NovelToon NovelToon
KONTRAK LIMA MILIAR

KONTRAK LIMA MILIAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: mbu'na Banafsha

"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"

"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"

"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."

"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"

"Itu hakmu untuk menyimpulkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9. MAKAN MALAM

BAB 9. Undangan Makan Malam

Menjelang pukul enam sore, suasana di dalam ruang CEO Arshaka Group masih dipenuhi kesibukan. Sejak beberapa hari terakhir, ritme kerja di ruangan itu nyaris tidak pernah benar-benar melambat. Agenda Kalandra tersusun rapat dari pagi hingga sore, sementara Hagia perlahan mulai terbiasa mengikuti setiap perubahan jadwal, menyusun ulang pertemuan yang bertabrakan, hingga menyiapkan dokumen yang dibutuhkan bahkan sebelum diminta.

Di atas meja kerja Kalandra masih tersisa beberapa map yang harus ditandatangani sebelum hari berakhir. Sesekali telepon dari investor atau pimpinan divisi masuk silih berganti, memaksanya berpindah dari satu pembahasan ke pembahasan lain tanpa jeda yang berarti.

Tidak jauh dari sana, Hagia masih menatap layar komputernya. Laporan pendukung presentasi renovasi Arshaka Mall telah hampir selesai. Ia memeriksa kembali setiap angka, mencocokkannya dengan gambar kerja, memastikan tidak ada satu pun data yang berpotensi menimbulkan pertanyaan saat rapat direksi dua hari lagi.

Beberapa hari bekerja di ruangan yang sama membuat Hagia mulai memahami kebiasaan atasannya. Kalandra jarang meninggalkan meja kerjanya pada jam makan siang. Jika jadwal terlalu padat, makan siang selalu dipesan ke kantor agar pekerjaan tidak perlu terhenti. Terkadang, meski dirinya sendiri sering baru menyentuh makanan setelah seluruh pekerjaan mendesak selesai, Kalandra tidak pernah sekali pun membiarkan Hagia melewatkan waktu makan.

Hampir setiap siang, sebuah kalimat yang sama selalu terdengar dari balik tumpukan dokumen.

"Makan dulu."

Tidak panjang. Tidak terdengar seperti perhatian. Lebih menyerupai instruksi yang tidak membuka ruang untuk dibantah.

Hari itu pun tidak berbeda. Ketika jam dinding baru saja melewati pukul dua belas, sekretaris mengantarkan dua kotak makan ke dalam ruang CEO sesuai pesanan rutin. Kalandra hanya melirik sekilas ke arah Hagia yang masih sibuk mengetik.

"Lanjutkan nanti."

Hagia menghentikan jemarinya.

"Laporannya hampir selesai."

"Masih bisa selesai setelah makan."

Hagia tidak lagi berusaha membantah. Rutinitas kecil itu terjadi hampir setiap hari. Tidak pernah dibahas. Tidak pernah dianggap istimewa. Namun, tanpa disadari keduanya, kebiasaan tersebut perlahan menjadi bagian dari ritme kerja mereka. Kalandra tetap menjadi CEO yang dingin dan disiplin, sementara Hagia tetap menjadi asisten yang selalu berusaha menyesuaikan setiap pekerjaannya.

Beberapa saat kemudian, Kalandra menutup map terakhir di hadapannya. Pandangannya beralih ke jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya sebelum ia berdiri dari kursi.

Sudah waktunya mereka pulang. Namun, ponsel Kalandra tiba-tiba berbunyi.

"Ya, Bu."

Beberapa saat dia mendengarkan ucapan seorang wanita paruh baya di balik telepon. Dia sempat menimbang beberapa detik sebelum menjawab.

"Baik. Kami datang."

Telepon pun terputus. Belum begitu lama, Kalandra menghindar dari ibu tirinya itu. Karena sebelumnya, sosok Winda adalah sosok ibu yang tak pernah tergantikan oleh siapa pun, meski sebelum ayahnya resmi menikahi wanita itu, statusnya hanyalah sebagai ibu asuh. Namun, selama puluhan tahun, dia menempati posisi wanita nomor satu di keluarga Arshaka juga di hati Kalandra.

Winda adalah sosok wanita yang selalu menjadi pahlawan ketika Kalandra kecil diabaikan ibu kandungnya sendiri. Bahkan berkali-kali dibuat celaka sampai akhirnya ditinggalkan begitu saja oleh sang ibu. Bagaimana mungkin Winda tidak memiliki tempat khusus di hati Kalandra. Namun, semua berubah ketika sang kakek mengungkap sebuah cerita.

