NovelToon NovelToon
PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

PUTRI MALAM UNTUK PANGLIMA SENJA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Transmigrasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.

note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27 - MENIKAHI SELIR DAN MENGAMBIL SELIR

"Aku mengambil risiko kemarin dan meninggalkan Puri Ardani. Aku telah menyampaikan kata-katamu kepadanya dan membuat perjanjian dengan Pangeran Cendana. Sekarang Pangeran Cendana sedang menunggu di halaman tidak jauh dari pintu belakang Puri Ardani. Aku akan segera membawanya bersamamu. Pergilah, atau kamu tidak akan bisa pergi setelah rombongan penyambut tiba." Aryati mengucapkannya setengah berbisik, buru-buru, seperti orang yang mengejar waktu. Ia bahkan tidak sempat berpikir bahwa Wulan, sejak tadi, sama sekali tidak bergerak. Di balik senyum cemasnya tersimpan kegembiraan yang nyaris meledak, seolah mangsanya sudah siap melompat ke dalam perangkap yang ia pasang.

Tatapan dingin Wulan tertuju pada tangan yang dipegangnya, dan ia dengan mudah melepaskan tangan itu hanya dengan sedikit membalikkan pergelangan tangannya. Gerakannya ringan, hampir tidak terasa, tetapi membuat Aryati tersentak kehilangan pegangan.

"Sepupu Ketujuh?" Tangan Aryati yang terulur menjadi kosong, dan ia menoleh ke arahnya dengan sedikit kebingungan. Untuk sesaat ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi, dan jantungnya mulai berdetak tidak tenang. Ia berusaha menebak-nebak, tetapi tidak menemukan satu pun petunjuk dari raut wajah Wulan yang tenang seperti air danau di pagi hari.

"Aku tiba-tiba tidak mau pergi." Wulan mengangkat sudut bibirnya sambil setengah tersenyum, dan meminta maaf tanpa ketulusan, "Maaf, pekerjaan sepupuku sia-sia." Nada bicaranya tenang, seolah membahas hal sepele seperti cuaca sore hari, tetapi di baliknya tersimpan ejekan halus yang hanya ia sendiri yang tahu.

"Apa?" Aryati tiba-tiba berbalik ketika mendengar ini, dan suaranya tanpa sadar menjadi lebih keras. "Tidak pergi?!" Mata Aryati membelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, dan nada suaranya meninggi hingga nyaris terdengar keluar dari kamar. Semua kesabaran yang ia bangun tadi menguap seketika, dan wajahnya memerah menahan amarah yang nyaris meledak.

"Ya." Wulan mengangguk dengan tegas, dan terlepas dari penampilan Aryati yang cemas, ia dengan ringan menjentikkan lengan bajunya, berbalik, dan duduk kembali di tepi tempat tidur dengan santai, seolah semua keributan tadi hanyalah angin lalu. Justru ketenangannya itulah yang paling membuat Aryati gelisah — Wulan yang dulu mudah panik dan tersulut emosi, kini duduk membisu seperti patung yang tidak tergoyahkan.

"Mengapa Sepupu Ketujuh tidak pergi?" Aryati menekan ketidakpuasannya dan berkata dengan suara rendah, "Sepupu, saya menghabiskan banyak upaya untuk keluar rumah dan menghubungi Paduka Pangeran Cendana." Ada nada menahan di setiap katanya, seolah berusaha keras menahan agar kemarahannya tidak meledak di hadapan Wulan.

Wulan membersihkan debu yang tidak ada pada jubah pengantin merahnya dan meminta maaf tanpa ketulusan, "Ah, kalau begitu aku benar-benar minta maaf karena membuatmu berusaha keras, sepupu." Ucapan itu terdengar sopan, tetapi di telinga Aryati justru seperti tamparan yang halus dan menyakitkan. Ia menyadari bahwa semua jerih payahnya selama ini hanya membuang-buang waktu, dan bahwa Wulan yang duduk di hadapannya bukanlah orang yang bisa ia akali lagi.

"Saat ini, para penjaga di Puri Ardani lemah, dan Pangeran Cendana sudah lama menunggumu di halaman. Ia hanya menunggu Sepupu Ketujuh pergi dan tinggal bersama kekasihmu. Aku tidak tahu kenapa Sepupu Ketujuh tiba-tiba berubah pikiran?" Aryati menggigit bibirnya dan bertanya dengan enggan, masih berusaha menyelamatkan rencana yang mulai hancur di depan matanya. Setiap kata yang ia lontarkan semakin terdengar seperti permintaan, bukan lagi bujukan, dan ia mulai kehilangan kendali atas situasi yang tadinya ia yakini akan berjalan mulus.

