NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Malam kian larut, dan suasana kamar perawatan VIP terasa makin hening.

Hanya terdengar detak teratur dari layar monitor medis dan hembusan angin malam di balik jendela glass wall.

Nadya bolak-balik mengubah posisi tidurnya, mencoba memejamkan mata namun rasa gelisah dan perutnya yang terasa kosong terus mengganggunya.

Ia menatap langit-langit kamar sambil mengelus perutnya pelan.

Armand, yang sejak tadi tertidur ayam di sofa samping ranjang, mendadak terbangun begitu mendengar desahan napas dan pergerakan halus istrinya.

Pria itu menyingkap selimut tipisnya, lalu melangkah mendekati sisi ranjang Nadya.

"Apa ada yang sakit, Dek?" tanya Armand penuh perhatian, dadanya seketika diliputi cemas seraya mengusap lembut kening istrinya untuk mengecek suhu tubuh.

Nadya mendongak, menatap suaminya dengan raut wajah sedikit cemberut dan menggemaskan—sangat berbeda dari sosok CEO tegas yang diperlihatkannya di depan umum.

"Aku lapar, Mas," bisik Nadya pelan seraya menggigit bibir bawahnya malu-malu.

Armand sempat tertegun sejenak sebelum akhirnya terkekeh pelan.

Rasa cemas yang sempat menyergapnya mendadak sirna digantikan rasa gemas yang luar biasa.

Ia mengusap pipi Nadya dengan lembut.

"Astaga, Mas kira obatnya berefek lagi atau ada bagian tubuhmu yang nyeri," ujar Armand seraya tersenyum manis.

"Pantas saja tidak bisa tidur. Bubur tadi pagi sama makan siang pasti sudah tercerna habis, ya?"

"Iya, Mas. Perutku rasanya benar-benar kosong sekarang," rengek Nadya pelan.

Armand melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam.

Kantin rumah sakit jelas sudah tutup, namun ia tidak akan membiarkan istrinya kelaparan.

"Tunggu sebentar ya, Sayang. Mas mampir ke luar bentar beli makanan hangat buat kamu. Kamu mau makan apa malam ini?" tanya Armand penuh kesiapan.

"Terserah, Mas. Aku akan apa yang Mas beli nanti," jawab Nadya.

Armand menyalakan bel panggil di samping ranjang. Tak berapa lama, seorang perawat melangkah masuk ke dalam kamar VIP.

"Pak Armand, ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat tersebut ramah.

"Suster, saya mau izin keluar sebentar untuk membelikan makanan untuk istri saya. Tolong bantu jaga dan pantau Nadya sebentar ya," pinta Armand penuh rasa hormat.

"Baik, Pak Armand. Silakan, kami akan menjaga Ibu Nadya dengan baik," jawab perawat itu tersenyum tenang.

"Mas pergi sebentar ya, Dek. Jangan melamun dan tunggu Mas kembali," bisik Armand lembut seraya mengecup kening Nadya sekilas.

Nadya mengangguk pelan. "Hati-hati di jalan ya, Mas."

Armand segera melangkah keluar dari kamar perawatan, menyusuri koridor rumah sakit yang lengang, lalu menuju area parkir. Ia mengendarai mobilnya membelah heningnya jalanan kota di tengah malam.

Mata tajam Armand menyisir tiap sudut jalan, mencari kedai makanan hangat yang masih buka.

Di saat yang sama, kewaspadaannya tetap berada di tingkat tertinggi.

Ia sadar betul bahwa di luar sana, Sarah dan Rian baru saja bebas dan bisa saja mengintai setiap pergerakannya.

Armand menghentikan mobilnya di pinggir jalan begitu pandangannya menangkap papan nama sederhana yang diterangi lampu kekuningan: Sop Iga Khas Pak Mamad.

Aroma harum rempah dan kaldu yang gurih langsung menyeruak masuk begitu Armand membuka pintu mobil, membuatnya yakin ini pilihan yang sangat tepat untuk memulihkan stamina istrinya.

Ia melangkah masuk ke dalam kedai yang sudah sepi pembeli itu.

Seorang penjual tua tersenyum ramah dari balik kuali besar yang uapnya masih mengepul tebal.

"Selamat malam, Pak. Masih bisa bungkus sop iganya?" tanya Armand sopan.

"Masih, Mas! Pas sekali ini rebusan kaldu terakhir, iganya empuk banget," jawab sang penjual antusias seraya menyiapkan wadah khusus.

"Tolong bungkus satu porsi ya, Pak. Kuahnya dibanyakin dan tolong dipisah, iganya dipilihkan yang paling lembut," pinta Armand detail, memastikan hidangan ini nyaman dan aman untuk pencernaan Nadya yang baru pulih.

Sembari menunggu pesanan disiapkan, Armand berdiri di dekat pintu kedai.

Matanya yang tajam sesekali melirik ke arah jalan raya yang lengang.

Pengalaman manis dan pahit beberapa hari terakhir membuatnya tidak boleh lengah sedikit pun.

Ia memastikan tidak ada mobil atau motor mencurigakan yang mengikutinya sejak keluar dari rumah sakit tadi.

"Ini Mas, sop iga hangatnya sudah siap. Sambal dan jeruk nipisnya juga sudah ditaruh terpisah," ucap penjual seraya menyerahkan kantong plastik berisi mangkuk bertutup rapat yang terasa hangat di tangan.

"Terima kasih banyak, Pak," balas Armand seraya menyerahkan beberapa lembar uang kertas dan mengambil kembaliannya.

Dengan membawa kantong makanan hangat itu di tangannya, Armand bergegas kembali ke mobil.