Memang sulit dipercaya, jika tiba-tiba Kalandra kini memiliki perasaan yang berbeda. Bahkan, ada sebuah luka dan penyesalan yang tak kunjung reda.

"Tuan."

Kalandra baru saja tersadar jika Hagia sudah berdiri di depan mejanya. Tas kerja sudah tersampir di bahu. Dia sudah siap untuk melangkah pulang.

"Kita... ke rumah utama dulu."

"Rumah utama?"

"Rumah keluarga Arshaka." Kalandra menegaskan. "Ibu mengundang kita makan malam di sana."

Hagia mengangguk pelan. Sejak menikah, ia belum pernah bertemu dengan keluarga besar Kalandra selain sang kakek yang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Selama ini kehidupannya hanya berputar antara penthouse dan kantor saja

"Mendadak sekali. Apa ada acara khusus?" tanyanya hati-hati.

"Hanya makan malam biasa."

Nada bicara Kalandra tetap datar, seolah itu hanyalah agenda biasa.

"Kamu tidak perlu terlalu banyak bicara nanti."

Hagia menoleh.

"Kalau ada yang bertanya?"

"Jawab seperlunya."

"Terus kalau--"

Kalandra memotong kalimatnya.

"Kalau ada pembicaraan yang mulai mengarah ke hal-hal yang tidak perlu, biar saya yang menjawab."

Hagia tidak bertanya lagi. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup membuatnya menyadari bahwa makan malam nanti mungkin tidak akan sesantai yang dibayangkannya.

Setelah memastikan tidak ada lagi pekerjaan yang tertinggal, Hagia merapikan meja kerja Kalandra. Mereka melangkah bersama keluar dari ruang CEO. Turun menggunakan lift khusus direksi hingga tiba di area parkir di basement. Sebuah sedan hitam sudah terparkir di tempat biasanya. Sopir pribadi Kalandra yang selama bertahun-tahun bertugas mengantarnya bekerja segera melangkah mendekat sambil membawa kunci mobil.

"Selamat sore, Pak."

Kalandra menghentikan langkahnya.

"Mulai hari ini, saya nyetir sendiri."

Sopir itu tampak sedikit terkejut, tetapi tetap menundukkan kepala hormat.

"Baik, Pak."

"Untuk sementara saya tidak butuh sopir. Nanti bagian personalia akan menghubungimu untuk tugas baru."

"Baik."

Tanpa banyak bertanya, pria itu menyerahkan kunci mobil kepada Kalandra. Hagia memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Setelah sopir tersebut berpamitan, ia baru membuka suara.

"Kenapa tiba-tiba Anda memutuskan menyetir sendiri?"

Kalandra membuka pintu pengemudi sebelum menjawab singkat.

"Lebih efisien."

Hagia masuk ke kursi penumpang, lalu memasang sabuk pengaman.

"Efisien?"

Kalandra menyalakan mesin mobil.

"Selama kamu menjadi asisten pribadi saya, kita akan lebih sering membahas pekerjaan di perjalanan. Saya tidak ingin ada orang lain yang mendengar pembicaraan internal perusahaan. Dan juga kehidupan pribadi kita."

Jawaban itu terdengar masuk akal. Hagia pun mengangguk pelan tanpa menaruh curiga sedikit pun. Baginya, keputusan tersebut hanyalah bagian dari cara kerja seorang CEO yang selalu mengutamakan efisiensi.

Mobil perlahan meninggalkan area parkir menuju jalan raya. Di luar, lalu lintas Jakarta mulai dipenuhi kendaraan yang bergegas pulang setelah jam kerja berakhir.

Beberapa menit pertama mereka lalui dalam keheningan hingga akhirnya Kalandra kembali membuka percakapan.

"Presentasi Arshaka Mall tetap dilaksanakan lusa."

Hagia menoleh.

"Saya pikir Anda yang akan mempresentasikannya."

"Saya hanya membuka rapat."

"Lalu... saya yang menjelaskan seluruh rancangan?"

"Ya."

Hagia terdiam beberapa saat. Ia memang yakin dengan hasil pekerjaannya, tetapi berbicara di hadapan seluruh jajaran direksi Arshaka Group jelas menghadirkan tekanan yang berbeda.

"Kalau mereka mengajukan pertanyaan yang tidak saya duga?"

"Kamu yang membuat rancangan itu." Kalandra tetap menatap lurus ke depan. "Tidak ada orang yang lebih memahami desain tersebut selain dirimu."

Hagia menghela napas pelan. "Saya akan berusaha sebaik mungkin."

"Bukan berusaha."

Hagia menoleh.

"Harus berhasil."

"Lulusan terbaik University of Cambridge mana boleh gagal."

