NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Sinyal yang Bertabrakan

...----------------...

Minggu-minggu pertama di SMA Nusantara Jaya tidak berjalan seperti yang Alee bayangkan. Bukannya makin akrab dengan teman sebangkunya, jarak antara Alee dan Rama justru semakin membentang lebar bagaikan jurang yang tak kasat mata.

Bagi Alee yang meledak-ledak, spontan, dan suka ceplas-ceplos, sikap Rama yang terlalu tenang lambat laun berubah menjadi hal yang menyebalkan. Rama jarang memulai percakapan jika tidak ditanya lebih dulu. Cowok itu selalu membalas ocehan panjang Alee dengan senyuman tipis, anggukan seadanya, atau jawaban sepatah dua patah kata yang kelewat hemat.

Alee mulai menarik kesimpulan sendiri di dalam kepalanya " Rama itu sombong, jual mahal, dan pemilih teman".

"Nih, tugas Fisika lu. Udah gue salin balik," kata Alee suatu pagi sambil menghentakkan buku catatan ke atas meja Rama.

Rama yang sedang merapikan tempat pensilnya menoleh tenang. Ia mengambil bukunya, lalu mengangguk sopan. "Makasih, Alee."

"Santai," sahut Alee cepat sambil melipat kedua tangannya di dada. Tangannya menggetok-getok siku dengan tidak sabar. "Lagian lu aneh banget sih. Lu tahu jawabannya tapi diam aja pas Pak Hartono nanya kemarin. Sok-sok merendah biar dibilang misterius ya?"

Rama menatap Alee sejenak dengan matanya yang teduh, lalu tersenyum tipis senyuman yang bagi Alee terlihat seperti respons formalitas yang kelewat terlatih.

"Nggak juga. Lebih enak nunggu yang memang mau jawab duluan," jawab Rama santai tanpa beban.

Alee memutar bola matanya malas. "Halah, jual mahal banget. Padahal kalau pinter mah pinter aja, nggak usah dipendam-pendam gitu. Kayak memilih kasta pergaulan aja."

Rama tidak membalas. Ia hanya menarik napas pelan, kembali fokus pada buku bacaannya tanpa berniat memperpanjang perdebatan. Sikap 'mengalah' dan pasif dari Rama ini justru makin membuat Alee gemas sekaligus jengkel. Alee merasa Rama sengaja membangun benteng tinggi agar tidak ada yang benar-benar bisa akrab dengannya.

Dugaannya makin kuat saat istirahat. Rama lebih sering terlihat mengobrol terbatas dengan anak-anak tertentu yang cenderung pendiam dan rapi, atau memilih duduk menyendiri di sudut perpustakaan. Sementara Alee sudah wara-wiri ke sana kemari, berkenalan dengan separuh angkatan, serta menjadi biang kerok keramaian di koridor kelas 10.

......................

Suasana kelas 10 MIPA 1 yang sedang riuh tiba-tiba hening ketika bel istirahat kedua berbunyi dan dua orang pengurus OSIS senior masuk ke dalam kelas. Salah satu dari mereka seorang siswi kelas 12 dengan papan jalan di tangannya mendeham keras.

"Selamat siang, adik-adik 10 MIPA 1!" sapa pengurus OSIS tersebut dengan suara lantang.

"Siang, Kak!" sahut serentak anak-anak kelas.

"Baik, kami di sini ingin menyampaikan pengumuman penting terkait tradisi terbesar SMA Nusantara Jaya yang diadakan tiap awal tahun ajaran," lanjutnya sambil tersenyum misterius.

Mata Alee seketika berbinar. Ia langsung menegakkan posisinya, memajukan tubuhnya ke depan meja. Rasa jengkelnya pada Rama menguap begitu saja, digantikan oleh rasa penasaran yang meluap-luap.

"Minggu depan, sekolah kita akan menggelar acara 'Nusantara Purna Eskpresi' atau yang biasa kita sebut NPE !" seru senior tersebut.

Riuh bisik-bisik langsung memenuhi ruangan. Alee mendengar beberapa anak di belakangnya berseru antusias.

"NPE ini adalah panggung unjuk bakat tahunan. Dan ketentuannya wajib: setiap kelas dari jenjang X, XI, hingga XII wajib mengirimkan 1 sampai 3 orang perwakilan untuk tampil di atas panggung utama menunjukkan bakat terbaik mereka. Mau menyanyi, menari, puisi, atau seni pertunjukan lainnya, bebas!"