Ia melajukan kendaraannya dengan cepat namun tetap aman, tak sabar ingin segera kembali ke kamar perawatan untuk menyuapi istri tercintanya.

Armand memarkirkan mobilnya dengan cepat di area parkir rumah sakit.

Tanpa membuang waktu, ia melangkah lebar menyusuri koridor yang mulai sepi menuju kamar perawatan VIP.

Tangan kanannya menggenggam erat kantong plastik berisi sop iga hangat yang aromanya menyegarkan.

Begitu pintu kamar dibuka pelan, tampak perawat yang bertugas sedang merapikan infus Nadya.

Nadya yang semula bersandar lemas langsung mendongak, dan matanya seketika berbinar begitu melihat sosok suaminya kembali.

"Terima kasih ya, Suster," ucap Armand ramah pada perawat tersebut.

"Sama-sama, Pak Armand. Ibu Nadya kondisinya sangat stabil. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit perawat itu seraya tersenyum dan melangkah keluar ruangan.

Armand menutup pintu rapat-rapat, lalu meletakkan kantong makanan di atas meja lipat.

Ia mengambil mangkuk bersih yang tersedia di ruangan dan menuangkan sop iga hangat tersebut.

Aroma kaldu kaya rempah langsung memenuhi seluruh sudut kamar perawatan.

"Wah, aromanya wangi sekali, Mas," gumam Nadya sambil menelan ludah, matanya tak berkedip menatap mangkuk yang dibawa Armand mendekat.

Armand terkekeh pelan melihat tingkah manja istrinya. Ia duduk di kursi samping brangkar, menarik meja lipat tepat di hadapan Nadya, lalu meniup sesendok kuah sop iga hangat beserta potongan daging yang sangat empuk.

"Ini dia pesanan Permaisuri. Mas menemukan kedai sop iga yang masih buka di luar. Masih hangat banget, lho," goda Armand lembut seraya mengarahkan sendok itu ke bibir Nadya.

Nadya menerima suapan itu dengan penuh nikmat. Rasa gurih kaldu dan lembutnya daging iga langsung memanjakan lidahnya yang sempat terasa pahit akibat efek obat.

"Enak banget, Mas. Dagingnya empuk," puji Nadya dengan pipi yang sedikit mengembang karena mengunyah, membuat raut wajahnya terlihat begitu menggemaskan di mata Armand.

"Makan yang banyak ya, Sayang. Biar besok tenagamu sudah pulih total dan kita bisa pulang ke rumah," balasan Armand seraya terus telaten menyuapi istrinya suapan demi suapan.

Namun, di tengah momen hangat dan penuh kemesraan itu, layar ponsel Armand yang tergeletak di atas meja mendadak menyala dan bergetar nyaring.

Sebuah nomor tak dikenal mengirimkan sebuah pesan singkat.

Armand melirik ke layar ponselnya. Senyum hangat di wajahnya perlahan memudar, berganti menjadi rahang yang mengeras ketat saat membaca isi pesan tersebut:

Jangan pikir kalian bisa tenang setelah ini, Armand. Ini baru permulaan.

Tanpa ragu sedikit pun, ibu jari Armand bergerak cepat di atas layar ponselnya.

Ia menekan tombol blokir dan menghapus pesan itu seketika, menghentikan usaha teror picik yang mencoba merusak kedamaian malam mereka.

Armand menarik napas dalam-dalam, menguasai emosinya dalam hitungan detik.

Ia meletakkan ponselnya dengan posisi tertelungkup di atas meja, lalu kembali menatap Nadya dengan raut wajah yang kembali melunak dan penuh kehangatan.

Ia tak ingin riak ancaman dari Sarah maupun Rian merusak selera makan dan masa pemulihan istrinya.

"Dari siapa, Mas?" tanya Nadya curiga, menyadari perubahan singkat pada raut wajah suaminya.

"Hanya pesan spam penawaran pinjaman online, Dek. Tidak penting," bohong Armand halus, mengalihkan perhatian dengan mengusap sudut bibir Nadya menggunakan tisu.

"Ayo, buka mulutnya lagi. Masih ada beberapa suap daging empuknya, nih."

Nadya menatap suaminya sejenak, namun kelembutan dan perhatian Armand yang begitu intens meluluhkan rasa curiganya.

Ia kembali tersenyum dan menerima suapan demi suapan hingga mangkuk sop iga itu bersih tak tersisa.

Setelah Nadya menghabiskan segelas air putih hangat dan meminum obat dari dokter, matanya mulai terasa berat.

Efek kenyang dan rasa aman di dekat suaminya membuat rasa kantuk datang menyerang dengan cepat.

Armand membantu Nadya berbaring perlahan, membetulkan letak bantal, dan menarik selimut hangat hingga menutupi dada istrinya.

Ia duduk di sisi ranjang, membiarkan jemarinya digenggam erat oleh Nadya yang mulai memejamkan mata.

"Terima kasih untuk sop iganya ya, Mas. Aku sayang Mas Armand," bisik Nadya lirih sebelum akhirnya tertidur lelap dengan napas teratur.

"Mas juga sangat menyayangimu, Dek," balas Armand pelan. Ia mengecup kening istrinya hangat.

Saat memastikan Nadya sudah tertidur nyenyak, sorot mata Armand kembali berubah dingin dan tajam.

Ia mengambil ponselnya, melangkah pelan menuju sudut ruangan dekat jendela agar tidak membangunkan Nadya, lalu mengetik pesan singkat kepada kepala tim pengamanan pribadinya dan Siska.

[Perketat penjagaan di seluruh area rumah sakit malam ini. Sarah dan Rian baru saja mulai meneror lewat telepon. Pastikan orang-orang kita bersiap untuk skenario terburuk.]

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!