"Bagi dunia, aku anak dari sahabatnya. Bagi hatiku, dia pria yang harus kumiliki."
Aluna (20 tahun) menyembunyikan cinta rahasia pada Marko Janitra (45 tahun), sahabat karib ayahnya sekaligus CEO dingin Janitra Group. Demi mendekat, Aluna nekat magang di kantor Marko.
Marko membentengi diri rapat-rapat demi etika dan persahabatan. Namun di antara perbedaan usia 25 tahun dan godaan manis sang anak sahabat, sanggupkah benteng dingin sang CEO bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A.J Lim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 : Perubahan Sikap
Langkah kaki Aluna berpacu cepat menyusuri koridor lantai paling atas. Dadanya bergemuruh hebat, menahan rasa panas yang mendadak membakar seluruh rongga dadanya. Bayangan tangan wanita bergaun merah yang melingkar ramping di bahu Marko terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
"Loh, Mbak Aluna?"
Langkah Luna terhenti mendadak saat berpapasan dengan Rani yang baru saja keluar dari toilet eksekutif. Rani menatap wajah Aluna yang memerah padam dengan heran. "Mbak Aluna kenapa? Kok mukanya pucat gitu?"
Luna menetralkan napasnya, lalu menyodorkan map tebal di tangannya dengan gerakan kaku. "Ini... Mbak Rani. Berkas revisi anggaran dari Pak Doni buat Pak Marko. Tolong sampein ke beliau ya."
"Loh, nggak sekalian masuk aja, Mbak? Pak Marko ada di dalam kok."
"Nggak perlu, Mbak," potong Luna cepat, mengulas senyum tipis yang dipaksakan. "Pak Marko lagi ada tamu istimewa. Saya balik ke divisi dulu. Permisi."
Tanpa menunggu balasan Rani, Luna melangkah lebar menuju lift.
Sementara itu, di dalam ruang kerja CEO, atmosfer mendadak membeku.
Marko berdiri dari kursinya dengan gerakan mendadak hingga kursinya terdorong ke belakang. Pria itu menepis tangan Jessi dari bahunya dengan raut wajah sangat dingin. Sorot matanya tajam dan menghujam, menatap pintu yang kini sedikit terbuka.
"Jessi, mundur," tegur Marko dengan intonasi rendah yang sarat akan ancaman.
Jessi terkejut melihat reaksi drastis Marko. Ia merapikan gaun merahnya sambil bersedekap dada, bibirnya melengkung sinis. "Kamu kenapa sih, Ko? Cuma gara-gara staf magang kantor tadi masuk tanpa ketuk pintu?"
"Dia staf saya, dan kamu tamu di sini," sahut Marko keras, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. "Tolong jaga sikap kamu di kantor saya."
"Gue rekan bisnis kamu, Marko! Atas dasar apa dia berani langsung balik badan gitu aja tanpa minta maaf?" omel Jessi kesal, merasa gengsinya terinjak-injak. "Dia tuh nggak sopan banget! Anak magang kayak gitu harusnya dikasih teguran keras!"
"Cukup, Jessi," potong Marko dingin, melangkah ke balik meja kaca besarnya. "Urusan kita udah selesai. Kamu bisa keluar sekarang."
Jessi mendengus kasar, mengepalkan tangannya. Namun melihat tatapan Marko yang tak bisa dibantah, ia akhirnya menyambar tas mewahnya dan melangkah keluar dengan hentakan histeris.
Marko mengusap wajahnya kasar, memejamkan mata sejenak. Ada rasa gelisah asing yang tiba-tiba menggerogoti pikirannya. Tatapan mata Aluna di ambang pintu tadi—tatapan kecewa dan terluka—terus terbayang di benaknya.
Kenapa saya harus pusing memikirkan perasaan dia? bisik batin Marko berusaha keras menyangkal. Dia cuma anak Ardi. Namun, fakta bahwa Aluna mungkin salah paham membuat dada Marko terasa sesak sepanjang sisa hari itu.
Pukul tujuh malam, kediaman keluarga Raharja tampak megah dipenuhi lampu hias hangat. Suara tawa Ardi menyambut kedatangan Marko yang baru saja tiba di ruang tamu, mengenakan kemeja kasual hitam yang menggulung di lengan, memamerkan postur tubuhnya yang tetap tegap dan berwibawa.
"Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu!" seru Ardi seraya bangkit dan menjabat tangan sahabatnya erat. "Masuk, Ko. Sinta udah masak banyak di meja makan."
"Sori agak telat, Di. Jalanan dari kantor macet banget," balas Marko tersenyum tipis.
"Santai aja. Ayo langsung ke meja makan," ajak Ardi menuntunnya.
Di meja makan panjang berbahan kayu jati mewah, Sinta sedang menata piring-piring hidangan. Tak lama kemudian, langkah kaki ringan terdengar dari arah tangga. Luna turun dengan gaun rumahan berwarna pastel yang sederhana, rambut panjangnya dibiarkan terurai bebas.
Pandangan Marko refleks tertuju pada gadis itu. Namun, tidak seperti biasanya di mana Luna selalu menyambutnya dengan senyuman manis atau tatapan jahil, kali ini Luna bahkan tidak menatap matanya sama sekali.
