NovelToon NovelToon
Surga Kecil Maya

Surga Kecil Maya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ingflora

Berawal dari bertemu kembali dengan anak majikan ibunya yang telah menikah-Alika, Maya yang sudah menjadi tukang jamu akhirnya terpaksa bekerja di rumah Alika sebagai pembantu.

Tanpa ia tidak tahu, pernikahan majikannya ini penuh dengan pertengkaran. Itu semua karena Alika sangat cemburuan. Bahkan sering terjadi, namanya disebut-sebut sebagai bahan pertengkaran. Sebagai puncaknya, Alika meminta Raka menikahi Maya demi agar bisa terus mengontrol suaminya. Tentu saja ide itu ditentang keras oleh Raka.

Maya yang terjepit di antara dua majikannya, tentu saja bimbang. Haruskah ia terus mengamini permintaan Alika, atau menentangnya demi kedamaian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Kenalan Baru

Banyak yang ikut dengan Maya dan Ilona ke kantin karena mereka penasaran pada Maya. Wanita itu sangat ramah pada para pegawai, berbanding terbalik dengan Alika yang bergaya seperti bos saat datang ke kantor itu. Bahkan lebih parah dari pemiliknya yaitu Raka Adiwijaya. Raka tipe pemimpin tegas dengan wajah dingin. Walaupun punya wajah tampan tapi tak ada yang berani dekat dengan pria itu karena selain berkuasa, ia jarang bicara. Ia hanya bicara seperlunya.

"Maya, kamu mau apa? Aku traktir ya?" Seorang pegawai pria mendekatinya.

Yang lain malah menyoraki pria itu. "Duh, Adi. Langsung pedekate nih!" sahut Agung dari belakang.

"Ya, lebih baik terus terang. Ya 'kan?"

Maya tersipu-sipu sementara Ilona menyikut lengan wanita berjilbab ini. "Ngak papa, aku beli sendiri aja."

Mereka pun mengantri di depan etalase. Setelah mengambil makanan masing-masing, mereka berkumpul di dua meja. Canda tawa menghiasi makan siang di kedua meja itu dan suasana sangat menyenangkan.

"Eh, Pak Raka galak juga gak sih di rumah?" tanya Ratri, pegawai yang lain yang berambut lurus sebahu.

"Ih, mau tau aja." Ilona menyenggol bahu wanita muda itu dengan bahunya. Ia yang rambutnya bergelombang panjang terurai, memang yang paling cantik di ruangan kantor Raka. Pantas saja Alika cemburu padanya. Alisnya terukir indah dengan bola mata manik hitamnya. Hidungnya mancung dengan kulit bersih walaupun sedikit kuning langsat.

"Jangan ngomongin itu ah! Ngomongin yang lain aja," bujuk Maya agar mengganti topik pembicaraan.

"Nah ... Maya udah punya pacar belum?" Pertanyaan Adi langsung membuat kedua meja itu langsung ramai.

"Aduh, Adi. Gak sabaran banget, pengen tahuu ... aja." Ratri tergelak.

Walaupun ada yang menggodanya, Maya senang berada bersama mereka. Tentu saja karena tidak ada Alika di sana. Serasa hidupnya bebas merdeka.

+++

Baru saja Maya dan Raka sampai ke rumah, Alika menyambut mereka dengan mencium punggung tangan sang suami dan memberi tahu pria itu, Ardha ada di kamarnya. Nyonya rumah itu langsung menarik tangan Maya untuk langsung bergerak ke arah kamar mantan pembantunya itu. "Aku ada sesuatu untukmu," ucapnya setengah berbisik sambil menggandeng tangan Maya.

Raka hanya melihat saja. Ia lebih tertarik mendatangi kamar anaknya daripada ingin tahu urusan lainnya.

Sesampainya di kamar, Maya terkejut dengan banyaknya barang ditumpuk di atas ranjang. "Ini ...."

"Ini pakaianmu kerja, sama sepatu yang bisa kamu pakai untuk kerja di rumah sakit. Aku beli online ukuran badanmu. Tidak mungkin 'kan kamu pinjam bajuku lagi karena cuma baju yang kamu pakai ini saja yang muat denganmu karena bajunya kebetulan longgar."

Maya mendatangi ranjang tidurnya melihat barang-barang yang tidak murah itu. Bahkan lengkap dengan dua buah tas tali baru yang berbeda warna dan rupa.

Alika ikut masuk dan menutup pintu. "Yang penting Mas Raka ngak dekat-dekat sama Ilona yang genit itu 'kan ...?"

Antara mendengarkan dan tidak, Maya masih terpaku pada barang-barang yang masih menumpuk di atas ranjangnya. "I-ini, buatku semua? Potong gaji?"

"Apa?" Nyonya rumah itu melirik ke arah barang-barang yang ada di atas ranjang. "Oh, itu. 'Kan kamu belum gajian? Mulai sekarang, Mas Rakalah yang akan menggaji kamu. Ini anggap saja hadiah, karena kamu harus membuntuti terus sekretaris centil itu agar jangan dekat-dekat suamiku. Lagi pula, kamu gendut sih, mana muat sama baju aku."

"Oh, terima kasih, Kak." Maya mengangguk sopan. Hatinya seketika lega dan berbunga-bunga. Lega karena mengarungi hidup baru yang ia impikan dan berbunga-bunga karena semua barang baru itu hadiah.

"Kak?" Alika memandangi wajah anak pembantunya itu sejenak. "Ya sudahlah. Memang harus begitu kali, ya? Oya, kamu harus pindah ke lantai atas sebelah kamar Ardha karena pembantu baru akan masuk ke rumah ini besok." Setelah itu Alika pergi.

