NovelToon NovelToon
Ingat! Kita Itu Mantan

Ingat! Kita Itu Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:588
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Update setiap hari!

Bianca, putus dengan pacarnya yang sudah bertahun-tahun bersama. Namun, setelah putus bukannya asing, mereka justru terus dipertemukan dalam kejadian yang tak terduga.
Entah ini kebetulan? atau memang sengaja di buat oleh Arsen.

"Bagaimana bisa, bos baruku ternyata adalah dia?! Arsenio sialan! Bagaimana caranya kami menjadi mantan jika terus seperti ini?!" geram Biancca yang sudah frustrasi.

"Aghh, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjadi mantan!" --Arsenio Kendrick

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

“Apa,” Bianca yang mendengar ucapan dari Mayang pun langsung terbangun, ia spontan langsung berdiri menghadap sang ibu.

“Maksud ibu apa?” Tanya Bianca, seolah tak percaya dengan apa yang sempat ia dengar tadi.

Bu Mayang menarik lengan Bianca dengan lembut, membawanya untuk duduk di sofa lalu membicarakannya baik-baik, dan tentu saja Bianca pun mengikutinya.

“Maksud ibu apa?” Ulang ucapan Bianca.

“Tapi kamu jangan marah ya, janji sama ibu” Bu Mayang, menunjukkan jari kelingkingnya. Hal itu di sambut baik oleh Bianca.

“Iya, Aluna janji." Bianca menautkan jari kelingkingnya.

“Sebenarnya Bianca, ibu ada hutang sama Arsen, uang yang sempat ibu kasih ke kamu 5 miliar itu. Sebenarnya bukan tabungan ibu, itu uang dari Arsen untuk bayar hutang Nando,” mendengar hal itu sontak Bianca dan Lucia langsung syok, kini keduanya langsung menoleh ke samping, mereka menatap Nando dengan tatapan penuh kemarahan.

Sedangkan Nando, pria itu hanya sibuk dengan acara televisinya dan terus tertawa bahkan di situasi seperti ini.

"Bisa-bisanya dia tertawa. HAI NANDO, APA KAU TIDAK PUNYA MALU." Teriak Bianca di akhir kalimatnya. Namun hal itu tidak cukup untuk membuat Nando sadar.

"Ayolah, apa gunanya pria itu. Hanya 5 Miliar, kau menikah sama pejabat saja bisa dapat lebih dari itu. Cih, hanya 5 miliar saja gayanya setengah mati, setiap hari saat kau berpacaran dengannya. Dia selalu numpang makan di sini, apa aku marah." Ucap Nando dengan santainya sebari makan kuaci.

Bianca sudah maju, ia ingin sekali memukul kakak laki-lakinya itu. Namun Lucia langsung memeluknya dari belakang, bermaksud untuk menahan Bianca agar gadis berhenti.

"Kakak, tahan emosimu. Aku mohon!" Ucap Lucia, gadis itu dengan susah payah menahan kakaknya.

“Kau gila ya, bagaimana bisa kau berucap seperti itu soal Arsen hah, kau benar-benar menyebalkan, dasar Nando tua bangka." Bianca yang tak terima, kini menginjak kaki Lucia.

"Agh, sakit." Lucia memegang kakinya kesakitan, hingga terjatuh ke lantai. Bianca pun langsung maju, gadis itu memukul Nando dengan bantalan sofa yang ada di belakang Nando.

“Iya, iya maaf. Lagian siapa suruh kau terima pekerjaan sembarangan,” Bukannya balik menyerang, pria itu memilih mengalah. Karena ia tidak suka acara tontonannnya saat ini harus terganggu karena Bianca.

“Sembarangan kau bilang, mau aku pukul lagi hah. Siapa yang meninggalkan hutang sampai miliaran rupiah di rumah ini selain kau brengsek.” Bianca yang sudah muak dengan pria itu, gadis itu kini bahkan kembali melancarkan serangannya, ia kembali memukul Nando lagi dan lagi.

Lucia dan Bu Mayang yang melihat kejadian itu pun seketika memberikan tatapan datarnya.

Setelah beberapa saat hanya menonton, Lucia bersama ibunya kini berusaha menarik Bianca menjauh dari Nando. “Kau benar-benar menyebalkan, aku benci padamu.” Bianca kini di seret menjauh oleh adik dan ibunya.

"Lepaskan aku, aku masih mau menghajar Nando." Gadis itu di seret pergi begitu saja, dan di masukkan ke kamarnya. Lucia bahkan mendorongnya hingga jatuh atas kasur. Bianca lari berusaha keluar kamar, namun sayangnya ucapanya gagal. Bu Mayang dan Lucia mengunci dirinya dari luar kamar. Bianca seketika langsung pasrah, gadis itu kini berjalan mendekati kasur dan merebahkan dirinya di atas ranjang.

