Ini bukan tentang pengkhianatan atau perselingkuhan.
Ditinggal kabur calon suami sehari sebelum pernikahan demi wanita lain adalah hal memalukan bagi Kanaya. Namun, terjebak dalam pernikahan darurat dengan Yudha, calon adik iparnya yang 7 tahun lebih muda dari usianya, jauh di luar bayangannya.
Tanpa cinta, tanpa persiapan, dia harus memulai hidup seatap dengan laki-laki yang lebih pantas menjadi adiknya.
Inilah kisah dua jiwa yang dipaksa bersatu demi sebuah nama baik. Apa yang terjadi dengan kisah mereka setelah menikah? Akankah rumah tangga mereka bisa bertahan? Apakah rasa cinta akhirnya tumbuh di antara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Biar Dapat Suami Ganteng
Beep beep!
Suara klakson mobil yang khas milik Yudha terdengar dari depan rumah. Kanaya refleks menyandarkan gagang pel di tembok terdekat. Ia buru-buru mengelap tangan dengan bajunya sebentar, lalu berjalan hati-hati menuju pintu depan.
Sebenarnya pintu rumah tidak dikunci dan Yudha bisa saja masuk sendiri tanpa perlu dibukakan. Namun, Kanaya sengaja menyambut Yudha selayaknya seorang istri menyambut sang suami yang pulang dari aktivitas kantor.
"Assalamualaikum..." senyum Yudha langsung mengembang begitu mendapati sosok istrinya sudah berdiri saat daun pintu terbuka.
"Waalaikumsalam..." balas Kanaya hangat. Saat Yudha hendak melangkah masuk, Kanaya cepat-cepat menunjuk lantai keramik yang masih agak basah. "Awas licin, Yud! Baru aku pel."
Kanaya lalu meraih tangan kanan Yudha dan mencium punggung tangan sang suami. Walau Kanaya masih memanggil Yudha dengan nama saja, karena usianya jauh lebih tua dari sang suami, Nanum, rasa hormat pada Yudha sebagai kepala keluarga tak pernah berkurang sedikit pun.
Yudha memperhatikan wajah istrinya yang sedikit berkeringat. "Rajin banget sih, beneran beruntung banget deh, aku bisa dapet istri kayak kamu, Yank."
Bukannya luluh, Kanaya malah menyipitkan mata, menatap Yudha sambil tersenyum tipis. "Iya lah beruntung. Jadi kamu nggak perlu bayar ART lagi, kan?" sahutnya santai, sengaja membalikkan godaan sang suami.
Tawa Yudha seketika pecah memenuhi ruangan. "Hahaha! Tau aja kamu, Yank."
Yudha kemudian mengangkat kantong plastik berlogo restoran seafood yang sejak tadi dipegangnya. "Ini aku beliin udang asam manis sama sambel cumi kesukaan kamu, Yank. Nanti tinggal dihangatkan aja buat makan malam kita."
"Ini beli pas kamu makan siang bareng papa tadi?" tanya Kanaya sambil menerima kantong plastik tersebut.
"He-eh."
"Ada masalah ya, Yud?" Saat Yudha memberi kabar akan makan siang bersama Wirawan, ia sudah curiga pasti ada hal serius yang akan dibahas sang suami dengan papa mertua.
Yudha menghela napas pendek, lalu mengusap pelan puncak kepala Kanaya. "Ada sih, tapi bukan masalah besar, kok. Aku mandi dulu, deh. Nanti aku ceritain semuanya habis mandi. Kamu juga lagi ngepel. Lanjutin dulu ngepelnya, yang bersih, biar dapet suami ganteng!" kelakar Yudha sambil tertawa kecil. Tanpa menunggu balasan istrinya, ia langsung melangkah menaiki anak tangga.
Kanaya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah suaminya yang suka sekali menjahilinya. Dengan mengerutkan bibir berpura-pura kesal, ia berteriak kecil menyahuti langkah Yudha yang makin menjauh, "Eh, aku udah punya suami, ya! Memangnya aku boleh cari suami lagi?"
Yudha yang menapaki anak tangga seketika memutar tubuhnya dan menatap tajam pada istrinya. "Coba aja kalau berani!" ancamnya dengan berkacak pinggang.
"Kan tadi disuruh ngepel yang bersih, supaya dapat suami ganteng." Kanaya menjulurkan lidah sambil berlari hati-hati membawa ember dan alat pel juga plastik berisi makanan ke dapur.
"Awas jatuh, Yank! Lantainya licin!" Yudha mengingatkan istrinya yang terburu-buru ke dapur karena menghindarinya.
***
Di ruang keluarga lantai atas, suasana terasa begitu tenang. Sementara langit sudah menampakkan warna jingga. Yudha dan Kanaya duduk bersantai menanti waktu Maghrib tiba. Mereka melanjutkan obrolan yang sempat tertunda tadi.
Sebagai sepasang suami istri yang sedang berusaha membangun rumah tangga harmonis, mereka berusaha untuk saling terbuka, tidak boleh ada rahasia sekecil apa pun itu, termasuk kabar mengejutkan tentang Yogi yang berencana menikah akhir pekan ini.
"Siang tadi, Mas Yogi tiba-tiba WhatsApp aku, Yank."
Gerakan tangan Kanaya yang hendak menyesap teh hangat langsung terhenti. Cangkir keramik itu tertahan di depan bibirnya beberapa saat.