Maya terkejut sekaligus bersyukur Alika tak marah ketika ia memanggilnya lagi dengan 'kak', tapi ia masih tak percaya dengan penglihatannya. Kini ia jadi seorang calon sekretaris dan dihujani begitu banyak hadiah oleh sang nyonya rumah. Kehidupannya pun membaik.

Ia yang berusaha bersyukur dengan kehidupan yang apa adanya, kini tambah bersyukur lagi karena limpahan rezeki yang Tuhan berikan padanya hari ini. "Alhamdulillah, ya Allah." Maya memeluk baju yang masih dalam plastik bungkusan itu dengan hati gembira.

+++

Pagi itu, Maya turun bersama Ardha sambil membawa tas si kecil menuruni tangga. Rupanya pagi-pagi sekali dia sudah keluar, memasak lalu mandi. Setelah berpakaian, ia membantu Ardha bersiap ke sekolah.

Bocah itu senang karena bertemu lagi dengan wanita itu pagi-pagi, dan bergandengan tangan menuruni tangga. Ia baru tahu, sekarang kamar Maya ada di samping kamarnya.

Raka cukup takjub dengan kesiapan Maya pagi itu menyelesaikan masak nasi goreng, menyiapkan Ardha sekolah dan diri sendiri yang siap berangkat ke kantor. Padahal itu sebagian besar seharusnya dikerjakan sang istri yang sebagai ibu rumah tangga di rumah itu.

"Maya, kamu sudah sarapan?" tanya Alika saat melirik mantan pembantunya itu, sudah berpakaian rapi untuk ke kantor.

"Oh, sudah," sahut Maya dengan anggukkan dan senyum kecilnya.

"Yang bener?"

"Iya, tadi sehabis masak, aku langsung makan."

"Oh, ya sudah. Padahal kamu bisa makan semeja dengan kami lho!"

"Iya, terima kasih." Senyum kebahagiaan terukir di wajah wanita sederhana ini.

Seketika, raut wajah Raka terlihat cukup kesal mendengar tawaran itu tapi ia berusaha sembunyikan.

"Bibik, aku mau duduk," pinta Ardha mengingatkan.

"Oh, iya. Sebentar, ya." Selagi mantan pembantunya itu menarik kursi, Alika kini mengingatkan anaknya tentang panggilan untuk Maya.

"Ardha, sekarang kamu panggil dia 'Tante' ya?"

"Tante? Kenapa?" Dahi bocah itu berkerut menatap ibunya.

Panggilan itu membuat Raka hampir gila. Ia memotong perkataan istrinya yang mulai mengganggu telinganya.

"Karena ...."

"Eh, Maya. Bisakah kau buatkan aku kopi? Pagi ini aku ingin sekali minum kopi," pinta Raka pada Maya tiba-tiba.

"Oh." Wanita yang pagi itu berdandan sederhana, melirik Alika dan kemudian pria itu karena bingung.

Nyonya rumah itu seketika berdiri. "Biar aku saja yang mengambilkan sarapan buat Ardha."

Maya kemudian pergi ke dapur. Alika tersenyum lebar karena berhasil membuat suaminya uring-uringan karena ulahnya. Karena dengan begitu, ia merasa sang suami dalam kendalinya. Ia tahu, Raka selalu minta kopi ketika pikirannya buntu atau tidak senang. Wanita itu semakin yakin, makin hari sang pria makin membenci Maya, sehingga tidak mungkin keduanya akan mengkhianati dirinya.

+++

"May."

Wanita berjilbab itu menoleh.

Ilona berbisik mendekati telinga wanita itu. "Kamu 'kan katanya baru bercerai. Apa mungkin kamu hamil?"

Maya terkejut. Walau ini bukan pertama kalinya ia mendengar hal itu, tapi ini sedikit mencurigakan. Apa ia terlihat seperti itu? "Enggaklah."

"Yakin? Apa kamu udah cek?"

"Iya," sahut wanita berjilbab itu, berbohong. Sulit baginya mengatakan kalau dirinya mandul, karena akan jadi gosip tidak sedap di kantor. Bukan itu saja, para pria juga pasti akan menjauhinya.

Bukan berarti ia suka pada Adi, tapi ia tak suka dipandang seperti orang aneh seperti pandangan mantan suami dan mantan mertuanya dulu. Ia masih trauma. Ia merasa seperti tertuduh walaupun itu sebenarnya benar adanya.

'Ya Allah, maafkan aku. Aku sangat takut mereka melihatku sebagai orang yang patut dikasihani. Padahal aku tak butuh itu. Aku masih bisa hidup baik walau aku tak bisa punya keturunan. Aku masih bisa berjuang untuk diriku sendiri.'

Bersambung ...

1
sunaryati jarum
Benar - benar suami yang perhatian dan tanggung jawab
sunaryati jarum
Alika sepertinya hanya menginginkan uang dan tubuh Raka😉.Kok Raka lihat Maya dari ujung rambut, bukankah berhijab.Demogs doa orang tua Raka terkabul
sunaryati jarum
Kamu itu istri sungguhan Maya
sunaryati jarum
Raka makin terpesona dengan perilaku Maya,wajar membandingkan karena ada pembandingnya
sunaryati jarum
Selalu dicemburui dan dicurigai itu susah
Shofwa Arzita
Bagus
Shofwa Arzita
update tiap hari dong thor
Baby_Miracles: author semangat kalo ada yang komen dan like. Jangan lupa likenya ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!