NovelToon NovelToon
The Last Survivors

The Last Survivors

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Di Tengah Badai

Rombongan Danu akhirnya berhasil menemukan tempat perlindungan yang cukup jauh dari jangkauan kawanan mayat hidup. Sebuah lumbung padi tua yang dindingnya masih kokoh, tersembunyi di balik rimbunnya tanaman di pinggir ladang. Langit yang tadi mulai kelabu kini benar-benar gelap, guntur mulai terdengar bergemuruh pelan di kejauhan—tanda badai hujan lebat tak lama lagi akan turun membasahi bumi yang penuh kekacauan ini.

Mereka membagi tempat duduk sesuai kebutuhan, menjaga jarak namun tetap saling mengawasi. Rafli duduk di pojok paling teduh bersama Mega dan Natalia, tak jauh dari tumpukan jerami yang masih kering. Di sisi lain, Danu dan Simon duduk bersandar pada tumpukan karung kosong, sementara Jodie berkumpul bersama Dokter Rizal, Imran, Andri, Aldo, dan anggota lainnya di tengah ruangan, beristirahat sejenak dari ketegangan yang menyesakkan.

Suasana hening sejenak, hingga Mega memecahnya perlahan.

"Kamu... sepertinya sangat paham cara menghadapi mereka," ucapnya pelan, menatap busur panah yang masih digenggam erat Rafli. "Kamu tahu banyak hal tentang cara mereka bergerak dan apa yang menarik perhatian mereka."

Rafli tersenyum tipis, senyum yang sedikit meredakan ketegangan di wajahnya yang penuh debu dan keringat.

"Jujur saja... aku jadi tahu banyak karena sering menonton serial The Walking Dead," jawabnya santai. "Aku penggemar berat Daryl Dixon. Busur silang yang aku pegang ini pun aku cari dan aku pelajari cara menggunakannya karena terinspirasi darinya."

Mata Mega dan Natalia seketika membelalak tak percaya, lalu perlahan senyum tipis terukir di wajah mereka—senyum pertama yang muncul sejak kiamat ini dimulai.

"Wah... kamu hebat sekali," puji Mega tulus, matanya berbinar kagum. "Siapa sangka apa yang dulunya hanya hiburan, kini justru menjadi penolong nyawa kita semua."

Di tengah ancaman maut yang mengintai dan badai yang siap melanda, obrolan sederhana itu sejenak mengingatkan mereka bahwa harapan dan kelucuan kecil masih ada, meski dunia di luar sana sudah berubah menjadi neraka.

Hujan turun deras memukul atap lumbung, suara gemuruhnya menyamarkan segala jejak di luar sana, sekaligus membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Dengan hati-hati, mereka menyalakan api unggun kecil di tengah ruangan yang sudah dibersihkan dari jerami kering—cukup untuk menghangatkan tubuh dan memasak sisa makanan yang ada, tanpa menarik perhatian makhluk di luar.

Mega sibuk mengaduk panci berisi air dan bekal sederhana, ditemani Rafli dan Simon yang mengumpulkan kayu bakar. Di sudut lain, Natalia, Danu, dan Aldo duduk berhimpit, menyusun rencana perjalanan menuju Bandung saat hujan reda nanti.

"Kamu punya kakak, Rafli?" tanya Mega pelan, memecah keheningan di antara mereka.

Rafli berhenti sejenak menatap nyala api, lalu mengangguk samar. "Uhm... Punya. Tapi aku tak tahu apakah dia masih bernapas atau sudah tiada."

Mega menatapnya hati-hati. "Kau... tak pernah terpikir untuk mencarinya?"

Rafli menggeleng mantap. "Tidak. Bagiku, dia sudah mati atau masih hidup, itu urusan dia sendiri. Kalau dia menganggapku adiknya, dia yang akan mencari atau pulang. Bukan aku yang harus mengejarnya."

Mega tersenyum sinis tipis. "Pasti kakakmu tipe seperti Merle Dixon ya? Yang keras kepala, egois, dan suka pergi begitu saja?"

Rafli terkekeh pelan, sorot matanya sedikit melembut. "Bukan. Dia malah tidak suka film itu sama sekali. Katanya cerita tentang mayat hidup itu omong kosong belaka."

Di sela suara hujan dan gemericik kayu yang terbakar, percakapan itu sejenak mengingatkan mereka: setiap orang yang selamat di dunia ini pasti membawa luka dan cerita tersendiri. Bahkan di tengah kiamat, ikatan darah pun tak selalu berjalan sejalan.

Bersambung

1
Abyyasdemons
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!