Jika ada kehidupan kedua, aku bersumpah akan menyeret kalian ke neraka yang paling dalam!"
Di kehidupan pertamanya, Elena adalah Nona Muda yang naif. Ia menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu Gavin, sang suami, naik takhta menjadi Kaisar. Namun setelah tujuan tercapai, Gavin justru mengkhianatinya. Pria itu berselingkuh dengan adik tiri Elena, merebut takhtanya, membantai putranya yang masih kecil, dan membakar Elena hidup-hidup di sel penjara bawah tanah.
Namun, takdir berkata lain. Alih-alih pergi ke akhirat, Elena terbangun dan mendapati dirinya kembali ke masa lalu—tepat tiga tahun sebelum pernikahan terkutuk itu terjadi.
Berbekal ingatan dari masa depan, Elena bersumpah tidak akan lagi menjadi domba yang penurut. Ia akan menghancurkan satu per satu orang yang telah menginjak-injak harga dirinya.
Demi melancarkan aksi balas dendamnya, Elena mendekati Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang paling ditakuti di kekaisaran—dan menawarkan sebuah aliansi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vvhiiiiivhy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Aliansi yang Mulai Terbakar
Kabut tipis menyelimuti pelataran paviliun barat kediaman Duke Killian. Malam itu, udara terasa jauh lebih dingin dari biasanya, seolah mencerminkan atmosfer di dalam ruangan tempat Elena berdiri. Di hadapannya, sesosok pria dengan jubah hitam bermotif perak sedang duduk dengan santai, namun tatapan matanya setajam belati yang siap menghujam jantung lawan.
Duke Killian—sang tirani berdarah dingin yang namanya saja sudah cukup membuat para bangsawan gemetar—menatap Elena dengan senyum tipis yang penuh arti. Di atas meja kayu mahogani di antara mereka, secangkir teh yang masih mengepul dibiarkan begitu saja tanpa disentuh.
"Kau meminta sesuatu yang sangat besar untuk ukuran seorang wanita yang baru saja melarikan diri dari bayang-bayang keluarganya, Lady Elena," suara Killian terdengar berat, bergema di ruangan yang sunyi itu.
Elena tidak gentar. Kehidupan pertamanya yang berakhir tragis di dalam sel penjara bawah tanah, di tengah kobaran api yang membakar kulitnya, telah membunuh seluruh rasa takut yang pernah ia miliki. Menatap Killian, ia justru melihat satu-satunya tiket emas untuk menyeret Gavin dan adik tirinya ke neraka yang paling dalam.
"Saya tidak sedang meminta, Yang Mulia Duke," jawab Elena dengan nada suara yang tenang namun sarat akan penekanan. "Saya sedang menawarkan sebuah kesepakatan bisnis yang saling menguntungkan. Anda menginginkan kendali atas jalur perdagangan mutiara di wilayah selatan yang selama ini dimonopoli oleh keluarga Count marquis, bukan? Saya tahu persis dokumen rahasia dan rute penyelundupan yang mereka gunakan."
Killian mencondongkan tubuhnya ke depan. Sepasang manik mata merahnya yang legendaris berkilat di bawah temaram cahaya lilin. "Dan dari mana seorang Nona Muda yang naif seperti dirimu bisa mengetahui rahasia sekotor itu?"
"Masa lalu bisa memberikan banyak pelajaran jika kita tahu di mana harus mencari, Yang Mulia," Elena tersenyum misterius. Ia tentu tidak akan mengatakan bahwa ia mengetahui hal itu karena di kehidupan sebelumnya, Gavin sering membahas strategi tersebut bersamanya sebelum pria jahanam itu mengkhianatinya.
Killian terdiam sejenak. Ia mengamati jemari Elena yang bertumpu di atas meja. Tidak ada getaran. Wanita di hadapannya ini benar-benar berbeda dari rumor yang beredar di ibu kota tentang Elena yang lemah lembut dan penurut. Ada api balas dendam yang berkobar sangat besar di dalam sepasang mata jernih itu, sesuatu yang sangat disukai oleh Killian.
"Baiklah," Killian menyandarkan kembali punggungnya. "Katakan apa yang kau inginkan sebagai imbalannya. Uang? Perlindungan? Atau... kepala suamimu?"
Mendengar kata 'suami', kilatan kebencian yang mendalam melintas cepat di wajah Elena. "Gavin belum menjadi suami saya di kehidupan ini, dan saya akan memastikan pernikahan terkutuk itu tidak akan pernah terjadi. Yang saya inginkan adalah kehancuran mutlaknya. Saya ingin Anda memutus semua aliran dana dari para bangsawan faksi militer yang saat ini mulai mendekatinya."
