Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.
Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.
Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
"Malam ini... datanglah ke penthouse-ku. Mari kita habiskan tiga malam bersama... dan aku akan melepaskanmu serta menutup rapat-rapat kasus lukisan berdarahmu."
Keheningan yang dingin dan berat mengendap di antara mereka berdua di dalam ruang kerja yang remang.
Suara bisikan Jameson masih bergema di udara, meninggalkan getaran intimidasi murni yang seharusnya sanggup meruntuhkan pertahanan mahasiswi mana pun.
Namun, alih-alih panik atau gemetar oleh ancaman itu, Hazel justru perlahan menundukkan kepalanya.
Sepasang bahunya yang terbalut blazer kelam berguncang pelan, lalu sebuah suara terkekeh halus dan lirih keluar dari celah bibirnya.
Tawa yang sama sekali tidak menyimpan rasa takut—melainkan kelelahan yang teramat dalam dan rasa ironi yang getir.
Hazel mendongak, menatap lurus ke dalam iris mata hazel milik Jameson yang menguncinya rapat.
"Kau tahu?" bisik Hazel dengan suara halus yang berdesir bagai angin malam di padang rumput Inggris. "Malam itu... seharusnya kau masuk dalam daftar korbanku yang kelima."
Deg.
Jameson mengernyitkan alisnya kaku.
Cengkeraman tangannya di pinggang Hazel menyempit tipis, sementara rahang tegasnya memeras keras.
Insting penjinak bom di dalam dirinya berdenting liar, merasakan kejujuran berbahaya dari balik suara lembut wanita di hadapannya.
Hazel mengulas senyum tipis—senyuman yang teramat sangat anggun namun dipenuhi keretakan tak kasatmata.
"Malam itu di bar, aku memandangimu dari sudut remang," lanjut Hazel pelan, pandangan matanya menerawang jauh menembus memori malam panas itu.
"Aku melihat bagaimana dirimu menghabiskan alkohol hanya dalam satu tegukan. Otot-otot lehermu tegang, matamu menunjukkan kehampaan, dan tentu saja... aku bisa menebak dengan sangat mudah bahwa kau sedang patah hati."
Jameson masih mencerna setiap kata yang keluar dari bibir Hazel.
Pria itu membeku, menatap dalam-dalam sepasang mata jernih yang memperlihatkan kesempurnaan seorang wanita yang begitu tenang.
"Aku mendekatimu," sambung Hazel lagi, suaranya makin lirih, menyapu pendengaran Jameson bagai sembilu yang mengiris pelan.
"Aku berniat memancingmu mengucapkan kalimat lemah itu... kalimat yang biasanya diucapkan oleh pria-pria menyedihkan yang kehilangan arah. Namun... tidak kusangka responmu malam itu benar-benar membuatku tertarik."
Hazel mengusap pelan kerah jas mahal Jameson, menyapu debu imajiner di sana sebelum menjatuhkan tangannya kembali secara pasrah.
"Bukannya mengumpat atau mencaci soal takdir, atau melontarkan kalimat meratapi hidup tanpa wanita yang baru saja menghancurkan hatimu... kau justru meluapkannya pada alkohol dan tatapan tajam yang penuh amarah. Kau menolak terlihat lemah, meskipun dadamu hancur berantakan."
Jameson menatap Hazel dengan pendar mata yang mendadak melunak tipis, meski keangkuhannya sebagai seorang Ashford tetap bertahan.
"Dan juga..." potong Jameson dengan nada rendah yang percaya diri, berusaha mengikis atmosfer yang merayap di antara mereka, "...apa karena aku tampan? Makanya kau membiarkanku hidup dan justru menyerahkan dirimu di atas ranjang malam itu?"
Hazel mendongak, menyunggingkan senyum samar yang teramat sangat dingin.
"Tidak," jawabnya singkat dan tulus.
Jawaban yang jujur, tanpa keraguan sedikit pun.
