Rumah tangga Kartika dan Deva sudah 10 tahun dan berjalan baik, walau sering mendapatkan banyak rongrongan dari keluarga Deva, entah itu orang tuanya atau adik-adiknya yang suka bergantung kepadanya.
“Kartika, mulai sekarang kebutuhan rumah tangga kita bagi dua. Karena ibu ingin membeli rumah baru untuk Gavin, setoran tiap bulannya tiga juta setengah,” kata Deva di tengah-tengah kumpulan keluarganya.
Mendengar itu Kartika menahan amarah dan kesal. Gaji Deva sebanyak 25 juta sebagian besar digunakan untuk keluarganya.
“Makanya kamu harus bekerja, jangan cuma mengandalkan uang anakku saja!” ucap Bu Hania, mertuanya.
Karena rasa cinta Kartika yang begitu besar kepada Deva, dia sampai meninggalkan rumah dan harta kekayaannya. Dia memilih menjadi ibu rumah tangga agar bisa mengurus suami, anak, dan rumah.
“Oke! Kalau begitu, maka mulai sekarang aku pun akan minta bayaran untuk semua hal yang aku kerjakan di rumah,” balas Kartika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Suasana ruang makan mendadak terasa panas dan menyesakkan. Padahal makanan di atas meja masih utuh. Nasi masih mengepul hangat. Ayam goreng yang tadi dimasak Kartika masih mengeluarkan aroma manis gurih.
Namun, sekarang tidak ada lagi selera makan. Yang ada hanya wajah-wajah tegang dan hawa emosi yang mulai memenuhi ruangan.
Deva berdiri di dekat kursi makan sambil mengusap wajahnya kasar. Kepalanya terasa pening melihat ibu dan adiknya kembali datang membawa masalah uang.
“Maaf, Bu,” ucap Deva akhirnya pelan. “Sekarang aku benar-benar udah enggak punya uang lagi.”
Nada suara Deva terdengar sangat lelah malam itu. Bukan nada tinggi seperti orang marah. Bukan juga nada kesal yang meledak-ledak, melainkan suara seseorang yang sudah terlalu lama memikul beban sendirian sampai akhirnya hampir tidak punya tenaga lagi untuk bicara.
“Aku memang udah enggak punya uang lagi, Bu,” ucapnya pelan sambil mengusap wajah kasar. Kalimat itu membuat suasana rumah langsung terasa berat.
Bu Hania yang duduk di hadapannya langsung memasang wajah tidak puas. Bibir wanita itu maju sedikit seperti menahan kesal.
“Lalu gelang Ibu gimana?” tanyanya cemberut. Nada suaranya terdengar seperti orang yang sedang menagih haknya sendiri.
Di dekat meja makan, Kartika yang sejak tadi sibuk membereskan piring langsung berhenti sebentar. Tangannya masih memegang lap. Namun, matanya perlahan beralih ke arah ruang tamu. Menurutnya masalah ini sebenarnya sederhana sekali. Kalau gelang itu dijual demi menutup utang pesta Gavin, ya, tinggal Gavin yang mengganti. Sudah selesai.
Namun, karena sejak dulu Bu Hania selalu menganggap Deva sebagai penanggung jawab semua masalah keluarga akhirnya semuanya kembali dilempar ke suaminya.
“Harusnya Ibu minta ganti sama Gavin sama Rosita,” celetuk Kartika tenang.
Suara wanita itu tidak keras. Namun, cukup membuat suasana langsung berubah dingin. Bu Hania perlahan menoleh. Tatapannya tajam. Sedangkan Iriana yang duduk di samping ibunya langsung mendelik sinis.
“Aku enggak nanya sama kamu, Kartika!” bentak Bu Hania.
Kartika diam. Namun, rahangnya langsung mengeras menahan sakit hati. Belum selesai sampai di situ, Iriana ikut menyahut dengan nada menyebalkan.
“Kamu itu orang luar. Jangan ikut campur urusan keluarga kita.” Tatapannya penuh sindiran saat melihat Kartika dari atas sampai bawah.
DEG.