Saat ia mendesak Yudha untuk melunasi seluruh utang biaya pernikahan milik Yogi beberapa waktu lalu, harapannya agar mereka benar-benar lepas dari masalah-masalah Yogi. Ia tidak ingin hidup mereka diusik lagi oleh bayang-bayang masa lalu itu. Kini, apa lagi yang dibuat pria itu?
"Dia bilang akan nikah akhir minggu ini. Dia minta aku datang sebagai perwakilan keluarga karena cuma aku yang diundang."
Sudut bibir Kanaya tertarik tipis, bahkan nyaris tak terlihat. Baru beberapa minggu lalu pernikahan dirinya dan Yogi dibatalkan, dan sekarang, laki-laki itu sudah bersiap bersanding dengan wanita lain?
Tidak! Bukan rasa patah hati atau cemburu yang menderanya setelah mendengar rencana pernikahan tersebut. Kalau memang sejak awal Yogi punya wanita lain, lalu apa maksudnya laki-laki itu menerima rencana pernikahan mereka dulu? Baginya, lebih baik menolak sejak awal daripada harus merugikan pihak lain. Kanaya sendiri tidak menyesali pernikahannya dengan Yudha. Sejauh ini kehidupan rumah tangganya berjalan sangat manis. Hanya saja, sikap Yogi tetap tidak bisa ditolerir, apapun alasannya.
"Tadi aku sempat ketemu Papa dan cerita soal ini," lanjut Yudha, membuyarkan lamunan Kanaya. "Awalnya aku pikir Papa bakal langsung melarang dan marah. Tapi setelah aku coba kasih pengertian pelan-pelan, akhirnya Papa mengerti dan mengizinkan aku pergi."
Kanaya tidak langsung merespon. Dia menyesap teh hangat itu perlahan,
"Kamu mau datang ke sana?" Akhirnya Kanaya bersuara, meskipun terdengar datar, hampir tanpa ekspresi.
Yudha mengembuskan napas panjang sebelum menjawab.
"Iya, Yank. Bagaimanapun kelakuan Mas Yogi, dia tetap kakak kandungku. Dia butuh aku di sana sebagai perwakilan keluarga, karena papa nggak mungkin mau menginjakkan kaki ke acara itu." Yudha menjeda kalimatnya sejenak, memperhatikan raut wajah Kanaya yang masih datar. "Kalau Mama kemungkinan besar akan ikut. Aku tinggal nunggu kabar kepastian dari Papa aja. Soalnya Papa sendiri udah kasih lampu hijau kalau Mama diizinkan datang."
Melihat Kanaya yang sama sekali tidak antusias, Yudha menjadi agak sungkan. Dengan nada suara yang diatur selembut mungkin, ia memberanikan diri bertanya, "Kamu mau ikut aku ke sana, Yank?
Kanaya bergeming. Ia menatap kosong ke arah tehnya, sengaja mengulur waktu untuk tidak langsung menjawab.
Mendapati respons istrinya, Yudha langsung merasa bersalah. Ia buru-buru menyambung kalimatnya, mencoba mencairkan suasana. "Nggak apa-apa kalau kamu nggak mau ikut, Yank. Aku paham banget, pasti rasanya nggak nyaman kalau harus ketemu Mas Yogi lagi dalam situasi kayak gini. Lagi pula aku juga agak khawatir Papa Danur nggak bakal ngasih izin kalau kamu pergi ke sana." Dari sikap diam Kanaya, Yudha langsung menyimpulkan jika istrinya itu keberatan datang menemaninya pergi
Kanaya menoleh. Ia menatap lekat-lekat manik mata suaminya. "Kamu sendiri sebenarnya ingin mengajak aku atau nggak?"
Yudha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa agak serba salah. "Ya... aku sih inginnya ajak kamu, Yank. Tapi...."
"Ya sudah, aku ikut," potong Kanaya cepat, tidak memberikan celah sedikit pun bagi Yudha untuk menyelesaikan kalimat
Yudha tertegun. Matanya membelalak menatap Kanaya dengan pandangan tidak percaya. "Serius, Yank? Kamu beneran mau ikut?" Ekspresi Yudha tampak berbinar oleh rasa bahagia karena Kanaya menyetujui ikut menemaninya ke Bali.
Kanaya hanya mengangguk kecil dengan senyum tipis.
"Tapi, kalau Papa Danur nggak kasih izin, gimana?" tanya Yudha mengkhawatirkan respon mertuanya.
"Nggak usah kasih tahu Papa-lah." Kanaya menaruh cangkir teh di meja.
"Tapi, aman nggak nih, Yank?" Yudha kurang yakin. Tentu saja ia takut disalahkan papa mertuanya. Untuk hal apa pun dia berani menghadapi sang papa mertua. Namun, jika bersangkutan dengan Yogi, hati Yudha menciut.
"Kita ini sudah menikah. Sekarang ini kamu yang berhak mengendalikan aku, asal jangan diatur untuk melakukan hal yang macam-macam aja!" ucapnya memberi kuasa penuh pada sang suami untuk menentukan sikap dalam rumah tangga mereka.
"Oke, Yank. Siap!" Yudha menggeser posisinya lebih dekat pada istrinya, lalu memeluk tubuh Kanaya dan memberi kecupan di pipi sang istri berulang kali. "Makasih banyak ya, Yank. Kamu benar-benar pengertian."
❤️❤️❤️
Bersambung...
pasti senang sekali Yudha kalo tau Yaya tetiba positif
semoga garis dua ya nay