Kalimat itu diucapkan dengan nada menyindir. Namun, terdengar seperti sebuah keyakinan yang telah lebih dulu dimiliki Kalandra terhadap kemampuan wanita di sampingnya.

Seketika wajah Hagia memerah. "Tuan, Anda sedang mengejek saya?"

"Kamu yang mengatakannya waktu itu."

"Jangan coba memancing saya untuk mengatakannya lagi, Tuan."

Kalandra melirik sekilas wanita di sampingnya. Perlahan, sudut bibirnya terangkat samar.

Mobil terus melaju menuju kawasan Menteng, membawa keduanya menuju sebuah makan malam di rumah mewah keluarga Arshaka.

Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil yang dikendarai Kalandra memasuki kawasan Menteng yang dipenuhi rumah-rumah tua bergaya kolonial. Laju kendaraan melambat ketika melewati gerbang besi hitam bertuliskan Arshaka Residence. Seorang petugas keamanan segera membuka gerbang setelah mengenali mobil sang CEO.

Hagia menoleh ke luar jendela. Rumah utama keluarga Arshaka berdiri megah di tengah halaman yang luas. Bangunan dua lantai itu mempertahankan arsitektur kolonial yang anggun dengan deretan pilar putih menjulang di bagian depan. Lampu-lampu taman mulai menyala, memantulkan cahaya hangat pada hamparan rumput yang tertata rapi. Di sudut halaman tampak beberapa pohon kamboja tua dan beringin yang membuat suasana rumah terasa teduh sekaligus berwibawa.

"Kakek tinggal di sini juga?" tanya Hagia pelan.

Kalandra mengangguk lalu mematikan mesin mobil sebelum menjawab pertanyaan Hagia.

"Sejak kesehatannya menurun, beliau jadi lebih banyak dirawat di rumah sakit."

Hagia mengangguk pelan.

Berbeda dengan penthouse yang hanya dihuni dirinya dan Kalandra, rumah utama ini terasa jauh lebih hidup. Beberapa mobil telah terparkir di halaman, sementara para pelayan tampak hilir mudik menyiapkan makan malam.

Seorang pelayan berusia sekitar lima puluh tahun segera membukakan pintu utama begitu mereka memasuki rumah.

"Selamat datang, Tuan Kalandra."

"Selamat sore."

Pelayan itu kemudian menoleh kepada Hagia dengan senyum ramah.

"Selamat datang, Nyonya."

Sapaan itu membuat Hagia sedikit kikuk. Ia hanya membalas dengan anggukan sopan sebelum mengikuti langkah Kalandra memasuki ruang tengah.

Interior rumah didominasi kayu jati berwarna gelap yang dipadukan dengan lampu kristal besar di langit-langit. Dindingnya dipenuhi lukisan keluarga Arshaka dari berbagai generasi, lengkap dengan beberapa foto penghargaan perusahaan yang telah diraih selama puluhan tahun. Semua sudut rumah memancarkan kesan mewah, tetapi juga terasa begitu formal hingga nyaris tidak menghadirkan kehangatan sebuah tempat tinggal.

1
alfian Agel
bagus
🍾⃝ sͩᴀᷞᴍͧsᷡʏͣ ⏤͟͟͞R
baru sempet mampir Mbu🙏
semoga bukunya sukses
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ternyata pernah ngalamin kekurung diruangan juga Kalandra, tapi dia terkurung apa di kurung mamanya ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
apakah yang terjadi dengan Hagia disengaja 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
syukurlah Hagia gak kenapa napa
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semoga saja Hagia selamat 🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
cepat tolongin Hagia Kalandra 😔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Hagia terkurung dia ruang arsip 🤔
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
makan pun yang dibahas soal kerjaan dan harga diri, apa orang kaya kalau makan selalu begitu ya 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
kan kan benar Kalandra dah curiga 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
sepertinya Kalandra mulai curiga 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
ini apa maksudnya ya , apa sebenarnya dia sudah tau siapa Hagia 🤔
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
semangat Hagia, semoga berhasil mengerjakan tantangan itu💪
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gimana ya rasanya jadi Hagia,
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
wah gimana reaksi mereka kalau tau orang yang mereka cari berada dalam ruangan yang sama mereka 🤔🤭
sunshine wings
bagus ceritanya.. 👍👍👍👍👍
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
Angga Gati
ah dgantung....lanjut kal👍
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
gak papa terlambat Hagia🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
studio itu ternyata peninggalan mendiang ibunya Hagia, kirain ibunya masih ada 🤭
•§͜¢•🦢🍒"Asti "
Kalandra sama Hagia sama² terdesak 🤭🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!