NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

KEBANGKITAN PUTRI TERLUPAKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Dijadikan keset kaki, diabaikan oleh ayah kandungnya, hingga dikhianati oleh pria yang berjanji akan menikahinya. Hidup Shen Xianle berakhir tragis di dasar tebing dingin setelah tubuhnya dilemparkan tanpa belas kasihan.

Mereka mengira Xianle telah lenyap dan dilupakan. Namun, mereka salah besar. Sebuah kekuatan kuno membangunkannya dari ranjang salju yang berdarah. Kali ini, tidak ada lagi putri teratai yang lemah lembut. Yang ada hanyalah Shen Xianle yang terlahir kembali dengan hati sedingin es dan tekad membalas dendam yang membara.

Bagaimanakah cara Xianle membalas setiap tetes darah yang pernah mereka tumpahkan? Ikuti kisah pembalasan dendam terdahsyat sang putri yang terlupakan!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KELOPAK TERATAI YANG BERNODA DARAH

Angin malam musim dingin menusuk hingga ke tulang, bersiul kasar melalui celah-celah kayu Paviliun Anggrek yang telah membusuk. Di ujung paling terpencil dari Istana Kekaisaran Han, tempat ini lebih mirip makam berhantu yang terlupakan daripada kediaman resmi seorang putri raja. Atapnya bocor di beberapa sudut, meninggalkan noda jamur kelabu pada pilar-pilar kayunya yang mulai rapuh dimakan usia.

Di dalam ruangan yang sunyi dan dingin itu, Shen Xianle duduk di dekat jendela. Jemarinya yang pucat, kurus, dan dipenuhi bekas luka kecil dengan teliti menggerakkan jarum, menyulam selembar kain sutra putih. Di bawah cahaya lilin yang bergoyang ditiup angin malam, wajahnya tampak seindah pahatan marmer terbaik.

Kulitnya seputih salju, matanya jernih seperti air telaga, dan raut wajahnya memancarkan aura yang rapuh serta lembut persis seperti bunga teratai putih yang tumbuh menyendiri di kolam berlumpur paviliunnya.

Selama belasan tahun, inilah topeng yang ia kenakan demi bertahan hidup. Di istana yang kejam ini, ia hanyalah seorang putri yang lahir dari seorang selir rendahan yang telah tiada. Seorang putri yang diabaikan oleh sang kaisar, ayahnya sendiri, yang bahkan mungkin sudah lupa bahwa ia memiliki anak bernama Xianle. Tanpa perlindungan dari siapa pun, Xianle belajar sejak kecil untuk selalu merundukkan kepala dalam-dalam setiap kali saudara-saudaranya melintas, menerima setiap makian dan dijadikan keset kaki dengan senyuman pasrah, seolah semua ketidakadilan itu adalah berkah yang harus ia syukuri.

“Bertahanlah, Xianle. Sembunyikan dirimu di balik kelembutan. Jangan pernah biarkan mereka melihat kecerdasanmu, karena di istana ini, harimau yang memperlihatkan taringnya terlalu cepat akan berakhir di meja jagal,” bisik suara mendiang ibunya yang selalu terngiang di kepalanya setiap kali ia merasa lelah.

Xianle menghela napas panjang, ia meletakkan sulamannya sesaat untuk meniup telapak tangannya yang membeku. Kehidupan di Paviliun Anggrek memang serba kekurangan. Jatah arang mereka sering kali dipotong oleh para pelayan istana yang bermuka dua, meninggalkan ia dan pelayan setianya dalam kedinginan yang mencekam setiap musim dingin tiba. Namun, malam ini, rasa dingin itu entah mengapa terasa berbeda. Ada firasat buruk yang mengganjal di dadanya, membuat detak jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya.

Pintu paviliun tiba-tiba terbuka kasar dengan suara berdentum keras. Angin malam yang membawa butiran salju segera menerobos masuk, memadamkan dua dari tiga lilin di ruangan tersebut.