Elena tahu betul bahwa saat ini Gavin sedang mengumpulkan pengaruh secara diam-diam untuk naik takhta menjadi Kaisar. Di kehidupan lalu, Elena menyerahkan seluruh harta dan pengaruh keluarganya demi membantu pria itu. Kali ini, ia tidak hanya akan menahan hartanya, tetapi juga akan memotong setiap urat nadi pendukung Gavin.
"Memutus faksi militer berarti memicu perang dingin di dalam istana, Elena. Kau tahu risikonya?" tanyakan Killian, menguji keyakinan wanita itu.
"Saya tahu persis," Elena membalas tatapan Killian tanpa ragu. "Jika istana harus terbakar demi menghanguskan Gavin, maka saya sendiri yang akan menyalakan apinya."
Killian tertawa rendah. Suara tawanya terdengar berbahaya namun ada nada kepuasan di sana. "Menarik. Sangat menarik. Aliansi ini resmi terbentuk, Lady Elena. Mulai besok, bayang-bayangku akan menjagamu. Namun ingat, jika kau berbohong tentang jalur perdagangan selatan itu, aku sendiri yang akan memastikan kau berakhir di tempat yang lebih buruk dari penjara."
"Kesepakatan tercapai, Yang Mulia," Elena membungkuk hormat, menyembunyikan senyum kemenangan yang perlahan terukir di bibirnya.
Keesokan harinya, matahari terbit dengan kilauan yang menyilaukan di langit ibu kota. Elena kembali ke kediaman keluarganya dengan pengawalan ketat yang tidak mencolok dari orang-orang Killian. Begitu ia melangkah masuk ke aula utama, sebuah suara yang sangat ia kenali—dan ia benci—terdengar memanggil namanya.
"Elena! Dari mana saja kau? Aku mencarimu ke mana-mana sejak kemarin."
Gavin berdiri di sana. Wajahnya tampak cemas, sebuah topeng kemunafikan yang dulu selalu berhasil mengecoh Elena. Pria itu melangkah mendekat, mencoba meraih tangan Elena dengan kehangatan yang palsu.
Elena dengan anggun menarik tangannya kembali sebelum Gavin sempat menyentuhnya, berpura-pura sedang merapikan selendang sutranya. "Maafkan saya, Tuan Gavin. Ada beberapa urusan penting di luar yang harus saya selesaikan secara pribadi."
Gavin sedikit terkejut dengan penolakan halus tersebut. Biasanya, Elena akan tersenyum tersipu setiap kali ia mendekat. "Urusan apa yang begitu penting hingga kau tidak memberitahuku? Kau tahu betapa khawatirnya aku? Akhir-akhir ini kau terasa sangat jauh, Elena."
Tentu saja aku jauh, Gavin. Aku berada tiga tahun di masa depan, di tempat di mana kau telah membantai putraku dan membakarku hidup-hidup, teriak Elena dalam hatinya. Namun, di permukaan, wajahnya tetap sedingin es.
"Hanya urusan pengelolaan beberapa toko kain milik mendiang ibu saya. Saya rasa, sebagai seorang pria yang sibuk dengan urusan pemerintahan, Anda tidak perlu membebani pikiran Anda dengan hal kecil seperti ini," jawab Elena datar.
Sebelum Gavin sempat membalas, sesosok wanita lain muncul dari balik pilar aula. Itu adalah Misha, adik tiri Elena. Wanita yang di kehidupan lalu berselingkuh dengan Gavin dan merebut takhta setelah Elena disingkirkan. Misha berjalan dengan langkah yang dibuat-buat lemah lembut, namun tatapan matanya langsung tertuju pada Gavin dengan penuh damba, sebelum beralih kepada Elena dengan kilatan iri.
"Kakak, kau akhirnya pulang," ujar Misha dengan nada manja yang memuakkan. "Tuan Gavin sudah menunggu sangat lama. Kasihan dia sampai mengabaikan tugas mulianya demi memastikan keselamatanmu. Kau tidak boleh egois seperti itu, Kak."
Elena menatap adik tirinya dengan pandangan menilai. Di kehidupan lalu, ia begitu menyayangi Misha hingga rela memberikan perhiasan dan gaun-gaun terbaiknya. Ternyata, di balik wajah polos itu, ada seekor ular berbisa yang siap mematuknya dari belakang.
"Egois?" Elena menaikkan sebelah alisnya, memancarkan aura intimidasi yang membuat Misha tersentak mundur satu langkah. "Sejak kapan seorang adik berhak menceramahi kakak tertuanya tentang bagaimana cara mengelola waktu dan aset keluarga? Dan sejak kapan pula kau begitu peduli pada urusan Tuan Gavin, Misha?"