"Sini, Lun. Duduk di samping Papa," panggil Ardi.
Luna duduk anggun di kursi samping ayahnya, yang posisinya tepat berhadapan langsung dengan Marko.
"Bagaimana hari pertama magang kamu, Aluna?" tanya Sinta ramah seraya menuangkan air ke cangkir Marko. "Om Marko nggak galak kan di kantor?"
Luna meraih sendoknya, menjawab tanpa mengangkat pandangan sedikit pun ke arah Marko. "Nggak kok, Ma. Pak Marko sangat profesional. Bahkan ramah banget sama tamu-tamu cantiknya di kantor."
Kalimat itu meluncur mulus namun menusuk. Gerakan tangan Marko yang hendak meraih cangkir kopi mendadak terhenti di udara. Pria paruh baya itu menatap Luna lekat-lekat, menyadari ada sindiran tajam di balik nada suaranya yang datar.
Ardi tertawa terkekeh, tidak menyadari ketegangan terselubung di antara mereka. "Tamu cantik? Oh, paling Jessi ya? Tadi siang Marko sempat cerita kalau model itu datang buat urusan proyek baru."
"Iya, Papa," sahut Luna santai, mengunyah makanannya perlahan. "Posisinya deket banget malah. Sampe-sampe berkas revisi dari divisi saya harus dititip ke sekretaris biar nggak mengganggu... urusan pribadi Pak Marko."
Marko berdeham pelan, berusaha mengendalikan keterkejutannya. "Aluna, kejadian tadi siang itu cuma salah paham."
Luna akhirnya mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Marko dengan pandangan dingin dan kaku—pandangan yang belum pernah Marko lihat sebelumnya dari gadis itu.
"Salah paham apa, Pak Marko?" tanya Luna dengan nada teramat formal. "Bukannya emang wajar kalau seorang CEO dekat sama brand ambassador-nya? Saya cuma staf magang, nggak ada hak buat nilai atau nyari penjelasan soal kehidupan pribadi Pak Marko."
Ardi dan Sinta saling pandang, merasa aneh dengan perubahan interaksi anak dan sahabat mereka yang mendadak sangat formal dan berjarak.
"Luna... kok ngomongnya gitu sama Om Marko?" tegur Sinta lembut.
"Luna cuma berusaha profesional, Ibu," jawab Luna tenang, menyapu bibirnya dengan tisu. "Di kantor, Pak Marko sendiri yang minta supaya Luna tahu batasan. Jadi di rumah pun, Luna rasa Luna harus mulai terbiasa panggil Pak Marko dan jaga jarak."
Marko mengepalkan tangannya di bawah meja. Ada rasa tidak terima yang sangat besar mendadak bergejolak di dalam dadanya saat mendengar Luna secara sadar menarik garis batas dan bersikap begitu asing padanya. Rasa panik yang tak rasional perlahan merayap naik. Ia ingin sekali menjelaskan bahwa tidak ada apa-apa antara dirinya dan Jessi, namun keberadaan Ardi dan Sinta di tempat itu membuatnya sama sekali tidak punya ruang untuk berbicara jujur.
"Saya sudah selesai makan. Mau ke kamar dulu, ada tugas kampus," ujar Luna berdiri dari kursinya. Ia membungkuk singkat. "Permisi, Pa, Ma... Pak Marko."
Luna berbalik dan melangkah cepat menaiki tangga tanpa menoleh lagi.
Marko menatap punggung gadis itu hingga menghilang di balik belokan lantai dua. Hatinya terasa panas, campur aduk antara rasa bersalah, tidak rela, dan dorongan aneh yang kian meluap.
Satu jam kemudian, jam menunjukkan pukul sembilan malam. Setelah selesai berbincang dengan Ardi di ruang tamu, Marko pamit pulang. Namun bukannya berjalan menuju pintu luar, Marko melangkah perlahan menuju halaman belakang rumah yang sepi, dekat area kolam renang.
Di sana, di bawah sinar bulan remang-remang, Luna sedang berdiri sendirian menyandarkan tubuhnya di pembatas kaca kolam, menatap pantulan air.
Langkah kaki Marko yang berat melangkah mendekat.
Luna yang mendengar gesekan sepatu di atas rumput refleks menoleh. Raut wajahnya mendadak mengeras saat melihat sosok tegap Marko berdiri hanya beberapa langkah darinya.
"Ngapain Pak Marko ke sini? Papa ada di dalam kalau mau pamitan," usir Luna dingin, hendak berbalik pergi.
Namun sebelum Luna sempat melangkah, tangan kekar Marko bergerak cepat memegang pergelangan tangan Luna, menahannya dengan genggaman yang hangat dan posesif.
"Lepas, Pak Marko," bisik Luna tajam, mencoba menghempaskan tangannya.
Marko tidak melepaskannya. Pria itu justru menarik tangan Luna sedikit lebih kuat, membuat tubuh Luna terdorong mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa belasan sentimeter. Aura maskulin dan wangi kayu cendana milik Marko seketika mengurung seluruh indra Luna.
Marko menunduk, menatap dalam-dalam manik mata Luna yang memancarkan kekesalan dan kecemburuan yang membara.
"Kamu cemburu, Aluna?" bisik Marko dengan suara berat, rendah, dan sangat intim.