Suara langkah kaki yang berat dan berwibawa memecah kesunyian malam. Xianle tersentak dari lamunannya. Namun, ketakutan di wajahnya langsung mereda, digantikan oleh binar kebahagiaan saat ia mengenali sosok pria yang melangkah masuk dengan jubah pelindung angin berwarna biru tua.

"Kakak Feng!" Xianle berdiri tergesa-gesa dari kursinya, mengabaikan rasa dingin yang menusuk kakinya yang telanjang. Pria itu adalah Li Feng, putra sulung dari keluarga Jenderal Besar Kekaisaran, sekaligus pria yang telah dijodohkan dengannya sejak mereka masih kecil atas janji lama mendiang ibunya. Bagi Xianle, Li Feng adalah satu-satunya kehangatan, satu-satunya alasan baginya untuk bertahan hidup di istana yang kejam ini.

Namun, langkah kaki Xianle mendadak terhenti. Ada yang salah.

Tidak ada senyuman hangat atau tatapan lembut yang biasa Li Feng berikan padanya. Malam ini, wajah pria itu tampak kaku, sedingin es di luar sana. Matanya menatap Xianle dengan tatapan asing yang dipenuhi ketidakpedulian. Dan yang lebih mengejutkan, Li Feng tidak datang sendiri. Di belakangnya, melangkah masuk seorang wanita dengan jubah sutra merah mewah yang berlapis bulu rubah putih di lehernya. Langkah kakinya terdengar anggun namun penuh keangkuhan.

Shen Meili, sang Putri Ketiga. Saudara tiri Xianle yang paling gemar menginjak-injak harga dirinya, wanita yang selalu memandang Xianle tak lebih dari seonggok sampah di sudut istana.

"Kakak Feng... Putri Ketiga... ada apa ini? Mengapa kalian datang larut malam begini?" Xianle memundurkan langkahnya setapak demi setapak. Dengan cepat, ia mengembalikan topengnya memasang wajah ketakutan, tubuh yang gemetar, dan mata yang berkaca-kaca, memperkuat fasad sebagai gadis rapuh yang tidak berdaya di hadapan mereka.

Shen Meili terkekeh sinis. Suara tawanya terdengar nyaring dan menyakitkan di telinga, memecah keheningan paviliun tua itu. Ia mengibaskan jubah merahnya, menatap sekeliling ruangan dengan pandangan jijik sebelum matanya tertuju kembali pada Xianle.

"Xianle, saudariku yang malang. Berhentilah gemetar seperti kelinci bodoh yang ketakutan. Tidakkah kau lelah terus-menerus memasang wajah menyedihkan itu? Kedatangan kami ke sini malam ini adalah untuk menjemput ajalmu," ucap Shen Meili dengan nada santai, seolah-olah ia sedang membicarakan cuaca esok hari.

Jantung Xianle mencelos, rasanya seperti dihantam gada besi yang sangat besar. Ia mengalihkan pandangannya yang bergetar ke arah Li Feng, mencari bantahan atau setidaknya tanda bahwa semua ini hanyalah lelucon yang kejam. "Kakak Feng... apa maksud Putri Ketiga? Tolong katakan sesuatu... Anda berjanji akan membawaku keluar dari istana ini setelah perayaan tahun baru, bukan? Anda berjanji akan menikahiku..."

Li Feng diam seribu bahasa untuk beberapa saat. Ia melihat air mata yang mulai mengalir di pipi Xianle, namun tidak ada lagi rasa iba di matanya. Pria itu menghela napas pendek, lalu memalingkan wajahnya ke samping, menolak untuk menatap mata jernih Xianle.