Sedangkan Nando, dia merasa sangat menyesal telah berbicara hal itu. Namun sudah terlambat baginya, lantaran Bianca sudah sangat kepada pria itu. “Maaf, seharusnya memang aku tak mengatakan itu,” ucap Nando sebari menunduk. Pria itu berdiri di depan kamar Bianca.

“Sekarang kau sudah sadar? atau ibu juga perlu memarahimu juga?” Bu Mayang berdiri di samping Nando, wanita itu berkacak pinggang dan menatap putranya itu, dengan tatapan melotot. Nando seketika menggelengkan kepalanya.

Nando kemudian kembali mengetuk pintu kamar Bianca secara perlahan. “Tok Tok Tok,"

“Bianca, tolong maafkan kakak.”

“PERGI DARI SANA, AKU MUAK MENDENGAR SUARAMU!” Bianca pun memilih tengkurap, merebahkan dirinya di atas bantalan kasur yang empuk. Ia lalu menutup wajahnya dengan bantal.

“Andai mereka tahu, bahwa alasan aku putus dengan Arsen adalah karena hutangmu itu. Apa kau masih akan berkata seperti itu kepadanya? Sekarang aku bahkan sangat malu untuk bertemu dengan Arsen, rasanya aku benar-benar seperti bergantung padanya, Ya Tuhan, jika dia memang bukan jodohku. Lantas mengapa masih kau dekatkan aku padanya." Ujar Bianca dalam hati.

PLAK!

Bianca menampar pipinya sendiri, ia merasa sangat kacau sekarang.

“Tidak Bianca, jangan menyerah, kau tak boleh menyerah. Kamu pasti bisa, kamu butuh pekerjaan ini,” Bianca mencoba menyemangati dirinya sendiri.

“Ting,” sebuah pesan masuk ke ponsel milik Bianca. Dengan cepat gadis itu pun langsung mengambil ponselnya. Bianca benar-benar berharap bahwa itu adalah sesuatu yang baik, seperti promo diskon misalnya, mendapatkan tawaran pekerjaan di tempat lain. Namun ekspetasinya benar-benar sia-sia. Dengan wajah yang terkejut ia pun membaca pesan dari orang yang sangat-sangat ia kenal.

“Besok datang pukul 5 pagi, harus sudah sampai, jika jam 5 belum sampai maka gaji kamu akan di potong 10%, lalu masakkan nasi goreng untuk ku dan siapkan pakaian juga untuk aku berangkat besok,” Bianca yang membaca pesan itu, kini kembali terperangah kaget, raut wajahnya terlihat begitu cemas dan marah. Ia bahkan meremas ponselnya dengan sangat kuat dengan tangan kanan.

“ARSEEEEEEEEEEEEEEEENNNNNNNNN, MANA ADA KARYAWAN YANG DATANG JAM 5 PAGI HANYA UNTUK MASAK. DASAR KAU GILA,” mendengar jeritan itu ketiganya yang tengah berada di luar kamar Bianca pun menatap telinganya.

“Ini benar-benar gila, Arsen, kamu benar-benar stres. Mana mungkin aku datang sepagi itu hanya untuk memasak. Apakah dia tidak punya Art,” Bianca kemudian mengirimkan pesan lagi, Bianca ternyata meminta alamat rumah Arsen.

Meskipun telah menjadi mantan, Bianca sama sekali tidak tahu di mana rumah Arsen yang asli.

“Ya sudahlah, mau bagaimana lagi. Dari pada gaji harus di potong 10% lebih baik besok aku datang ke sana,”

Bianca pun mulai memejamkan matanya, ia benar-benar lelah seharian telah bekerja keras.

Sedangkan di sisi lain.....

“Hallo bibi, iya betul ini Arsen,” ucap Arsen dengan seseorang melalui telepon.

“Bibi, besok tolong ke sini siang saja ya!,”

“Tidak apa-apa bibi, Arsen pagi sudah ada yang buatkan sarapan kok. Jadi bibi tenang saja ya.” Arsen menutup teleponnya, ia mengambil satu putung rokok dan menyalakannya dengan korek api. Ia kemudian berdiri di samping jendela, menatap kota Jakarta dari atas apartemen miliknya.

“Bianca, Bianca Kita lihat sampai mana kamu bisa bertahan tanpaku,” Nando tersenyum, ia kemudian menatap foto besar Bianca dengan dress putih cantik dengan mahkota bunga di kepalanya.

“Kamu dari awal adalah milikku sayang, sampai kapan pun akan tetap seperti itu. Bianca."

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!