Riu Han melangkah keluar dari pintu teleportasi yang menghubungkan Alam Bawah ke Dunia Atas, namun terpisah dari dua sahabatnya, Genbu si Kura-kura Hitam dan Bai Wing si Harimau Putih, karena sistem pengiriman yang acak. Sendirian di hamparan bunga asing, ia bergegas menuju arah kepulan asap untuk mencari petunjuk.
Kedatangan Riu Han ternyata memancarkan Aura Giok Nirvana yang telah hilang selama dua puluh tahun, menarik perhatian dua penguasa di tempat itu — masing-masing mengutus orang kepercayaan mereka, Bai Mo dan Zi Lan, untuk mengawasi sosok yang membawa aura tersebut.
Sementara itu, Riu Han tiba di sebuah pondok kayu dan bertemu dengan Su Zan Si, seorang pemburu tunggal yang ternyata juga berasal dari Alam Bawah. Su Zan Si dengan ramah memberikan arahan serta penjelasan penting: mengapa kekuatan dan gerakan Riu Han terasa terbatas di sini, bagaimana energi tubuhnya akan menyesuaikan diri, serta gambaran luas tentang dunia ini yang terdiri dari Empat Wilayah dan puluhan alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Di Perkampungan Binatang Roh dan Alam Semesta Mini
Langkah Riu Han perlahan menjauhi Kota Perbatasan, hingga bangunan-bangunannya tak lagi terlihat di kejauhan. Ia menengadah ke langit, lalu melesat naik — angin menerpa wajahnya, membawa aroma hutan yang kian pekat. Sekitar satu jam terbang lurus ke arah yang dituju, akhirnya di bawahnya terbentang pemandangan yang sungguh berbeda. Ia menurunkan ketinggian, mendarat perlahan di tanah yang ditumbuhi rumput hijau lebat, tepat di hadapan sebuah gerbang yang sederhana namun kokoh. Di atasnya tertulis: Gerbang Perkampungan Binatang Roh.
Tidak ada penjaga yang berdiri di sana, tidak ada pemeriksaan, tidak ada ketegangan. Gerbang ini seakan terbuka bagi siapa saja yang datang dengan niat baik. Riu Han menarik napas panjang, lalu melangkah masuk.
Di hadapannya, batas antara hutan, permukiman, dan kota seakan lenyap. Pohon-pohon raksasa tumbuh berdampingan dengan rumah-rumah yang dibangun menyatu dengan batangnya; kios dan kedai berdiri di bawah naungan dedaunan yang rimbun; jalan setapak berkelok membelah kebun dan ladang yang hijau. Suasana damai dan harmonis — seakan alam dan peradaban tumbuh bersama, bukan saling menyingkirkan.
Riu Han berjalan perlahan, menikmati suasana yang sejuk ini, ketika sebuah suara menyapanya dengan riang.
"Hahahaha! Wahai sahabat muda, kemarilah! Lihatlah, aku memiliki barang-barang indah yang tak akan kau temukan di tempat lain!"
Seorang pria paruh baya melambai padanya. Matanya tajam dan jernih, rambutnya berwarna keemasan, hidungnya lancip — ciri khas yang menunjukkan ia adalah Binatang Roh yang telah mengambil wujud manusia. Tingkat kultivasinya pun tidak rendah: tingkat akhir ranah Dewa Menengah.
Riu Han mendekat dan memberi salam dengan sopan. "Maaf, Paman. Saya ingin menanyakan sesuatu."
Pria itu tertawa renyah. "Hahahaha, Tuan Muda yang ramah! Sayangnya aku hanya pedagang pernak-pernik, bukan penyimpan kabar. Jangan berharap banyak padaku."
Riu Han tersenyum tipis, lalu mengeluarkan sebutir batu roh kelas atas dari Cincin Ruangnya. Di dunia ini, batu roh adalah satu-satunya alat tukar yang bernilai tinggi; emas dan perak hanyalah hiasan dinding dan bahan bangunan.
