asal kamu mengabari saya agar saya tidak cemas. Kamu sendiri yang menyetujui poin itu, Aurel."
Aurel mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Lidahnya mendadak kaku.
Rasyid benar. Poin itu adalah kesepakatan yang dibuat di kamar mereka. Dan dialah yang pertama kali melanggarnya malam ini.
"Saya tidak sedang menceramahimu," tambah Rasyid seraya menundukkan kepalanya sedikit. Suaranya kembali memelan, namun menyisakan luka yang kentara. "Saya juga tidak pernah berniat menjadi Pak Hamdan yang mengekangmu. Tapi jika satu bentuk rasa khawatir seorang suami kamu anggap sebagai ceramah yang mengekang... maka maafkan saya karena sudah terlalu peduli."
Kalimat itu terucap dengan begitu jujur, tanpa bentakan, namun efeknya seperti dentuman keras yang menampar kesadaran Aurel.
Rasyid melangkah mundur satu tindak. Pria itu meraih mushaf kecil di atas meja, lalu berjalan melintasi Aurel menuju arah tangga lantai atas.
"Bersihkan dirimu dan istirahatlah," kata Rasyid tanpa menoleh lagi saat ia mulai menaiki anak tangga kayu. "Saya tidur di ruang baca bawah malam ini."
"Rasyid..." panggil Aurel refleks. Suaranya kecil dan tertahan di tenggorokan.
Langkah kaki Rasyid tidak berhenti. Pria itu terus melangkah ke atas untuk mengambil bantalnya, meninggalkan Aurel sendirian di tengah ruang keluarga yang temaram dan dingin.
Pukul 01.15 WIB.
Kamar tidur di lantai dua terasa amat luas dan sangat sepi.
Aurel telah berganti pakaian dengan piyama kain abu-abu. Ia duduk bersandar di kepala tempat tidur, menatap sofa kosong di sudut ruangan yang malam ini tidak bertuan.
Tidak ada suara napas teratur Rasyid dari arah sofa. Tidak ada pendar lampu tidur bernuansa kuning yang biasanya menenangkan. Yang ada hanya suara detak jarum jam dinding yang terasa seperti ketukan rasa bersalah di dalam dadanya.
Aurel meremas selimutnya.
Bayangan raut wajah Rasyid saat berdiri di ruang tengah tadi terus berputar di kepalanya. Mata cokelat gelap yang biasanya dipenuhi ketenangan dan kehangatan itu malam ini menyisakan kekecewaan yang sunyi. Rasyid tidak membentaknya, tidak menyebut nama Tuhan untuk memojokkannya, dan tidak menggunakan statusnya sebagai suami untuk memaksa Aurel tunduk.
Pria itu hanya mengekspresikan kekhawatirannya secara jujur... dan Aurel justru membalasnya dengan tuduhan yang kejam.
“Maafkan saya karena sudah terlalu peduli.”
Kalimat Rasyid berkumandang kembali, membuat dada Aurel terasa sesak dan sempit.
Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di tempat ini, Aurel menyadari satu hal yang menakutkan: ia tidak lagi takut pada kungkungan pesantren atau amarah ayahnya. Yang paling ia takuti malam ini... adalah kenyataan bahwa ia baru saja melukai perasaan seorang pria yang tulus mengkhawatirkannya.
Aurel mematikan lampu nakas di sampingnya, lalu merebahkan tubuhnya seraya menatap langit-langit kamar yang gelap. Malam itu, kebebasan yang selalu ia agung-agungkan terasa begitu hambar dan dingin.