Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.
Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04
Siang ini Zafana dan Alaska menepati janji mereka semalam untuk pergi ke mall dan mampir ke toko kecantikan.
Sebenarnya Alaska tidak berminat sedikitpun untuk masuk kedalam toko itu, tapi mamanya berpesan
'sebagai latihan kalau kamu menjadi seorang suami dan membelikan istrimu alat rias kecantikan'.
Alaska mencibir dalam hati saat ucapan mamanya kembali terngiang.
Alaska memiliki wajah yang tampan seperti Oliver, bahkan wajah Alaska lebih tirus. Hanya saja ia sangat malas kalau saat memiliki pasangan dan didesak untuk segera menikahi pasangannya itu. Semuanya butuh persiapan.
Kembali, bukan soal uang tapi soal waktu. Pernikahan bukan hal yang mudah untuk dijalankan Bahkan pernikahan bukan permainan yang bisa kapan saja dilakukan tanpa adanya persiapan yang benar-benar matang.
Menikah juga harus ada kesiapan antara dirinya dan pasangan yang akan menjadi belahan jiwanya kelak. Menikah perlu banyak waktu untuk menyusun kehidupannya sepuluh tahun yang akan datang bahkan selamanya dengan istri dan anak-anaknya.
Kalau menikah tanpa ada persiapan seperti cinta, keuangan, harta, pasangan dan waktu apa semuanya bisa terjadi? Tentu tidak.
Dan itu yang membuat Alaska menunda waktu untuk memikirkan pernikahan.
Alaska tidak berbohong jika ia mengatakan sudah mempunyai calon, tapi calonnya adalah calon pacar, jadi masih ia kejar.
Kembali lagi, Alaska masih mengikuti Zafana yang sedang memilih beberapa lipstick dan liptint yang berjejer didepan mata.
"Kak, cocok yang mana dibibir gue?"tanya Zafana sambil memperlihatkan dua liptint ditangannya, nomor dua dan nomor empat.
"Yang merah muda"jawab Alaska singkat dengan raut wajah tidak suka.
"Serius"ucap Zafana dengan nada merengek.
"Coba aja sih"jawab Alaska cuek
"Gue tunggu dimobil aja ya"lanjut Alaska.
"Yaudah sana, gak berguna banget jadi kakak" cibirnya lalu membiarkan Alaska berjalan keluar dari toko itu dan menunggunya didalam mobil.
Zafana kembali dibuat bingung dengan dua liptint ditangannya."nomor dua apa empat ya? Atau dua-duanya aja?"gumamnya.
Bugh
Trakk
"Aww"
Zafana meringis saat tubuhnya jatuh terduduk diatas lantai.
"Lihat-lihat dong, mbak"ucap seorang wanita yang baru saja menabraknya.
Setelah mengucapkan itu Wanita yang menabrak Zafana pergi begitu saja.
Zafana mangangkat kepalanya dan pandangannya bertemu dengan pria yang sangat ia kenal. Bukan, dia bukan Alaska tentu saja.
Dia adalah pria kurang ajar yang mencabik-cabik hatinya kemarin.
Oliver berjongkok lalu membantu Zafana untuk berdiri.
Zafana menggenggam tangan Oliver lalu perlahan bangkit.
"Maaf" ucap Zafana dengan suara seraknya.
Entah, mungkin karena kejadian kemarin membuat Zafana malas melihat wajah laki-laki itu didepannya.
"Mbak maaf, ada apa ya?"tanya salah satu karyawan toko yang menghampiri mereka.
"Enggak mbak, ini hanya kecelakaan, nanti saya ganti rugi barang yang rusak"jawab Oliver.
"Gak perlu pak, biar saya aja"ucap Zafana.
"Gak papa" jawab Oliver lalu memberikan kartu kreditnya kepada karyawan toko itu.
Setelah menerima kartu kredit dari tangan Oliver, karyawan itu beranjak menuju kasir dan memberitahukan kekacauan yang terjadi.
"Bapak lagi ngapain disini?"tanya Zafana
Oliver menunjuk kearah perginya wanita tadi dengan dagunya,
"nemenin wanita yang nabrak kamu tadi"jawabnya.
Zafana mengangguk paham, kemudian pandangannya mendarat pada tangan Oliver yang masih menggenggam pergelangan tangannya.
Oliver yang juga baru menyadari itu langsung melepaskan genggamannya canggung.
"Maaf atas kecerobohan dia"ucap Oliver ditengah-tengah rasa canggung keduanya.
Zafana mengangguk, "kalau gitu saya permisi,
pak" Oliver mengangguk lalu bergeser memberi jalan untuk Zafana.