"Maafkan aku, Xianle. Dunia ini bergerak karena kekuasaan dan pengaruh, bukan karena janji masa kecil atau cinta kekanak-kanakan yang tidak menghasilkan apa-apa," kata Li Feng dengan suara baritonnya yang datar tanpa emosi. "Keluargaku membutuhkan aliansi yang kuat untuk mempertahankan posisi kami di militer. Meili adalah Putri Ketiga yang disayangi oleh Permaisuri dan memiliki dukungan penuh dari faksi Perdana Menteri. Pernikahanku dengannya akan membawa keluarga Li ke puncak kekuasaan Kekaisaran Han. Sedangkan kau... apa yang bisa kau berikan padaku selain paviliun busuk dan nama seorang selir mati?"

Setiap kata yang keluar dari mulut Li Feng terasa seperti belati berkarat yang ditusukkan langsung ke dada Xianle, lalu diputar dengan perlahan. Pengkhianatan dari satu-satunya orang yang paling ia percayai dan ia cintai selama belasan tahun ini menimbulkan rasa sakit yang begitu hebat hingga membuatnya sulit untuk sekadar bernapas. Rasa sakit itu begitu nyata, menghancurkan seluruh harapan kecil yang selama ini ia bangun di dalam hatinya.

"Lalu... bagaimana denganku? Mengapa kalian harus membunuhku?" suara Xianle bergetar hebat, kali ini tanpa perlu berpura-pura.

"Mengapa?" Shen Meili maju beberapa langkah, mendekati meja kayu tempat Xianle meletakkan sulamannya tadi. Dengan gerakan kasar, Meili menepis cangkir teh tanah liat di meja hingga jatuh ke lantai dan pecah berantakan menjadi kepingan-kepingan tajam. "Karena kau adalah noda yang harus dihapus, Xianle. Selama kau masih hidup dan menyandang status sebagai tunangan Li Feng, faksi kami tidak akan bisa meresmikan pernikahan ini tanpa memicu desas-desus di kalangan pejabat istana. Lagi pula, Ayahanda Kaisar tidak pernah menginginkanmu sejak awal. Jika kau mati karena 'terpeleset' ke dalam jurang di malam badai salju ini, tidak akan ada satu orang pun di istana ini yang akan meneteskan air mata untukmu. Kau akan dilupakan, persis seperti caramu hidup selama ini."

Sebelum Xianle sempat merespons atau mengeluarkan suara lagi, dua pengawal bertubuh kekar merangsek maju dari kegelapan di balik pintu. Tanpa peringatan, salah satu dari mereka langsung membekap mulut dan hidung Xianle dengan kain tebal yang telah dibasahi ramuan beracun yang melumpuhkan otot.

Xianle mencoba memberontak. Jiwa bertahannya mendesak tubuhnya untuk melawan, namun racun itu bekerja terlalu cepat. Dalam hitungan detik, seluruh kekuatannya menguap. Pandangannya mulai mengabur, kepalanya terasa berputar hebat, dan napasnya terasa mencekik di tenggorokan. Tubuhnya yang lemas didekap erat, lalu diseret keluar dari Paviliun Anggrek tanpa belas kasihan.

Kakinya yang telanjang terseret di atas lantai kayu, lalu berpindah ke atas tumpukan salju yang membeku di luar. Dinginnya salju membakar kulit kakinya, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan hancurnya hati yang ia rasakan. Dalam sisa kesadarannya yang kian menipis, ia melihat Li Feng dan Shen Meili berjalan beriringan di belakang para pengawal, memperhatikan dirinya yang diseret seperti hewan buruan tanpa secercah pun rasa bersalah atau ragu.

Mereka membawa Xianle menembus badai salju yang kian mengganas, menuju ujung tebing dingin yang terletak di bagian paling belakang wilayah istana. Di bawah tebing itu terbentang jurang yang sangat dalam, dipenuhi oleh batu-batu hitam yang tajam dan hutan pinus yang gelap gulita. Tempat itu dikenal sebagai tempat eksekusi rahasia bagi mereka yang menentang penguasa istana.

Di tepi tebing yang curam, embusan angin malam bertiup sangat kencang, menerbangkan rambut panjang Xianle yang terurai berantakan.