"Paman, batu ini milik Anda jika Anda bersedia menjawab pertanyaanku," ucapnya lembut.
Mata sang pedagang berbinar. Ia menyambar batu itu seketika, menimbang di telapak tangannya, lalu tersenyum lebar. "Baiklah, Tuan Muda! Tanyakan saja, apa yang aku tahu akan kukatakan."
"Anda asli di sini, bukan?" tanya Riu Han.
"Tentu saja, lahir dan tumbuh di tanah ini."
"Beberapa hari yang lalu, dua orang baru masuk ke sini — satu berpakaian serba hitam, satu lagi serba putih. Apakah Anda melihat mereka? Ke mana mereka pergi?"
Senyum sang pedagang perlahan mengubah bentuk. Ia mengangguk pelan. "Aku tahu siapa yang kau maksud. Namun maafkan aku, Tuan... di sini ada aturan yang tak tertulis. Dua orang itu bukan orang sembarangan. Mereka adalah keturunan Binatang Roh Suci. Tanpa izin dari pemimpin perkampungan, tak seorang pun boleh membicarakan mereka sembarangan. Lebih baik kau menemui Tuan Sun Li sendiri."
Ia menunjuk ke arah sebuah pohon raksasa yang menjulang di bagian terdalam perkampungan, lalu menjelaskan jalan yang harus ditempuh.
Riu Han mengucapkan terima kasih dan melanjutkan langkahnya. Ia mengerti sekarang. Di kalangan Binatang Roh, empat makhluk legendaris — Naga, Harimau Bersayap, Kura-kura Hitam, dan Burung Phoenix — dianggap sebagai leluhur suci. Keturunan mereka yang berdarah murni sangat sedikit jumlahnya, dan dilindungi sepenuh hati oleh seluruh kaum. Kehadiran Genbu dan Bai Wing tentu menjadi peristiwa besar di tempat ini.
Jalan yang dituju membawanya ke bawah naungan pohon setinggi gunung kecil. Di batangnya, terbangun sebuah rumah kayu yang luas dan indah, seakan bersandar pada alam itu sendiri. Riu Han berdiri di bawahnya, lalu memberi salam dengan lantang namun sopan.
"Salam sejahtera, Tuan. Nama saya Riu Han. Saya ingin bertemu dengan Anda, ada hal yang ingin saya tanyakan."
Suara tua namun jernih turun dari atas. "Naiklah."
Riu Han melesat naik perlahan, mendarat di beranda yang luas. Di sana duduk seorang lelaki tua dengan rambut dan jubah seputih awan, namun wajahnya tampak bercahaya dan matanya tajam menembus. Ia menatap Riu Han dari ujung rambut hingga kaki, seakan membaca apa yang tersembunyi di dalamnya.
"Anak muda," ucapnya pelan, "apakah kau berasal dari Klan Fang?"
Riu Han menggeleng. "Bukan, Tuan. Saya hanyalah pelancong yang datang mencari saudara saya."
Lelaki tua itu tersenyum tipis, seakan mengetahui sesuatu yang lain. Dia berkata jujur, batinnya. Namun darah Phoenix yang mengalir di tubuhnya sungguh kental, tak bisa disembunyikan.
"Apakah saudaramu itu seekor kura-kura hitam dan seekor harimau putih?" tanyanya tiba-tiba.
Riu Han tertegun sejenak, lalu mengangguk.
"Hahahaha, tidak perlu begitu terkejut," lelaki tua itu tertawa lembut. "Di tempat yang asing ini, siapa pun yang baru datang akan mudah dikenali. Dan selama bertahun-tahun, hanya dua orang itulah yang muncul belakangan ini. Jadi siapa pun yang mencarinya, pasti berkaitan dengan mereka."
Riu Han menyadari kebenaran kata-katanya. Sejak melangkah masuk ke perkampungan ini, ia sesekali merasakan kehadiran Genbu dan Bai Wing — aura mereka samar namun nyata, kadang terasa dekat, kadang lenyap seakan tertutup kabut tebal.
