Kembali dengan kisah keluarga Nugraha, kali ini adalah generasi termuda, ALENSKY yang berpindah tempat kuliah untuk sebuah ketenangan, namun pada akhirnya kembali pada pertarungan antara Cinta, Persahabatan dan Kekuasaan.
Perpaduan kisah yang menyeret kita untuk menggunakan emosi dan hati saat membacanya, ada kalanya ketidak Adilan yang lama membelenggu akhirnya harus terlepas oleh seseorang yang punya keberanian.
Persembahan sebuah Novel dari Author Sinho, semoga memberikan kesenangan dan manfaat bagi para pembaca.
Salam, sehat, semangat dan jangan lupa bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alen 8
Sepertinya menantang sekali, Tranaka mulai bisa membaca, bahwa gadis didepannya ini bukan wanita biasa saja, tapi apa yang dipunya hingga dia berani sekali padanya, semua masih tanda tanya di kepalanya.
"Jadi kau ingin meniduri ku?"
"Tidak, aku hanya berkata bisa, bukan berati mau"
"Berani sekali kata-kata mu"
"Maaf membuatmu kecewa karena berharap aku takut padamu" sahut Alensky.
Kini, Tranaka mulai beraksi lebih gila, menyerang Alensky yang terus menghindar dan menangkisnya, hingga pada akhirnya.
"Akh!"
Kembali Alen terjatuh dan Naka tak menyia-nyiakan kesempatan itu, menindihnya dan menekan kedua tangan wanita yang rupanya tidak mudah di taklukkan.
Sinar yang tak sengaja masuk melalui celah yang ada membuat Alensky terdiam sesaat, wajah Tranaka yang tepat diatasnya begitu nyata terlihat, Tampan, berkharisma dan sulit di tebak.
"Shit!"
Alensky mendorong kuat namun tetap tertahan di tempat, sebenarnya bukan serangan yang di takutkan, tapi pesona laki-laki itu cukup meresahkan.
"Aku bilang lepas!" Sekali lagi Alensky berusaha untuk bangkit namun tetap tak bisa.
Sampai akhirnya sesuatu terjadi diluar prediksi, Tangan itu berpindah cepat memegang lehernya, dan secepat kilat menariknya hingga kemudian _
Cup
Dunia terasa berhenti berputar, bahkan Alensky merasakan seperti mimpi hingga matanya berkali-kali berkedip, tapi rupanya, ini nyata_
"Akh!"
Mendorong cukup keras, dan kali ini berhasil membuatnya terlepas.
"Kau gila!, kau mau melecehkan ku juga?!" Teriak Alensky segera menghapus jejak ciuman Naka yang terasa begitu menempel di bibirnya.
"Melecehkan, aku bahkan bisa membuatmu ketagihan berteriak keenakan, mau di coba?" Naka langsung melangkah maju hingga dadanya akhirnya di tahan oleh tangan wanita yang kini sudah melebarkan matanya.
"Berani kau maju, aku tak akan segan lagi menyakiti mu!" Ancam Alensky dengan tangan yang tak membiarkan Naka terus menghimpit nya.
Ada tawa, sepertinya laki-laki sialan di depannya itu begitu senang, Alensky akhirnya bergeser dan berusaha mengatur jarak nya, bukan takut, dan sebenarnya dia bisa menggunakan keahlian bela dirinya, tapi ini masih hari ke tiga, belum genap dua Minggu lamanya, ya Tuhan, kenapa harus terjadi hal seperti ini sih!, batin Alensky kesal sambil berpikir keras mencari solusinya.
"Okey, aku mengalah, akan aku perbaiki mobil mu seperti sedia kala, jadi biarkan aku keluar dari sini dan anggap saja masalah kita telah selesai"
"Ganti rugi"
"Okey, berapa?, katakan saja" sahut Alensky segera.
"Satu"
"Juta?" Tanya Alensky.
"Milyar"
"APA?!"
Hampir saja Alensky terkena serangan jantung di siang hari, sepertinya laki-laki di depannya ini bukan hanya gila, tapi otaknya yang tak lurus di tempatnya juga.
"Heran kau bisa masuk universitas ini dengan otak konslet di kepalamu" Alensky jelas kesal sekali.
"Terserah kau mau bilang apa, bayar satu milyar dan semuanya aku anggap angin lalu, kau bisa nyaman kuliah disini" sahut Tranaka dengan senyuman kemenangan.
"Kalau aku tidak mau?"
"Gampang, kau bisa bekerja padaku sampai lulus dari sini"
"Aku tidak sudi!" Sahut Alensky cepat sekali.
"Jadi kau memilih_?"
"Satu milyar, aku akan segera memberikan uang itu padamu"
Diam, Tranaka menatap mata Alensky dan tidak menemukan kebohongan di sana, yang ada di pikirannya saat ini adalah 'Siapa gadis ini sebenarnya?"