"Lemparkan dia," perintah Shen Meili dengan nada dingin yang kejam.

Kedua pengawal itu tanpa ragu mengangkat tubuh lemah Xianle dan melemparkannya ke dalam kegelapan jurang yang menganga lebar di bawah mereka.

Wuuush!

Tubuh Xianle melayang jatuh bebas ke dalam kegelapan. Angin dingin menderu keras di telinganya, menyayat wajahnya. Dalam proses jatuh yang terasa begitu lama, tubuhnya menghantam dan menembus ranting-ranting pohon pinus yang tajam. Ranting-ranting itu merobek kulit wajah, lengan, dan kakinya, merusak jubah putih tipis yang dikenakannya. Rasa sakit yang luar biasa dan tak tertahankan menghantam seluruh tubuhnya saat ia akhirnya mendarat dengan keras di dasar tebing yang tertutup salju tebal.

Krak! suara tulang-tulangnya yang patah terdengar mengerikan di tengah keheningan malam.

Darah segar berwarna merah pekat mulai merembes keluar dari luka-lukanya, mengalir di atas salju putih yang bersih di sekelilingnya, menciptakan pemandangan yang mengerikan sekaligus tragis menyerupai kelopak-kelopak bunga teratai putih yang kini telah ternoda oleh darahnya sendiri.

Hening. Dingin. Kesunyian malam kembali menguasai dasar tebing itu. Kematian terasa begitu dekat, perlahan tapi pasti merayap untuk menjemput sisa-sisa napasnya.

Namun, di ambang maut yang mencekam itu, seiring dengan detak jantungnya yang kian melemah dan pandangannya yang hampir menggelap sepenuhnya, sesuatu di dalam diri Shen Xianle tiba-tiba pecah. Topeng gadis naif yang lemah lembut, rapuh, dan penurut yang telah ia kenakan selama belasan tahun hancur lebur bersama dengan tulang-tulangnya yang patah di atas salju. Rasa sakit yang luar biasa itu tidak lagi membuatnya ingin menangis, melainkan bergeser menjadi sebuah kemarahan yang membakar jiwa, sebuah kebencian yang begitu pekat dan hitam.

Dia telah salah. Menyerah dan mengalah tidak pernah memberikan kedamaian di tempat terkutuk bernama istana ini. Kelemahlembutan hanya mengundang serigala untuk mencabik-cabik dagingnya.

“Jika surga... jika dunia ini masih memberiku satu kesempatan lagi untuk bernapas...” Xianle menggerakkan jemarinya yang gemetar dengan sisa tenaga terakhirnya, mencengkeram gumpalan salju dingin yang kini bercampur dengan darah hangatnya sendiri. Matanya yang hampir tertutup tiba-tiba terbuka lebar, memancarkan kilat kebencian dan tekad yang begitu pekat hingga mampu menggetarkan kegelapan malam.

“Aku bersumpah demi darah ibuku dan darahku sendiri... Aku akan kembali ke tempat itu. Aku tidak akan lagi kembali sebagai korban yang memohon belas kasihan atau menangis di sudut ruangan. Aku akan kembali sebagai badai, sebagai mimpi buruk yang akan meruntuhkan seluruh pilar istana kekaisaran dan menyeret mereka semua ke dalam neraka yang sama denganku!”

Tepat saat sumpah itu bergaung dengan dahsyat di dalam lubuk benaknya, sebuah keajaiban yang tidak masuk akal terjadi. Keheningan di dasar tebing yang gelap itu tiba-tiba terusik. Seberkas cahaya biru keperakan yang aneh dan mistis muncul dari balik kegelapan kabut hutan pinus, bergerak perlahan namun pasti mendekati tubuh sang putri yang tengah sekarat di atas ranjang salju berdarah...

1
aku
xianle yg berdialog bw pedang aq yg berasa kereennn 😁😁
SRIANA: terima kasih sudah mampir, semoga suka sampai akhir. selamat membaca🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!