NovelToon NovelToon
Under The Autumn Canopy

Under The Autumn Canopy

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: air sungai

​Di bawah langit kelabu Inggris yang selalu basah oleh gerimis, Aurora "Rory" Vance melangkah masuk ke kampus paling bergengsi di Britania Raya hanya berbekal koper tua, beasiswa penuh, dan keteguhan hati. Sebagai gadis dari kalangan menengah ke bawah yang realistis dan tak punya waktu untuk urusan cinta, prioritas Rory hanya satu: bertahan hidup dan mempertahankan IPK-nya.
​Namun, tradisi Freshers' Week (PKKMB) di kampus elit ini jauh dari kata ramah. Para senior panitia yang keras dan disiplin tanpa ampun siap menyaring siapa yang pantas berada di sana. Di tengah tekanan fisik dan mental itu, Rory bertabrakan dengan Julian Edward Radcliffe senior tingkat tiga sekaligus ketua panitia kedisiplinan yang berasal dari salah satu dinasti bangsawan terpandang di Inggris.
Julian adalah definisi kesempurnaan yang dingin, tampan, cerdas, kaya, dan tak tersentuh. Namun, di balik tatapan tajam dan wibawanya yang mendominasi, Julian menyimpan beban ekspektasi keluarga yang mencekik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon air sungai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamar Sewa Sederhana dan Kopi Hitam Murah

Langkah kaki Julian Radcliffe terdengar mantap menaiki tangga kayu yang agak berdecit di sebuah area pemukiman padat di luar kawasan kampus St. Jude’s.

Bukan lagi lorong berkarpet tebal dengan lampu gantung kristal seperti di Radcliffe Manor atau asrama senior berfasilitas lengkap. Di sini, di lantai dua sebuah flat tua sewaan, aroma cat dinding yang baru dioles bercampur dengan bau hujan yang tersisa di luar jendela.

Julian meletakkan satu-satunya koper kain yang dibawanya di sudut kamar. Kamar itu kecil hanya berisi satu tempat tidur tunggal, meja belajar kayu yang agak terkelupas di sudutnya, dan lemari pakaian dua pintu.

Namun, saat Julian berdiri di tengah ruangan itu dan melipat lengan kemeja hitamnya, tidak ada raut penyesalan di wajahnya. Ada helaan napas lega yang panjang sebuah perasaan bebas yang belum pernah ia rasakan selama dua puluh dua tahun hidupnya.

Ponselnya di atas meja bergetar. Sebuah pesan masuk dari bank Kartu kredit utama Anda telah dibekukan oleh pemilik rekening utama.

Julian tersenyum tipis, menatap layar ponselnya tanpa berkedip, lalu mematikan pemberitahuan itu. Ia merogoh dompetnya, menatap sisa uang tunai dan kartu dari rekening tabungan pribadi yang berhasil ia kumpulkan dari honorarium asisten dosen dan hadiah kompetisi ilmiah selama dua tahun terakhir.

"Cukup untuk enam bulan ke depan," gumam Julian tenang pada dirinya sendiri.

Keesokan harinya di kantin kampus, suasana perkuliahan kembali berjalan.

Rory duduk di sudut meja dekat jendela, sibuk mencoret-coret jurnal ilmiah dengan pulpen hitamnya. Di sampingnya, Gemma tampak mengaduk teh hangatnya sambil menatap Rory dengan cemas.

"Rory, kamu sudah dengar?" bisik Gemma pelan. "Senior Julian beneran pindah dari asrama khusus senior. Katanya dia menyewa flat kecil di area perkampungan dekat stasiun."

Rory menghentikan garisan pulpennya sejenak. Dada Rory berdesir pelan. Ia tahu Julian melakukan ini untuk mempertahankan prinsipnya, tapi ia juga paham betapa drastisnya perubahan hidup yang harus dihadapi pria itu.

"Dia pria yang bertanggung jawab atas keputusannya, Gem," jawab Rory pelan, mencoba menjaga nadanya tetap stabil. "Julian tahu apa yang dia lakukan."

