NovelToon NovelToon
TAK TERTANDINGI

TAK TERTANDINGI

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serly Can

Bagi semua orang di SMA Nusantara, Rian hanyalah seorang yatim piatu miskin, pendiam, dan sasaran empuk perundungan. Tak ada yang tahu bahwa di balik lebam dan pakaian lusuhnya, sebuah Sistem Kultivator Tunggal baru saja bangkit dalam dirinya.

​Di era modern tempat hukum alam dikendalikan uang dan kekuasaan, Rian menjadi satu-satunya manusia yang menguasai seni kultivasi kuno. Tanpa perlu bersuara, ia mengasah kekuatannya di balik layar—menjadi sosok yang tak terlihat, namun tak tertandingi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serly Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Para Penguasa

Suara denting jam dinding antik di sudut ruangan Direktur Utama berdetak pelan, memecah keheningan yang menyelimuti ruang kerja mewah berlantai marmer hitam di lantai sepuluh gedung utama Bina Bangsa Corpora.

Hartawan Kusuma masih berdiri di balik dinding kaca panorama, menatap lurus ke arah lapangan sekolah di bawah sana. Dari ketinggian ini, kerumunan siswa tampak kecil bagaikan semut yang berjalan di atas peta. Namun, di dalam benak pria paruh baya itu, pikiran tentang integritas yayasan yang telah ia bangun selama dua dekade terakhir jauh lebih besar daripada pemandangan kota di hadapannya.

Tok... tok... tok.

Ketukan pintu yang tegas terdengar dari luar, disusul oleh terbukanya pintu kayu jati berukir dua daun tersebut. Sekretaris pribadi Hartawan melangkah masuk dengan ekspresi wajah yang sedikit tegang, membawa sebuah map hitam di tangannya.

"Pak Hartawan, Kolonel Surya sudah tiba di lantai bawah dan sedang dalam perjalanan menuju ruang kerja Anda," lapor sang sekretaris dengan nada berhati-hati. "Dan... mengenai siswa bernama Rian dari kelas 11-B, pihak staf administrasi sudah menghubunginya untuk datang menghadap ke sini sesuai instruksi Bapak."

Hartawan berbalik perlahan, merapikan jas hitamnya sebelum kembali duduk di kursi kulit di belakang meja kerjanya. Wajahnya tampak tenang, namun sorot mata di balik bingkai kacamata frameless miliknya menyiratkan ketegasan yang tidak bisa diremehkan oleh siapapun.

"Bagus," jawab Hartawan dengan suara berat dan berwibawa. "Pastikan mereka berdua tiba secara terpisah. Saya tidak ingin ada pertikaian di lantai ini sebelum saya mendengar penjelasan langsung dari kedua belah pihak."

"Baik, Pak. Saya mengerti," jawab sekretaris itu membungkuk singkat, lalu kembali berbalik untuk keluar dan melaksanakan tugasnya.

Tak lama setelah sekretaris itu pergi, pintu kembali terbuka lebar. Kolonel Purnawirawan Surya melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah tegap khas militer. Namun, berbeda dari biasanya yang selalu menampilkan senyum percaya diri dan sorot mata meremehkan, hari ini wajah Surya tampak tegang. Keringat tipis terlihat jelas di pelipisnya, meskipun ruangan berpendingin udara itu terasa cukup dingin.

"Hartawan," sapa Surya dengan nada suara yang mencoba dibuat senormal mungkin, berjalan mendekati meja kerja dan menarik kursi di hadapannya tanpa diundang. "Ada urusan apa mendadak memanggilku ke lantai sepuluh di jam pelajaran seperti ini? Kau tahu sendiri kesibukanku di dewan penyantun sangat padat minggu ini."

Hartawan tidak langsung menjawab. Ia membuka map hitam di hadapannya, lalu mendorongnya perlahan melewati permukaan meja kaca hingga tepat berhenti di depan Surya.

Surya mengernyitkan dahi. Ia menatap map tersebut sekilas, lalu mendongak menatap wajah Hartawan dengan ekspresi bingung yang dibuat-buat. "Apa ini? Berkas laporan keuangan yayasan?"

"Buka dan baca halaman ketiga, Surya," ucap Hartawan dingin, menatap tajam ke dalam mata mantan perwira militer itu. "Khususnya pada bagian lampiran rekapitulasi dana renovasi gedung olahraga yang kau ajukan bulan lalu."

Surya menelan ludah dengan susah payah. Tangannya yang terulur membuka map tersebut sedikit bergetar. Begitu matanya menangkap deretan angka fiktif dan salinan surat pengalihan rekening pribadi yang terlampir rapi di sana, warna merah di wajah Surya seketika pudar berganti pucat pasi.

"Ini... ini tidak benar! Ini dokumen palsu!" bantah Surya dengan suara sedikit meninggi, mencoba menutupi kepanikannya. "Siapa yang berani membuat fitnah murahan seperti ini di belakangku?!"

