Selama menikah, Gia menyamar jadi istri polos yang cuma tahu urusan dapur. Tapi Aldo sang suami, malah menceraikannya demi cewek lain yang katanya anak direktur. Gia cuma tersenyum dan langsung tanda tangan. Lagipula, cape berpura-pura miskin!
Keesokan harinya, Aldo dengan sombong menghadiri rapat sebagai manajer baru di perusahaan raksasa VK Group. Dia berniat pamer demi bikin Gia menyesal.
Tapi saat pintu rapat terbuka, Komisaris Utama sekaligus pemilik saham terbesar masuk dengan anggun.
Itu Gia!
Gia tersenyum manis menatap mantan suaminya yang pucat pasi. "Manajer Aldo, buatkan saya kopi. Jangan lambat, gajimu saya yang bayar sekarang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Tamu Tak Diundang dari Masa Lalu
Keesokan harinya,
Pagi menjelang Pesta Dansa Tahunan VK Group, suasana di aula utama lantai lima puluh sudah sangat sibuk. Lampu-lampu kristal raksasa dipasang anggun di langit-langit tinggi, sementara puluhan pekerja sibuk merapikan dekorasi bunga mawar putih dan kain sutra emas yang menjuntai mewah.
Gia berdiri di balkon ruang VIP lantai dua, memegang papan jalan berisi laporan persiapan. Dari ketinggian ini, ia mengawasi setiap detail tata letak panggung. Di sampingnya, Elkan sibuk menyusuri daftar tamu VIP melalui layar tabletnya.
"Semua investor utama dari konsorsium regional dipastikan hadir," ucap Elkan datar tanpa mengalihkan pandangannya. "Nico gagal memprovokasi mereka setelah tim legal kita melayangkan ancaman gugatan hukum pagi tadi."
"Bagus," balas Gia tenang, jemarinya membolak-balik lembaran berkas. "Tinggal kita lihat drama apa yang bakal dimainkan Nico malam nanti. Pria itu tidak akan menyerah begitu saja."
"Dia sudah terdesak, Gia. Orang terdesak biasanya makin berbahaya," peringat Elkan.
"Justru itu yang kutunggu," sahut Gia menyunggingkan senyum tipis.
Cklek.
Pintu kaca ruang VIP mendadak terbuka tanpa ada ketukan terlebih dahulu. Suara ketukan *high heels* yang nyaring dan ritmis memecah keheningan ruangan.
"Elkan!"
Suara manja seorang wanita melengking manis. Seorang wanita bergaun *soft pink* dengan gaya rambut bergelombang elegan melangkah masuk dengan percaya diri. Parasnya cantik, kulitnya putih bersih, dan senyum manis terukir lebar di bibirnya saat matanya tertuju pada Elkan.
Elkan mendadak membeku di tempatnya. Alis tebalnya bertaut rapat saat mengenali sosok di depannya. "Clara...?"
Gia memutar tubuhnya pelan, menatap wanita bernama Clara itu dari atas ke bawah. Perasaan asing yang aneh mendadak mencubit dadanya saat melihat binar bahagia di mata wanita itu ketika memandang Elkan.
"Aku kangen banget sama kamu!" Tanpa ragu sedikit pun, Clara melangkah cepat dan langsung memeluk lengan Elkan erat-erat, benar-benar mengabaikan keberadaan Gia di sana. "Aku baru mendarat dari Paris tadi malam dan langsung ke sini. Kamu kok nggak jemput aku di bandara, sih? Padahal aku sudah info ke sekretaris kamu!"
Elkan dengan cepat menghentakkan tangannya, melepaskan cengkeraman Clara secara tegas. Wajahnya berubah makin dingin dan kaku.
"Jaga sikapmu, Clara," tegur Elkan tajam. "Kamu tahu ini ruang kerja, bukan tempat bermain."
Clara mencebikkan bibirnya sok manja, lalu mengalihkan pandangannya ke arah Gia. Ia menatap Gia dari balik bulu mata palsunya dengan pandangan menilai yang sangat terselubung.
"Oh... ini ya cewek yang lagi ramai diomongin itu?" bisik Clara dengan nada sinis yang sengaja diperas manis. "Mantan istri orang miskin yang mendadak hoki jadi Komisaris Utama?"
Atmosfer di dalam ruangan seketika membeku.
Gia menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin. Ia menyandarkan tubuhnya santai di pembatas balkon, menatap Clara tanpa sedikit pun rasa gentar.
"Dan kamu ini siapa?" tanya Gia santai namun menohok. "Asisten pribadi baru yang lupa cara mengetuk pintu sebelum masuk ke ruangan pimpinan?"