Di balik ketenangan wajahnya yang bagai lukisan klasik, Hazel tidak mungkin sudi mengaku pada Jameson tentang apa yang sebenarnya terjadi pada jiwanya malam itu.
Ia tidak akan pernah membiarkan pria berkuasa ini tahu bahwa malam itu, di jam yang sama di belahan bumi lain, mantan kekasihnya di Inggris sedang melangsungkan pesta pernikahan mewah dengan wanita pilihannya.
Malam itu, di bawah temaram pendar lampu bar Los Angeles, Hazel berada di puncak patah hati terhebat dalam hidupnya.
Jiwanya hancur berantakan.
Rasa sakit akibat perasaan yang tidak bisa dipaksakan oleh pria yang pernah menjadi pusat dunianya membakar seluruh akal sehatnya.
Melihat Jameson yang begitu keras kepala menolak untuk tunduk pada rasa sakitnya sendiri malam itu, ada dorongan liar di dalam dada Hazel.
Ia merasa penolakan awal Jameson saat ia mendekati pria itu adalah waktu yang sangat pas untuk membuktikan sesuatu.
Sebuah pembuktian impulsif bahwa ia bisa membalas dendam—bahwa di saat mantan kekasihnya sedang menghabiskan malam pertama bersama sang istrinya di Inggris, Hazel juga sanggup menghabiskan malam yang liar bersama pria asing yang baru saja menolaknya.
Sesimpel dan setragis itu pemikiran seorang Hazel Rosemary Brooks malam itu.
Sebuah pelarian berdarah dari wanita yang terluka parah.
"Kau hanyalah kebetulan yang fatal, Profesor Ashford," bisik Hazel dengan getaran melankolis yang teramat dalam pada suaranya. "Kau adalah pria patah hati yang kebetulan berpapasan dengan wanita yang jiwanya baru saja mati."
Jameson menatap Hazel dalam-dalam.
Untuk pertama kalinya sejak ia mengenal sosok wanita bertato kupu-kupu hitam ini, Jameson tidak melihat seorang pembunuh berdarah dingin yang arogan atau mahasiswi pembangkang yang berpura-pura polos.
Yang ada di hadapannya saat ini hanyalah sesosok jiwa yang teramat sangat sepi—seorang wanita yang menutupi goresan luka dalam di hatinya dengan darah, dan kanvas lukisan.
Cengkeraman Jameson di pinggang Hazel merenggang perlahan, bergeser naik menyangga tengkuk halus wanita itu dengan sentuhan yang mendadak berubah menjadi sangat protektif dan lembut.
"Tiga malam, Hazel..." ulang Jameson dengan nada suara yang tak lagi dipenuhi gertakan ancaman, melainkan sebuah penawaran penuh ketertarikan jiwa yang dalam.
"Tiga malam di penthouse-ku. Tanpa rahasia, tanpa topeng pembunuh, dan tanpa ingatan tentang pria yang telah melukaimu di masa lalu."
Hazel menatap mata hazel milik Jameson yang kini memancarkan kehangatan suram yang begitu memabukkan. Ia menarik napas panjang, meresapi aroma kayu cedar yang mengepungnya, lalu mengangguk pelan dalam kepasrahan yang teramat sangat anggun.
"Baik," bisik Hazel lirih, pasrah pada takdir rumit yang kini mengikat mereka berdua. "Tiga malam... lalu biarkan aku menghilang dari hidupmu sepenuhnya."
Namun, keheningan yang baru saja tercipta di antara mereka tidak bertahan lama.
Tepat saat kehangatan di mata Jameson mulai merayap naik dan suasana emosional itu memuncak, sudut bibir Hazel perlahan terangkat tinggi.
Bahunya berguncang pelan, dan detik berikutnya, sebuah tawa lepas keluar dari tenggorokannya tanpa henti.
"Pfft... Hahaha!"
Hazel tertawa renyah, sebuah suara tawa yang begitu nyaring, mengejek, dan dipenuhi sarkasme murni.