"Tapi dia biasa hidup mewah, Rory," tambah Gemma. "Aku dengar dari Leo, Ayah Julian bahkan membekukan semua akses rekening keluarga dan menarik fasilitas laboratorium khusus yang tadinya mau didanai perusahaan Radcliffe."

Tepat saat itu, langkah kaki yang dikenal menyapa indra pendengaran mereka.

Julian melangkah mendekati meja mereka. Ia mengenakan kemeja putih sederhana tanpa jas mewahnya, membawa baki berisi cangkir kopi hitam murah dari kantin umum dan sepotong roti isi. Meski penampilannya jauh lebih sederhana, aura ketampanan dan wibawanya sama sekali tidak berkurang.

"Boleh aku bergabung?" tanya Julian halus.

"B-boleh banget, Senior!" jawab Gemma cepat, langsung menggeser tasnya. "Eh, maksudku... Julian."

Julian tersenyum tipis, lalu duduk di sebelah Rory. Matanya menatap lembut ke arah gadis di sampingnya. "Selamat pagi, Rory."

"Selamat pagi, Julian," balas Rory. Matanya meneliti raut wajah Julian tampak sedikit lelah di bawah matanya, tapi binar matanya jauh lebih tenang dan cerah. "Bagaimana tidurmu semalam?"

"Sangat nyenyak," jawab Julian jujur sambil menyesap kopi hitamnya. "Tanpa suara jam besar manor yang membentak tiap jam, tempat tidur di flat baru itu rasanya luar biasa nyaman."

Rory menahan senyumnya, mengerti bahwa Julian sedang mencoba mencairkan suasana agar ia tidak merasa bersalah.

"Soal fasilitas lab khusus itu" panggil Rory pelan ketika Gemma pamit sebentar ke toilet. "Profesor Evans bilang pendaftaran beasiswa riset independen Helios Foundation dibuka minggu ini. Dana hibahnya cukup besar untuk membiayai proyek mandiri."

Julian menatap Rory, terkesan dengan seberapa cepat gadis itu mencari solusi produktif dibanding mengasihaninya.

"Beasiswa Helios?" tanya Julian.

"Ya. Tapi syaratnya harus diajukan oleh tim yang terdiri dari dua orang satu ketua riset dan satu asisten peneliti utama," jelas Rory sambil menyodorkan selembar formulir pendaftaran dari tasnya. "Aku mau mengajukannya bersamamu, Julian."

Julian menatap lembar formulir itu, lalu menatap mata cokelat jernih Rory. Kehangatan yang membuncah di dadanya tak sanggup ia tahan. Gadis di hadapannya ini tidak pernah memandang keadaannya sebagai beban, melainkan sebagai tantangan baru yang bisa mereka hadapi bersama secara setara.

"Tim riset?" ulang Julian pelan, sudut bibirnya terangkat manis.

"Tim riset," tegas Rory mantap. "Kita buktikan pada semua orang termasuk Ayahmu bahwa sains kita tidak butuh nama besar Radcliffe untuk diakui dunia."

Julian meraih tangan Rory di atas meja, menggenggamnya erat-erat di tengah riuh rendah kantin kampus.

"Mari kita menangkan beasiswa ini, Aurora," janji Julian mantap.

Langkah pertama dari babak baru perjalanan mereka menuju puncak dunia akademis dan pembuktian diri resmi dimulai.

1
stevany indri
maya sang cucu sj usianya sdh 50thn,,,, bgmn mgkn kejadian antara kakek Julian&nenek aurora terjd 50thn yg lalu... ada2 sj
stevany indri
aurora lahir thn 1969....kejadiannya thn 1968, bgmn mgkn terjd.... 😳
stevany indri
u maya... kakek&nenek tp u Julian junior mestinya uyut deh
Forta Wahyuni
maya tapi cucu, koq manggil ayah dan ibu n bingung thor. Julian cicit krn anak maya, hadeh suka2 thor lah. 🙏🙏🙏
Maya Elvin
siap kk👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!