Kalimat itu benar-benar menusuk. Kartika sampai menggenggam ujung bajunya sendiri di balik meja. Orang luar, lagi-lagi selalu begitu. Sudah bertahun-tahun ia menikah dengan Deva. Sudah melahirkan anak-anak keluarga itu. Sudah ikut susah senang bersama suaminya. Namun di mata mereka, tetap dirinya dianggap orang luar. Dadanya terasa nyeri.
Ada rasa ingin menangis. Ada juga rasa marah yang perlahan naik sampai ke kepala, tetapi Kartika berusaha tetap tenang. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya menjawab dengan suara datar.
“Aku cuma kasih solusi. Kalau Ibu pengin punya gelang lagi, ya harusnya yang ganti orang yang bikin gelang itu dijual.” Matanya menatap lurus ke arah ibu mertuanya.
“Iriana, jaga ucapan kamu!” Suara Deva tiba-tiba menggelegar keras. Semua langsung terdiam.
Kalingga yang sedang mengunyah makanan sampai menoleh kaget. Bahkan Kaivan yang hendak membuka mulutnya, kembali menutup rapat dan memandangi ayahnya.
Deva menatap adiknya tajam. Wajah pria itu terlihat penuh amarah. Rahangnya mengeras. Matanya dingin.
Iriana langsung tersentak. Mungkin baru kali ini Deva benar-benar membentaknya sekeras itu.
“Kartika itu istriku.” Nada suara Deva terdengar berat dan tegas. “Artinya dia keluarga aku. Dia menantu Ibu. ipar kamu.” Setiap kalimat keluar pelan, tetapi terasa seperti tamparan.
Ruangan mendadak sunyi. Kartika sampai menatap suaminya beberapa detik. Jujur ia tidak menyangka Deva akan membelanya seperti itu. Karena biasanya pria itu lebih memilih diam demi menghindari keributan, namun malam ini berbeda.
Deva terlihat benar-benar muak melihat istrinya terus dianggap orang luar.
Bu Hania dan Iriana langsung saling pandang. Keduanya mulai sadar suasana tidak lagi menguntungkan. Apalagi tujuan mereka datang malam ini sebenarnya hanya satu, uang. Dan Deva sedang tidak dalam kondisi mau ditekan lagi.
Pria itu menarik napas panjang. Lalu bersandar lelah ke sofa sebelum kembali bicara.
“Kalau Ibu tetap mau aku ganti gelang itu,” kata Deva pelan. Ia menatap lurus ke arah ibunya. “Mulai bulan depan aku enggak akan bayar lagi cicilan rumah Gavin.”
DEG.
Mata Kartika langsung membesar. Ia spontan menoleh ke arah suaminya dengan jantung berdebar cepat. Untuk pertama kalinya Deva benar-benar memberikan pilihan sulit pada keluarganya. Dan entah kenapa Kartika menyukainya. Karena akhirnya pria itu mulai belajar tegas.
Sementara Bu Hania langsung melotot tidak percaya. “Apa?!”
Wajah Bu Hania berubah panik. “Nggak bisa begitu!Ibu cuma minta ganti gelang dua puluh lima juta! Masa gara-gara itu kamu enggak mau bayar cicilan rumah Gavin?!” Nada suaranya mulai meninggi karena emosi.
Deva tersenyum hambar. Senyum tipis yang terlihat lelah sekali.
“Biar Gavin belajar tanggung jawab.”
Kalimat sederhana itu langsung membuat Bu Hania kehilangan kata-kata. Karena kenyataannya memang begitu.
Selama ini semua masalah di keluarganya selalu diselesaikan Deva. Cicilan rumah dibantu Deva. Biaya pernikahan dibantu Deva. Utang pesta hampir dilempar lagi ke Deva.
Sedangkan Gavin sendiri? Tetap santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Bu Hania mulai gelisah. Tangannya meremas ujung jilbab sendiri. Karena kalau Deva benar-benar berhenti membayar cicilan rumah Gavin yang repot justru mereka sendiri.
Kartika yang melihat perubahan wajah mertuanya langsung tersenyum tipis. Lalu ia kembali bicara dengan nada suaranya lembut. Namun, setiap katanya terasa menusuk.
“Jangan semua masalah uang dilimpahkan ke Mas Deva terus. Apa Ibu sama Iriana enggak kasihan? Mas Deva kerja pagi pulang malam.”