"Tidak ada alasan khusus, tetapi itu hanya karena Wuri tiba-tiba menemukan jawabannya." Wulan merapikan hiasan sanggulnya perlahan, menatapnya, dan tersenyum. "Dibandingkan dengan Paduka Pangeran Cendana, bukankah Nalendra, Pangeran Senja yang paling disayangi Sultan, statusnya lebih berharga? Selain itu, Paduka Pangeran Cendana dikelilingi oleh gadis-gadis cantik yang tak terhitung jumlahnya, dan ada banyak teman kepercayaan." Kata-katanya mengalir lembut, tetapi setiap kalimatnya tajam seperti belati yang dibungkus sutra. Ia menyebut nama-nama itu satu per satu dengan santai, dan setiap penyebutannya terasa seperti pukulan bertubi-tubi bagi Aryati yang sudah mulai kehilangan arah.

Pada titik ini, ia memberi Aryati sebuah tatapan penuh arti, dan Aryati merasa sangat bersalah saat melihat matanya yang sepertinya melihat segalanya. Tatapan itu begitu dalam, seperti mampu menembus semua topeng dan pembohongan yang selama ini ia susun dengan rapi.

"Tetapi Nalendra berbeda dari Paduka Pangeran Cendana. Ia memiliki temperamen yang dingin dan mulia dan tidak pernah banyak berhubungan dengan anggota keluarga wanita. Saya mendengar bahwa tidak hanya tidak ada istri resmi di Puri Senja, tetapi bahkan tidak ada pelayan bersih yang bertugas di kamar tidur. Dalam situasi seperti ini, mengapa Wuri ingin menjadi salah satu dari ribuan pengagum di rumah Pangeran Cendana, apakah menurut sepupu itu yang dikatakan Wuri?" Aryati mencoba membantah dengan segala argumen yang ia miliki, berharap bisa membalikkan keadaan. Ia berbicara panjang lebar, tetapi semakin ia membela diri, semakin jelas bahwa ia sedang berusaha menutupi sesuatu yang jauh lebih dalam.

Aryati begitu tercekik olehnya hingga ia tidak bisa bernapas. Ia mengertakkan gigi dan membujuk dengan suara rendah. "Bagaimana Sepupu Ketujuh bisa berpikir begitu? Sejak zaman kuno, laki-laki telah memiliki tiga istri dan empat selir, terutama mereka yang berstatus bangsawan seperti para pangeran dan cucu raja. Bagaimana mungkin ia hanya menyukai satu wanita? Bahkan jika Puri Senja bersih, cepat atau lambat Pangeran Senja akan menikahi seorang selir, jadi mengapa Sepupu Ketujuh harus peduli dengan hal ini?" Ia mengatakannya dengan nada seolah sangat masuk akal, padahal di baliknya tersimpan kepentingan yang sama sekali berbeda. Wulan mendengarkan dengan tenang, membiarkan sepupunya menguras habis semua dalih yang bisa ia ciptakan.

Wulan mengangkat alisnya sambil setengah tersenyum, dan terlihat tertarik. Sudut bibirnya melengkung, tetapi tidak ada satu pun kehangatan di balik senyuman itu — hanya rasa ingin tahu orang yang sedang menonton pertunjukan yang menghibur.

Ia membiarkan Aryati menggantung harapan pada secercah reaksinya, padahal di kepalanya sudah tersusun rapi seluruh langkah yang akan ia ambil selanjutnya.

Melihat Wulan terlihat sedikit santai, Aryati merasa senang, tetapi tidak menunjukkannya di wajahnya. Sebaliknya, ia terus membujuk dengan susah payah. "Lagi pula, wanita pada dasarnya lemah. Kita dilahirkan sebagai perempuan, jadi kita tidak harus bergantung pada diri kita sendiri. Sudah cukup bagi Paduka Pangeran Cendana untuk hidup dengan belas kasihan seorang pria. Untuk putri sah dengan status tinggi seperti Sepupu Ketujuh, apakah kamu masih takut kalah dari gadis penghibur rendahan itu?" Ia berusaha menanamkan keraguan itu ke dalam hati Wulan, tidak menyadari bahwa setiap kata yang ia ucapkan justru membongkar kebusukan niatnya sendiri. Baginya, selama Wulan masih bisa ia gerakkan dengan kata-kata manis, segalanya belum berakhir.

1
Candra Buwana
novel ini tidak bosan untuk dibaca. keren dah. bikin penasaran terus. lanjutkan thor
Kartika Candrabuwana: terimakasih atas votenya.🙏
total 1 replies
prameswari azka salsabil
keren dah novel ini. membuatku terhanyut dalam emosi. sukses selalu buat penulis.
Candra Buwana: betul sekali
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!