"Wah, seru banget!" gumam Alee antusias. Matanya sudah berbinar-binar. Jemarinya sibuk mengetuk-ngetuk meja, membayangkan bentuk panggung acara tersebut.

Senior OSIS itu lalu memandang ke arah meja guru. "Wali kelas kalian, Pak Hartono, sudah memberikan daftar nama hasil penunjukkan langsung berdasarkan data prestasi dan ekstrakurikuler yang kalian daftarkan waktu penerimaan siswa baru."

Seluruh isi kelas menahan napas. Alee mencondongkan badan, berharap namanya dipanggil karena ia ingin sekali unjuk gigi dan meramaikan panggung.

"Untuk 10 MIPA 1, perwakilan pertama yang ditunjuk adalah..." Senior itu melihat kertas di papan jalannya. "Anugrah, Fajri, Ramaditya!"

Seketika mata Alee melotot lebar. Ia refleks menoleh tajam ke arah Rama yang duduk di sebelahnya.

Rama sendiri tampak kaget. Alisnya bertautan pelan, dan untuk pertama kalinya, Alee melihat ekspresi tidak tenang di wajah cowok itu. Rama yang biasanya tertata rapi kini tampak ragu dan agak melipat bibirnya.

"Rama? Bakat apaan?" bisik Alee ceplas ceplos tanpa filter, matanya menatap Rama penuh curiga. "Lu bisa akrobat ya? Atau pantomim?"

Rama melirik Alee tipis, tidak membalas ejekan itu. Ia lalu mengangkat tangannya pelan ke arah senior OSIS. "Maaf, Kak... apa nggak bisa diganti sama yang lain aja? Saya rasa masih banyak teman-teman yang lebih mau tampil."

"Nggak bisa, Rama. Ini sudah keputusan wali kelas kamu berdasarkan berkas penelusuran minat bakat," jawab senior itu tegas namun ramah. "Lagian ini kesempatan bagus buat saling kenal."

Rama menarik napas panjang dan akhirnya mengangguk pasrah. "Baik, Kak."

Alee menyunggingkan senyum miring, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil bersedekap. Di matanya, Rama pasti cuma berpura-pura enggan agar makin terlihat 'misterius' dan dicari-cari orang.

"Alah, sok-sok nolak. Palingan juga lu udah siap-siap dari rumah," cibir Alee pelan, hanya bisa didengar oleh Rama.

Rama menoleh ke Alee. Pandangannya tenang, namun ada sedikit helaan napas lelah di sana. "Terserah kamu mau mikir apa, Alee."

"Kita lihat aja nanti di acara Nusantara Purna Ekspresi. Jangan sampai lu malu-maluin 10 MIPA 1 gara-gara sikap jual mahal lu itu ya," balas Alee petantang-petenteng dengan dagu terangkat tinggi.

Rama tidak menjawab lagi. Ia memilih merapikan alat tulisnya dan melihat ke luar jendela. Sementara itu, Alee terus memperhatikan pergerakan Rama dengan penuh rasa penasaran yang ditutupi oleh gengsi.

Alee berjanji pada dirinya sendiri: minggu depan, saat acara unjuk bakat itu digelar, ia akan berdiri di barisan paling depan di dekat panggung utama. Ia ingin menyaksikan secara langsung apa yang bisa dilakukan oleh seorang Ramaditya apakah cowok pendiam ini memang benar-benar menyimpan sebuah kejutan, ataukah ia hanya seorang cowok jual mahal yang pandai bersikap dramatis.

Sementara itu, Rama mengembuskan napas pelan, menatap lurus ke arah papan tulis. Ia tahu pandangan Alee terhadapnya jauh dari kata ramah, tetapi ia memilih tak ambil pusing. Bagi Rama, panggung Nusantara Purna Ekspresi minggu depan bukanlah ajang untuk membuktikan diri kepada siapa pun termasuk kepada gadis petantang-petenteng di sebelahnya ini.

Dua kepribadian yang saling bertolak belakang itu kini duduk berdampingan dalam hening, menyisakan ketegangan tipis yang menggantung di udara, menunggu waktu hingga panggung unjuk bakat itu benar-benar dimulai.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!