Bu Hania langsung menatap tajam. Namun, Kartika melanjutkan tanpa takut sedikit pun. Ia menoleh pada suaminya yang tampak lelah.
Kartika menunjuk kepala Deva pelan.
“Apa kalian mau Mas Deva jadi stres karena memikirkan masalah kalian. Jika itu terjadi, Mas Deva akan gila dan dikeluarkan dari perusahaan. Setelah itu siapa yang akan menanggung biaya hidup kita? Kan, kita sama-sama pengangguran yang hanya mengandalkan uang pemberian Mas Deva."
Ruangan kembali hening. Lalu Kartika tersenyum kecil. Dia merasa puas sudah menyindir ibu mertua dan adik iparnya yang sombong itu.
DEG.
Kalimat itu terasa seperti tamparan keras. Wajah Iriana langsung merah. Sedangkan Bu Hania tampak menahan malu sekaligus kesal. Karena semua yang dikatakan Kartika memang benar.
Selama ini mereka terlalu bergantung pada Deva. Dan mungkin mereka baru sadar setelah pria itu mulai berani berkata tidak.
Akhirnya Bu Hania dan Iriana pun pulang dengan tangan kosong dan perasaan yang marah. Wajah mereka masam penuh kekesalan.
Pintu rumah tertutup cukup keras setelah mereka pergi. Suasana langsung hening.
Deva menjatuhkan tubuhnya ke kursi, lalu mengusap wajah lelah. Napasnya panjang dan berat. Seolah seluruh tenaganya habis malam itu.
Kartika berdiri memandangi suaminya diam-diam. Entah kenapa setelah sekian lama ia merasa sedikit lega. Karena akhirnya Deva mulai berani melindungi keluarganya sendiri.
***
Beberapa hari kemudian suasana kembali berjalan seperti biasa. Terdengar kabar baru datang dari keluarga besar Deva.
Kartika mendengar Bu Hania akhirnya mendatangi rumah orang tua Rosita sambil marah-marah meminta ganti rugi gelang emasnya. Katanya mereka sampai terpaksa pinjam uang ke bank demi mengganti uang Bu Hania.
Mendengar cerita itu, Kartika hanya bisa menghela napas panjang. Masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan baik-baik malah makin melebar ke mana-mana.
Siang itu Kartika sedang di taman kompleks bersama Kaivan. Anak kecil itu sedang sibuk meluncur di perosotan sambil tertawa riang.
“Mama liattt!” teriak Kaivan bangga.
“Iyaaa hebat,” jawab Kartika sambil tersenyum kecil, berdiri di samping perosotan.
Angin siang bertiup pelan. Beberapa ibu-ibu tampak mengobrol di bangku taman. Semua terlihat tenang. Sampai tiba-tiba ponsel Kartika berdering.
Nama “Bu Rita” muncul di layar. Kartika langsung mengangkatnya.
“Halo, Bu Rita? Tumben nelepon.”
“Kartika! Gawat!” Suara di seberang sana terdengar panik sekali.
Kartika langsung berdiri. “Kenapa, Bu?”
“Rumah mertua kamu—eh rumah Iriana kebakaran!”
DEG.
Tubuh Kartika langsung menegang. “Apa?!”
Kaivan sampai menoleh kaget melihat wajah ibunya berubah pucat. Dia pun mendekat dan memegang ujung baju Kartika.
“Kenapa bisa kebakaran, Bu?”
“Enggak tahu!” jawab Bu Rita buru-buru. “Api udah besar waktu ketahuan warga!”
Jantung Kartika langsung berdetak keras. “Terus Iriana sama Delisa gimana?!”
“Mereka lagi di sekolah katanya! Ditelepon enggak diangkat-angkat! Nelepon Bu Hania juga sama!”
Kartika langsung panik. Tangannya mulai dingin. Tanpa pikir panjang ia segera meraih tasnya dan menggendong Kaivan.
“Kai, ayo!”
Kaivan yang kebingungan hanya patuh digendong ibunya. Kartika buru-buru memasangkan helm ke kepala putranya dengan tangan gemetar.
Beberapa detik kemudian motor melaju cepat keluar kompleks. Dadanya terus berdebar sepanjang jalan. Entah bagaimana keadaan di sana sekarang.
cerita baru yg lebih baik dan menarik drpd kisah orang tuanya 🤝