NovelToon NovelToon
Wasiat Kakak, Suami Pilihan Yang Tak Ku Pilih

Wasiat Kakak, Suami Pilihan Yang Tak Ku Pilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Putri prisella

"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."

Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.

Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.

Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?

Ikuti kisah Kaia...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 21 akan meninggalkan semuanya.

Kaia mendorong pelan pintu kamar apartemen. Tatapannya langsung menyapu setiap sudut ruangan.

Ranjang berukuran king size yang setiap pagi selalu ia rapikan. Wardrobe tempat pakaian-pakaiannya masih tergantung rapi.

Meja kerja kecil di dekat jendela, tempat ia menghabiskan malam menyelesaikan proyek freelance saat Elio memilih pulang larut atau menginap di rumah sakit.

Hari ini... ia akan meninggalkan semuanya.

Untuk selamanya. Kaia mengembuskan napas panjang.Ia berjalan menghampiri ranjang, merapikan seprai yang sedikit kusut, membenarkan posisi bantal, lalu menghaluskan selimut dengan telapak tangannya.

Seolah apartemen itu akan kembali menyambut penghuninya tanpa pernah mengetahui bahwa dirinya telah pergi.

Tatapannya kemudian beralih ke arah wardrobe. Pintu lemari masih terbuka sedikit. Di dalamnya, gaun-gaun, kaus oversized, hoodie, hingga pakaian tidur masih tergantung rapi.

Tak satu pun ia sentuh. Tak ada barang yang akan ia bawa. Ia ingin menghilang... tanpa meninggalkan jejak.

Pandangan Kaia lalu jatuh pada ponsel lamanya yang tergeletak di atas nakas. Layar ponsel itu masih menyala, beberapa notifikasi pekerjaan terus berdatangan.

Perlahan ia meraih benda itu. Jemarinya mengusap layar beberapa detik, sebelum akhirnya menekan tombol daya hingga layar berubah gelap.

"Selamat tinggal..."gumamnya lirih. Ia meletakkan kembali ponsel itu di tempat semula.

Hardja telah menyiapkan ponsel baru dengan nomor yang tidak diketahui siapa pun. Mulai hari ini, seluruh kehidupan lamanya akan benar-benar berakhir.

Yang ia bawa hanyalah sebuah tote bag sederhana. Di dalamnya hanya ada laptop berisi seluruh pekerjaannya dan satu set pakaian ganti.

Itu pun hanya sementara.Sesuai rencana Fadlan, semua barang tersebut akan diganti sebelum ia meninggalkan Indonesia.

Tak ada koper. Tak ada barang bahkan kenangan yang akan ia bawa.Tatapannya beralih pada sebuah amplop putih yang telah ia tulis sejak semalam. Tangannya sempat berhenti di udara.

Ada keinginan untuk merobek surat itu. Mungkin... jika ia pergi tanpa meninggalkan apa pun, Elio tidak akan terganggu dengan kepergiannya.

Namun sedetik kemudian ia menggeleng pelan. Setidaknya ia harus berpamitan. Meski hanya lewat selembar surat.

Perlahan ia meletakkan amplop itu di atas nakas, tepat di sisi ranjang yang biasa ditempati Elio. Tak lupa ia melepas cincin berlian yang selama ini melingkar manis di jarinya. Juga satu ATM dimana setiap bulan Elio memberinya nafkah. lalu diletakkan di atas surat itu.

Matanya kembali berkaca-kaca. "Semoga..." Ia tersenyum tipis, meski bibirnya bergetar. "...setelah ini hidup Kak El benar-benar bahagia." Ia mengusap cepat sudut matanya.

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan tepat. Taksi yang telah disiapkan Fadlan sebentar lagi tiba.

Kaia meraih topi berwarna hitam, memakainya, lalu menggantungkan tote bag di bahunya. Ia membuka pintu apartemen untuk terakhir kalinya.

Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. Tatapannya menyapu ruang tamu, meja makan tempat ia berkali-kali menyiapkan sarapan yang tak pernah disentuh, hingga pintu kamar yang kini perlahan mulai tertutup.

"Terima kasih..." bisiknya pelan. Lalu ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Sebuah taksi hitam telah menunggu di depan lobi apartemen. Kaia masuk dengan tenang, berusaha tidak menunjukkan sedikit pun kegelisahan di wajahnya.

Mobil pun melaju membelah jalanan Jakarta yang mulai ramai. Namun tujuannya bukan langsung bandara.Melainkan sebuah pusat perbelanjaan. Arahan Fadlan sangat jelas. Keluarga Meganthara pasti akan mencarinya. Semua kamera pengawas harus dikelabui.

Hari ini, Kaia benar-benar merasa seperti sedang hidup di dalam film thriller.Setibanya di mal, ia turun dengan langkah biasa. Ia harus tampak seperti perempuan yang sedang menikmati hari liburnya.

Begitu masuk ke toilet wanita, Kaia segera mengunci pintu salah satu bilik.Jantungnya berdetak semakin cepat. Ia membuka tote bag, lalu berganti pakaian.

Kaos yang dikenakannya diganti dengan blouse berwarna krem. Celana jeans berganti menjadi rok panjang. Topi dilepas. Lalu sebuah wig berambut panjang berwarna cokelat perlahan ia kenakan.

Terakhir, masker putih menutupi sebagian wajahnya. Kaia berdiri di depan cermin. Beberapa detik ia hanya menatap bayangannya sendiri.

Bahkan... ia nyaris tidak mengenali perempuan yang kini berdiri di hadapannya. Ia menarik napas panjang. Lalu keluar melalui pintu mal yang berbeda dari saat ia masuk.

Beberapa menit kemudian, sebuah mobil lain telah menunggu untuk membawanya menuju Bandara Soekarno Hatta.

Pukul sepuluh lewat lima belas menit. Kaia memasuki sebuah ruang tunggu khusus. Di sana, Fadlan telah menunggunya seorang diri.

Pria itu berdiri begitu melihat putrinya datang, tak banyak basa-basi. Ia langsung menyerahkan sebuah map kulit berwarna hitam juga tas kecil.

"Di dalamnya ada paspor, izin tinggal sementara, rekening bank, kartu identitas, gadget baru, dan seluruh dokumen yang kamu perlukan."

Kaia menerima map dan tas itu dengan kedua tangan yang sedikit bergetar. "Apa... semuanya sudah selesai, Pa?"

Fadlan mengangguk pelan. "Mulai hari ini, hanya Papa, Kakek, dan Nenek yang tahu kamu berada di mana."

Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Tidak akan ada seorang pun yang bisa melacak mu tanpa seizin Papa."

Kaia menggigit bibir bawahnya. Ia tahu semua itu bukan perkara mudah. Selama puluhan tahun membangun bisnis ekspor impor, pelayaran, pergudangan, dan distribusi internasional, Fadlan memiliki jaringan luas hingga ke berbagai negara.

Jalur-jalur yang biasa digunakan untuk mengurus dokumen lintas negara kini dimanfaatkan untuk satu tujuan memastikan putrinya dapat memulai hidup baru tanpa jejak.

Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat.Pengumuman boarding mulai terdengar dari pengeras suara.Kaia mengangkat wajah.

"Pa..."

Fadlan menoleh. Kaia tersenyum kepadanya, senyum pertama kalinya tanpa rasa takut. Senyum yang begitu mirip Ivanka.

"Terima kasih, Pa." Air matanya kembali menggenang.

"Tolong sampaikan salam Kaia buat Kakek sama Nenek."

Hardja dan Farida sengaja tidak ikut mengantar. Mereka khawatir terlalu banyak orang yang mengetahui keberangkatan Kaia justru akan menimbulkan kecurigaan.