Keanggunan dan kesan rapuh yang baru saja ia perlihatkan menguap tanpa sisa di udara, berganti menjadi tembok pertahanan yang kembali berdiri kokoh dan tak tertembus.
Jameson terpaku di tempatnya.
Cengkeraman tangannya di tengkuk Hazel seketika membeku saat melihat wanita di hadapannya tertawa terpingkal-pingkal bagai baru saja mendengarkan lelucon konyol.
"Kau pikir siapa dirimu, Profesor Jameson Baxter Ashford?" tanya Hazel setelah menghentikan tawanya, menatap lurus ke dalam sepasang mata hazel milik Jameson dengan sorot mata yang kembali dingin dan merendahkan.
Hazel memajukan wajahnya sedikit, menyunggingkan senyum miring yang amat sangat provokatif di depan bibir sang dosen muda.
"Tiga malam di penthouse-mu?" ejek Hazel halus namun menusuk tepat di ulu hati.
"Jika kau memang begitu merindukan sentuhan wanita... kau bisa pergi ke kelab malam dan menyewa seorang jalang dengan uang berlimpah milik keluargamu. Kau tidak perlu berpura-pura menjadi penyelamat atau penawar luka dari hidupku."
Deg.
Kalimat penuh penolakan yang begitu tajam dan mentah itu menghantam kesombongan Jameson tanpa ampun.
Sebelum Jameson sempat memproses keterkejutannya atau melayangkan cengkeraman balasan, Hazel menepis tangan pria itu dari pinggang dan tengkuknya dengan satu gerakan cepat dan tegas.
Tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk tawar-menawar, Hazel memutar tubuhnya dengan sangat anggun.
Rambut panjangnya mengibas elegan di udara saat ia melangkah lebar meninggalkan meja kerja tersebut.
Dengan dagu terangkat tinggi dan keangkuhan seorang putri bangsawan, Hazel membuka pintu ruang kerja lalu melangkah keluar tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Blam!
Pintu kayu tebal itu terhempas menutup kencang, menyisakan kesunyian yang tegang dan memetikan di dalam ruangan.
Jameson berdiri mematung di tengah ruang kerjanya yang luas. Napasnya memburu halus, matanya menatap kosong ke arah pintu yang baru saja tertutup rapat.
Untuk pertama kalinya dalam hidup seorang ahli waris keluarga Ashford—pria yang selalu mendapatkan apa pun yang ia inginkan hanya dengan satu jentikan jari—ia merasakan sensasi pahit dari sebuah kegagalan murni.
Ia gagal.
Gertakan ancaman kasus lukisan berdarah New York yang ia rancang dengan sangat matang sama sekali tidak sanggup mengikat atau menundukkan Hazel Rosemary Brooks.
Jameson mengepalkan kedua tangannya kaku di samping tubuh, meremas udara hampa.
Pria itu menundukkan kepalanya perlahan, lalu menggigit bibir bawahnya sendiri hingga memucat—menahan gelombang emosi campur aduk antara amarah yang membakar dan rasa kagum yang tak terkendali.
Namun, di tengah rasa kekalahan itu, perlahan-lahan sudut bibir Jameson terangkat naik.
Sebuah senyuman tipis yang sangat berbahaya, gila, dan sarat akan gairah perburuan terukir jelas di wajah tampannya.
"Dia benar-benar wanita yang tangguh..." gumam Jameson lirih dengan suara serak yang berat, bergema di dalam ruangan kerjanya yang sunyi.
Pendar mata hazel-nya meledak oleh kilatan tekad mutlak yang kian membara.
Penolakan brutal dari Hazel bukannya membunuh keinginannya, melainkan justru memicu insting dominasi paling gelap di dalam dirinya.
"Lari sesukamu, Hazel..." desis Jameson pelan dengan senyuman miring yang mendinginkan udara. "Tapi aku tidak akan pernah melepaskanmu."
...----------------...
Happy reading 🦋
up up up 🤣