Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.
Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.
Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.
Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.
Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.
Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Pertengkaran Kecil Di Meja Makan
Ara turun ke lantai bawah ketika mendengar suara mobil Dante memasuki halaman mansion. Ia tidak menunggu dipanggil. Ia tahu suaminya sudah datang dan akan segera masuk.
Langkah Ara terdengar pelan di tangga besar mansion itu. Ia berupaya mengendalikan ekspresi wajahnya. Wajahnya jelas masih menyimpan sisa kekesalan pagi tadi. Bahkan tangannya masih memerah akibat pukulan penggaris kayu itu. Tapi ia tidak berani mengeluh. Ia sudah cukup banyak mendapat hukuman. Ia tidak ingin memberikan alasan bagi Dante untuk menghukumnya lagi.
Setidaknya malam ini ia akan menunjukkan bahwa dirinya masih bisa bersikap tenang dan terkendali.
Begitu pintu utama terbuka, Ara sudah berdiri tidak jauh dari sana. Dante masuk bersama dua orang pengawalnya.
Tatapan pria itu langsung menemukan Ara. Sesaat, keduanya saling menatap. Ia merasa aneh, kenapa tiba-tiba Ara sore ini di depan pintu menyambutnya. Ia menelusuri wajah Ara lagi.
Ara tidak tersenyum. Tetapi ia juga tidak menghindar. Ketika Dante mendekat, Ara melangkah maju. Tangannya terangkat untuk membantu melepaskan jas yang dikenakan suaminya.
Dante berhenti tepat di hadapannya.
Ara membuka kancing jas itu dengan cekatan, kemudian menariknya perlahan dari bahu Dante. Tanpa berkata apapun, ia menyerahkan jas itu kepada pelayan yang sudah menunggu. Pelayan menerima jas itu dengan kedua tangan.
Dante hanya memperhatikan Ara. Ia tidak mengucapkan terimakasih. Ia hanya mengernyit. Ia berpikir Ara pasti hari ini salah minum obat. Nanti ia harus memperjelas hal ini ke Luca. Apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu. Kenapa tiba-tiba bisa berubah 180⁰. Ia tidak mau banyak berpikir lagi. Overthinking tidak bagus buat kesehatan. Ia pun memilih berbalik menuju ruang makan.
Ara mengikuti dari belakang. Langkahnya sengaja dibuat sedikit lebih lambat. Ia tidak berjalan mendahului Dante. Ia juga tidak menyamai langkah suaminya.
Dante berjalan di depan. Ara mengikuti beberapa langkah di belakang. Ia tidak melakukannya karena takut, meskipun ia tetap kawatir kalau-kalau suaminya bakal menambah hukumannya lagi. Tapi satu hal yang ia tahu Dante sedang mengajarinya untuk patuh. Sekalipun ia berjiwa pemberontak. Di depan Dante yang berkuasa ini bagaimana mungkin ia berani meninggalkan taringnya.
Dante sempat melirik ke belakang. Ara segera menurunkan pandangan. Pria itu tidak mengatakan apa-apa. Namun ia melihat sudut bibir pria itu hampir terangkat. Seolah pria itu tahu Ara sedang berusaha keras bersikap patuh. Dan entah mengapa, sepertinya hal itu justru membuat pria itu merasa geli.
Mereka berdua sampai di ruang makan. Dante menarik kursinya dan duduk. Ara tidak langsung duduk. Ia menunggu sampai Dante benar-benar duduk di kursinya. Barulah ia menarik kursi di sisi lain meja dan duduk.
Beberapa detik kemudian, para pelayan masuk membawa makan malam. Piring-piring diletakkan satu per satu di atas meja. Ada Daging panggang. Sup hangat. Sayuran. Nasi. Berbagai hidangan memenuhi meja makan yang panjang.
Ara hanya memandang sekilas. Ia sebenarnya tidak niat makan. Cuma ia harus menghormati kesepakatan awal diantara mereka. Ini salah satu tugasnya.
Para pelayan masih berada di sana, berlalu lalang membawakan hidangan ke meja. Keduanya menunggu dengan sabar. Sampai akhirnya pelayan terakhir selesai menuangkan minuman dan meninggalkan ruangan.
Kini hanya mereka berdua. Suasana ruangan kembali sunyi. Dante mengambil sendoknya. Ara melakukan hal yang sama. Mereka mulai makan dalam diam. Suasana meja makan itu terasa sangat tenang. Hanya terdengar bunyi alat makan yang sesekali menyentuh piring.
