Huo Li hidup sebagai murid pelayan kasta terendah di Sekte Pedang Mendalam. Diperlakukan bak sampah, dan hampir mati, ia kehilangan seluruh harapan hingga diselamatkan oleh seorang pria misterius.
Pria itu memberinya sebuah teknik kultivasi terlarang dan sebuah artefak yang mampu mengubah seluruh harta dunia menjadi sumber kekuatan. Sebagai gantinya, Huo Li menerima satu syarat yang mustahil: meruntuhkan langit.
Dengan dendam yang membara namun hati yang tetap terkendali, ia bersumpah akan bangkit dari dasar dunia kultivasi, membalaskan dendamnya dan meruntuhkan langit.
Bagaimanakah kisah Huo Li? Saksikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 27 — Penginapan Teratai Merah
"Turunlah, Junior," tegur Yun Bing, membuyarkan lamunan dingin Huo Li. "Mulai dari sini, kita harus berjalan kaki. Aturan kota melarang kultivator menunggangi binatang spiritual di jalanan utama, kecuali kau adalah tetua Sekte Pedang Mendalam atau berasal dari keluarga terhormat."
Huo Li mengangguk. Ia melompat turun dari kudanya dengan gerakan ringan bagai daun jatuh. "Aturan yang sangat ramah untuk rakyat biasa," sindirnya halus.
Yun Bing hanya mendengus pelan mendengar sindiran itu. Mereka berdua menyerahkan kuda spiritual mereka ke kandang penitipan binatang spiritual milik kota yang berada di luar gerbang, lalu melangkah membaur dengan lautan manusia yang mengantre masuk.
Karena pelelangan besar Paviliun Anggrek Merah tinggal menghitung hari, kota ini dibanjiri oleh para kultivator dari berbagai penjuru. Pedagang, tentara bayaran, hingga kultivator pengembara berdesakan di area gerbang.
"Hei! Gembel! Minggir kau, jangan menghalangi jalan Tuan Muda!"
Sebuah bentakan kasar dan arogan tiba-tiba memecah antrean dari arah belakang. Huo Li dan Yun Bing menoleh serempak.
Sekelompok penjaga Keluarga Qu sedang membuka jalan secara paksa untuk sebuah kereta kuda mewah yang ditarik oleh Singa Bertanduk Tiga, binatang buas tingkat 2. Seorang penjaga dengan kejam mendorong seorang kultivator pengembara tua hingga tersungkur keras ke tanah berdebu, hanya karena pria tua itu berjalan terlalu lambat menggeser tubuhnya.
Huo Li menatap kejadian itu dengan ekspresi tanpa riak. Tangan kirinya bersembunyi di balik lengan jubahnya, namun tidak ada niat untuk pahlawan kesiangan dan ikut campur. Ia sangat ingat gaya arogan seperti ini. Ini adalah gaya khas dari Qu Jin dan anjing-anjing penjaga klannya.
'Anjing-anjing penjaga ini... kelakuan mereka sama persis dengan majikannya yang suka menindas,' batin Huo Li mengkalkulasi.
Yun Bing melirik Huo Li, seolah memastikan juniornya itu tidak melakukan tindakan gegabah. Mengetahui rekam jejak Huo Li yang dengan santainya berani membantai Zhao Feng, Yun Bing sedikit khawatir pemuda ini akan meledak di tengah keramaian.
Namun, melihat wajah Huo Li yang setenang danau beku, Yun Bing bernapas lega. "Abaikan mereka, Junior. Jangan mencari masalah dengan Keluarga Qu di kandang mereka sendiri, apalagi dibelakang mereka terdapat Sekte Pedang Mendalam. Itu bukan sesuatu yang dapat kita ikut campuri." bisik Yun Bing memperingatkan.
"Tentu saja, Senior. Aku sangat menyayangi nyawaku," balas Huo Li santai.
Mereka melanjutkan langkah memasuki kota. Suasana di dalam jauh lebih riuh. Bangunan-bangunan megah berjejer rapi, kedai arak dipenuhi kultivator yang membual, dan aroma pil spiritual serta herbal langka menguar dari berbagai toko obat.
Setelah berkeliling selama setengah jam menembus keramaian, Yun Bing akhirnya berhasil menyewa dua kamar di sebuah penginapan kelas menengah bernama 'Penginapan Teratai Merah'. Harga sewanya seharusnya tidak terlalu mahal. Namun, karena lonjakan pendatang demi acara pelelangan, harganya meroket.
"Harga untuk 2 ruangan adalah 2 Koin Emas, Nona," ujar pelayan penginapan dengan senyum canggung. Harga itu cukup untuk mencekik pendapatan bulanan warga biasa.
"Ini, ambillah," balas Yun Bing tanpa ragu, menyerahkan koin emas dengan senyum hangat dan sopan kepada pelayan tersebut.
Huo Li yang melihat senyuman hangat dari Yun Bing hanya terdiam dan tidak merespons apa pun. 'Kau memiliki sisi misterius juga ternyata, Senior. Gadis es yang bisa tersenyum ramah pada orang biasa.' batin Huo Li, Gadis ini sangat kontras dengan apa itu seorang kultivator aliran hitam.
Tap. Tap.
"Kita akan beristirahat di sini," ucap Yun Bing setelah mereka memeriksa kamar masing-masing di lantai dua. "Pelelangan Paviliun Anggrek Merah akan diadakan besok malam. Sampai saat itu tiba, jangan pergi terlalu jauh. Aku membutuhkanmu untuk menjagaku saat harta yang aku inginkan dari pelelangan besok malam telah aku amankan."
Huo Li yang sedang bersandar di ambang pintu kamarnya mengangguk pelan. "Senior, aku butuh waktu untuk keluar sebentar. Ada beberapa barang pribadi dan material sisa perburuanku yang harus kujual untuk menambah uang saku. Kau mungkin tidak tahu, tapi aku sedang bangkrut total saat ini."
Yun Bing memutar bola matanya, teringat bagaimana Huo Li dengan tak tahu malunya memeras bayaran di muka tadi pagi.
"Pergilah. Tapi ingat, gunakan kepalamu. Jangan memancing keributan, dan jika kau bertemu murid dari Sekte Pedang Mendalam di jalan, hindari konfrontasi apa pun."
"Baiklah, Majikan."
"Kubilang berhenti memanggilku seperti itu!"
Huo Li hanya tertawa kecil sebelum berbalik dan melangkah pergi menyusuri lorong penginapan, meninggalkan Yun Bing yang memijat pelipisnya karena pusing menghadapi kelakuan juniornya yang absurd.