"Tuan," tanyanya dengan penuh harap, "di mana mereka sekarang? Apakah mereka baik-baik saja?"
"Mereka sehat dan aman, jangan khawatir," jawab lelaki tua itu tenang. "Hanya saja saat ini mereka tidak berada di alam yang sama dengan kita."
Riu Han mengerutkan kening. "Tidak di alam ini?"
"Benar. Di luar tempat yang kita tinggali, ada dunia yang lebih luas. Alam Empat Wilayah hanyalah sebagian kecil dari gambaran besarnya. Ada alam yang lebih rendah, ada yang lebih kecil, dan ada alam semesta yang tak bertepi. Dua anak muda itu saat ini berada di sebuah alam semesta mini — sebuah dunia mandiri yang terpisah namun masih berdekatan dengan tempat ini."
Lelaki tua itu — yang menyebut dirinya Sun Li — mencondongkan tubuh sedikit, matanya menerawang jauh seakan melihat masa lalu yang jauh.
"Alam semesta mini seperti itu lahir bersamaan dengan pembentukan dunia-dunia besar. Ia memiliki langitnya sendiri, tanahnya sendiri, bahkan waktunya sendiri. Dulu tempat ini milik makhluk-makhluk kuno yang menguasai ruang dan waktu, dan kini tersisa sebagai tempat latihan bagi mereka yang berdarah suci. Jaraknya dekat, namun tanpa jalan yang benar, tak akan bisa ditemukan."
Ia menatap Riu Han lekat-lekat. "Ketahuilah, anak muda: empat Binatang Roh Legendaris lahir bersamaan dengan terbentuknya Alam Bawah dan Alam Empat Wilayah. Mereka adalah bagian dari semesta yang lebih luas. Tempat kita berdiri ini hanyalah satu titik di antara banyak dunia yang terpisah oleh jarak dan waktu. Seorang kultivator ranah Semi-Abadi butuh berhari-hari hanya untuk terbang dari satu bintang ke bintang lain. Dan tak ada portal yang menghubungkan semuanya — harus ditempuh dengan kekuatan sayap dan kehendak sendiri."
Riu Han tertegun. Selama ini ia mengira dunia yang ia kenal adalah segalanya. Ternyata masih ada tempat yang jauh lebih luas, jauh lebih ajaib, dan penuh dengan misteri yang tak terbayangkan.
"Jadi... mereka berlatih di sana?" tanyanya pelan.
"Ya. Sejak hari pertama mereka tiba di sini, mereka tinggal di rumahku. Mereka menceritakan tentangmu, tentang perjalanan kalian. Ketika kesempatan itu datang, mereka masuk ke sana untuk mengasah kemampuan. Kamu pun bisa menyusul mereka, jika kau siap."
Sun Li tersenyum hangat. "Aku sudah menunggu kedatanganmu, Riu Han. Sejak kau melangkah masuk ke perkampungan ini, aku tahu kau akan datang. Darahmu memberitahuku — dan juga hatimu."
Riu Han menunduk hormat, rasa syukur memenuhi dadanya. "Terima kasih, Tuan Sun Li. Terima kasih telah menjaga mereka."
"Tak perlu berterima kasih," jawab lelaki tua itu lembut. "Mereka bukan sekadar tamu. Mereka adalah bagian dari kami. Dan kau... kau juga memiliki tempat di sini, jika kau menginginkannya."
Angin berhembus pelan di antara dedaunan, menciptakan suara seperti nyanyian lembut. Riu Han berdiri di beranda itu, menatap langit yang biru jernih, dan untuk pertama kalinya ia menyadari: perjalanan yang ia tempuh hanyalah permulaan. Di sana, di alam semesta mini yang terpisah itu, Genbu dan Bai Wing sedang menantinya — dan sesuatu yang lebih besar sedang menanti mereka bertiga.
Lanjut Up Thor..
Tetap semangat Thor 💪💪