NovelToon NovelToon
Terlarang, dengan Sengaja

Terlarang, dengan Sengaja

Status: tamat
Genre:Konflik etika / Cinta Terlarang / Dark Romance / Tamat
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Ophelia Blaire

Satu foto. Terkirim ke orang yang salah. Dengan sengaja.

Kirana Adiwijaya punya satu rahasia yang ia jaga rapat-rapat: ia berpacaran dengan Bram Kusuma, dan tak seorang pun di keluarganya boleh tahu. Tapi malam itu, sebuah pesan panas yang ia niatkan untuk sang kekasih justru mendarat di layar ponsel pria yang paling tak boleh ia sentuh—Krisna Kusuma. Kakak Bram. Tunangan kakaknya sendiri.

Krisna tak membalas. Ia hanya menyimpannya. Dan sejak saat itu, garis antara "terlarang" dan "menginginkan" mulai kabur.

Krisna dingin, penuh perhitungan, terbiasa memiliki apa pun yang ia mau. Kirana pandai berpura-pura polos, padahal setiap langkahnya sudah ia rencanakan. Di antara pesta keluarga, ruang kerja bertirai kaca, dan perjalanan mewah yang jauh dari mata orang, keduanya memainkan permainan berbahaya yang tak boleh ketahuan siapa pun—terutama oleh dua orang yang paling mereka khianati.

Tapi rahasia punya harga. Dan ketika kebenaran mulai retak satu per satu—tentang masa lalu Kirana yang ia kubur dalam-dalam, tentang alasan sesungguhnya semua ini bermula—pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan tertangkap.

Melainkan: seberapa jauh keduanya rela jatuh, saat menyadari bahwa yang paling terlarang justru adalah yang paling mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ophelia Blaire, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter-007

Bab 7: Lakukan Sekali Lagi

"Tiga syarat," kata Kirana.

Krisna mengangkat wajah dari halaman itu.

"Kamu tak menyentuhku. Aku sendiri yang memegang ponselnya. Setelah kupastikan semuanya sudah lenyap, kita berdua tak akan pernah menyinggung ini lagi."

"Setuju."

"Cuma begitu?" tanyanya, heran betapa cepat Krisna menyetujuinya.

"Kamu berharap aku menawar?"

Tidak. Ia berharap Krisna memberinya alasan yang lebih bersih untuk pergi.

Krisna meletakkan ponsel di sebelah papan ketik dan bersandar. Ia tampak bersedia menunggu.

Kirana memasukkan perekam dan catatannya ke dalam tas. Ia sengaja lebih lama dari yang perlu, memeriksa tutup penanya sebelum menutup ritsleting.

Ia menuju pintu dan memutar kuncinya. Lalu ia berjalan mengitari meja dan duduk di tepinya, cukup dekat untuk meraih ponsel pria itu.

Roknya tersingkap naik. Pandangan Krisna langsung jatuh.

"Berbaliklah," katanya.

"Tidak."

"Aku tak bisa melakukan ini kalau kamu memelototiku."

"Menonton itulah intinya."

Setidaknya Kirana masih bisa membantahnya. Itu membantunya berhenti gemetar.

Kirana meluruskan kakinya yang tadinya bersilang, mengamati pria itu yang mengamatinya.

Ia menemukan pinggang stokingnya dan menariknya. Nilon itu meregang, melawan, lalu robek di bawah jarinya dengan bunyi kecil yang cabul.

Rahang Krisna menegang sekali.

Kirana menyadarinya. Jadi pria itu tak sedatar yang ia perlihatkan.

Kirana menyelipkan jari ke balik kain yang robek.

Celana dalamnya sudah basah.

Ia bahkan belum mulai. Kain katun itu melekat padanya, tipis dan basah, dan ia berharap Krisna tak menyadarinya. Ketika ia menyingkapnya, udara kantor yang sejuk menyentuh lipatan licin kewanitaannya.

Tangan Krisna mengeratkan cengkeraman pada pena.

Ia menyuruh dirinya menuntaskannya saja. Tiga menit dengan ponsel setelahnya, lalu ia bisa pergi.

Ia terpikir jubah dan kamera itu, lalu wajah Krisna di teras. Ia sudah memikirkan pria itu bahkan sebelum mengirim foto tadi. Ia berharap Krisna tak bisa menebaknya.

Jarinya berhenti.

"Teruskan," kata Krisna.

Mata Kirana langsung beralih ke mata pria itu.

"Kamu tak berhak mengaturku."

"Aku sedang menunggumu."

Ia melotot ke arah Krisna lalu mencoba lagi. Ditemukannya kelentitnya dan ditekannya lebih keras. Napasnya kehilangan irama.

Krisna terus mengamati. Kirana mengira ia bisa melupakan pria itu beberapa detik saja, tapi setiap kali ia mendongak, mata Krisna masih tertuju padanya.

Ia berusaha diam, dan mendengar dirinya sendiri gagal.

Pandangan pria itu menggelap.