Fadlan hanya mengangguk.Namun tepat ketika Kaia berbalik menuju pintu keberangkatan... suara berat itu akhirnya terdengar.

"Jaga diri baik-baik...Nak."

Kaia berhenti melangkah.Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.

Selama dua puluh tiga tahun... itulah pertama kalinya ayahnya memanggilnya dengan sebutan yang selalu ia rindukan.

Perlahan Kaia menoleh.Namun Fadlan telah lebih dulu membalikkan badan. Bahu pria itu tampak sedikit bergetar.

Bukan karena marah.Melainkan karena ia tak ingin putrinya melihat air mata yang akhirnya luruh setelah bertahun-tahun ia pendam.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Kaia menggenggam erat map di dadanya. Lalu melangkah menuju pintu keberangkatan.

Begitu memasuki kabin pesawat, Kaia melangkah perlahan menyusuri lorong di antara deretan kursi.

Ia berhenti di kursi dekat jendela. Dengan gerakan pelan, ia meletakkan tote bag di bawah kursi, lalu duduk sambil memasang sabuk pengaman.

Suara pramugari yang sedang memberi arahan keselamatan terdengar samar di telinganya. Namun pikiran Kaia sudah jauh melayang.

Ia menoleh ke arah jendela.Dari balik kaca, landasan pacu terbentang luas. Pesawat- pesawat lain tampak bergerak bergantian, sementara langit Jakarta siang itu begitu cerah.

Matanya memandangi semua itu cukup lama. Seolah sedang mengucapkan selamat tinggal pada tanah kelahirannya.

"Kak Kiara..." Suara Kaia begitu lirih hingga nyaris tenggelam oleh suara mesin pesawat.

"Maafkan aku...." Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya. "Aku nggak bisa melanjutkan rumah tangga ini. Aku sudah berusaha. Bener- bener berusaha. Tapi aku sama Kak Elio... hanya saling menyakiti."

Bibirnya bergetar. Ia buru-buru mendongakkan wajah, menahan air mata agar tidak jatuh. Beberapa kali ia menarik napas panjang hingga dadanya terasa sesak.

Perlahan kedua tangannya turun. Telapak tangan kanannya mengusap lembut perutnya yang masih rata.

Begitu hati-hati, penuh kasih sayang. Kemudian ia membuka map kecil yang sejak tadi dipeluknya.

Di dalamnya terselip selembar foto hitam putih hasil pemeriksaan USG. Tatapan Kaia melembut.

Kemarin sore, Farida diam-diam mengajaknya ke sebuah klinik kandungan kecil di pinggiran Bekasi jauh dari Jakarta Selatan. Bukan rumah sakit besar, apalagi Rumah Sakit Meganthara.

Semua dilakukan dengan sangat hati-hati. Bahkan sejak mendaftar hingga pemeriksaan selesai, Kaia menggunakan identitas barunya agar tak meninggalkan jejak sedikit pun.

Kaia masih terngiang suara dokter saat itu. "Selamat, Bu. Kehamilannya sehat. Dan... Di sini ada dua kantong, ini kehamilan kembar."

Saat itu Kaia hanya mampu terdiam. Matanya langsung dipenuhi air mata. Ia tidak pernah membayangkan...

bahwa di dalam rahimnya tumbuh dua kehidupan sekaligus. Dua alasan baru untuk tetap bertahan hidup.Jemarinya mengusap perlahan foto USG itu. Senyumnya tipis namun dipenuhi haru.

"Halo..." bisiknya lirih.

"Mama janji akan melindungi kalian. Apapun yang terjadi, walaupun..." Ia menarik napas panjang. "...Mama harus menjauhkan kalian dari Papa kandung kalian sendiri."

Air mata akhirnya jatuh.Bukan karena ia membenci Elio.Melainkan karena ia takut.

Takut kehilangan dua kehidupan kecil yang bahkan belum sempat melihat dunia.