Baru saja Zafana melangkah, tangannya langsung ditahan oleh Oliver.
"Saya juga minta maaf soal kemarin saya membentak kamu"
Baiklah, sekarang Oliver merasa bahwa dirinya sangat bodoh. Sedangkan Zafana berbalik lalu melepaskan genggaman Oliver perlahan.
"Gak papa pak, lagian saya udah gak kenapa-napa kok sekarang"jawab Zafana dengan senyuman yang dibuat-buat.
Oliver terdiam, terpesona dengan senyuman Zafana yang terlihat sangat manis dan natural. Padahal sebenarnya itu adalah senyuman yang sangat palsu.
"Kalau gitu saya duluan ya, pak"ucap Zafana lalu kembali berbalik.
Hari ini adalah hari yang sial bagi Oliver, Harusnya dia bisa membeli perlengkapan make up dan juga skincare nya yang sudah mau habis, tapi malah bertemu dengan dosen sok kegantengan itu.
Alhasil mood nya untuk berbelanja hilang dan memutuskan untuk segera pergi ketimbang terus berhadapan dengan sosok menyeramkan itu.
Masa bodoh deh dengan lipstick yang berantakan didalam sana, Yang terpenting Zafana segera menghilang dari hadapan laki-laki itu.
Lagipula, sebelumnya dia berkata akan ganti rugi kan? Jadi Zafana tidak ambil pusing lagi.
Sampainya dibaseman Zafana mengetuk kaca mobil saat melihat Alaska malah tertidur disana.
"gak berguna banget sih, kak! Bangun dong!"ucapnya sambil terus mengetuk kaca mobilya.
Alaska terkejut dan segera terbangun saat Zafana memukul kaca tersebut dengan keras. Tidak, kaca itu tidak pecah. Melainkan hanya menimbulkan Bunyi yang keras.
"Kenapa?"tanya Alaska sesudah membuka kan pintu mobil untuk Zafana.
"Pakai nanya, pulang!"tegas Zafana sedikit membentak
"Iya, tapi kenapa? Gak jadi---"
"Gue bilang pulang sekarang Kaka !"bentak Zafana dengan wajah yang memerah.
Zafana kesal karena mood nya benar-benar hancur. Bertemu dengan Oliver adalah hal yang tidak ia inginkan bisa terjadi.
Ditambah Alaska yang selalu menyebalkan, tidak ada satu hari pun Alaska bisa bersikap seperti manusia normal pada biasanya.
Pasti ada saja hal bodoh yang dia lakukan, salah satunya adalah tertidur didalam mobil dengan jendela yang tertutup rapat dan pintu yang terkunci.
Bagaimana jika ia kehabisan oksigen didalam mobil? Sungguh bodoh bukan? Iya, dan itulah Alaska.
Huft, siapapun tolong beritahu Zafana bagaimana caranya menjadi orang yang sabar.
Sedangkan Alaska yang bingung dengan sikap Zafana pun hanya diam sambil melajukan mobilnya keluar dari baseman.
Apa adiknya akan menjadi seorang siluman sekarang?
Pikir Alaska yang kaget dengan perubahan nada bicara dan wajah adiknya yang memerah. Sepanjang perjalanan menuju rumah pun Zafana diam saja membuat Alaska kebingungan sendiri.
Sesampainya dirumah Zafana segera turun dan masuk kedalam kamarnya membuat Clara merasa bingung.
"Adek Kenapa sih, Kak? Kok pulang-pulang jadi gitu"tanya Clara.
"Gak tau ma Laska juga bingung, tadi Laska lagi tidur dimobil dia malah gedor-gedor kacanya"jelas Alaska.
"Kamu gak nanya gitu kenapa?"tanya Clara
"Udah ma, tapi Laska malah dibentak"jawab Alaska.
"Eh tapi ma, Laska takut zafana jadi siluman dikamarnya" lanjut Alaska sedikit berbisik dan kedua mata yang membulat.
"Kamu tuh ngomong apa sih kak, adik sendiri dibilang gitu"bantah Clara
"Maaa, tadi Laska lihat mata Zafana berubah jadi merah, kayak ditivi-tivi kan, kalau mau berubah jadi siluman suka gitu dulu"ucap Alaska.
"Ngaco kamu ah" jawab Clara lalu berjalan menuju kamar putrinya.
Didalam kamar Zafana menangkup kedua pipinya yang masih terlihat merah dan sedikit memanas.
"Kok gue jadi ngerasa aneh sama diri ini"gumam Zafana lalu berjalan menuju kasur dan merebahkan tubuhnya.