NovelToon NovelToon
Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Galaxy

Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.

Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.

Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 020: Vonis Pertama, Kemenangan Kecil

Ruang sidang Pengadilan Negeri Kota Cahaya penuh sebelum hakim masuk.

Tiga minggu setelah malam ampul itu disegel, perkara pidana pertama akhirnya sampai pada pembacaan putusan. Selama tiga minggu itu, polisi mengunci transfer dari rekening perantara, mencocokkan pesan di ponsel Suster Melly, mengambil CCTV lorong RS Kota, dan menemukan log akses data Anwar dari jaringan internal MakanYuk.

Tidak semua pintu terbuka.

Tetapi cukup banyak pintu retak.

Robert Salim duduk di kursi terdakwa dengan jas yang tidak lagi terlihat seperti baju perang. Suster Melly Chandra duduk beberapa kursi di sampingnya, wajahnya pucat, tangan terlipat rapat di pangkuan.

Anwar hadir di baris belakang bersama Yanti. Ia belum pulih sepenuhnya, tetapi hari ini ia datang tanpa kursi roda. Yanti memegang lengannya seolah satu langkah pun masih bisa direbut orang lain.

Alexander duduk di meja penasihat korban bersama Gunawan.

"Ingat," bisik Gunawan, "putusan pidana ini bukan akhir gugatan MakanYuk."

"Saya tahu, Pak."

"Tapi kalau hari ini jatuh, mereka akan menyerang balik lebih liar."

"Maka hari ini tidak boleh jatuh."

Hakim masuk.

Semua berdiri.

Jaksa membacakan ringkasan tuntutan. Percobaan pembunuhan berencana terhadap Anwar Halim. Manipulasi akses obat dan infus di RS Kota. Pembayaran melalui perantara. Instruksi yang tidak ditulis sebagai perintah langsung, tetapi cukup terang terbaca dari rangkaian komunikasi.

Tim pembela Robert berdiri setelahnya.

"Yang Mulia," kata pengacara Robert, "klien kami adalah direktur hukum perusahaan besar. Ia menerima banyak laporan operasional setiap hari. Tidak ada satu pun kalimat eksplisit yang berbunyi 'bunuh Anwar Halim'. Mengubah komunikasi korporat menjadi niat pidana adalah lompatan yang berbahaya."

Beberapa orang di bangku pengunjung bergerak gelisah.

Alexander menunduk ke catatan.

Argumentasi Hukum menyusun urutan.

Ting! Argumentasi Hukum memetakan bantahan prosedural lawan.

Ketika hakim memberi ruang kepada pihak korban menyampaikan tanggapan singkat atas dampak perkara, Alexander berdiri.

"Yang Mulia, kami tidak meminta majelis menghukum seseorang karena jabatan atau dugaan umum. Kami meminta majelis melihat rangkaian fakta."

Ia mengangkat satu lembar.

"Pertama, setelah gugatan class action didaftarkan, data pribadi Anwar Halim diakses dari jaringan internal MakanYuk tanpa kebutuhan layanan yang jelas. Kedua, transfer kepada Suster Melly masuk lewat perantara yang kemudian terbukti berkomunikasi dengan nomor pribadi Robert Salim. Ketiga, Suster Melly tidak membawa obat untuk pasien acak. Ia dua kali mendekati satu orang: Anwar Halim, wajah gugatan."

Pengacara Robert berdiri. "Keberatan, Yang Mulia. Pihak korban menyimpulkan melebihi putusan."

Hakim menatap Alexander. "Saudara Alexander, tetap pada dampak dan fakta yang sudah diperiksa."

Alexander mengangguk. "Baik, Yang Mulia. Dampaknya sederhana: korban tidak hanya terluka oleh kecelakaan. Ia dipaksa takut pada obat, takut pada seragam medis, takut tidur di kamar rawat. Dan semua itu terjadi setelah ia memakai hak hukumnya untuk menggugat."