"Masih mau aku memalingkan pandang?"

"Aku mau ponselnya."

"Kerjakan dulu untuk mendapatkannya."

Ia masih bisa turun. Ia bisa mengambil tasnya dan menyuruh pria itu pergi ke neraka. Tangannya terus bergerak.

Ia tak bisa menyalahkan semua ini pada ponsel itu. Basah melumuri jarinya. Tangannya yang bebas bertumpu di belakang tubuhnya di atas meja. Pinggulnya bergerak satu kali, kecil dan tak berdaya, menyambut sentuhannya sendiri, dan jemari Krisna mencengkeram pena begitu erat hingga satu buku jarinya memucat.

Kirana beralih dari tangan ke wajah pria itu. Sesaat ia hampir tersenyum.

"Kamu tak tampak tak terpengaruh," bisiknya.

Pandangan Krisna terangkat ke wajahnya. "Kamu juga tak tampak tak rela."

Kirana tak punya jawaban untuk itu.

"Buka matamu," katanya.

"Jangan perintah aku."

Ia menunggu. Mata Kirana tetap terpaku pada matanya.

Kantor itu menyusut hingga tinggal bunyi napasnya dan gesekan basah jari-jarinya di kelentitnya. Ia mencoba melakukannya cepat, memanfaatkan gerakan yang akrab dari tubuh yang akrab.

Sulit dengan pria itu yang mengamati. Ia tak bisa menemukan irama biasanya, dan ketika ia mencoba mempercepat, ia mendapati dirinya kembali menatap tangan pria itu.

"Lebih pelan," kata Krisna.

Ia memperlambat, lalu menggigit bagian dalam pipinya sendiri saat sadar ia menuruti perintah pria itu.

Krisna menyadarinya.

"Sudah kubilang kamu tak berhak mengaturku."

"Aku dengar kamu."

Tapi ia tak mempercepat gerakannya lagi. Setiap putaran lambat membuatnya ingin mengatupkan kaki, meski itu berarti berhenti. Ia tak ingin berhenti.

Rasa itu justru menumpuk, bukan mereda. Kelentitnya berdenyut di bawah jarinya. Tumitnya tergelincir di lantai mengilap. Krisna bergerak seolah hendak menahannya, lalu berhenti sebelum tangannya lepas dari kursi.

Ia ingat syarat Kirana. Kirana sudah siap menuduhnya melanggar. Ia tak menyangka akan kecewa ketika pria itu ternyata tidak melanggarnya.

Sesaat Kirana terpikir Bram. Lalu ia melihat cincin di jari Kak Rosa sejelas seolah kakaknya berdiri di sana.

Ia memejamkan mata, tapi hanya sekejap.

"Krisna," katanya, tanpa berniat menyebut namanya.

Krisna mendongak menatap wajahnya. Sepanjang sore ia memanggilnya Pak Krisna, dan pria itu menyadari perbedaannya.

"Ini yang kamu inginkan?"

"Ini yang kamu tawarkan."

"Pembohong."

"Iya."

Kirana tak menyangka pria itu akan mengiyakan.

Ia sudah dekat sekarang. Pahanya bergetar di sekitar tangannya, dan ia tak bisa cukup melambat untuk membuatnya bertahan lebih lama. Krisna berhenti bicara. Kirana mendongak menatapnya.

"Jangan palingkan pandangmu," kata Krisna.

Ia masih menatap pria itu ketika ia klimaks.

Napasnya patah. Jarinya terhenti setengah detik, lalu bergerak tanpa daya menembus gelombang itu karena berhenti justru lebih menyakitkan. Kenikmatan mengejang jauh di bawah lalu terlepas dalam denyut-denyut keras yang membuat kewanitaannya bergetar rapat di tangannya sendiri.

Basah melapisi jarinya. Ia mencengkeram meja hingga telapaknya nyeri, dan ia menjaga matanya tetap pada Krisna karena pria itu memerintahkannya, karena ia membenci pria itu, karena ada bagian dirinya yang nekat ingin Krisna tahu persis apa yang telah dilakukan suara dan tatapan pria itu padanya.

Beberapa detik, tak ada yang bicara.

Sebuah telepon berdering di luar. Kirana mendengar Bu Reni menjawabnya, dan mendadak ia sadar akan meja di bawahnya, stokingnya yang robek, waktu yang telah ia habiskan di dalam sini.

Ia menelan ludah dan berusaha memantapkan suaranya.

"Ponselnya."

Krisna melepaskan pena. Tangannya mantap saat mengambil ponsel itu. Ia menarik napas hati-hati dan tetap duduk. Kirana menyadari itu juga.

Ia turun dari meja dan mencengkeram tepinya untuk menopang diri. Kalau pria itu mengucapkan satu kata saja soal itu, ia akan menjerit.

"Face ID."

Krisna menatap layar dan membukanya.

Kirana menyambar ponsel dari tangan pria itu dan memalingkan tubuh sebelum Krisna sempat melihat betapa hebat jemarinya bergetar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!