"Fitnah?" Hartawan mendengus dingin, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan kedua tangan saling bertumpu di atas meja. "Tim auditor internal kita bekerja berdasarkan jejak digital, Surya. Dan dokumen ini bukan sekadar laporan biasa; berkas ini dikirim langsung bersama rekaman suara rapat tertutupmu di restoran mewah kemarin malam."

Mendengar kata 'rekaman suara', tubuh Surya mendadak kaku. Bola matanya berputar liar, menyadari bahwa ancaman yang kemarin dilontarkan oleh anak SMA bernama Rian bukanlah gertakan kosong belaka. Seseorang—atau sesuatu—telah menghancurkan benteng pertahanannya dari dalam.

"Hartawan, dengar dulu penjelasanku..." Surya mencoba membela diri, mengangkat kedua tangannya dengan gestur memohon. "Ada kesalahpahaman besar di sini! Aku bisa mengatur semuanya..."

"Cukup, Surya," potong Hartawan dengan suara tegas yang langsung menghentikan kalimat berikutnya di tenggorokan Surya. "Sebagai pendiri yayasan ini, aku tidak peduli seberapa besar sumbangan yang pernah kau berikan. Hukum tetaplah hukum, dan integritas pendidikan tidak boleh dicemari oleh tindakan korupsi dan penyalahgunaan wewenang."

Sebelum Surya sempat mengucapkan sepatah kata pembelaan lagi, pintu ruangan kembali diketuk dua kali.

Tok... tok.

"Masuk," ujar Hartawan.

Pintu terbuka, dan sesosok remaja berseragam sekolah rapi melangkah masuk ke dalam ruangan yang megah itu. Rian berjalan dengan langkah tenang, posturnya tegap, dan tatapan matanya menyapu seisi ruangan tanpa menunjukkan secercah pun rasa gentar ataupun inferioritas di hadapan dua orang tokoh paling berkuasa di lingkungan yayasan tersebut.

Surya menoleh cepat ke arah pintu. Begitu melihat wajah Rian, rahangnya mengeras, dan matanya memancarkan kebencian yang teramat sangat. "Jadi... anak sialan inilah yang menjadi dalang di balik semua kekacauan ini?!" bentak Surya setengah berdiri dari kursinya.

Rian berhenti tepat tiga meter dari meja kerja Hartawan. Ia melirik Surya sekilas dengan senyuman tipis yang dingin, lalu mengalihkan pandangannya kepada Hartawan Kusuma yang sedang mengamatinya dengan tatapan penuh selidik.

"Selamat pagi, Direktur Utama Hartawan," sapa Rian dengan suara jernih dan tenang, membungkuk sopan sekadarnya. "Saya dipanggil menghadap ke sini?"

Hartawan mengangguk perlahan. Ia menatap remaja di hadapannya dengan rasa penasaran yang mendalam. Selama puluhan tahun memimpin korporasi dan institusi pendidikan, baru kali ini ia melihat seorang anak berusia tujuh belas tahun yang memiliki aura ketenangan luar biasa—seolah-olah seluruh tekanan psikologis di ruangan itu tidak mampu menyentuh mentalnya sama sekali.

"Silakan duduk, Rian," ujar Hartawan menunjuk kursi di sebelah Surya. "Aku memanggilmu ke sini bukan untuk menghakimimu atas insiden kemarin di kantin ataupun masalah kedisiplinan yang dilaporkan oleh kelompok Surya. Aku memanggilmu karena aku ingin mendengar langsung dari mulutmu mengenai berkas digital yang dikirim ke sistem perusahaan pagi ini."

Surya menoleh kaget ke arah Hartawan. "Tunggu dulu, Hartawan! Kau mempercayai anak ingusan ini?!"

"Aku mempercayai bukti, Surya, bukan omongan kosong," balas Hartawan dingin, lalu kembali menatap Rian. "Anak muda, jelaskan padaku. Bagaimana seorang siswa kelas sebelas bisa mendapatkan akses terhadap data enkripsi tingkat internal korporasi dan rekaman rahasia rapat dewan penyantun?"

Rian menarik kursi dan duduk dengan santai. Ia melipat tangan di atas pangkuannya, menatap Hartawan lurus-lurus tanpa ragu.

"Di era informasi modern ini, Tuan Hartawan, rahasia tidak pernah benar-benar aman jika disimpan di atas fondasi kebohongan," jawab Rian dengan nada tenang, suaranya menggema lembut di ruangan yang luas itu. "Saya tidak meretas sistem perusahaan Anda demi keuntungan pribadi. Saya hanya membuka pintu kecil agar cahaya kebenaran bisa masuk ke tempat yang selama ini gelap oleh kepentingan segelintir orang."

Hartawan tertegun mendengar cara bicara Rian yang begitu dewasa dan filosofis. Kalimat itu bukan sekadar argumen seorang anak SMA biasa; itu adalah cerminan dari tingkat kesadaran dan kecerdasan strategis yang sangat tinggi.

"Kau menantang kekuasaan kami, bocah!" geram Surya dengan wajah memerah padam, tidak tahan lagi mendengar ketenangan Rian. Ia mengepalkan tangan kanannya di atas meja. "Kau pikir dengan dukungan beberapa trik murahan, kau bisa hidup tenang di sekolah ini setelah mempermalukan keluargaku berkali-kali?!"