Mata Clara melotot kaget. "Apa?! Asisten?! Heh, kamu tuh nggak tahu siapa aku, ya?!" jerit Clara meradang. "Aku ini Clara! Tunangan Elkan yang sudah dijodohkan langsung oleh keluarga besar kami!"
Gia sedikit tersentak di dalam hati, namun dengan cepat ia menguasai ekspresi wajahnya agar tetap tenang dan tak tersentuh. Ia melirik Elkan dengan sebelah alis terangkat tinggi.
"Tunangan?" bisik Gia pelan, nadanya penuh sindiran yang tajam. "Oh gitu.."
"Jangan membual, Clara!" bentak Elkan dengan suara bass yang berat dan mematikan. "Perjodohan konyol itu sudah ku batalkan tiga tahun lalu secara resmi di depan keluarga! Kamu nggak punya hak apa pun atas diriku!"
Clara kembali mencoba meraih lengan Elkan dengan raut wajah memohon yang dibuat-buat. "Tapi Opa sama Om masih setuju sama pernikahan kita, Elkan! Keluarga kita itu setara! Lagipula... kamu masa beneran mau nikah sama cewek janda kayak dia?! Apa kata media dan relasi bisnis kita besok?!"
"Mulutmu bisa disopanin sedikit nggak?!" ancam Elkan, matanya memancarkan kilat amarah yang luar biasa hingga urat di lehernya menegang.
Sebelum Elkan hilang kendali, Gia menepuk bahu pria itu pelan, memberi isyarat agar Elkan tenang. Gia lalu melangkah mendekati Clara, memangkas jarak di antara mereka dan menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu.
"Clara," panggil Gia dengan suara sangat tenang, namun sarat akan tekanan intimidasinya sendiri. "Acara nanti malam adalah acara resmi perusahaan saya. VK Group adalah milik keluarga saya. Kalau kamu ke sini cuma buat ngemis cinta dari pria yang sudah menolakmu bertahun-tahun... pintu keluar ada tepat di belakangmu."
"Kamu..." Clara mengepalkan tangannya rapat-rapat, wajah cantiknya memerah padam menahan malu dan amarah yang meluap. "Kamu jangan sombong ya, Gia! Kamu pikir dengan status baru ini kamu pantas buat Elkan?!"
"Pantas atau tidak, bukan kamu penentunya," jawab Gia dingin.
"Kita lihat nanti malam!" ancam Clara seraya mengacungkan jarinya ke wajah Gia. "Di depan para investor dan media, aku bakal buktiin siapa wanita yang sebenarnya lebih layak berdiri di samping Elkan Vance!"
Dengan napas memburu, Clara membalikkan badan dan menghentakkan kaki tinggi-tingginya keluar dari ruangan VIP tersebut.
*Brak!*
Setelah pintu kaca tertutup rapat, suasana di ruangan kembali hening dan mencekam. Elkan dengan cepat berbalik menatap Gia. Wajah tegasnya kini dipenuhi raut panik—sebuah ekspresi yang sangat jarang terlihat dari seorang Elkan.
"Gia, dengar dulu. Soal Clara itu"
"Gak perlu dijelasin, Elkan," potong Gia datar. Ia berjalan kembali ke meja kerja dan membalikkan lembaran berkas di tangannya. "Aku nggak peduli soal masa lalu mu atau siapa pun wanita yang pernah dijodohkan denganku."
"Tapi aku peduli, Gia!" Elkan melangkah cepat, mencengkeram lembut kedua bahu Gia dan memaksa wanita itu berbalik menatap matanya secara langsung. "Tatap aku, Gia."
Gia terpaksa mendongak, menatap manik mata cokelat gelap milik Elkan yang bergetar penuh kesungguhan.
"Di mataku cuma ada kamu," bisik Elkan dengan suara rendah yang dalam. "Perjodohan itu sudah mati tiga tahun lalu. Aku tidak pernah menyetujuinya, dan aku tidak akan pernah membiarkan wanita mana pun mengambil posisimu. Jangan biarkan ucapan konyol Clara bikin kamu ragu sama aku."
Gia menatap mata Elkan yang memancarkan kejujuran mutlak. Di balik sikap dinginnya, dada Gia berdesir hebat. Jantungnya kembali berdegup kencang secara tidak teratur.
"Elkan, aku"
Bzzzt! Bzzzt!
Belum sempat Gia menyelesaikan kalimatnya, ponsel di dalam saku blazernya bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Gia merogoh ponselnya dan membuka pesan tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah kalimat singkat beserta sebuah lampiran foto:
[Nomor Tak Dikenal]
'Gaun indah mu sudah aku persiapkan dengan sedikit kejutan untuk Pesta Dansa nanti malam, Nona Besar. Semoga kamu menyukainya.’