Ruang sidang hening.

Anwar menunduk. Yanti menggigit bibir.

Alexander menutup map. "Kalau orang kecil tidak bisa memakai haknya tanpa takut dibungkam, maka hukum hanya menjadi kalimat indah di dinding pengadilan."

Ia duduk.

Gunawan tidak menoleh, tetapi ujung bibirnya bergerak tipis.

Majelis hakim membacakan pertimbangan cukup lama. Suaranya datar, tetapi setiap paragraf seperti batu yang diletakkan satu per satu di atas dada pihak lawan.

CCTV menunjukkan Melly masuk di luar jadwal.

Daftar farmasi membuktikan ampul tidak tercatat.

Rekaman Yanti membuktikan Melly memberi alasan dokter jaga tanpa nama.

Keterangan dr. Tanto membuktikan tidak ada instruksi medis.

Mutasi perantara dan komunikasi lanjutan membuktikan adanya aliran pembayaran dan arahan terselubung.

Pengakuan Melly, meski sempat ditarik sebagian, bersesuaian dengan bukti lain.

Robert menatap lurus ke depan. Rahangnya mengeras.

Suster Melly mulai menangis sebelum amar putusan selesai.

"Mengadili," kata hakim.

Seluruh ruangan seperti menahan napas.

"Menyatakan terdakwa Suster Melly Chandra terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan percobaan pembunuhan berencana terhadap Anwar Halim."

Yanti menutup mulut.

"Menyatakan terdakwa Robert Salim terbukti secara sah dan meyakinkan turut serta mengatur dan membiayai perbuatan tersebut melalui perantara."

Robert akhirnya menoleh.

Kali ini, matanya tidak dingin.

Matanya marah.

Hakim menjatuhkan pidana penjara berat kepada keduanya, dengan perintah tetap ditahan di Rutan Kota Cahaya. Tim pembela Robert langsung menyatakan pikir-pikir untuk upaya hukum. Itu hak mereka. Tetapi kata bersalah sudah keluar dari mulut pengadilan.

Ting! Misi pidana cabang selesai: buktikan percobaan pembunuhan terhadap Anwar Halim.

Ting! Level meningkat: Lv10 Advokat Pemula.

Ting! Reputasi meningkat: pengacara muda yang tak gentar melawan korporasi.

Panel itu muncul, lalu meredup.

Peti Perunggu yang belum dibuka masih menunggu di sudut Panel Status. Alexander tidak menyentuhnya. Di belakangnya, Anwar sedang berdiri pelan dengan bantuan Yanti.

Itu lebih penting daripada hadiah apa pun.

Anwar berjalan ke depan. Langkahnya pendek, tetapi ia memaksakan diri berhenti di hadapan Alexander.

"Pak Alexander," katanya, suara serak, "saya cuma pengantar makanan. Saya tidak pernah pikir ada pengadilan yang mau mendengar nyawa saya."

Alexander menahan napas.

"Pengadilan mendengar karena Bapak tidak diam."

Yanti menangis. "Kalau malam itu terlambat beberapa detik..."

"Tidak terlambat," kata Alexander. "Dan mulai sekarang, mereka yang harus menghitung waktu."

Di luar ruang sidang, wartawan media hukum lokal menunggu. Kali ini Alexander tidak memberi pernyataan panjang.

"Putusan pidana hari ini penting," katanya, "tetapi gugatan class action ketenagakerjaan masih berjalan. Kami mengejar pertanggungjawaban sistem yang membuat orang kecil mudah dibuang."

Satu kalimat itu cukup.

Di ujung lorong, beberapa pengemudi MakanYuk yang menjadi penggugat berdiri memegang tanda terima perkara mereka. Tidak ada sorak. Mereka hanya saling melihat, lalu mengangguk.

Kemenangan kecil pertama sudah jatuh.

Perang besar belum selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!