Rian menoleh pelan ke arah Surya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman meremehkan yang sangat tipis.

"Keluarga Anda mengandalkan intimidasi, kekerasan preman jalanan, dan uang untuk membungkam orang lain, Kolonel Surya," ucap Rian dengan suara dingin yang menusuk. "Dan lihatlah diri Anda sekarang—duduk di kursi pesakitan di hadapan atasan Anda sendiri, gemetar karena takut rahasia busuk Anda terbongkar ke publik. Siapa sebenarnya yang sedang mempermalukan siapa di sini?"

"Keparat kau...!" Surya yang dikuasai amarah yang sudah mencapai ubun-ubun kehilangan kendali akalnya. Ia melompat dari kursinya, mengangkat tangan kanannya hendak melayangkan tamparan keras langsung ke wajah Rian.

Namun, sebelum tangan Surya sempat bergerak setengah jalan, Rian bahkan tidak bergeming dari duduknya. Ia hanya melirik sekilas dengan tatapan tajam dari Mata Dewa Pengamat, memancarkan gelombang energi Qi internal yang menghantam langsung titik syaraf motorik Surya.

Whush!

Sebuah tekanan tak kasat mata meluncur deras. Surya tiba-tiba merasakan seluruh tenaga di lengan dan kakinya lenyap seketika. Langkah penerjangannya terhenti kencang, tubuhnya kehilangan keseimbangan, dan ia jatuh terduduk kembali ke kursinya dengan napas tersengal-sengal dan keringat dingin bercucuran deras.

Hartawan, yang menyaksikan kejadian itu dari jarak dekat, terkejut luar biasa. Meskipun ia tidak melihat adanya pukulan fisik dari Rian, ia bisa merasakan perubahan tekanan udara yang mendadak drastis di sekitar pemuda itu. Ada aura kewibawaan misterius yang terpancar dari tubuh remaja tersebut—sebuah kekuatan yang jauh melampaui batas fisik manusia biasa.

"Surya! Cukup!" bentak Hartawan berdiri dari kursinya, menatap mantan perwira militer itu dengan kemurkaan yang sesungguhnya. "Kau sudah mencoreng nama baik yayasan ini, dan hari ini juga jabatanmu sebagai anggota dewan penyantun dicopot secara resmi! Pengawal, bawa dia keluar dari ruangan saya!"

Dua orang petugas keamanan berpakaian jas hitam yang berdiri di luar langsung membuka pintu dengan cepat dan masuk ke dalam ruangan, membimbing Surya yang terduduk lemas dan berantakan keluar dari ruang kerja Direktur Utama tanpa mampu melawan sepatah kata pun.

Suasana di dalam ruangan kembali hening setelah pintu tertutup rapat.

Hartawan menarik napas panjang, merapikan jasnya, lalu kembali duduk di kursi kerjanya. Ia menatap Rian lekat-lekat selama beberapa detik dalam keheningan, sebelum akhirnya sebuah senyuman tipis terukir di bibirnya.

"Rian," panggil Hartawan dengan nada suara yang kini jauh lebih melunak dan penuh penghormatan terselubung. "Kau bukan sekadar anak beasiswa biasa, bukan?"

Rian berdiri dari kursinya, merapikan sedikit lipatan kemeja seragamnya, lalu menatap Hartawan dengan tenang. "Saya hanyalah seorang siswa yang ingin belajar dengan tenang, Tuan Hartawan. Tidak lebih, dan tidak kurang."

Hartawan mengangguk perlahan, merasa kagum sekaligus penasaran. "Baiklah. Kalau begitu, mulai hari ini, tidak akan ada lagi pihak yang berani mengganggumu di SMA Bina Bangsa. Dan sebagai bentuk apresiasi atas kejernihan pikiranmu... aku menawarkan kepadamu sebuah posisi khusus sebagai konsultan muda independen untuk program digitalisasi perpustakaan yayasan kita, dengan beasiswa penuh hingga universitas."

Rian tersenyum tipis, menerima tawaran itu tanpa ekspresi berlebihan. "Terima kasih atas kepercayaannya, Tuan. Saya akan mempertimbangkannya."

Tanpa menunggu lebih lama, Rian membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruangan megah tersebut. Di luar jendela, matahari pagi terus bersinar terang, menyinari setiap langkah kakinya menuju babak baru kehidupan yang sepenuhnya berada di dalam genggamannya.

1
expant
lanjut
expant
bagus ceritanya
Serly Can
siap kk
Risman Caniago
kemampuan nya udah kaltiivor...... jagoan pasar... orang bayaran pada koit.....masa masih kontra sama anak SMA.... harus nya naik level genster....mafia..... belajar lagi yang lebih ya Thor....
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
Yossi Muliasa Permana
bagus cerita nya cuman cara penulisan nya agak sedikit bikin bingun
Serly Can: iya kak ini baru belajar novel pertama jika ada salah alur atau membingungkan maaf
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!