Tak lama kemudian suara kapten terdengar memenuhi kabin. "Seluruh penumpang diharapkan mengenakan sabuk pengaman. Pesawat akan segera lepas landas."

Kaia mengusap cepat air matanya. Ia menggenggam erat foto USG itu. Lalu kembali memandang keluar jendela.

Perlahan pesawat mulai bergerak semakin cepat. Hingga akhirnya roda-roda itu terangkat meninggalkan landasan.

Jakarta perlahan mengecil di bawah sana. Gedung-gedung tinggi berubah menjadi titik-titik kecil.

Begitu pula seluruh luka yang selama ini membelenggunya. Kaia memejamkan mata.

Mengembuskan napas panjang.

Saat kembali membukanya...

ia tahu, perempuan yang meninggalkan Indonesia hari ini... bukan lagi Kaia yang selalu hidup dalam bayang-bayang penolakan.

Bukan lagi gadis yang terus memohon untuk dicintai. Mulai detik ini... ia akan hidup. Bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga... untuk dua jantung kecil yang kini berdetak di dalam rahimnya.

...****************...

* Bersambung *

* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*

*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝 *

*Terimakasih🙏*

*Salam manis dari AUTHOR ☺️*

*ig@putri_miceela.*

1
Ariany Sudjana
kenapa kamu harus sedih Elio? kan selama ini kamu mengabaikan Kaia dan lebih percaya sama si pelacur murahan itu, tanpa mau mencari tahu kebenarannya, katanya kamu dokter, tapi bodohnya kebangetan
Marini Suhendar
Elio dulu hanya mendengarkan dr 1 pihak tanpa dia cerna kembali..klo tau sebenarnya mungkin tak kan memperlakukan kaia seperti ini..kenapa kaira dulu ingin menikahkan mereka karena mungkin tau yg sebenarnya kaia
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Kaia, sehat selalu buat si kembar
Ariany Sudjana
Neo sebaiknya jangan beritahu Elio, biarkan saja dia menanggung akibat dari perbuatannya sendiri
Ariany Sudjana
kenapa kamu harus sibuk mencari Kaia? bukannya selama ini Kaia selalu kamu acuhkan Elio? sudahlah biarkan Kaia memulai hidup baru di negara lain bersama si kembar
Ariany Sudjana
good decision Kaia, kamu akan memulai kehidupan baru di Slovenia dengan si kembar
Putri Anggraini
cerita sangat bagus sayang kalau gak di baca😍
Nazira Kania: Hai Kak 😊 Saya dari tim redaksi Perkasa Satu. Naskah Kakak di Noveltoon menarik dan layak diterbitkan menjadi buku. Saat ini kami membuka Program Terbit Gratis Edisi September untuk 10 naskah tercepat, dengan Free ISBN dan buku yang diterbitkan dapat masuk Gramedia digital maupun offline (s&k). Fasilitas lainnya: editing, desain cover, sertifikat penulis, promosi, serta royalti 20–30%. Tertarik? Hubungi Admin 📱 083197323183.
total 1 replies
Ariany Sudjana
bagus Kaia, segera kamu bercerai dengan laki-laki yang masih ga bisa move on dari masa lalunya, apalagi kamu lagi hamil dan Elio kan ga mau punya anak dari kamu, jadi lebih baik kamu pergi ke LN, kamu cari kerja di LN untuk menghidupi kamu dan juga bayi dalam kandungan kamu
Ariany Sudjana
pasti si tukang foto ini suruhan si Mak Lampir (mama kandung Kiara)
Ariany Sudjana
sebaiknya kamu tinggalkan saja Elio itu kaila, percuma mau kamu jungkir balik berusaha jadi istri yang baik, di mata Elio kamu tetap bukan siapa-siapa
falea sezi
lanjut bahaya jg elio😒
Putri Anggraini: MLM ini kita lanjut lagi ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!