Ara tetap makan dalam diam. Ia tidak ingin menyulut api di antara mereka. Ia tahu dirinya memang bersalah. Ia yang melarikan diri. Ia yang membeli tiket menuju Paris untuk meninggalkan petunjuk palsu. Ia yang membuat Dante harus mengerahkan orang-orangnya untuk mencarinya. Ia tahu memang pantas dihukum.Tetapi bukan berarti ia tidak boleh protes. Bagaimanapun, instruktur wanita yang didatangkan Dante untuk mendisiplinkannya benar-benar terlalu keras.
Ara bahkan masih bisa merasakan pegal di beberapa bagian tubuhnya. Wanita itu benar-benar sadis.
Ara menusuk daging dengan garpunya. Ia mengingatkan dirinya untuk tidak melampiaskannya kekesalan pada daging di piringnya. Lagipula bukankah Dante sudah mengingatkannya untuk patuh? Jadi sekarang Ara sedang berusaha patuh. Setidaknya ia tidak membuat masalah.
Dante beberapa kali melirik ke arahnya. Ia melihat wajah Ara yang jelas-jelas tidak senang. Tatapan matanya sedikit turun. Bibirnya mengerucut. Bahkan cara Ara mengunyah makanan terlihat lebih lambat dari biasanya. Namun Dante berpura-pura tidak tahu. Ia kembali makan.
Beberapa saat kemudian, ia melirik lagi. Ara sedang menatap piringnya dengan ekspresi muram.
Dante hampir tersenyum. Dalam hati, ia benar-benar geli. Ara sangat mudah dibaca ketika sedang marah.
Tetapi ia tidak berkomentar. Ia tahu jika dirinya menggoda sedikit saja, Ara mungkin akan kembali mengeluarkan semua protes yang sejak tadi ditahannya.
Dan Dante jelas tidak ingin makan malam mereka berubah menjadi pertengkaran. Jadi ia membiarkannya.
Sementara Ara diam-diam melirik Dante dari balik bulu matanya. Pria itu terlihat terlalu tenang dan masih sedingin biasanya. Tak ada sedikit pun rasa bersalah di mata pria itu.
Begitu ia selesai makan, Dante baru berkata, "Enak?"
Ara mengangkat mata. "Enak," sahutnya sedikit ketus.
Dante menahan senyum. Ia tak tahan membiarkan api di sampingnya ini menjadi padam.
Ara kembali makan.
Beberapa detik kemudian, Dante berkata lagi, "Kau terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu."
"Aku tidak ingin mengatakan apa-apa."
"Benarkah?"
"Benar."
"Baiklah."
Hening kembali. Dante menunggu Ara selesai makan.
Ara semakin kesal mendapati sikap memancing keributan dari suaminya ini. Entah sengaja atau tidak suaminya ini. Karena jelas Dante tahu ia sedang marah. Tetapi pria itu berakting pura-pura tidak tahu.
Ara akhirnya mengangkat wajah.
""Aku tahu kau sedang menertawakan ku dalam hati."
Dante menatapnya. "Apa?" Ia memasang muka polos. Kemudian sudut bibirnya benar-benar terangkat.
"Kau menertawakan ku?"
"Sedikit."
Ara langsung mendengus.
"Aku hanya merasa lucu melihatmu berusaha sangat keras untuk tidak marah."
"Aku tidak berusaha."
"Aku dari tadi bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi padamu?''
"Tidak terjadi apa-apa padaku. Hanya sedikit menderita." Ara akhirnya menyuarakan kekesalannya.
Jawaban itu membuat ekspresi Dante berubah. Tatapannya menjadi lebih dingin.
"Apa yang membuatmu menderita?"
Ara mengangkat alis. Ia mengangkat kedua tangannya yang masih merah akibat pukulan tadi siang. Ia menunjukkan tangan itu kepada Dante.
Dante hanya meliriknya sekilas.
"Bukankah aku sudah meminta Luca memberikan salep untuk mengobati nya?" tanyanya memastikan.
Ara menarik kembali tangannya. "Sudah," sahutnya kembali ketus. Ia malas bicara lagi. Ia menyuap satu suapan terakhir di sendoknya. Ia hendak berdiri tapi suara Dante menghentikannya.
"Duduk!" Dante memerintahkan. Ara kembali duduk dengan wajah makin masam
Dante memanggil Luca. Ia meminta Luca naik ke kamarnya dan mengambil salep yang ia berikan tadi siang kepada nyonya.
Mereka duduk dalam diam, menunggu Luca turun.
Begitu Luca menyerahkan salep itu, Dante menarik satu per satu tangan Ara dan mengoleskan salep itu dengan lembut ke punggung tangan Ara.
Untuk sesaat, Ara terpaku. Ia tersentuh dengan kelembutan yang ditunjukkan Dante. Ia menundukkan wajah. Entah bagaimana kekesalannya memudar.
Dante melirik Ara sekali lagi. Wajah Ara sudah tidak masam. Ia bertanya dalam hati apakah itu Ara mulai bisa menerimanya?
***