Pertanyaan langsung itu membuat wajah Misha memucat seketika. Ia terbata-bata, melirik ke arah Gavin untuk mencari bantuan. Gavin yang menyadari situasi mulai canggung segera berdeham dan mencoba menengahi.
"Elena, Misha tidak bermaksud buruk. Dia hanya mengkhawatirkanmu, sama seperti aku. Oh ya, mengenai proposal yang kemarin kubicarakan... tentang dana bantuan untuk wilayah barat yang sedang mengalami kekeringan. Apakah kau sudah menandatangani surat pengalihan dana dari brankas keluargamu?" Gavin mengalihkan pembicaraan dengan target utamanya: uang Elena.
Elena hampir saja tertawa sinis. Dana kekeringan? Di kehidupan lalu, ia langsung menyetujuinya tanpa curiga, hanya untuk kemudian mengetahui bahwa uang itu digunakan Gavin untuk menyuap para jenderal militer agar mendukung pergerakannya.
"Ah, mengenai hal itu," Elena berjalan menuju kursi utama di aula dan duduk dengan anggun, memposisikan dirinya sebagai pemilik sah rumah tersebut, sementara Gavin dan Misha berdiri seperti bawahan. "Saya telah meninjau kembali proposal Anda, Tuan Gavin. Dan setelah berkonsultasi dengan penasihat keuangan keluarga, saya memutuskan untuk menolaknya."
"Apa?!" Gavin tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya. Suaranya naik satu oktav. "Tapi Elena, rakyat di sana sedang menderita! Ini demi reputasi kita juga di masa depan!"
"Rakyat di barat adalah tanggung jawab langsung dari pihak kekaisaran dan gubernur setempat, bukan tanggung jawab pribadi keluarga saya," Elena melipat tangannya di dada. "Lagipula, saya mendengar desas-desus bahwa dana yang dialokasikan sebelumnya sering kali salah sasaran. Sebagai calon penerus keluarga, saya harus lebih berhati-hati dalam menggunakan warisan leluhur saya."
Gavin mengepalkan tangannya di balik jubahnya. Kemarahan mulai membakar dadanya, namun ia harus menahannya demi rencana besarnya. Ia menatap Elena dengan tajam, menyadari bahwa wanita di hadapannya ini bukan lagi domba penurut yang bisa ia setir dengan kata-kata manis.
"Kau... berubah, Elena," desis Gavin dengan nada rendah.
Elena membalas tatapan itu dengan senyuman paling menawan namun paling mematikan yang pernah ia tunjukkan. "Manusia selalu berubah ketika mereka menyadari bahwa dunia ini penuh dengan serigala berbulu domba, Tuan Gavin. Saya hanya sedang belajar untuk menjaga diri saya sendiri."
Misha yang melihat ketegangan itu mencoba mencairkan suasana dengan mendekati Gavin. "Tuan Gavin, mungkin Kakak sedang lelah. Bagaimana jika kita bicarakan lagi nanti?" Sentuhan kecil Misha pada lengan Gavin tidak luput dari pandangan Elena.
"Silakan pergilah jika urusan kalian sudah selesai," potong Elena dingin sebelum mereka sempat bersandiwara lebih jauh. "Saya memiliki banyak dokumen yang harus diselesaikan. Dan Misha, kembali ke kamarmu dan pelajari kembali tata krama seorang rona muda. Jangan biarkan orang luar melihatmu bertingkah tidak pantas dengan pria yang belum terikat hubungan resmi dengan keluarga kita."
Wajah Misha memerah menahan malu dan amarah. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berlari pergi menuju kamarnya. Gavin, menyadari bahwa hari ini ia telah kalah telak, memberikan penghormatan kaku kepada Elena sebelum melangkah keluar dengan langkah kaki yang berat dan penuh kemurkaan.
Setelah aula kembali sepi, Elena menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi. Napasnya terengah sejenak, bukan karena takut, melainkan karena kepuasan yang luar biasa setelah berhasil memukul mundur kedua musat utamanya untuk pertama kali.
Tiba-tiba, selembar bulu hitam jatuh dari langit-langit aula tepat di pangkuannya. Elena mengambil bulu tersebut dan tersenyum. Itu adalah tanda dari mata-mata Duke Killian yang mengawasi dari kegelapan, memastikan bahwa aliansi mereka telah bekerja.
Ini baru permulaan, Gavin, Misha, batin Elena dengan mata yang berkilat kejam. Setiap koin yang kau minta, setiap senyuman yang kau palsukan, akan kubayar tuntas dengan darah dan air mata kalian di akhir nanti.