Dan tepat di saat yang sama, terdengar teriakan dari seseorang sambil menggedor pintu ruangan.
"Okey, aku tunggu" Tranaka segera memutuskan sesuatu.
Mengambil kunci gudang yang tergeletak di lantai, lalu Tranaka membuka pintunya, rupanya di depan sana ada Galen, Viko dan mahasiswa lainnya, sedangkan Alensky terkejut dan segera merapikan dirinya.
Sebelum pergi, Naka melempar jaketnya ke Alensky, lalu berteriak _ "Ingat janjimu, jika tidak bisa membayar dengan uang, lemparkan dirimu padaku!"
Teriakan nyaring Tranaka membuat Alensky benar-benar ingin menghajar nya.
Semua mata memandang, ada yang setengah berbisik jika Tranaka telah menyentuh nya, ada juga yang bilang justru dirinya lah yang menggoda nya, sialan memang!
Terpaksa Alensky menggunakan jaket itu untuk menutupi dirinya, lalu segera berjalan cepat menuju ke toilet terdekat dari tempatnya.
Rambut yang masih tidak karuan segera di tapikan, di depan cermin Alensky mengumpat beberapa kali, mengutuk manusia yang sudah berani menyentuhnya yaitu Tranaka.
"Dasar Brengsek!" Bibirnya di basuh lebih dari tiga kali, rasanya masih kurang seolah ingin mensucikan dari hadas besar karena bibir laki-laki laknat yang berani melayangkan ciumannya begitu saja.
"OMA!" Teriakan menggema, mungkin jika ada orang lain disana bisa-bisa kena serangan jantung karena suara Alensky yang tak terkendali.
Bukan tanpa alasan, Alensky sangat kesal sekali, sedikit banyak menyalahkan sang Oma yang memberikan persyaratan berat hingga tidak bisa membalas kelakuan mereka dengan kekuatannya.
Hampir setengah jam lamanya, Alensky berada di dalam sana, merapikan dirinya sekaligus menenangkan pikiran, sampai akhirnya ada suara yang memanggil namanya.
"Alen?"
Suara yang cukup pelan sekali, membuat Alensky lama-lama mulai merinding sendiri,
"Shit, jangan bilang ada hantu gentayangan disaat seperti ini" gumamnya pelan, seketika suasana berubah horor hingga akhirnya pintu itu terbuka_
"AKH!"
Keduanya berteriak bersamaan, Alensky hampir saja menerjang wanita di depannya begitu juga sebaliknya.
"Kenapa tak menjawab ku" gumam gadis yang kini tengah ngos-ngosan mengatur nafasnya, rupanya Murni sengaja mencarinya setelah mendengar kabar perseteruan Alensky dengan salah satu laki-laki yang di Raja kan di Kampus ini.
"Kau sendiri kenapa memanggil ku dengan suara seperti itu, mengerikan sekali" Alensky kini menyandarkan punggungnya di dinding sambil mengatur nafasnya.
Sesaat tenang, sepi dan tak ada jawaban, hingga akhirnya Alensky menyadari sesuatu, sepertinya gadis disampingnya itu tidak sedang baik-baik saja.
"Hei, kenapa wajahmu?" Tanya Alensky dengan tangan yang sudah memeriksa wajah Murni.
"Aku tidak apa-apa, jangan khawatir" Murni menurunkan tangan Alensky dari wajahnya.
"Siapa yang melakukan hal ini?" Tanya Alensky lagi.
"Sudah lah, aku tidak penting lagi, mereka sudah biasa memukul ku, yang penting bagaimana dengan mu, apa Tranaka menyakiti mu, aku dengar dia membawamu ke sebuah gudang dan_"
"Dan apa?" Tanya Alensky yang sebenarnya sangat malas membahas hal ini.
"Dia tidak menyentuh mu kan?, dia tidak berbuat jahat padamu?"
"Aku tidak apa-apa, dan dia tidak melakukan apapun padaku, hanya sedikit negosiasi yang masih aku pikirkan jalan keluarnya, karena aku tidak mau jatuh ke dalam jebakan si gila Tranaka itu, jadi sekarang saat nya kau ceritakan apa yang terjadi dengan wajah mu" Alensky setengah memaksa.
Hanya ada gelengan kepala, lalu senyuman yang di berikan oleh Murni, pada akhirnya Alensky tetap tak bisa memaksa gadis itu untuk mengatakan yang sejujurnya tentang apa yang sudah tejadi.
"Maaf, gara-gara Naka sialan itu, aku tidak bisa mengajakmu berjalan di kampus dengan Rute yang aman" pelan sekali Alensky mengatakannya.
Murni hanya tersenyum, lalu membersihkan muka dan memberikan sedikit makeup untuk menutupi luka lebam di beberapa area wajahnya.
Naka sebenernya dah ada rasa tuh 😄