NovelToon NovelToon
Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Action
Popularitas:524
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15: KONFRONTASI DION DAN ARSEN

Suasana di lorong VIP Rumah Sakit Medika Sentosa terasa begitu dingin dan mencekam. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam ketika Dokter Hendra keluar dari ruang pemeriksaan Clara.

Arsen yang sejak tadi berdiri bersandar di dinding dengan tangan mengepal di saku celananya langsung menegakkan tubuh.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Arsen dingin, mencoba menutupi kecemasan yang bergejolak di dadanya.

Dokter Hendra menghela napas pelan. "Kadar sel darah merah Nona Clara anjlok drastis akibat kombinasi anemia kronis dan kelelahan fisik yang parah, Tuan Muda. Tubuhnya terlampau rapuh untuk memikul beban aktivitas yang terlalu berat. Kami sudah menyuntikkan vitamin dan menambah cairan infus, namun beliau harus beristirahat total setidaknya selama beberapa hari."

Arsen mengepalkan jemarinya lebih erat di dalam saku celana. Ada rasa bersalah yang samar merayapi pikirannya ketika menyadari betapa padatnya tugas yang ia berikan pada Clara belakangan ini.

"Saya mengerti. Dia akan tetap berada di kamar VIP ini sampai kondisinya stabil," ujar Arsen datar.

Baru saja Dokter Hendra melangkah pergi, bunyi langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar menggemakan lorong rumah sakit. Dion muncul dari balik tikungan lorong, napasnya memburu dengan wajah berhias amarah yang meluap-luap.

Dion langsung mempercepat langkahnya begitu melihat sosok Arsen berdiri di depan pintu kamar rawat Clara.

"Arsen!" panggil Dion dengan suara tertahan namun penuh penekanan.

Arsen menyipitkan matanya, berbalik perlahan menghadapi Dion dengan tatapan merendahkan. Hawa dingin terpancar dari aura Tuan Muda itu.

"Siapa yang memberimu izin datang ke lantai VIP ini?" desis Arsen tajam.

Dion menghentikan langkahnya tepat dua meter di hadapan Arsen, mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku tidak peduli aturan rumah sakitmu atau kekuasaan keluargamu, Arsen! Kamu hampir membunuh Clara hari ini!"

"Jaga mulutmu," ancam Arsen dingin.

"Kamu yang jaga sikapmu!" bentak Dion, tidak lagi gentar. "Aku tahu Clara pingsan di lapangan karena kelelahan melayani semua kemauan gila kamu! Kamu memperlakukan dia seperti budak, Arsen! Dia itu penderita anemia berat, bukan pelayan yang bisa kamu peras tenaganya 24 jam!"

Arsen tertawa dingin, sebuah senyuman sinis menakutkan mengembang di bibirnya. "Dia bekerja padaku karena kesepakatan sah. Utang ibunya sudah kulunasi. Dia milikku, Dion. Segala hal tentang dirinya—kesehatannya, waktunya, hidupnya—adalah hak mutlakku."

"Dia bukan barang yang bisa kamu beli, bajingan!" Dion maju satu langkah, mencengkeram kerah kemeja Arsen dengan emosi yang sudah memuncak.

Dua pengawal pribadi Arsen yang bersiaga di ujung lorong bergerak cepat ingin mengintervensi, namun Arsen mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar para pengawal tetap diam di tempat.

Arsen menatap tangan Dion di kerah kemejanya dengan pandangan jijik, lalu menatap mata Dion dengan kilat mematikan.

"Lepaskan tangan kotormu sebelum aku mematahkannya," bisik Arsen dengan suara rendah yang amat menakutkan.

Dion menahan napasnya, namun perlahan melepaskan cengkeramannya karena sadar ia tak akan menang bertarung fisik maupun finansial dengan Arsen di tempat ini.

Arsen merapikan kerah kemejanya dengan tenang, lalu melangkah mendekati Dion hingga jarak mereka sangat tipis.

"Ini peringatan terakhirku padamu, Dion," ujar Arsen penuh penekanan. "Jika kamu masih berani mendekati Clara, mencampuri urusanku, atau menunjukkan wajahmu di depan ruang rawat ini lagi... aku tidak hanya akan menghancurkan bisnis ayahmu, tapi aku akan memastikan seluruh keluargamu diusir dari kota ini dan tidak punya tempat tinggal."

Dion membeku di tempat. Kata-kata Arsen bukan sekadar gertakan kosong—kekuatan finansial keluarga Baskara memang sanggup melakukan hal mengerikan itu dalam hitungan jam.

"Pergi dari sini sebelum aku kehilangan kesabaran," pungkas Arsen dingin sebelum berbalik dan membuka pintu kamar VIP, meninggalkan Dion yang mengepalkan tangan dalam ketidakberdayaan dan keputusasaan yang mendalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!